Akhir Pekan Penuh Kesan

Bonjour, Assalamualaikum!!!

Hahai, jumpa lagi.. Kali ini tulisanku lebih santai daripada biasanya, sesuai dengan temanya, Weekend! Alhamdulillah semua weekend yang sudah dilalui sangat berkesan di Belgia. Hanya baru yang ini  saja sempat menuliskannya. Oke, bukan cuma weekend sih yang berkesan, semua hari tepatnya. Maklum, manten anyar. Makanya buruan pada nikah, huehehe. Oke, langsung saja ceritanya.

Mari Berkebun!!!

Sabtu kemarin, di tengah persiapan Muti memasak pasta, kami mendapati bahwa sisa bawang merah yang kami bawa dari Indonesia telah mengeluarkan tunas yang cukup meyakinkan. Entah mengapa kami berdua girang bukan main melihatnya. Seperti pasangan yang melihat hasil test pack positif. Somehow dari aromanya yang semerbak ini, seolah kami membaui aroma kehidupan dari bawang-bawang merah ini.

Bawang Merah dari Indonesia

Bawang Merah dari Indonesia

Usai berdiskusi dengan istriku tentang betapa hebat dan suburnya tanah Indonesia yang terbawa di plastik bawang ini, kami pun sepakat untuk mencoba memperpanjang usia mereka dan memberi harapan hidup lebih lama.

“Siapa tahu kita bisa jadi juragan brambang dari Brussels!”, candaku penuh semangat.

Meski hanya seruan bercanda, kami berusaha untuk merealisasikan hal ini dengan membeli media tanam dan mempelajari teknik menanam bawang via Google dan konsultasi pada ibuku. hitung-hitung sebagai latihan sebelum kami membantu mengembangkan kebun Ibuku di Indonesia yang sudah ditanami terung, kacang, timun, sengon, hingga jati kebon setahun belakangan ini. Untuk tambahan ongkos hidup ketika pulang di Indonesia nanti.

Walaupun “cita-cita” jadi juragan bawang merah dari Brussels terdengar terlalu ambisius, mengingat iklim yang berbeda dan pengetahuna terbatas. Kami berharap dengan latihan menanam bawang ini bisa memberi « nyawa » pada tangan kami agar lebih hidup dan “plantage friendly”. Barangkali ada sahabat yang punya informasi tentang menanam bawang, kami sangat menantikan masukan-masukannya!!😀

Kini selain memasak, kami berdua punya hobi baru! Berkebun!! Hehehe.

Petani Brambang Karbitan

Petani Brambang Karbitan

“Kalau alumni industri pertanian IPB banyak yang bisa kerja di Bank, kenapa alumni FK UGM ga bisa jadi petani .. Hehehe”

European Job Day

Masih di hari yang sama, kami mendatangi European Job Day di Schuman, Brussels. Salah satu Job Fair terbesar di Eropa ini diadakan rutin oleh European Comission secara bergantian di beberapa kota besar di  Eropa. Semakin meningkatnya mobilitas warga EU membuat event ini semakin terbuka lebar tidak hanya untuk pasar pekerjaan di Belgia tapi juga Eropa. Sesuai namanya. Meski begitu, kebanyakan perusahaan masih mengutamakan mereka yang bisa berbahasa Inggris dan Perancis. Maklum, orang Belgia Wallon (wilayah Belgia berbahasa Prancis)  masih kekeuh berbicara prancis Prancis saja di kantor meski lingkungan kerjanya sudah internasional.

Kami datang untuk mencari peluang jika ada pekerjaan yang bisa Muti dapatkan selama kami di Belgia ini. Kebanyakan pekerjaan yang ditwarkan di bidang IT consultant, manufacture, business development, finance, dskt. Karena antriannya sangat panjang, setelah mendapat sekali kesempatan interview yang cukup menarik dan souvenir, kami pun beranjak pulang. Maklum, aku keburu-buru pengen nonton MU. Hehehe.

Puas menghabiskan sekitar satu jam mengunjungi satu stand ke stand yang lain, memperhatikan mas-mas dan mabk-mbak bule ini antri mencari kerja seperti layaknya orang Indonesia mencari kerja, kami pun pulang dengan dua buah kesimpulan,

“Asal punya keahlian, lebih gampang bikin, daripada cari kerjaan!” dan

“Kalau sudah punya keahlian yang terus dikembangkan, bukan kita yang cari kerjaan, tapi kerjaan yang cari kita!”

Proyek Buku, Dunia yang Menyempit, hingga Mojok Berduaan

Untuk pertama kalinya hari ini kami mengunjungi kota Leuven. Kota yang pada awalnya kami kira akan menjadi tempat tahun madu kami, bukannya Brussels. Di sinilah Universitetit Katholieke de Leuven berada. Universitas semula sebelum kemudian pecah menjadi dua yang mana pecahannya adalah kampus tempatku belajar sekarang. Universitee Catholique de Louvain. Tentang sejarahnya bisa membaca link ini. Kalau ndak mau baca ya sudah, intinya adalah Belgia Flanders (Bagian Belanda) dan Belgia Wallon (Bagian Prancis) ga mau akur sampe universitas-universitasnya aja dipecah! Weleh-weleh, Indonesia memang hebat!!!

Tujuan dari kunjungan kami yang pertama adalah silaturahmi, menambah saudara. Juga karena bagaimanapun juga kampus ku UCL ada kata-kata Louvain nya yang asalnya dari Leuven. Jadi sedikit banyak merasa ada darah Leuven mengalir di tubuhku. Weleh-weleh, kelairan Ciawi we nggaya kowe! Bagaimanapun juga, untuk lidahku, hari ini dia bisa sedikit bermanja-manja ngoceh bahasa Belanda di daerah Flanders, Belgia Belanda, setelah capek dirudapaksa memproduksi kata-kata dalam bahasa Prancis sebulan terakhir ini.

PPI Leuven

Keluarga Besar PPI Leuven

Sementara yang kedua adalah meramaikan kumpul-kumpul pembahasan proyek penulisan buku oleh para pelajar Indonesia di Belgia yang rencananya akan didukung oleh Bapak Duta Besar RI Arief Havas Oegroseno. Proyek ini sendiri dipimpin oleh Mas Bosman yang ternyata senior dari UGM juga meski beda jurusan yang sudah malang melintang di dunia penulisan.

Banyak hal menarik kami alami hari ini dalam kunjungan kami ke Leuven. Pertama, selain makan yang enak dan mendapat banyak saudara baru, aku dan istriku berjumpa dengan Mas Vido. Kakak kelasku yang mengOSPEK ku semasa SMP di SMP Negeri 5 Jogja. Walah-walah, ternyata dunia semakin sempit saja. Kami pun ngobrol ngalor ngidul dan terungkaplah bahwa beliau juga baru menikah dan peristiwa istimewa ini baru terjadi 22 hari yang lalu. Ternyata nasib baik kami tidak jauh berbeda. Meski saya harus lebih bersyukur karena istri sudah ada di sisi sementara Mas Vido sedang menanti.  Bercerita tentang masa SMP, tak terasa terdengar gema Mars Pawitikra di antara kami berdua.. Halah lebay..

Bersama Mas Vido

Bersama Mas Vido

Kedua, kami ditunjukkan landmark khas Leuven oleh Mas Boman yang baik hati atas saran Mas Roil. Arenberg Kasteel Leuven. Sambil berjalan kaki setengah jam ngalor ngidul tentang beasiswa, kehidupan dan tulis menulis dengan Mas Bosman yang akan menerbitkan bukunya sendiri pada Februari 2012 nanti, kami  pun tiba  di  halaman Kasteel Leuven yang cantik mempesona.

Bersama Mas Bosman

Bersama Mas Bosman

Untung udah nikah dan bawa istri, kalau enggak dijamin galau segalau-segalaunya nemu tempat secantik ini.

Kasteel Leuven

Kasteel Leuven

Sekian dulu semuanya, sudah malam. Sudah dipanggil ke peraduan.

Salam dari Belgia

Dari kami yang berbahagia  :)

Sepedaan di Kasteel Leuven

Berduaan di Arenberg Kasteel Leuven

4 thoughts on “Akhir Pekan Penuh Kesan

    • keep in touch yaa mba.. Tahun depan Mba Rika yang bikin kita envy sementara aku (fadjar) menjadi seonggok koass..
      *sudah masuk2an S2 public health lagi Mba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s