Appartementje, Notre Petit Maison

“Mah, nanti kalau aku punya rumah yang kecil aja. Serba dua pokoknya. Kamarnya dua. Lemarinya dua. Kursinya dua. Piringnya dua. Gelasnya dua. Sendok-garpunya juga dua.”

Mungkin saat itu ibuku mengaminkan kicauan naifku ketika mengajak mengunjungi sebuah rumah mungil, walau tak semungil imajinasiku, yang saat itu hendak dilunasinya. Saat itu aku masih kelas empat SD, sepuluh tahun. Yes, ma men.. sekarang umurku 23, makin tua.. untung udah nikah🙂 Ieehh.. Teuteuupp.. komporr..!!

Kini, tiga belas tahun kemudian rupanya Allah mengabulkan celotehanku tadi. Setibanya aku bersama istriku di Brussel ini. Kami telah disediakan sebuah apartemen studio, berukuran 7×5 meter oleh coordinator program kami. Lengkap dengan perabotan serba dua yang kami bawa dari Indonesia. Jadi jangan heran kalau foto makanan kami selalu dengan piring, mangkok, cangkir dan sendok yang itu-itu saja.

Apartemen studio kami ini, yang kami sebut  appartementje, merupakan sebuah ruang loss yang dipisah menjadi dua ruang oleh sebilah tembok dan lemari pakaian. Ruang pertama merupakan ruang tidur dengan area meja belajar dengan wastafel dan toilet di salah satu sudutnya, sementara ruang kedua merupakan area meja makan dan dapur.  Yang sebagiannya saat ini aku jadikan kebun bawang. Hehe, maaf ya istriku, 6 minggu lagi InsyaAllah kita panen koq..

Ruang Makan, Dapur dan "Ladang" Bawang Merah

Appartementje kami ini insyaAllah merupakan studio yang termurah yang tersedia di kompleks student housing kampus UCL ini. Meski murah, alhamdulillah tidak murahan dengan tarif 375 Euro per bulan. Sedangkan jenis studio termahal adalah 480 Euro. Rupanya coordinator program kami mengerti kalau mahasiswa selalu mengharapkan yang lebih murah. Termasuk pengantin baru. Oia, sebagai perbandingan kamar single, untuk yang masih single, termurah bertarif 250 Euro (dapur, WC, showernya sharing). Hmm, cuma beda 125 Euro. Gimana juga, kalau niat belajar di Eropa lebih enak main ganda campuran daripada tunggal putra.

Kemungilan appartementje kami ini banyak hikmahnya. Misalnya kalau istriku lagi ngambek menyendiri di ruang sebelah, aku cukup ikut pura-pura diam beberapa saat dan tiba-tiba melompat dari ruang sebelah sambil bilang “cilukba..!!!”. Hehehe. Mungilnya ruang gerak yang kami miliki juga seringmembuat kami bersenggolan. Tentu ini sangat sesuai dengan keadaan kami yang baru saja menikah yang memang dianjurkan untuk banyak senggol-senggolan😀 Meski mungil, kami berdua masih bisa heboh, lari-larian, kejar-kejaran, gendong-gendongan, cubit-cubitan, dan seterusnya…****tidak perlu dilanjutkan, apalagi diimajinasikan**** hehe, bukan konsumsi publik.

Lemari Utama

Biaya apartemen kami belum termasuk biaya listrik, namun sudah termasuk air. Sebagai informasi, tarif listrik di Belgia merupakan kedua tertinggi di Eropa setelah Inggris. Oleh karena itu kami melakukan berbagai upaya penghematan dalam penggunan listrik. Misalnya, dalam menghemat penggunaan lampu kami selalu berusaha berada dalam ruangan. Kalau aku masak, istriku akan belajar di meja makan. Kebetulan kompor kami menggunakan listrik sehingga bisa dimanaj penggunaannya untuk menghemat listrik. Usai memasak satu jenis masakan, kami selalu memanfaatkan sisa panas dari kompor untuk memasak masakan kedua. Misalnya setelah merebus kentang, dalam posisi kompor mati kami masih bisa memanaskan rendang atau membuat lauk sederhana lain, menggoreng telur, atau merebus air untuk teh.

Dengan metode ini, Alhamdulillah konsumsi listrik kami per bulan masih di bawah 75 KwH. Yang kami bayar perbulannya, termasuk administrasi di bawah 15 Euro. Dengan pengalaman hidup mungil dan hemat ini, insyaALlah dapat menjadi bekal kami dalam melanjutkan pembangunan kehidupan keluarga dengan bersahaja kelak di tanah air Jogja. Amin.

Mari berhemat. Save today, survive tomorrow.

Besok aku akan bercerita tentang mengelola konsumsi. Stay tune!

A bientot!!

———————————————————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini?! Ayo Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

8 thoughts on “Appartementje, Notre Petit Maison

  1. mantap banget ini posting-nya!!! maaf ya fadjar ga bisa dateng waktu nikahan. salam buat mutiara. baik2 ya di tanah orang. sama nih kita jadi orang rantau. hehehehe. mampir2 blog aku juga ya. baru deh ngerasain blog jadi temen pelipur lara dan killing time yang pas selama jadi anak rantau. oh ya.. mari berbagi resep anak rantau. prinsip kami para bankir rantau adalah “eat well live well” hehehe

    • Hahai..
      Sip2 jeng.. insyaAllah resep2 ada edisinya nanti..
      makasih juga, mari semarakkan silaturahmi online..
      Baik2 jadi perantau ya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s