Honeymoon, Honey-Year

This slideshow requires JavaScript.

Medio Agustus 2011, Sebelum Pernikahan.

Berbagai pertanyaan mulai dari bagaimana kami memutuskan untuk menikah, bagaimana pernikahan akan diadakan, kami dapat jawab dengan hampir sempurna. Tetapi khusus pertanyaan mau honey-moon dimana, kami jawab sekenanya saja, “InsyaAllah, kami tidak honeymoon, tapi honey-year di Eropa..”

29 September 2011

“Je suis Fadjar, je suis d’Indunesie, j’etudie a l’UCL, je suis marie depuis 2 semaines..”

Tiga kali sudah aku mengucapkan kalimat perkenalan hari ini. Memperkenalkan diri pada 3 guru les bahasa Perancis yang berbeda. Sedikit berbeda dengan yang lain, umumnya teman-teman memperkenalkan diri cukup sampai di bagian profesi. Tapi aku dan temanku Degi, dari Mongol, yang juga sudah menikah memperkenalkan diri dengan informasi tambahan bahwa kami sudah menikah. Karena aku baru menikah dua minggu saat itu maka kutambahkan lagi, ” depuis 2 semaines”.

Status yang berbeda dengan pemuda kebanyakan, yakni sudah menikah, apalagi masih fresh baru dua minggu yang lalu membuat guru-guruku cukup mudah mengenaliku di kelas. Hal ini tidak terjadi hanya di kelas les, di universitas dan lingkungan lain, kami berdua selalu mendapat smbutan hangat dan perhatian ekstra dari orang-orang yang kai temui. Terutama kalau kami mengatakan baru saja menikah, wajah lawan bicara kamu berubah seketika menjadi berseri-seri. Seolah turut merasakan kebahagiaan yang sedang kami rasakan.

Di antara tiga guruku, Christien adalah yang paling perhatian. Setiap hari ia selalu menanyakan kabar Muti dan selalu titip salam setiap jam les berakhir. Kesannya dia sangat sayang sama istriku. Meski les intensive ku sudah berakhir sebulan lalu, kami masih menjalin kontak melalui email dan telephone. Christien selalau menawari aku dan istriku untuk tidak segan-segan mengirim materi kuliah dan les bahasa Prancis yang kami miliki untuk ia bantu terjemahkan dan koreksi. Dalam setiap pesannya, ia selalu menanyakan kapan kami akan mengunjungi rumahnya. Puncaknya ketika ia berkali-kali menawari kami berdua untuk mengunjungi dan bermalam di rumah sekaligus guest house yang lengkap dengan lahan pertaniannya;  Ferme L’Enfant.

14 September 2011

Cah Ayu Ngenteni Sepur at Gare du Midi / Zuidstation, Brussel

21.18

Usai menempuh perjalanan selama sejam dengan kereta api, kami pun tiba di Mons (Bergen dalam bahasa Belanda). Christien sudah menunggu kami dengan Peugeot birunya tepat di muka stasiun. Begitu kami masuk mobil, Christien langsung menyerbu kami dengan serentetan proposal. Mau kemana aja malam ini dan besok? Sambil terus menceritakan pilihan tempat yang bisa dikunjungi, Christien terus menyupir sambil menjelaskan beberapa tempat yang kami lewati. Beberapa taman dan gereja tua lengkap dengan sejarah Perang Dunia I dan II hingga tanpa terasa kami tiba di seputaran Grand Place. Puas melihat sekeliling, Christien mengajak kami masuk ke salah satu restaurant terlaris di Grand Place, kemudian ditraktirnya kami malam itu.

Grand Place de Mons

Christien tinggal di daerah Pommeroeul, 20 menit dari Mons centrum melalui jalan tol. Rumah yang ia tempati ialah rumah peninggalan nenek moyangnya yang dibangun pada tahun 1699. Saat itu wilayah ini masih bagian dari Prancis. Belgia sendiri baru berdiri pada tahun 1830. Christien tinggal bersama seekor kuda kesayangan, Sisco dan delapan ekor kucing  kesayangannya juga. Saking banyaknya aku hanya ingat satu nama. Mistigry. Christien memiliki seorang putri yang kini bekerja di Barcelona, Spanyol.

Selain mengajar bahasa Prancis di tempat les-ku di Brussels, Christien kini mengelola sebuah guest house yang ia bangun tepat menempel dengan bangunan utama rumahnya. Untuk bermalam di guest house ini pada akhir pekan umumnya sang tamu harus merogoh kocek sebesar 120 Euro, rupiahnya tinggal dikali 12 ribu. Sementara untuk tarif bulanan dipatok 550 Euro saja perbulan. Guest house ini dilengkapi dengan sebuah ranch, kebun dengan bermacam-macam sayuran, dan saat ini Christien sedang membangun sebuah ruangan relaksasi lengkap dengan fasilitas spa dan saunanya.

————————————————————————————————-

00.30

Inilah kamar studio milik Christien, yang malam ini khusus ia siapkan untuk kami berdua lengkap dengan minuman dan makanan di dalamnya. Bahkan untuk malam yang spesial ini, katanya, dia telah menyiapkan Champagne untuk Musulman (orang Islam) Khusus untuk kami, berkali-kali ia katakan, “c’est gratuit!!!”. Saat kami menapaki tangga naik ke studio ini, aku sempat mencuri dengar dan menangkap ekspresi Christien bertutur pada istriku soal having a baby dan rencana kami malam ini. Sepertinya dia memang sengaja menhadiahi kami honeymoon yang tertunda. Hehehe. Inilah rejeki orang menikah (muda). Yang masih nunda-nunda jangan mimisan ya baca ini.

"Champagne" Kidi Bul, Bebas Alkohol untuk Musulman

This slideshow requires JavaScript.

………….. Bersambung😉

One thought on “Honeymoon, Honey-Year

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s