Sungguh, Dunia Ini Sesempit Daun Kelor!!!, Part 1

Kemana kaki kami melangkah, selalu saja ada petunjuk kami temui. Tidak jauh berbeda dengan bagaimana kami mengambil keputusan untuk menikah, mengikuti berbagai petunjuk dari  “kebetulan”, kini di Belgia, kami pun banyak menjumpai “kebetulan-kebetulan” yang sangat membahagiakan. Cerita pengalaman kali ini kami fokuskan pada sosok-sosok dan  sesuatu secara penuh “kebetulan” kami jumpai di sini. Perjumpaan yang membuktikan bahwa: Dunia Itu Sesempit Daun Kelor!!

Oom Yulheri Abas

Berawal dari sebuah email Ibuku yang ditembuskan kepadaku dua minggu lalu:

“Ass ww, apa kabar pak yulhery abas? Masih ingat saya? (Wiwiek istri almarhum pak sophie yg dulu pinjam rmh pak yulhery di kedung badak th 1984), oh ya kali bpk blm dengar ya bahwa pak sophie sdh meninggal pd bln oktober 2003 krn serangan jantung di madiun krn wkt itu pak yul sdh di belgi ya.


Pak,  sy tahu email bpk dr pak tachrir fatoni (td ketemu di manggala) terus diksh tahu p yul msh di belgi, kebetulan anak sy yg nmr 2 namanya mochammad fadjar wibowo (biasa dipanggil fadjar) saat ini sdg belajar di brussel, jadi biar dia bisa ketemu pak yul ya utk menyambung silaturahim yg sdh lama terputus.”

(dikutip dan diedit seperlunya)

Selang dua hari, kami  dan Oom Yul pun berjumpa di sebuah acara pertemuan masyarakat Indonesia di KBRI Brussels. Oom Yul ternyata sosok yang hangat dan mudah akrab dengan orang. Setiap ada yang berada di sekitar kami berbicara, selalu diperkenalkannya aku dan istriku kepada  yang di sebeleahnya.

“Ini Fadjar putranya sahabat saya yang dulu terakhir ketemu  tahun 1990, saat kemari dengan Pak Menteri.. sekarang belajar disini sama istrinya,  Mutiara.”

Kuhitung malam itu sekitar 6 kali Oom Yul menyampaikan kalimat yang sama. Malam itu pun kami jadi semakin mengenal masyarakat Indonesia di Brussel ini.

Susah payah aku menahan  tetes air mata ketika Oom Yul bercerita bagaimana ia, ayahku, Pak Fathoni dan beberapa kawan berteman. Tahun 1984 Bapakku yang baru menikah dan merantau ke Bogor meminjam rumah Oom Yul di Kedung Badak, Bogor. Karena tidak punya TV, Bapakku selalu numpang rumah beliau kalau nonton siaran sepakbola, bersama beberapa kawan yang sekarang banyak yang telah menjadi pejabat eselon satu, setara Dirjen di Kementerian Kehutanan. Di masa itu baru kakakku yang sudah lahir.

Bapakku dan Oom Yul sama-sama berdinas di lingkungan Kementerian Kehutanan. Oom Yul sendiri pada akhir 80-an mendapat beasiswa S2 ke Belgia di VUB, Vrije Universiteit Brussel dan akhirnya menjadi peneliti di Belgia. Pada tahun 1990, saat aku berumur 2 tahun-an, Oom Yul terakhir kali bertemu dengan Bapak. Saat itu Bapak bertugas menjadi ajudan Menteri Kehutanan, Pak Hasrul Haraha. Bukan karena karir politik, atau keahlian protokoler saat itu Bapak mendapat kesempatan mendampingi Pak Menteri melaksanakan kunjungan dinas ke beberapa negara Eropa. Tetapi semata-mata karena Pak Hasrul senang dipijat sambil ngobrol dengan Bapak.

Itulah pertemuan terakhir Oom Yul dengan Bapak. Kala itu Pak Menteri meminta beliau secara langsung untuk meneliti bioteknologi yang mulai berkembang, untuk di aplikasikan di dunia kehutananan. Sayang, sistem dan fasilitas yang tidak mendukung di Indonesia hanya akan menempatkan beliau di kursi birokrasi dan tidak dapat mengembangkan keilmuannya. Beliau pun akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dari Kementerian Kehutanan RI, menjadi peneliti di Belgia. Meski demikian, beliau selalu terus berupaya untuk berkontribusi kepada Indonesia, dengan selalu membuat penelitian yang terkait dengan Indonesia agar dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Dua puluh satu tahun kemudian, Allah mengizinkan kami, anak dan menantunya, bertemu dengan beliau di Brussel ini. Menyambung silaturahmi yang 21 tahun terputus itu, 12.700 km dari Kedung Badak, Bogor.

mBrussels – mBogor.. kini sesempit daun kelor..

 

Tante Retno, Anggun, AFS

Tante Retno, salah seorang tanteku baru saja menikuti conference di Budapest, Hungaria. Sesuai agenda yang telah diatur beliau berkunjung ke tiga negara Skandinavia, Finlandia, Swedia dan Norwegia. Namun karena saat menjelang keberangkatan kami tidak saling berkabar, tidak ada rencana sebelumnya untuk saling berjumpa.

Rute penerbangan Tante sedikit unik, karena dari Oslo harus transit satu hari di Frankfurt sebelum menuju Jakarta. Menyadari hal ini, kami pun mengupayakan agar kami bisa saling berjumpa dengan perjalanan kereta sehari pulang pergi Frankfurt – Brussels pp. Karena pertimbangan dana tidak mungkin bagi kami untuk pergi ke Frankfurt.  Begitu juga terlalu sedikit waktu tersedia bagi tante untuk ke Brussels. Kami pun sempat menyerah untuk bertemu.

Ternyata Allah berkata lain. Singkat cerita dalam langkahnya memasuki gate penerbangan dari Oslo menuju Frankfurt, tiba-tiba Tante melintasi counter Brussel Airlines dan tertera terdapat penerbangan ke Brussel. Nekat, Tante pun menghampiri counter tersebut dan menanyakan kalau ada Penerbangan Oslo – Brussels – Frankfurt. Agar bisa menengok kami.

 “Yes, it is possible. You can fly now to Brussels and to Frankfurt from Brussels tomorrow”, jawab petugas counter.

”Now? What time,” tanya Tante penasaran.

“It’s about to leave in 70 minutes,” jawab petugas counter.

VOILA!!! Bukan suatu kebeulan kalau tidak sengaja Tante melintasi counter Brussels Arline di bandara Oslo. Silaturahmi memperpanjang rezeki.

Tiga jam sejak kejadian di counter itu, kami telah bertemu Tante di Brussels Airport dengan penuh gembira dan masih belum percaya bagaimana akhirnya tante kemari. dengan hanya menenteng dua buah tas tangan. Membayangkan bagaimana ajaibnya perubahan rute penerbangan tante. Melihat tante yang datang dengan hanya dua buah tas tangan, bagiku seolah Tante ini baru turun dari bis Jogja – Semarang saja.

Kami pun berjalan – jalan keliling centrum Brussels. Hari itu rencana awalnya kami berdua, aku dan istriku akan stand by dari pukul 20.00 – 23.00 di Grand Place menyaksikan konser artis-artis Belgia dan salah satunya akan tampil Mba Anggun C. Sasmi. Karena tidak mengetahui satupun artis Belgia, kami sebenarnya hanya penasaran ingin menyaksikan penampilan Mba Anggun.  Karena Tante datang ke Brussels, kami berharap malamnya kami bisa menyaksikan bertiga. Tanpa dinyana, saat kami sedang melintas di kerumunan turis di sekitar Grand Place, kami mendengar Mba Anggun dipanggil ke stage oleh MC yang sedang di atas panggung. Kami pun bergegas menyaksikan penampilannya. Aku sudah tidak hirau dengan lagu apa yang dinyanyikan, hanya sibuk foto – foto. Dan ini hasilnya.

"Anggun"

Urut kanan ke kiri : Tante Retno yang anggun, Mba Anggun, Istriku yang lebih anggun daripada Mba Anggun.. *eyyaaa..

Walaupun bukan fans fanatik, seru juga rasanya bisa foto Mba Anggun yang memang cantik dari dekat. Sesuatu banget!!! Tapi bagian terbaiknya adalah setelah sadar ternyata istriku lebih anggun dari Mba Anggun. Eeyyyaaah…!!!

Satu lagi sisipan kebetulan. Kami kini tinggal di apartemen yang bersebrangan dengan headquarter dari  AFS Belgique. Sebuah “kebetulan  besar” bagi kami, AFS couple, yang terungkap sejak kali pertama kami datang. Saat itu istriku tidak sengaja menangkap pandang ke arah jendela kantor AFS itu. Tante Retno sendiri pernah terpilih untuk berangkat bersama AFS namun karena biaya, Tante urung mengambil kesempatan itu.

Ketika kami membicarakan tentang hal itu, Tante Retno menyahut,

“AFS nya sekarang saja. Sambil ditemenin ponakan-ponakan yang AFS juga,” ujar Tante mengiringi langkah kami di atas jalan setapak menuju apartemen kami tercinta. Menutup hari itu dengan penuh suka dan bahagia.

Kantor AFS di seberang Apartemen

 kemana-mana jumpa saudara & kebetulan penuh makna, dunia serasa sesempit daun kelor..

Bersambung

4 thoughts on “Sungguh, Dunia Ini Sesempit Daun Kelor!!!, Part 1

  1. It is!remember AFS song?It’s a small world after all…
    Hahahaa…dan jangan bilang Tantemu ikut konfrensi di Oslo utk para peneliti Indonesia Studies, kalo iya what a small small world!!!cuz my lecturer was there too…

    • Haha.. Pengen denger lagi lagunya.. lupa2 ingat..
      But it’s true.. AFS & any exchange program make his world smaller. SO, grateful to be part of those
      Yang di Oslo kebetulan untuk dokter Internis.. however, we still have “the connection” on Pak Budi/Ludy.. Is that answered yet?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s