Ineke, Simbok Londoku

Posting ini menceritakan sebagian pengalaman kami mengikuti pertukaran Pelajar AFS di Belanda dan kehidupan kami sesudahnya. Bagi sahabat pembaca yang memiliki sanak saudara yang duduk kelas 1 SMA/sederajat yang berminat, dapat menginformasikan agar segera mendaftarkan diri mengikuti seleksi pertukaran pelajar AFS/YES Bina Antar Budaya dengan informasi berikut ini.

***

20 Oktober 2011

Enam tahun yang lalu aku mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar AFS. Program dimana untuk pertama kali aku mengenal istriku. Terimakasih AFS.. Selama sebelas bulan di Belanda aku tinggal bersama dua orang keluarga asuh yang berbeda. Tiga bulan pertama aku tinggal bersama Laura, tujuh bulan berikutnya bersama Ineke. Satu bulan di antara keduanya aku ditampung Selma tetapi saat itu aku banyak manfaatkan waktu untuk silaturahmi jalan-jalan ke Jerman dan Belgia.

Kali ini aku akan khusus menceritakan tentang Ineke, host-momku dan Johannes host-brotherku  semasa di Belanda, yang hingga saat ini mereka telah kuanggap seperti ibu dan adikku sendiri.

Gulana hatiku sepanjang perjalanan Soekarno Hatta – Schiphol Amsterdam. Di tengah kegembiraan nan maha untuk pertama kalinya terbang ke Eropa. Nasibku belum jelas akan tinggal dengan siapa hingga aku mendarat di Belanda. Belakangan, Laura lah yang menjemputku di bandara. Aku hanya akan tinggal selama tiga bulan bersama hostmomku ini.

Di rumah, aku hanya tinggal berdu bersama Laura karena keempat anak Laura sudah dewasa dan menikah. Sementara Laura sendiri sudah berusia 64 tahun. Dari segi umur aku lebih seperti cucunya daripada anaknya. Meski begitu, setiap Selasa sore aku selalu diajaknya latihan Marathon yang merupakan hobinya. Hasilnya? aku selalu kalah hanya mampu bertahan 1-2 lap saja. Mungkin karena iklim dan cuaca berbeda. Hahaha, alasan saja.

Laura sudah berpengalaman meng-host siswa AFS, namun dari lima kali pengalamannya. Semua hanya tiga bulan bersamanya, di Twijnderslaan. Karena hanya seorang diri menurutnya akan kurang ideal bagi sang siswa menghabiskan satu tahun bersamanya.

Setelah satu bulan kulalui mencari hostfamily yang permanen, mulai dari memasang iklan di koran dibantu AFS Nederland, dengan isi berita cukup menyentuh hati, “seorang remaja Indonesia ingin belajar budaya Belanda lebih dalam, ia pandai menari dan memasak. melas tenan lah pokoke. Barangsiapa dan seterusnya..”. Menyebar berita kepada teman-teman dan guru di sekolah. Akhirnya aku pun mendapat kabar baik diterima oleh sebuah keluarga dan mereka adalah Ineke dan Johanes yang tinggal di Byzantiumstraat, Haarlem. Dua tahun sebelumnya Ineke dan Johanes pernah menerima anak asuh lain yakni Bo, dari Thailand.

Bersama Ineke dan Johanes, ditemani seekor kucing gendut pemalas bernama Minimi kami tinggal di rumah yang berukuran mini dan bersuhu dingin. Rumah yang kami tempati saat itu sudah berusia dua ratus tahunan. Kondisi konstruksinya membuat rumah tersebut bahkan untuk ukuran orang Belanda sendiri terlalu dingin untuk ditinggali karena belum semua kamar terhubung sistem pemanas sentral. Sebetulnya AFS Nederland, sempat mempertimbangkan hal ini namun bagaimana lagi, namun saat itu tidak mudah untuk mencari host-family.

Apalagi masa-masa itu pemberitaan tentang Indonesia sedang “disemarakkan” dengan bom Bali dua. Ditambah pembuatan film Fitna oleh produser asal Amsterdam van Gogh yang didukung politisi anti-Islam asli Ethiopia, Ayaan Hisrsyi Aali dan sentimen negatif terhadap Islam yang hampir tiap minggu ditunjukkan oleh politisi Belanda berdarah Sukabumi, Geert Wilders. Tamatlah riwayatku. Inilah titik nadirku sebagai pemeluk Islam. Tiada hari tanpa ujian.

Setiap hari ada saja yang mengajak diskusi, berlanjut debat, tentang agama dan atheisme. Saat itu cap Islam-Indonesia teroris pun bermunculan. Thanks to Bom Bali Dua. Saking seringnya mendapat pertanyaan dan sanggahan, kalau obrolan sudah mengarah ke sentimen Islam di Indonesia, antara berkelakar dan serius aku cepat-cepat menegaskan, “Ik  ben Indonesisch, ik ben moslim, maar ik ben geen terorisch. en jullie toch van mij en van mijn koken houden, wat is het problem dan?”. Udahlah, pokoknya kalo adu ngeyel sama Londo totok ga ada habisnya. Dialihin ke hal lainnya saja.

Pernah sekali seorang siswa di sekolah tidak percaya, “echt? Je bent een islamitisch? Maar je bent toch vrindelijk en veel glimlachen hebben. Hoezo je bent een moslim?”

Tidak seperti di rumah Twijnderslaan, rumah yang agak muda baru seratus tahunan usianya, juga terdapat beberapa perabot canggih seperti dish washer, di Byzantiumstraat kami mencuci piring seperti di rumah di Indonesia. Menggunakan tangan saja. Saat winter tangan kami betul-betul mengerucup keriput kedinginan karena kami ingin menghemat gas di rumah, mencuci tidak menggunakan air panas tetapi air biasabyang di malam musim dingin bisa bersuhu 6-8 derajat. Serunya lagi karena di dapur tidak ada pemanas ruangan saat mencuci piring kami mengenakan winterjas agar tetap hangat.

Begitu pula degan aspek kehidupan lain, Ineke secara tidak langsung memberiku contoh untuk hanya berbelanja sesuai kebutuhan dan asas kepromosian saja. Alias kalau ada promo saja. ACTIE sebutan untuk harga promo di Belanda. Memang betul, rahasia umum di Eropa bahwa sifat super hemat, kadang ada yang bilang pelit, orang Belanda sudah sangat terkenal setetenar generalisasi (meski tidak dibenarkan) karakter-karakter tertentu yang disematkan terhadap bangsa lain seperti, kaku dan superior terhadap orang Jerman, lambat terhadap orang Itali, introvert seperti orang Finland dll. Tetapi kengiritan di Byzantiumstraat sungguh-sungguh terasa. Ya disinilah salah satu tempat aku belajar hidup super irit.

Kondisi super irit ini tidak mengurangi kebahagiaanku mendapatkan menjadi bagian dari Ineke dan Yohannes. Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak teman kumiliki, semakin banyak tawaran untuk menjadi hostfamily berdatangan dari teman-teman sekolahku.

Setidaknya ada tiga keluarga yang benar-benar serius akhirnya menginginkanku. Awalnya hanya anaknya yang menginginkan kehadiranku. Namun kemudian rata-rata orangtuanya menolak halus karena mereka rata-rata sibuk. Tapi setelah aku mulai sering berkunjung ke rumah mereka di mana aku sering memasak dan sempat di antara tiga keluarga tersebut aku memasak di dua rumah di antaranya. Setelah mereka bertemu aku langsung dan merasakan masakan Indonesia yang kubuat (bukan aku jago masak, tapi masakan Indonesia yang terlalu enak) disajikan dengan kesumehanku, mereka langsung berubah pikiran dan balik membujukku agar mau pindah tinggal bersama mereka.

Dua keluarga yang setidaknya nampak, meriah, bahagia dan jauh lebih mampu dan hidup lebih nyaman dari rumah Byzantiumstraat. Yang jelas punya halaman depan belakang dan dishwaser. Rumah luas. Mobilnya lebih bagus. Sepeda lebih, dan sudah siap khusus untukku jika aku pindah. Kamar yang diproyeksikan untukku pun sudah disiapkan. Lebih  baru. Lebih lengkap, lebih harum, lebih hangat. Saat itu bulan Januari. Sedang dingin-dinginnya. Secara fisik, semua kebutuhan di dua keluarga ini lebih segalanya disbanding Byzantiumstraat. Hatiku gamang. Ceilah.. gayamu dul!

Habis manis sepah dibuang. Kupikir saat itu, jika aku meminta untuk pindah, aku membayangkan betapa tidak berterimakasihnya aku pada Ineke dan Johanes yang sudah menjadi “malaikat penyelamatku”. Voor mij, er zou geen zoeter ervaring zijn. Menampungku tepat di saat aku benar-benar frustrasi menunggu kepastian pergantian hostfamily selama satu bulan. Walau kuisi dengan jalan-jalan, mengunjungi Mba Desi sepupuku di Brussels dan Abi teman AFS kami di Berlin, tetap saja mendengar mereka akan menjemputku sama bahagianya dengan mendapat pengumuman diterima program AFS!

Kini hampir enam tahun berlalu. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Byzantiumstraat. Rumah Ineke dan Johanes. Allah mengizinkanku mengenalkan istriku pada Ineke dan Johanes. Bukan, bukan kami yang mengunjungi mereka. Tapi mereka yang menyengajakan diri mengendarai mobil selama empat jam perjalanan dari Haarlem ke Brussels untuk menemui kami. Mereka tidak menunggu rencana kunjungan kami ke Belanda Desember nanti insyaAllah. Karena mereka tidak ingin menunda mengucapkan selamat secara langsung atas pernikahan kami sekaligus minta maaf tidak bisa ke Jakarta langsung menghadiri. Seperti halnya yang selalu Ineke katakan padaku sejak lima tahun lalu, sejak tahu cita-citaku ingin sekolah master di Belanda. “Je bent die moet komen, it’s always too expensive fly to Indonesia”.

Rancu didengarnya. Tapi itulah kenyataannya. Tidak semua orang Belanda kaya dan bisa travelling ke Indonesia seperti yang sering kita temui di Bromo ata Borobudr. Walaupun ayah Ineke seorang tentara Belanda yang ditempatkan di Posko Merapi saat Indonesia masih berbentuk Republik Indonesia Serikat, terbang ke Indonesia akan menjadi hal yang sangat mewah baginya. Seorang guru Bahasa Belanda di sekolah khusus para imigran pencari suaka.

Kamis malam lalu kami pun bertemu dan makan malam bersama di sebuah restaurant yang sahabat kami Aswin rekomendasikan, Guignol. Senang Ineke mengetahui aku sudah beristrikan seorang cantik yang pandai berbahasa asing (Inggris, Itali, Jepang, dan kini Prancis). Hal yang terbukti mana kala tiba-tiba istriku paham saat kami berbahasa Belanda sejenak dan Muti dengan yakin mengira percakapan barusan dalam bahasa Inggris. Begitu juga ia senang dengan kenyataan aku kembali ke Eropa dan sudah ada “pendampingnya”. Aku pun senang menceritakan pada mereka bagaimana sekarang aku bisa berhemat kalau jajan, kalau aku masih lapar, aku cukup menunggu sisa dari istriku yang porsi makannya tidak sebanyak aku. Hahaha. Tidak seperti kalau aku jajan kebab atau patat bersama Johanes, kita selalu “terpaksa” beli porsi ekstra karena masing-masing pasti masih merasa kurang dan ingin tambah.

Aku sempat menanyakan dengan penuh heran apa yang membuat mereka datang kemari hari itu. Apakah ada agenda lain di Brussel selain mengunjungi kami?

“Nee, we komen alleen om jullie te zien.. Jullie te feliciteren”

“Kami datang hanya untuk bertemu kalian, mengucapkan selamat pada kalian”

Ahh.. tersentuhnya aku saat itu. Manis dan kelu kurasa. Karena pagi harinya mereka sudah mengajakku bertemu tapi karena ada jadwal di kampus aku terpaksa menggesernya jadi malam hari.

Selesai makan, kami ajak Johanes dan Ineke mampir ke apartementje kami. Melihat foto-foto pernikahan kami dan video penampilan tari Saman kami (yang mana aku masih banyak salahnya). Kami sajikan teh poci dan kacang telur pandan wangi dari Jogja untuk Yohanes dan Ineke. Di akhir perjumpaan, Ineke dan Yohanes menyampaikan hadiah pernikahan kami sebuah kartu ucapan yang manis dan kupon belanja 100 Euro. Jumlah yang sangat besar bagi kami. Tapi lebih dari itu, keinginan kuat mereka hingga sengaja datang ke Brussels Belgia dari Haarlem Belanda mengendarai sendiri mobilnya membuatku begitu terharu.

Walau begitu singkat dan sederhana, sesederhana masa dimana mereka menampungku, perjumpaan kami malam tadi terasa begitu manis  semanis sambutan mereka padaku enam tahun yang lalu. Rembulan malam tadi beranjak makin tinggi. Kami pun berpisah di Alma station depan apartementje kami. Wat een gezelig avond, Ineke, Johanes.

21 Oktober 2011

“Alhamdulillah sudah mama terima dananya 1,217,000 nanti mama sampaikan ya..”

Pesan Facebook dari ibuku yang baru terbaca pagi ini tentang kiriman 100 Euro pertama kami yang kami titipkan pada salah satu senior yang kembali ke Indonesia. Komitmen kami untuk mengalirkan 10% dari beasiswa yang kami terima tiap bulan sebagai bentuk rasa syukur kami. Pesan ini dikirim pukul sembilan malam waktu Indonesia. Beberapa saat sebelum aku bertemu Ineke dan Johanes, sebelum mereka memberi kami hadiah pernikahan yang juga senilai 100 Euro. Tidak akan berkurang nikmat ketika disalurkan. Justru semakin bertambah. Alhamdulillah, hal persis seperti ini senantiasa terjadi pada kami, membuat kami semakin yakin takkan miskin kita dengan berbagi. Wallahu a’lam.

6 thoughts on “Ineke, Simbok Londoku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s