Mutiara, Laut, Gunung dan Pantai


15 September 2011

09.00

Tepat usai kami mandi, Christien telah muncul di depan pintu studio kami dengan sepaket roti lengkap yang ia bawa untuk kami sarapan bersama. Aktivitas selanjutnya ia mengajak kami berkeliling sekitar rumahnya menunjukkan barang-barang peninggalan nenel moyangnya sejak tahun 1699, kamar tidur Sisco (kuda kesayangan Christien), mengenalkan kami pada delapan ekor kucingnya, menghampiri Sisco dan mengelus-ngelus kepalanya, memetik bunga matahari, memanen pumpkin langsung dari tanah, hingga menyiapkan sarapan untuk Sisco.

Petit dejeuner

Ejke Mejeng Dulu Ah di Depan Rumah Christien

12.00

Kami meninggalkan rumah sekaligus guest house milik Christien dan kami berkendara bersama menuju pantai di kota kecil de Haan aan Zee, dekat The World Heritage City of Brugge.  Sejak awal, tawaran ke pantai ini sudah kami sambut dengan penuh semangat karena kebetulan sekali, istriku memang sangat mencintai panorama laut dan pantai, mungkin karena namanya Mutiara. Makanya dulu waktu mau nembak di Jogja, tidak kulakukan di Keraton atau Prambanan saat nonton Ramayana, tapi kubawanya dulu ke pantai Indrayanti di Gunung Kidul, Jogja. Jangan salah, dulu nembaknya penuh strategi dan perhitungan lho. Termasuk hari baik, ketinggian ombak dan arah datangnya sinar matahari di Indrayanti. Hehehe.

Selain juga karena sudah lama tidak ke pantai, kali ini Christien sangat ingin mengajak kami ke pantai karena ia harus menengok salah satu bungalownya di wilayah de Haan aan Zee. Beberapa hari lalu ia mendapat kabar kalau kucingnya yang ia tinggalkan di bungalow tersebut wow, beranak delapan!!

Sepanjang perjalanan kami berhenti beberapa kali ke tempat-tempat yang sangat asri. Anugrah alam yang begitu asli dan menawan. Sungguh sesuai dengan apa yang istriku selalu harapkan. Sepuluh bulan di Jakarta sekembalinya dari kuliah di Jepang sudah cukup membuatnya menyimpulkan bahwa Jakarta bukanlah habitatnya. Ia selalu merindukan tempat-tempat asri sebagaimana dia menghabiskan setahun masa pertukaran pelajarnya di Sardinia, Italia dan S1 nya di Beppu, Jepang. Tempat yang memiliki gunung juga sekaligus pantai. Sebuah representasi daerah kakek & nenek moyang istriku berasal, Gunung Kidul dan Solok.

21.00

Sebelum kami berpisah, Christien membawa kami menikmati kota Brugge, the Venice of Belgium, di malam hari. Kami menghabiskan waktu yang tersisa dengan makan malam bersama di restoran teramai di Grand Place kota Brugge. Selain menu –menu yang special dan khas seafood karena dekat dengan laut, mas-mas waitress disini juga spesial karena bisa melayani dengan bahasa Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol. Bisa buka kursus mas!

This slideshow requires JavaScript.

Meskipun kami baru saling mengenal, begitu banyak kebaikan yang kami dapatkan dari Christien selama 24 jam terakhir ini. Dia sendiri di hadapan kami menyebut dirinya Mamon Christien. “Muti, kalau nanti di Indonesia Fadjar nakal, panggil Mamon Christien ;)” candanya saat kami menyiapkan sarapan. Alhamdulillah, dengan silaturahmi, mama kami nambah lagi. Selain Mama Wiwiek di Bogor, Mama Nani di Pejaten, sebelum Mamon Christien kami sudah dianugerahi mama-mama lain di Eropa seperti Mamma Eliana bersama Babbo Romano di Sardegna dan Mama Ineke dan Mama Tante Jean di Haarlem.

Tidak banyak yang bisa kami berikan pada Christien atas segala kebaikannya, menghadiahkan kami honey-weekend ini secara cuma-cuma dengan segala keramahtamahannya. Hanya sebuah bucket bunga, foto-foto yang akan kusebar untuk membantu promosi guest house nya dan tawaran dari istriku untuk mengajarinya memijat, melengkapi fasilitas relaksasinya, suatu hari nanti.

Medio Akhir Tahun 90-an dan Awal 2000-an.

Selain rumah yang kami tinggali di Kedung Halang Bogor, Bapak-Ibuku dianugerahi tiga buah rumah di kota Bogor. Empat rumah bukan berarti kami kaya, satu rumah didapat gratisan, satu didapat dari transaksi dengan orang BU sehingga harga super murah, dua rumah dicicil 15 tahun pakai pinjaman koperasi kantor yang kontrak cicilannya diteken sebelum krismon (alhasil, harga beli total hanya 10% dari harga jual saat cicilan berakhir).

Rumah pertama, sempat menampung saudara –saudara kami yang menempuh S2 di Bogor. Sedangkan rumah kedua dikontrak oleh sebuah keluarga dengan tarif kontrakan yang tidak pernah naik selama belasan tahun. Rumah ketiga dan keempat sempat ditinggali sekitar lima tahun oleh sembilan mas-mas mahasiswa IPB. Bukan untuk dijadikan kos, tapi untuk ditempati saja sampai semua lulus sarjana. Beberapa di antara mas-mas tersebut lah yang kemudian mengajari aku ngaji dan pelajaran sepulang sekolah.

Mengingat, pengalamanku dan istriku yang banyak diapiki wong (dibaikin orang) di rantau Belgia ini, tentu semua tidak lepas dari beberapa amalan orangtua kami yang masih bisa kuingat dan kuceritakan. Begitu juga dengan mertuaku yang sudah bertahun-tahun mengelola santunan anak yatim di Bekasi. Semoga kami dapat selalu meramu kebahagiaan dalam kesederhanaan. Tanpa perlu bergelimang kemewahan, tetapi kecukupan rizki dan kebermanfaatan yang dapat terus dibagikan.

Inilah paket honey-weekend kami kali ini, sebagai bagian honey-year kami di Belgia dan sekitarnya. Nantikan cuplikan-cuplikan seru honey-year kami selanjutnya!!

One thought on “Mutiara, Laut, Gunung dan Pantai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s