Dokter-dokter Pahlawan Kemerdekaan

Keputusan saya untuk kelak menjadi lulusan dokter yang tidak bertindak sebagai klinisi (dokter pelayanan medis) sudah beratus-ratus kali memicu pertanyaan hingga berbagai perdebatan. Dengan keluarga, kawan, dan siapa saja kecuali segelintir saja yang bisa langsung mengerti.

“Ngapain sekolah dokter kalau tidak ingin praktik dokter?”

“Terus lulus dokter mau kerja apa?”

Pertanyaan seperti itulah, contoh tipikal pertanyaan awal yang biasa diajukan kepada saya sebelum pertanyaan lanjutan yang biasanya makin diikuti kebingungan setelah mendengar jawaban demi jawaban saya.

Atau mungkin suatu hari Fattah, anak kami yang sudah mulai menunjukkan sinyal-sinyal kecerdasannya akan bertanya, “Papa kok gak pakai jas putih kaya Oom/tante dokter?” seraya menunjuk ke arah kawan-kawan saya.

Hingga saat ini saya sampai pada titik,, belum ada gunanya menjelaskan apalagi memahamkan suatu ide atau visi secara individual dan berulang-ulang tentang pilihan yang saya ambil tentang hal ini. Saya sendiri tidak secara kaku mendifinisikan profesi kelak saya akan menjadi. Satu hal yang selalu saya lakukan untuk merangsang diri saya memelihara motivasi dan terus berkembang dari ke hari adalah mempelajari profil sosok-sosok menginspirasi dari berbagai bidang di berbagai penjuru dunia dan pelosok negeri. Salah satu kelompok profil yang sering saya ikuti di antaranya adalah mereka yang berlatar belakang atau berpendidikan dokter baik yang bertindak maupun tidak di pelayanan medis. Dengan mensosialisasikan sosok-sosok ini, mungkin kelak secara bertahap dapat menjawab ketidakmengertian terhadap pilihan orang-orang yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan dokter namun memilih tidak menjadi dokter (praktik klinis). Bahwa tidak semua dokter berujung pada pengelolaan terapi pasien secara individual, tetapi mereka juga bisa menjadi seniman dengan jutaan penggemar, menjadi kesatria korporasi, diplomat ulung, bahkan menjadi pemimpin suatu negeri.

Bertepatan dengan hari kemerdekaan RI, saya tergerak untuk berbagi ringkasan profil tersebut mulai dari para pahlawan negeri dan pendiri bangsa ini yang berlatar belakang atau berpendidikan dokter. Lain hari saya akan berbagi sosok-sosok menginspirasi berlatar belakang atau pendidikan dokter yang bisa memberi arti lebih di beragam bidang lain yang bahkan mereka sendiri sebelumnya tidak pernah bayangkan.

-Sebagian besar profil sosok-sosok di bawah ini diambil dari wikipedia beserta tautan yang menyertainya. Profil lebih lengkap dapat ditelusuri melalu Google dan mesin pencarian lainnya.

***

Wahidin Soedirohusodo

dr. Wahidin Sudirohusodo (lahir di Mlati, SlemanYogyakarta7 Januari 1852 – meninggal di Yogyakarta26 Mei 1917 pada umur 65 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Namanya selalu dikaitkan dengan Budi Utomo karena walaupun ia bukan pendiri organisasi kebangkitan nasional itu, dialah penggagas berdirinya organisasi yang didirikan para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen Jakarta itu.

Dokter lulusan STOVIA ini sangat senang bergaul dengan rakyat biasa, sehingga tak heran bila ia mengetahui banyak penderitaan rakyat. Ia juga sangat menyadari bagaimana terbelakang dan tertindasnya rakyat akibat penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas. Untuk itu, rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah. Sebagai dokter, ia sering mengobati rakyat tanpa memungut bayaran. Dua pokok yang menjadi perjuangannya ialah memperluas pendidikan dan pengajaran dan memupuk kesadaran kebangsaan.

Prof Dr. M. Sardjito

Prof. Dr. M. Sardjito (lahir di MagetanJawa Timur13 Agustus 1889 – meninggal 5 Mei 1970 pada umur 80 tahun) adalah dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Ia lulus Sekolah Dasar Purwodadi di Desa PurwodadiKecamatan BaratKabupaten Magetanpada tahun 1922. Pada masa perang kemerdekaan, beliau ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. Selanjutnya beliau menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961. Nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Yogjakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito.

Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYDSuwardi Suryaningrat, sejak 1972 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959pada umur 69 tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.[2]

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)[3].

Agustinus Adisoetjipto, Marsekal Muda Anumerta

Lahir di SalatigaJawa Tengah3 Juli 1916 – meninggal di BantulYogyakarta29 Juli 1947 pada umur 31 tahun) adalah seorang pahlawan nasional dan seorang komodor udara Indonesia. Beliau adalah seorang penganut agama Katolik.

Adisoetjipto mengenyam pendidikan GHS (Geneeskundige Hoge School) (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati, Subang.

Pada tanggal 15 November 1945, Adisoetjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adisutjipto, untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adisujipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Namun dalam perjalanan pulang membawa bantuan obat-obatan dari Malaya, pesawat Dakota VT-CLAditumpanginya jatuh ditembak oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk[2] Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947.

Abdulrachman Saleh

Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, ia bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School) MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene Middelbare School) kini SMU, dan kemudian diteruskannya ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Karena pada saat itu STOVIA dibubarkan sebelum ia menyelesaikan studinya di sana, maka ia meneruskan studinya di GHS (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tak pernah memaksakannya untuk menjadi dokter, karena saat itu hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia sempat giat berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong JavaIndonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

Setelah ia memperoleh ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan ilmu faal. Setelah itu ia mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia. Oleh karena itu, Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.

Ia juga aktif dalam perkumpulan olah raga terbang dan berhasil memperoleh ijazah atau surat izin terbang. Selain itu, ia juga memimpin perkumpulan VORO (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep), sebuah perkumpulan dalam bidang radio. Maka sesudah kemerdekaan diproklamasikan, ia menyiapkan sebuah pemancar yang dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka. Melalui pemancar tersebut, berita-berita mengenai Indonesia terutama tentang proklamasi Indonesia dapat disiarkan hingga ke luar negeri. Ia juga berperan dalam mendirikan Radio Republik Indonesiayang berdiri pada 11 September 1945.

Setelah menyelesaikan tugasnya itu, ia berpindah ke bidang militer dan memasuki dinas Angkatan Udara Ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada 1946. Ia turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Sebagai Angakatan Udara, ia tidak melupakan profesinya sebagai dokter, ia tetap memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi Dokter diKlatenJawa Tengah.

Johannes Leimena

Dr. Johannes Leimena (lahir di AmbonMaluku6 Maret 1905 – meninggal di Jakarta29 Maret 1977 pada umur 72 tahun) adalah salah satupahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri KesehatanWakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen),Surabaya - cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Dr. Cipto Mangunkusumo

Dr. Cipto Mangunkusumo atau Tjipto Mangoenkoesoemo (PecangakanAmbarawa, Semarang1886 – Jakarta8 Maret 1943) adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara ia dikenal sebagai “Tiga Serangkai” yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.

Dokter Cipto menikah dengan seorang Indo pengusaha batik, sesama anggota organisasi Insulinde, bernama Marie Vogel pada tahun 1920.

Berbeda dengan kedua rekannya dalam “Tiga Serangkai” yang kemudian mengambil jalur pendidikan, Cipto tetap berjalan di jalur politik dengan menjadi anggotaVolksraad. Karena sikap radikalnya, pada tahun 1927 ia dibuang oleh pemerintah penjajahan ke Banda.

Dr. Moewardi

Moewardi adalah seorang dokter lulusan STOVIA. Setelah lulus, beliau melanjutkan pendidikan Spesialisasi Telinga Hidung Tenggorokan (THT). Selain itu aa adalah ketua Barisan Pelopor tahun 1945 di Surakarta dan terlibat dalam peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam acara tersebut, ia juga turut memberikan sambutan setelah Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu.

Di Solo, dr.Muwardi mendirikan sekolah kedokteran dan membentuk gerakan rakyat untuk melawan aksi-aksi PKI. Pada peristiwa Madiun dia adalah salah satu tokoh yang dikabarkan hilang dan diduga dibunuh oleh pemberontak selain Gubernur Soeryo.

Kini namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta. Namanya juga diabadikan sebagai sebuah nama jalan di jakarta

Professor Moestopo

Major General Professor Moestopo (lahir di Ngadiluwih, KediriJawa Timur13 Juli 1913 – meninggal di BandungJawa Barat29 September 1986 pada umur 73 tahun) adalah seorang dokter gigi Indonesia, pejuang kemerdekaan, dan pendidik. Dia dinyatakan sebagaiPahlawan Nasional dari Indonesia pada tanggal 10 November 2007.

Lahir di Kediri, Jawa Timur, Moestopo pindah ke Surabaya untuk menghadiri Sekolah Kedokteran Gigi di sana. Pada awalnya menjadi seorang praktisi, karyanya terputus pada tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia dan Moestopo ditangkap oleh Kempeitai untuk mencari mencurigakan. Setelah dibebaskan, ia menjadi dokter gigi untuk Jepang tapi akhirnya memutuskan untuk melatih sebagai seorang perwira tentara. Setelah lulus dengan pujian, Moestopo diberi komando PETA pasukan di Sidoarjo, ia kemudian dipromosikan menjadi komandan pasukan di Surabaya. Kini namanya diabadikan sebagai nama sebuah universitas di Jakarta.

***

Profil sosok-sosok di atas tentu belum mencakup seluruh sosok lulusan kedokteran yang berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini. Tetapi setidaknya kita bisa mendapat gambaran betapa kontribusi seorang dokter atau lulusan kedokteran tidak melulu dan tidak boleh berhenti pada ujung bevel spuit (baca: spaut) injeksi, apalagi resep atas indikasi perusahaan farmasi. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membatasi kapasitas diri, kecuali diri kita sendiri. MERDEKA!!!

Selesai ditoelis djam 11:51 Malam, di antara Djadual Djaga Oenit Gawat Daroerat dan Djadual Djaga Zaal Rawat Inap RSUP Dr Sardjito

SLEMAN, DJOGJAKARTA, Hari 9 Boelan Sjawal Tahoen 1434 Hidjrijah

Bersama Merah Putih di Haarlem, Belanda. April 2006

4 thoughts on “Dokter-dokter Pahlawan Kemerdekaan

  1. salam kenal mas…. nama saya mita. =)
    saya tidak sengaja menemukan blog ini saat mencari2 info mengenai magang di WHO. karena saya memang berminat sekali bekerja di salah satu komite pbb.
    apa boleh mas kalau saya tanya2 melalui email?
    oh ya, saya seorang sarjana hukum yang sedang semester terakhir di kedokteran. belum koas, hanya semester akhir untuk s1 nya. dan membaca tulisan ini saya senang sekali. sangat inspiratif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s