Sungguh, Dunia Ini Sesempit Daun Kelor, Part 2

Sambungan bagian pertama..

 

Sahabat pembaca, masih ingat dengan bagian pertama tulisan ini? Yang di mana dalam sebuah email ibuku menuliskan bahwa beliau mendapat kontak Oom Yul dari Bapak Tachrir Fathoni? Sempitnya dunia ini kembali terbukti!! Baru saja pagi kemarin ibunda dari istriku, Mama Nani, bercerita bahwa pagi ini, tepat setelah membaca postingan bagian pertama, beliau menemukan nama Dr. Tachrir Fathoni, Director General General of Forest Research, dalam daftar peserta acara ASEAN Ministerial Meeting on Agriculture and Forestry!!

Acara yang dimana beliau menjadi panitianya dan Pak Fathoni, kawan lama Bapakku dan Oom Yul, sebagai pesertanya. What a coincidence?!! Nope, Allah has organized this! Ini yang selalu dipesankan oleh Ibuku, pentingnya silaturahmi. Memperbanyak rezeki. Rezeki yang tidak selalu berwujud fisik. Sekedar memiliki perasaan bahwa kita saling terhubung dengan orang-orang yang kita jumpai pun sudah merupakan suatu nikmat sendiri. Begitulah rezeki.

Begitu pula dengan menikah. Karena sebelum berangkat aku dan istriku menikah terlebih dulu, “scenario kebetulan” ini menjadi lebih panjang dan menarik. Bayangkan jika kemarin kami tidak menikah, tulisanku ini akan terhenti pada bagian aku bertemu Oom Yul di Brussel ini. Tanpa mengetahui bahwa ada lanjutan cerita bahwa Mama Nani juga secara kebetulan akan bekerja bersama Pak Fathoni. Karena menikah memperluas silaturahmi, silaturahmi memperluas rezeki.

Mari lanjut ke cerita berikutnya.

Mba Sri Wahyuni

Malam itu aku dan istriku datang ke acara perpisahan Mas Diki, warga senior Les Indonesiens Bruxellois (wadah kumpul-kumpul warga Indonesia di Brussel), yang akan kembali ke Indonesia. Dalam sebuah “kelompok diskusi” kecil dengan beberapa orang yang hadir, kami pun saling berkenalan. Hingga tiba giliran seorang Mba yang baru pertama kali hadir dalam perkumpulan ini.

“Saya mengajar di Universitas Islam Riau, sekarang exchange Post Doc dengan program Erasmus Lotus », ujar beliau memeperkenalkan diri.

 

« saya dulu PhD di Bremen » jawab Mba Sri Wahyuni atas pertanyaanku tentang « asal-usulnya » dengan ramah dan penuh semangat. Begitu kesan yang kutangkap dari gaya bicaranya.

 

Wah hebat pikir saya, jarang-jarang jumpa dosen dari Universitas swasta yang aktif studi dengan berbagai program di luar negeri. Belum selesai aku membatin tiba-tiba terlintas dalam benakku. “Koq kaya kenal ya??”

 

“Mba, maaf ni mau tanya lagi ? Maaf, ya Mba, aku memang suka banyak nanya kalau kenalan, soalnya sering ujung-ujungnya nyambung, hehe »

Memang begini ini sifatku. Selalu mengejar pertanyaan pada siapapun yang kuanggap bisa belajar banyak darinya. Sifat yang kadang mengganggu namun tidak banyak merugikan. Menguntungkan, sangat !! hehehe.

 

“Mba Sri di Jerman dengan DAAD ya?”, beliau mengangguk. Aku makin pede.

 

“Terus kemarin ke kampus FK UGM sama rombongan IDC ya?” nada pertanyaanku semakin tinggi penuh keyakinan bercampur rasa terkejut yang menyengat.

“Aha!!! Inget aku nggak, yang waktu itu nganter muter-muter?! Adiknya Edo yang jadi panitia IDC nya?”

 

“Oalah, Mas Fadjar!!! MasyaAllah, sempitnya dunia..” sahut Mba Sri tidak kalah terkejut.

Berkali-kali kami mengucapkan, “Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..” sambil aku berusaha menjelaskan pada istriku apa yang sedang terjadi.

Bulan Maret yang lalu kakakku Edo menjadi panitia IDC, International Dean Course for South East Asia yang didakan di Yogyakarta. Acara ini diikuti oleh berbagai dekan dari perguruan tinggi di ASEAN dan alumni program beasiswa DAAD. Salah satu rangkaian acara adalah mengunjungi Fakultas Kedokteran UGM. Mengetahui hal itu aku iseng-iseng mengajukan diri pada salah satu Wadek FK untuk menjadi LO bagi para tamu. Saat menyambut para tamu itulah aku berjumpa dan berkenalan dengan Mba Sri Wahyuni, sebagai peserta, yang sekarang lagi-lagi berjumpa di sini.

Hal yang sangat kukagumi dari beliau adalah meskipun mengajar sekaligus kepala jurusan di perguruan tinggi swasta, beliau selalu aktif mencari peluang belajar dengan beasiswa.

“Ga ada bedanya sekarang negeri sama swasta, mau beasiswa, tinggal cari di internet. Mau negeri, kalau nggak cari yang nggak dapat!”

 

“Dulu aku kos di Jogja dan kuliah di UNS, pulang pergi  Jogja-Solo setiap hari. Lalu S2 di UI. Mungkin karena sering lihat etos orang Jakarta ya, aku jadi ketularan aktif dan terus mencari peluang,” sambungnya memberi penjelasan terhadap pertanyaanku tentang perjalanan studinya.

Lebih kagum lagi ketika mendengar cerita beliau bahwa meskipun beliau sibuk dan banyak bepergian beliau telah dikarunia empat orang anak yang tengah beranjak dewasa. Sementara suami beliau mengelola sebuah pesantren di Riau. Ah, sungguh luar biasa batinku. Tidak heran banyak rezeki beasiswanya, insyaAllah amalan ilmunya dan keluarganya tidak kalah banyak juga. Selalu saja ada kisah penuh inspirasi ketika bertemu seseorang di rantau ini.

Sahabat semua, sebetulnya masih ada tujuh nama lagi yang bisa diceritakan. Enam orang sosok dan kisah luar biasa yang kami jumpai di Brussels ini dengan penuh kebetulan dan juga makna luar biasa di baliknya. Namun karena keterbatasan waktu dan kemampuan, kami mohon maaf tidak dapat melanjutkan. InsyaAllah akan dilanjutkan dengan cerita mengenai hal lain.

Tapi percayalah, kita hidup tidak sendiri dan kita saling terkoneksi. Koneksi itulah yang akan berkembang menjadi multi-rezeki melalui silaturahmi. Multi-rezeki tidak selalu berupa materi. Bisa berupa ilmu, motivasi, dan inspirasi. Dan masih banyak hal lagi yang bisa membuat hidup ini lebih berarti.

 

Kemarin salah seorang temanku, penerima beasiswa Erasmus MAHEVA, dari Mongol berkata, yang begini kira-kira artinya

“ Eh, Djar, nangdhi wae to kowe?! Diomongi lho ambek konco2 iku.. Jare Fadjar ki busy-man.. Mben dijak ngumpul karo awak dhewe,mesthi  ana wae acaramu nang njobo karo kenalan-kenalanmu.. “

(gendheng ki, mosok orang Mongol iso boso Jowo)

 

Aku pun menceritakan sebagian orang-orang dan acara apa saja yang aku ikuti selama di Brussels ini, mulai dari makan-makan dengan teman-teman PPI Brussels, pertemuan masyarakat Indonesia di KBRI, mendapat kunjungan dari saudara, dan lain-lain. Aku juga sempat sedikit menceritakan bagaimana aku biasa berkomunikasi melalui facebook dan email dengan beberapa diplomat Indonesia yang begitu baik terhadapku dan istriku.

“Koq iso ngono tho wong Indonesia, ki??!” sambungnya penasaran. Sering pertanyaan ini ditujukan padaku. Terutama orang-orang Eropa, walau orang Asia lain juga sering tidak kalah herannya.

“Yes, it is the way we, Indonesian, live abroad. We stay in touch. We are connected to each other. We meet a lot. We talk a lot. We say hello to each other, we ask news. Anything. Mmm.. That explains as well, why we use Facebook a lot. Hehehe..”

Omonganku pun ngelantur kemana-mana. Padahal maksudnya cuma ingin menjelaskan konsep silaturahmi secara sederhana. Intinya cuma mau ngomong. “Itulah pentingnya silaturahmi!”

Tapi silaturahmi sendiri opo boso Inggrise, jal??!! Wis lah, koyo ngono kae pokoke. Mumet dewe aku le njelaske kowe. Bingung sendiri aku jadinya.

Dalam kebingungan translasi silaturahmi aku membatin, “bangga jadi orang Indonesia.. InsyaAllah survive di-mana-mana. Jauh sebelum Islam masuk, gotong royong konon sudah menjadi budaya bangsa ini. Bagiku ada interseksi antara gotong royong dan silaturahmi. Mungkin cara hidup saat merantau di luar negeri seperti inilah ejawantah dari dua konsep tersebut. Ya, merantaulah, dunia ini sesempit daun kelor.. 

 

Sebagaimana Buya Hamka berpesan,

“ ..Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan..”

3 thoughts on “Sungguh, Dunia Ini Sesempit Daun Kelor, Part 2

  1. Wow.. amazing! subhanallah ya.. bisa beruntun gitu kebetulannya ya mas?
    hmm.. kayaknya saya bakalan sering main ke blog ini mas..
    Sudah saya link blog ini di blog saya mas (www.nanyaterus.com).. makasih ya..

  2. Luarbiasa… The Power of “SILATURAHMI” Lha katanya menyambung silaturahmi juga bagian cabang dari Sedekah.. Lha Injih to mas Dokter…?

    Insya’Allah, dimanapun kita berada, selama masih mau berbagi kita akan selalu mendapatkan saudara. Semangat Berbagi.

    Salam dari Ujung Indonesia😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s