Kecopetan, Sebuah Refleksi

Tiga kali sudah hari ini aku bolak-balik ke counter Bank ING di samping Saint Luc Clinique, rumah sakit milik kampus kedokteran Universitee catholique de Louvain tempat aku belajar. Pertama aku mengurus penggantian kartu ATM ku yang hilang kemarin. Kedua aku mengajukan layanan autodebet untuk tagihan listrik dan sewa kamar. Ketiga mengganti data alamat dan jumlah. Dan hampir saja aku datang lagi untuk keempat kalinya karena kesalahan yang tidak perlu dari costumer service (CS) Bank asal Belanda ini.

Kebetulan CS ini adalah wanita setengah baya, dari segi usia mungkin pantas untuk menjadi budhe saya, yang tidak berbahasa Inggris, hanya Prancis dan Belanda dengan aksen Belgia yang sangat kental. Kedatanganku yang pertama dan kedua adalah wajar karena selepas mendapat penggantian ATM yang hilang aku pergi ke Logement Service dan sekembalinya dari sana, aku ingin mengajukan autodebet untuk pembayaran sewa rumah dan tagihan listrik yang baru kudapat dari Logement Service. Agar lebih praktis.

Tetapi setibanya di rumah, kutemukan kesalahan penulisan alamat dan jumlah tagihan pada hasil print out mbokdhe CS tadi. Walau jumlah tagihannyannya lebih kecil, ini bisa beresiko suatu hari aku kena denda karena dianggap aku lalai membayar di bawah jumlah seharusnya. Aku pun kembali untuk membenarkan jumlah tagihan dan meminta tanggal nya dimajukan. Pertama dikerjakannya lah bagian tanggal tagihan dari 1/10 menjadi 24/9.

“Oui, c’est bon” kata saya sambil latihan Prancis.” “Pardon, mais, le mont est pas juiste Madame”, sambung saya menerangkan kesalahan kecil bahwa angka 7 diketik angka 2 olehnya.

“Voila“,  katanya sessat kemudian setelah memperbaiki dan memprint ulang.

Saya pun hanya mengecek bagian nominal yang sudah benar. Mengingat seringnya banyak kesalahan yang saya jumpai sebelum-sebelumnya, setibanya di pintu saya cek lagi, tanggal tagihan autodebetnya jadi 24/10. Mundur 1 bulan. Wo, dasar mbokdhe!! Untung aku sempat baca, kalau aku tidak sadar dan membiarkan aku akan dianggap ngemplang bayar apartemen satu bulan !!! Mau balik lagi ingat pengalaman barusan dan yang lain, ahh sudah lelah dibuatnya..

Meski teknologi di negara-negara Eropa konon semakin canggih, termasuk Brussel sebagai ibukota Uni Eropa, tidak di semua negara hal ini diimbangi oleh SDM nya secara merata di semua lini. Tiga minggu pertama di Brussel ini sudah berkali-kali kami mendapati kekecewaan dalam berbagai bentuk pelayanan publik. Sebuah keadaan yang menurut saya, konsekuensi dari kemajuan teknologi yang tidak diikuti kualitas SDM nya. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Istriku sempat dalam sehari kembali ke cashier Carrefour sebanyak tiga kali karena kesalahan hitung dan kesalahan identifikasi barang dari petugasnya. Kami hampir dirugikan 10 Euro. Itu yang kami sadari, entah belanja-belanja sebelumnya.
  2. Beberapa cashier di beberapa toko seperti di tempat fotokopi bekerja sangat lambat memijit komputer dan kalkulator dengan telunjuk dan membuatku yang biasa lihat Encik-encik bekerja sangat cepat menggunaka kalkulator di pasar atau toko-toko di Indonesia menjadi sangat gemas. Kadang mereka malas luar biasa, hampir selalu men-scan semua barang yang dibeli customer meskipun barang ini sama dengan yang sebelumnya. Kalau membandingkan di Indonesia, nampak malas luar biasa untuk menekan tombol perkalian.
  3. Di kantor polisi pun demikian, petugas yang saya temui mengetik hanya dengan dua telunjuk dengan kecepatan timit-timit, orang Jawa bilang. Sementara teman di sebelahnya tidak berhenti mengunyah makanan kecil sepanjang setengah jam saya berdiri. Menunggu koleganya membuat surat pernyataan yang hanya satu halaman dan itu pun sudah dalam bentuk template.

Meski tidak di semua jenis pelayanan publik, namun sangat banyak keganjilan yang cukup mengganggu kelancaran proses administrasi di sini. Sangat berbeda dengan kualitas pelayanan di Geneva pada pengalaman yang lalu. Melihat kinerja mereka di Brussel ini, membuat saya sangat optimis dengan masa depan Indonesia.

Hari ini juga aku mengurus student card yang hilang. Beruntung aku sempat membuat surat pernyataan dari polisi kemarin, Attestation de depot de plainte dalam bahasa Prancis. Dengan surat keterangan ini aku tidak perlu membayar biaya penggantian sebesar 2,5 Euro. Walau tidak seberapa, sekeping Euro terasa begitu berharga bagi pengantin baru seperti kami.

Attestation de depot de plainte

Attestation de depot de plainte dan Logo Bank ING

Selama pengurusan student card baru aku memperhatikan bagian re-inscription etudiant ini sangat ramai oleh mahasiswa yang melakukan registrasi ulang di awal tahun ajaran baru. Hal yang menarik perhatian adalah administrasi di universitas ini sangat tertib dan efisien. Regsitrasi dilakukan satu atap dengan prosedur yang mudah.

Di kampus kemampuan administrasi dan mengetik petugasnya lebih baik dari di beberapa fasilitas publik lain. Di samping ruangan registrasi ulang disediakan dua meja yang ditunggui dua mbak-mbak dengan tulisan accueil di atas mejanya. Mereka adalah mahasiswi yang direkrut untuk selalu siap menjawab pertanyaan dari mereka yang datang. Dengan pelayanan cukup ramah, dan mengakui setiap ketidaktahuannya karena statusnya yang masih baru, pengurusan student card alhamdulillah berlangsung lancar.

Sehari Sebelumnya..

“Hmmphh.. lega..” ucapku selepas solat asar di atas rumput taman kawasan Porte de Hal, Brussel.

“ 5 menit lagi jalan yuk, » ucapku pada istri yang sedang duduk di sebelah melihat2 foto kita berdua seharian itu.

Mataku melihat sekeliling.

“Sayang, lihat tas Mas ga?” tanyaku setengah panik.

“Hah, kamu ga becanda kan?” jawab istriku tidak kalah panik.

Beberapa detik kami panik. Bergantian kami saling melempar pandang dan sekeliling. Hanya ada tatapan panik, sedih, kecewa. Menyesali kecerobohan kami. Ya, hanya “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” yang bisa kami ucapkan.

Kami baru saja kehilangan tas cangklong krem kesayanganku bertuliskan “Amsterdam”. Isinya yang berharga adalah dompet, hp, dan kartu pos yang akan dikirim ke Indonesia. Di dalam dompet ada beberapa kartu nama penting antara lain dari beberapa petinggi  WHO, staff diplomatic di beberapa KBRI & PTRI, dan beberapa contact person international NGO yang aku kumpulkan selama internship di WHO dan beberapa kunjungan ke Eropa di waktu lalu. Ada juga kartu asuransi, ATM Mandiri, ATM ING (Bank Belanda yang kupakai di Belgia), kartu mahasiswa UCL, uang 20 CHF sisa di Geneva lalu dan 50 ribu rupiah untuk bahan obrolan sewaktu-waktu aku mengenalkan Indonesia pada lawan bicaraku.

Beberapa saat kami mencari sekeliling, bertanya pada orang-orang di sekitar, tapi nihil. Pun orang2 di sekitar kami duduk saat itu adalah selain warga kota, juga beberapa gelandangan dari Eropa Timur dan Magribi (Afrika Utara). Meski rasanya percuma saja, saya menduga bisa saja d antara mereka sudah saling berkomplot, dan tidak banyak gunanya menanyakan kehilangan barang pada gangster2 dan drug user seperti ini.

Saat kami sibuk berkekliling, secara kebetulan sebuah mobil patroli melintas, aku pun berlari menghentikan mereka untuk mencari bantuan. Intinya, aku harus segera ke kantor polisi untuk membuat surat pernyataan kehilangan. Sejenak aku teringat pengalaman kehilangan barang seorang teman dalam perjalanan di Eropa, cukup berguna menghadapi situasi seperti ini. Bahwa yang dicari pertama kali adalah poilisi bersama surat pernyataan kehilangannya. Surat ini insyaAllah akan bermanfaat dalam pengurusan penggantian beberapa barang yang hilang nanti.

Sedari awal kami memang sudah mencermati taman ini bukan tempat yang aman. Tapi kelelahan seharian berjalan-jalan memburu mural-mural tokoh kartu Tin Tin di penjuru Brussel membuat kami hanya bisa merebahkan diri di taman ini. Taman yang terletak tepat di depan Metro Station Porte de Hal ini cukup bersih dan terpelihara. Udaranya sejuk, rumputnya hijau merata menggemaskan ke seluruh area. Seolah menawarkan keempukan tiada tara saat duduk di atasnya.

Parc au Porte de Hal

Di salah satu ujungnya terdapat sebuah port,  bersejarah nan cantik, salah satu penanda batas kota Brussels, Porte de Hal namanya. Meski begitu saat kami datang ada sekitar tiga gerombolan drug user di beberapa sudut taman, keberadaan beberapa keluarga dan pasangan lain membuat kami merasa aman.

"Porte de Hal"

Porte de Hal

Teringat belum solat, aku pun memutuskan untuk solat di atas rumput tersebut dan membelakangi tasku yang kemudian hilang itu. Dasar copet, peduli amat, namanya butuh makan, orang lagi solat pun tas nya diembat. Jangankan taman, di masjid kampusku pun tas kuliah berisi laptop sering hilang. Ajaibnya, istriku yang duduk disebelahku pun sama sekali tidak merasakan ada gerakan mencurigakan dari orang yang mungkin lewat di belakang kami.

Seusai dari kantor polisi, kami kembali mengecek tempat kami duduk tadi. Hasilnya sama saja. Nihil. Innalillahi wa innailaihi rajiun, mungkin memang belum rejeki kami. Kami pun urung menghadiri undangan dinner dengan beberapa volunteer UNICEF, tempat istriku akan bekerja, yang sedianya merupakan agenda kami malam itu. Jam tanganku menunjukkan pukul 18.55. Surutnya sinar matahari di petang itu mengiringi turunnya eskalator Metro Station mengantar kami masuk ke bawah tanah. Masih saling terpaku dalam diam, kugenggam tangan istriku. Pulang.

Lesson learnt:

  1. Periksa ulang selalu setiap hasil transaksi maupun administrasi dimanapun kita mengurusnya, apapun negara dan lembaganya.
  2. Selalu optimis jadi orang Indonesia, kekurangan yang ada di kita juga ada pada bangsa Eropa dan bukan tidak mungkin pada bangsa mana saja. Namun dengan terbiasa hidup dalam keterbatasan, insyaAllah kita tidak terlena sehingga terus bangkit dan berusaha.
  3. Doa harus dibarengi usaha. Mau solat khusuk kayak apa, kalau tas ga dijaga bakal hilang juga. Mau berdoa serajin apa, kalau ga ngelamar kerja ga bakal dapat juga.
  4. Di pusat kota, di benua manapun berada, selalu waspada terhadap barang bawaan Anda. Jangan pernah terlena. Walaupun sedetik.

5 thoughts on “Kecopetan, Sebuah Refleksi

  1. Fajaaarr..

    Just found and read your blog. So happy for you and your wife.🙂 pas nyampe bagian iniiiii, langsung plak, berasa inget taun lalu pas ilang backpack di kereta di antwerpen. Inget paniknya, sedihnya, keselnya. Hehe. Mesti harus selalu hati2 ya disanaaa.
    Orang jahat mah ga liat geografis, mau di eropa, mau di indonesia, sama aja.
    Anyways, mudah2an ga ada kejadian ga enak lagi ya. Posting yg happy2 joy2 aja. Seneng baca cerita penganten baru. Salam buat mrs fajar ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s