Jam Berapa Sekarang Di Sana??!!

“Jam berapa sekarang disana?”

Pasti sering di antara kita yang sedang tinggal di luar Indonesia mendapat pertanyaan ini. Entah bagaimana mulanya, selain menanyakan kabar, pertanyaan seputar perbedaan waktu Indonesia dengan negara lain selalu menjadi hal menarik untuk ditanyakan pertama kali terhadap orang Indonesia yang sedang berada di luar negeri chatting dengan kerabat dan handai taulan yang berada di Indonesia.

Sering juga pertanyaan berkembang menjadi..

“Loh koq bedanya enam jam?! Bulan kemarin katanya lima jam?”

“Iya, kemarin masih summer time sekarang udah normal lagi”

“Hah? emang beda ya? koq bisa ganti-ganti gitu? terus bulan depan ganti lagi? Kamu ngigo ya.. apa bohong.. jangan-jangan kamu selingkuh.. terus apa lagi yang kamu sembunyiin..” *eaahh..horotoyo..modhar kowe*

Bisa juga jadi seperti ini, kalau teman kita sotoy bukan main

“Oh, elo di Belgia sih ya, beda 6 jam, gw sih waktu itu summer course ke Belanda, kalo disana bedanya sama Indonesia cuma lima jam..” *gubrak*

Kalau sudah begini biasanya bakal gontok-gontokan kecuali salah satu dari keduanya ada yang kebetulan  sudah tahu DST, Daylight Saving Time

Nah, kenapa bisa begitu? Ada yang bilang Eropa beda 6 jam dengan Indonesia, ada yang bilang cuma 5 jam. Apa Belgia dan Belanda beda zona waktunya?

Dalam hal ini tidak ada yang sepenuhnya benar dan sepenuhnya salah. Eropa dan Indonesia bisa memiliki perbedaan waktu 6 jam, juga 5 jam. Tergantung kapan pertanyaannya diajukan dan kapan jawaban diberikan. Hehe, begini ceritanya. Yang sudah tahu jangan berisik, tolong beritahu yang belum.

Sejak awal 1900-an, mayoritas negara-negara di belahan bumi utara dan selatan terutama yang punya benang merah pada kebijakan-kebijakan Eropa, seperti Amerika dan negara-negara eks koloni tertentu “bersepakat” untuk menerapkan Daylight Saving Time, DST. Di Eropa sering disebut Summer time.

Summer time adalah prosedur memajukan waktu sebanyak satu jam pada akhir  saat summer tiba, sekitar akhir April di belahan bumi utara dan akhir Oktober di Belahan bumi selatan, untuk memaksimalkan waktu terang di siang dan sore hari mengingat matahari yang “bersinar” lebih lama.

Ilustrasinya begini, jika summer tiba, jam 7 malam bahkan 8 atau 9 (tergantung bulan dan letak lintang geografis negara) pun masih terang. Karena orang-orang masih ingin memaksimalkan aktivitas maka semua jam di negara-negara yang memberlakukan DST “bersepakat” memajukan jam agar yang sebetulnya jam 7 tadi masih tampak jam 6.  Sehingga akitvitas kantor, sekolah, toko, olahraga dll yang seharusnya sudah selesai sedari tadi baru tutup sejam kemudian.

Sehingga pada bulan April lalu seluruh umat manusia di Eropa dan hemisfer utara lain, kecuali Rusia telah bersepakat memajukan jamnya sebanyak satu jam. Dan sebentar lagi, 30 Oktober semua manusia di hemisfer utara akan “memundurkan” jamnya sebanyak satu jam. . Lebih tepat mengembalikan ke waktu semula. Karena kini matahari semakin sedikit “bersinar” dan kalau waktu tidak “dimundurkan” jam 8 pagi saat orang masuk kantor masih akan terasa sangat gelap. Biasanya malam sebelum Summer Time berakhir, orang-orang akan serempak memundurkan jamnya sebanya 1 jam, sebelum tidur. Sehingga bagi yang terbiasa tidur rutin akan memiliki waktu tidur sejam lebih banyak dan tidak kebingungan saat bangun esok pagi dimana semua bus, kereta, kantor, sekolah, sudah mengikuti jam yang baru. Jika tidak, maka orang tersebut akan kepagian tiba di kantornya. Saat itulah perbedaan waktu Indonesia yang selama akhir April hingga Oktober ini 5 jam akan berubah menjadi 6 jam. Sementara yang terjadi di hemisfer selatan adalah sebaliknya.

Dan seperti yang sudah-sudah, perbincangan hingga perdebatan kusir seperti di atas mengenai perbedaan waktu Indonesia dengan negara lain di hemisfer utara dan selatan akan terus berulang. Yang mungkin juga terjadi pada warga yang negaranya tidak menerapkan DST. Baik karena letaknya di garis katulistiwa seperti Indonesia, atau yang memang tidak mau saja.

Enam tahun lalu, pertama kalinya berada di belahan bumi utara, meski sudah diberitahu sebelumnya, aku sampai baca berulang-ulang berbagai literatur untuk meyakinkan diri bahwa ini benar-benar terjadi, karena aku yang baru pertama kali mengalaminya merasa “dibodohi” seolah semua orang “bersekongkol” mengubah jamnya. Bagiku semua jadwal bus dan kereta nampak berubah. Sementara orang lain tampak biasa saja setelah mengubah jamnya.

Jadi, enak kan jadi orang Indonesia? Sepanjang tahun cahaya matahari dan pengaturan waktu senantiasa konsisten. Tidak perlu memajumundurkan jarum semua jam dinding dan tangan di rumah :D Semoga kita jadi lebih semakin bersyukur jadi orang Indonesia.

Buat yang masih penasaran. Silakan kunjungi wikipedia. Atau tanya Mbah Google.