Bahagia Dengan Seribu Perak Saja

Mendapatkan kesempatan belajar dan hidup di luar negeri dengan beasiswa adalah impianku sejak SMP di Jogja. Juga tentu saja impian banyak orang terutama pelajar dan mahasiswa. Sementara ketersediaan beasiswa jaman sekarang  makin banyak saja. Ribuan kursi tersedia tiap tahunnya. Ting sumebar kalau kata orang Jawa. Lihat di sini buktinya. Hampir tidak ada negara maju yang tidak menawarkan beasiswa kepada developing countries yang mana Indonesia di dalamnya. Stuned dari Belanda, DAAD Jerman, Fullbright Amerika, VLIR Belgia, Quota Norwegia, Monbusho Jepang, dan lain-lain.

Banyak pendapat mengemukakan bahwa bantuan-bantuan internasional dari negara-negara maju, termasuk beasiswa merupakan bentuk politik balas budi dari pemerintah negara-negara maju atas peran negara-negara berkembang dalam memajukan mereka. Baik melalui penjajahan di masa lampau maupun eksplorasi sumber daya di masa kini. Bisa dibilang mayoritas negara maju di Eropa pernah dan beberapa masih memiliki koloni di belahan dunia lain. Contohnya Inggris dengan India, Prancis dengan Vietnam dkk, Belgia dengan Kongo dkk, Belanda dengan Indonesia dkk, Jerman dengan Kamerun, Italia dengan Libya, dan lain-lain. Pendapat ini sedikit banyak mempengaruhiku untuk menggondol amanah yang aku terima ini semaksimal mungkin ke Indonesia. Sehingga mempengaruhi bagaimana aku mengajak istriku mengalokasikan living allowance yang kami terima.

Mendapatkan uang saku dan biaya hidup, living allowance, adalah salah satu hal yang menarik dari beasiswa. Tapi sepengetahuanku belum banyak yang berbagi tentang mengelola beasiswa yang didapat. Mungkin karena memang banyak yang tidak terkelola. Lumrah saja, hidup di rantau seringkali banyak hal terjadi tak terduga. Dari yang memberatkan hingga menyenangkan. Hobi jalan-jalan dan makan-makan misalnya, adalah kegiatan pelajar yang seringkali banyak menguras beasiswa.

Beasiswa Erasmus Mundus Action 2 Project (Mobility Programme) MAHEVA yang aku terima dan kami gunakan berdua besarnya adalah 1000 Perak, alias 1000 Euro.

Surat Keterangan Beasiswa

“Alhamdulillaaaah..!!!”, luar biasa girangnya saat aku menerima surat beasiswa ini.

Mau dikasih berapapun buat kami tentu sangat kami syukuri. Dapat 1000, Alhamdulillah.Dapat  900, Alhamdulillah, 1100 juga Alhamdulillah. Karena bagiku kapan lagi bisa “honeymoon” dengan beasiswa begini. Hehehe. Bagaimana juga, kami sangat bersyukur, pengumuman beasiswa ini aku terima sebulan setelah kami “merencanakan” menikah di tahun 2012 atau 2013. “rencana” yang segera kami edit saat itu juga menjadi 13 Agustus 2011, 10 hari sebelum keberangkatan kami.

Dalam rangka mensyukuri itulah kami berusaha untuk mengelola amanah ini dengan hati-hati. Bagaimana juga kami tidak hanya hidup hari ini. Tahun depan InsyaAllah aku masih koass dan Muti ingin sekolah S2. Segalanya harus direncanakan dengan matang.

Melihat angka 1000 pastilah banyak di antara kita, termasuk aku sendiri terhenyak seketika. Senang luar biasa!!! Berbagai rencana menabung, bayangan membawa pulang ribuan Euro setelah satu sampai dua tahun berkibaran di depan mata. Bagaimana tidak, menjadi PNS selama 25 tahun ibuku saja gajinya hanya 200 Euro. Tapi kesenangan itu segera sirna begitu kita tiba di negara tujuan melihat biaya akomodasi, transportasi, dan konsumsi yang harus kita keluarkan.

Sebagai contoh, setibanya kami di Belgia, kami berdua harus membayar apartemen dan listrik sebesar 400 Euro sebulan. Sreeettt… tiba-tiba 1000 tinggal menjadi 600. Setelah itu kami pun harus membayar tanda jadi kontrak apartemen senilai 300 Euro (akan kembali saat kami meninggalkan apartemen tahun depan dalam). Srettt.. uang di tangan  tinggal 300 dari beasiswa bulan pertama. Ternyata 400 Euro yang kami bayar tadi adalah biaya bulan September (sistem bayar di depan), sementara kami datang pada 24 Agustus. Selama bulan Agustus kami dikenai cas sekitar 150 Euro. Sreetttt.. Sisa 150 Euro di tangan kami. Esok harinya kami pun membayar abonemen transport dalam kota 80 Euro. Sreett… Maka dalam dua hari kedatangan kami, melayanglah sudah 930 Euro. Tersisi 70 Euro, yang akhirnya habis-bis karena kami harus segera beli bantal, sprei, bed cover, tissue, dan beberapa precil-precil lainnya. Bim salabim jadi miskin mendadak!!!

Belajar dari pengalaman ini, dalam menghadapi kehidupan bulan-bulan selanjutnya, kami pun segera membuat financial planning yang dibuat dengan seksama dan penuh paksaan dari berbagai sektor!

Secara singkat beginilah kami mengalokasikan dana beasiswa yang kami terima secara berkala setiap bulannya:

  1. Infak, 100 Euro
  2. Deposito, 300 Euro
  3. Konsumsi & Logistik, 100 Euro
  4. Transportasi & Komunikasi, 100 Euro
  5. Akomodasi & Listrik , 400 Euro
"Home Bank" Kami

"Home Bank" Kami & Alokasinya

Penjelasan lebih lanjut insyaAllah bertahap kami ceritakan esok hari.

A demain!!!

8 thoughts on “Bahagia Dengan Seribu Perak Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s