Bahagia Dengan Sedekah

Setelah merilis tulisan di bawah ini beberapa waktu lalu, beberapa pesan ditujukan kepada kami dengan inti pertanyaan “bagaimana caranya berbagi dengan adik asuh”.

Berikut jawaban kami: (mohon tulisan ini tidak hanya dibaca, namun ditindaklanjuti agar semakin banyak adik-adik yang bisa sekolah dengan layak)

Untuk dapat membantu pendidikan adik asuh tentu sangat banyak caranya. Berikut ini hanya sebagian yang dapat kami bantu informasikan dan hubungkan dengan baik.

1. Kunjungi www.rumahzakat.org . Bagi warga Yogya dapat menghubungi mas Amin Yusup, amin_yusup@rumahzakat.org minta dicarikan adik asuh dan bisa profilnya disesuaikan permintaan kita. Bilang saja tahu info ini dari si fadjar, beliau sudah seperti kawan baik. Disinilah aku kenal dik Cahyono. Difasilitasi surat menyurat dan tersedia laporan bulanan.

2. Kunjungi http://www.facebook.com/hoshizora.org dan websitenya. Di sinilah istriku mengenal dik Mindar kebetulan Muti alumni APU (Asia Pacific University), program ini digagas oleh para alumni APU. Difasilitasi surat menyurat dan tersedia laporan bulanan.

3. Mba Lely, salah satu staff ibuku di kantor ada yang menjanda sejak anaknya baru lahir. Sesekali kami memberikan santunan, tetapi karena aku dan istriku sedang ada rizki kami coba rutinkan tahun ini.  Barangkali ada mas-mas dan mbak-mbak yang tertarik melanjutkan? Silakan hubungi kami.

4. Papa Muti, papa dari istriku mengelola yayasan untuk anak yatim dan tidak mampu di Bekasi, namun caranya tidak dengan “mengangkat” adik asuh, melainkan dengan menumpulkan dana bulanan dari para donatur. Selanjutnya di manage olah yayasan beliau. Saat ini  sudah ada hampir 100 anak, dengan laporan bulanan lengkap dan detil.

Tulisan ini merupakan sambungan dari Bahagia Dengan Seribu Perak Saja

————————————————————————————————-“Gapapa Mas, pokoknya selama buat sedekah, berapa pun aku ikhlas..”

Cesss.. Ah betapa bahagianya aku mendengar tanggapan istriku ini. Bayangkan kalau mas-mas, mba-mba juga sudah menikah dan pasangan panjenengan berkata demikian. Bener tho? cesss.. rasanya. Yang belum nikah makanya cepetan!!! Ketika aku menyampaikan rencanaku untuk mengambil 10% dari living allowance yang kami terima. Sama bahagianya seperti pertama kali aku  menerima pengumuman beasiswa ini. Hanya bedanya beasiswa ini hanya berusia 10 bulan, sementara pernyataan istriku insyaAllah berusia selamanya.😀 Istriku pun tidak merubah pendapatnya ketika aku sampaikan bahwa 100 Euro yang disalurkan berarti mengurangi kelapangan kami berdua dalam belanja (mulai dari makanan sampai kosmetiknya), jalan-jalan, dan hiburan sebesar 100 Euro.

Kebetulan, lewat apa yang sudah dicontohkan  sejak kami kecil, kedua orangtua kami, baik dari istriku maupun orang tuaku, hingga eyang kami mampu meyakinkan kami bahwa kami tidak bisa melepaskan sedekah dari perjalanan hidup kami. Termasuk bagaimana kami bisa bertemu dan menjalani hidup sejauh ini. Karena itu juga kami telah berkomitmen untuk mulai belajar dari 10% yang kami terima untuk kebaikan orang lain. Berapapun suatu hari nanti kami menerima riziki, insyaAllah setidaknya 10% kami salurkan.

Berbagai nasib ajaib terkait sedekah terus kami alami sejak awal kami bersama. Beasiswa Erasmus Mundus yang kami jalani saat ini misalnya. Kehadiran beasiswa ini sebetulnya cukup menarik. Prosesnya tidak terlalu rumit. Hanya mengajukan aplikasi on-line dengan syarat-syarat administrative yang cukup di-scan dan di-upload via on-line account. Tanpa ujian, tanpa wawancara. Hal “spesial” yang coba aku lakukan saat itu adalah dengan “memancingnya”dengan sedekah. Yaitu dengan melunasi biaya pendidikan bulanan adik asuhku, Dik Cahyono hingga Agustus 2012. Bulan dimana program Erasmus Mundus MAHEVA ini berakhir.

Begitu juga dengan Muti, aplikasi visa Schengen yang ia ajukan hanya sehari sebelum pernikahan pun akhirnya mulus keluar tepat sehari sebelum kami berangkat ke Belgia! Juga dengan “memancing” dengan menyalurkan bulanan support pendidikan adik asuhnya, Dik Mindar hingga satu tahun mendatang. Meskipun visa Schengennya hanya berlaku sebulan dan kini sudah habis, seminggu sebelum habis (saat itu kami mulai khawatir istriku harus pulang), kami mendapat informasi dari berbagai sumber bahwa kami dapat mengajukan permohonan izin tinggal langsung untuk istriku di Maison de Comunale (Dinas Dukcapil) di sini. Sehingga jika upaya ini berhasil ia tidak perlu kembali ke Jakarta mengikuti prosedur dari semula.

Pertemuan aku dan istriku pun diawali unsur sedekah. Sebagaimana terkisahkan dalam Story Behind the Wedding kami. Kala itu aku yang sedang berpartisipasi sebagai sukarelawan dalam musibah letusan Merapi 5 November 2010, membuat sebuah poster fundraising yang kuunggah di Facebook. Tergerak dengan poster yang kubuat Muti mengumpulkan dana di kantornya, Sekretariat ASEAN kemudian menghubungiku dan menyalurkannya. Dari sanalah komunikasi kami terjalin kembali setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Jadi memang benar kalau sedekah itu membuat enteng rezeki dan jodoh.

Pertemuan kami, berjodohnya istriku dengan diriku yang Wong Jogja ini, setidaknya juga menjadi jalan pembuka untuk istriku menyambung silaturahmi dengan Dik Mindar. Adik asuh istriku yang selama  dua tahun ini hanya berkomunikasi melalui surat tulisan tangan yang di-scan kemudian dikirim melalui email oleh kakak pengasuh di Bantul (45km dari Jogja centrum) dan diterima di inbox Muti di Beppu, Jepang. April lalu, saat aku mengajak istriku ke Jogja menemui Pakde dan Bude untuk meminta bantuan melamarkan, kami menyempatkan diri untuk mengajak Dik Mindar ini jalan-jalan ke toko buku Gramedia di Jogja. Pengalaman pertamanya ke toko buku di Jogja. Dan pertama kalinya dia tahu bahwa ada toko buku ber-AC dan bertingkat, bahwa ada toko buku bernama Gramedia!!! T.T

InsyaAllah, alokasi dana ini menurut kami jauh lebih baik daripada kami hanya menghabiskannya berdua selama disini. Karena dengan sebagian dana ini, walau kecil setidaknya kami bisa berpartisispasi membantu pemerintah mengalirkan devisa untuk Indonesia dengan peruntukkan yang insyaAllah jelas tujuannya.

Kini, kami bercita-cita agar pada usia 30 nanti, dimana pun kami berada, kami sudah bisa menyalurkan rizki kami secara rutin setiap bulan setidaknya pada 10 adik asuh di Indonesia. Dan menjadi 1000 jumlahnya, pada saat kami berusia 40 tahun nanti. Kami merencanakan pensiun dini dan membuat yayasan pada tahun 2029. Bismillah, InsyaAlah.

Aku bersyukur Allah menganugerahiku hidup dan terlahir dari orang tua, leluhur, yang meneladankan sedekah.. Kini aku semakin bersyukur mendapatkan pendamping hidup yang ikhlas hidup dengan sedekah.. Ahlamdulillah..

Brussels, 5/10/11

6 thoughts on “Bahagia Dengan Sedekah

  1. Senang banget baca cerita-cerita kalian. Makin sering share yah, jadi aku disini bisa terus belajar dari kalian🙂

    Btw, Thanks banget info tentang adik asuhnya. aku lagi cari-cari info tentang gimana caranya jadi kakak asuh n tiba-tiba nemu blog kalian dan malah baca post ini.

    Sukses yah di Belgia. Ditunggu cerita-cerita menarik lainnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s