Bahagia Dengan Potong di Depan

“Nanti sisanya ditabung yaa..”

Sejak kecil itulah yang tertanam di kepala kita, anak-anak Indonesia, manakala menerima uang jajan dari orang tua dan saudara. Bisa ditebak sendiri akibatnya, kebanyakan dari kita tidak bakat nabung hanya kalau ada sisa!

Menurutku ini adalah doktrin yang berbahaya untuk masa depan bangsa. Kalau begitu terus, sampai kapanpun generasi penerus Indonesia akan terus menjadi generasi yang konsumtif dan tidak pernah belajar menabung. Kalaupun ada, tabungannya pun seuprit, karena yang ditabung juga cuma sisa.

Tapi alhamdulillah, seingatku orang tuaku tidak pernah memberi doktrin seperti di atas. Kalaupun aku tahu doktrin di atas, itu karena dengar dari berbagai bacaan atau penggalan sinetron. Hehe, ngeles. Dulu uang jajanku 500 perak saat kelas 1-2 SD. Dikasih tiap hari tapi ambil sendiri di laci. Terdiri dari segepok 500-an, diliputi kertas pengikat dari Bank Indonesia. Herannya koq dulu aku bisa hanya ambil selembar tiap hari. Padahal kalau dipikir-pikir, bisa aja kalau mau dikorupsi langsung 3 lembar. 500 saat itu pas buat mie ayam semangkok. Jadi ya gak ada sisanya. Hehe.

Dengan demikian aku tidak menabung dari uang jajan. Aku menabung dari uang pemberian saudara atau sahabat orangtuaku kalau kami sowan-sowan, atau kalau Bapak pergi dinas. Setiap mau pergi dinas luar kota, Bapak selalu meninggalkan uang lebih kepada kami entah kenapa. Seolah seperti uang ganti rugi ketiadaannya di rumah. Kalau ke Bandung 3 hari aku dan kakakku masing-masing dapat 15 ribu. Kalau ke Madiun 25 ribu. Kalau ke Banyuwangi bisa 50 ribu. Akhirnya kami selalu senang kalau ditingal Bapak dinas. Sudah gak ada yang marah-marahi, dapat uang lagi. Hihihi.

Baru saat tinggal ikut Mbah Kakung dan Pakde semasa SMP di Jogja aku mengerti yang namanya nabung di akhir itu adalah hal yang mustahil! Kalaupun berhasil, jumlahnya tidak banyak berarti. Akhirnya aku mulai menerapkan sistem potong di depan. Dapat kiriman 400 ribu aku simpan 100 ribu di tabungan. Sengaja saat itu aku ajukan proposal 400 ribu pada orang tuaku di Bogor karena setelah dihitung kebutuhanku sekitar 300 ribu. Jadi mark up anggaran ini ceritanya. Hehehe. Tidak asal mark up, aku sengaja membuat dua nomor rekening pada satu ATM saat itu. Satu aku namai rekening arus lancar, satu lagi rekening mengendap. Sehingga setiap menerima 400 ribu, langsung aku transfer 100 ribu ke rekening mengendap dan tak pernah kuutak-utik sampai lulus SMP.

Karena saat ini sudah jadi seorang suami dan tidak mengajukan proposal anggaran lagi, maka aku mengajak istriku untuk menerapkan system potong di depan ini pada setiap pemasukan yang kami terima. dari pengalamanku sendiri, inilah prosedur terbaik dalam menabung. Dengan begini, selain perencanaan masa depan relatif lebih dapat diwujudkan, dana belanja yang kami miliki pun dapat digunakan dengan hati tenang.

Daripada setiap belanja was-was mikir,

“Belanja ga ya, kalo belanja ini nanti sisanya ga sesuai dengan rencana nabung?” lebih baik

“Belanja aah, uangnya kan udah sesuai yang ditabung kemarin!”

Lalu bagaimana bisa dapat angka 300?

Inilah prosedur pengambilan kebijakan tabungan kami.

Belajar Dari Pak Tung Hingga Surabaya

  1. Menurut guru financial kita , Pak Tung Desem Waringin, tabungan itu sebaiknya besarnya 60% dari income. Yang kemudian dibagi baik dalam bentuk deposito maupun investasi. (Karena 60% dari beasiswaku adalah 600 Euro, ini belum bisa dilakukan karena untuk akomodasi saja sudah perlu 400).
  2. Akhirnya kami putuskan untuk menerapkan rumus

1000 – infak – pengeluaran sesuai kebutuhan (bukan keinginan) = 300

300 Euro per bulan ini lah yang kami potong di depan setiap kami menerima beasiswa setiap bulan. Seperti yang sudah kuungkap pada artikel Bahagia Dengan Seribu Perak Saja, salah satu motivasi kami menabung dari beasiswa ini adalah berpartisipasi, meskipun kecil, menyumbang “devisa” kepada negara. Nantinya dari tabungan yang terkumpul insyaAllah akan kami gunakan untuk mengembangkan kebun jati kebon yang sedang diupayakan oleh ibuku  dan membayar cicilan rumah impian kami berdua di Jogja. Daripada dihabiskan tak bersisa  di Eropa, ada baiknya dibawa pulang untuk “memperkaya” Jogja.

Seolah Allah merestui rencana kami, ternyata di sini dan beberapa negara maju lain, setiap membuka rekening, otomatis kita akan mendapat dua buah rekening. Satu rekening transaksi, kedua rekening deposito. Persis seperti yang aku lakukan waktu SMP!

Nah, pengeluaran sesuai kebutuhan ini mencakup akomodasi, logistik, transportasi dan komunikasi yang akan aku bahas besok!!!

So, mari jo, torang samua menabung!!!

Tambahan dari Mbak Mutiara, “Saving today for what you’ll enjoy tomorrow!!!”

A demain!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s