Sebuah Wasiat

Kamis, 22 September 2011

Pagi-pagi masuk sebuah email dari Mama mengenai kondisi Eyang Mami, Ibu dari almarhum Bapakku..

“Wok, …. Mbah sdh banyak menurun, sudah banyak pesan, supaya kita banyak beramal ke anak yatim piatu, sekolah Aisyiah, untuk pendidikan, kesehatan, ojo pelit, ojo cuma ngaji tapi banyak beramal biar tidak berat seperti aku. Haru Wok kalau lihat dan dengar pesan-pesan Eyang Mami. Semua anak-anak sudah kumpul di rumah sakit, karena ditanyain satu-satu. Yo wis, doain aja moga-moga diberi kekuatan dan kesabaran ya. Aaamiiinnn”

Eyang Mami

Selasa, 20 September 2011, 2 hari sebelumnya

Menjelang magrib kami tertimpa musibah kecopetan tas dan segala isinya..

Rabu, 21 September 2011, sehari sebelumnya

Merenungi apa hikmah di balik kecopetan yang lalu, kami sadar dengan disibukkan berbagai urusan terkait adaptasi kami di sini, sejak tiba di Brussel ini aku dan Muti menjadi relatif jarang bersedekah sementara terus berlimpah nikmat & anugrah.  Tiba-tiba terlintas sebuah tag line untuk blog kami ini,

“it’s not how much you have achieved, yet you have shared..”

Jumat, 23 September 2011, sehari sesudahnya

“Iya kita juga sering ngalami, pernah, iseng ngasih pengemis 2 euro, abis itu ada yang tiba-toba nawarin install windows ori padahal windows gw lagi crash dan semua bahan kuliah S2 dan thesis di situ”, cerita Mba Alfi saat bertemu aku dan Muti di acara farewell Mas Diki.

Sabtu, 24 September 2011

“Iya Mas Wowok, orang ke luar negeri sekarang sudah semakin banyak. Sekarang tinggal kita mau jadi yang seperti apa. Memberi kontribusi apa? Paling tidak kita bisa menjadi pembuka jalan untuk komunitas kita. Mengenalkan orang pada program yang kita ikuti, atau koneksi yang kita miliki..” kata Tante Retno. Saat itu aku dan Muti baru saja menjemput Tante Retno dari Brussels International Airport. Awalnya Tante Retno membatalkan rencana mampir ke Brussel, tetapi mendadak sebelum check-in di Oslo untuk mengambnil penerbangan ke Frankfurt tidak sengaja Tante Retno melewati counter Brussels Air dan mendapat tiket ke Brussel. Tiket yang didapat hanya 70 menit sebelum take off menuju Frankfurt.  Akhirnya Tante Retno dapat menengok aku dan Muti.

Rangkaian berbagai kejadian, mulai dari musibah kecopetan, wasiat Eyang Mami, obrolan di malam farewell  Mas Diki, kunjungan “mendadak” Tante Retno yang terjadi dalam minggu ini, aku yakin sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Mengingatkan kami sekali lagi akan pentingnya sedekah dan berbagi manfaat untuk sesama.

Beberapa jam setelah Eyang Mami menyampaikan wasiatnya beliau masuk dalam status somnolen. Sabtu pagi ini  Eyang Mami telah memasuki status koma. Eyang yang beliau lah aku bisa ber-sparing partner dalam Hollandspreken. Eyang yang selalu menanamkan prinsip hidup untuk selalu berbagi dan bersedekah. Single parent yang berhasil membesarkan dan mendidik semua anaknya, dan dikelilingi puluhan cucu hingga belasan cicit. Eyang teladan bagi kami semua.

Mohon doanya, semoga beliau diberi kekuatan menghadapi kondisi kesehatannya.

Amin ya Rabbal Alamin.

Ahad, 9 – 10 – 11

Selamat Jalan Nggih Yang.. InsyaAllah Khusnul Khatimah

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku mendapat kabar dari keluarga di Indonesia, telah kembali ke pangkuan Allah SWT, Eyang Mami, Eyang kami tercinta. Semoga Eyang mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dilapangkan kuburnya, diterima dan dilipatgandakan segala amal ibadahnya, serta diampuni segala khilafnya.

Eyang Mami adalah seorang putri tunggal, ibu dari empat belas orang putra dan putri. Bapakku adalah anak nomor enam. Eyang Mami telah menjadi single parent sejak usia 40-an. Menurut cerita Bapak yang diamini Pamanku, saat itu almarhum Eyang Kakung dalam keadaan bangkrut total karena mismanagement perusahaan akibat tidak amanahnya salah satu orang kepercayaannya.

Di tengah kondisi serba kesulitan, pamanku yang masih SD saat itu menggambarkan sepulang sekolah ia sering menghadapi orang yang datang silih berganti untuk mengantarkan tagihan, termasuk tagihan obat, seorang diri Eyang Mami berhasil bangkit membesarkan semua anaknya seorang diri. Mendidik semua anaknya hingga menjadi “orang”. Dari yang seorang dokterandus yang ahli pijat seperti Bapakku, hingga dokter beneran yang menjadi professor merangkap rektor sekaligus seperti Pakdeku.

Prestasi Eyang Mami ini pun membuat Pemda Jawa Tengah tak luput menganugerahinya penghargaan Ibu Teladan di era 80-an. Dikaruniai hampir 50 orang cucu, dan belasan cicit yang terus bertambah. Semoga kami semua dapat selalu mengamalkan teladan yang telah ditanamkannya.

Oma, we houden van U..❤

"Pamit Eyang Mami"

Pamitan Sebelum Berangkat ke Belgia

"Eyang Mami"

Lebaran Terakhir Bersama Eyang Mami

4 thoughts on “Sebuah Wasiat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s