Where is my Kondektur!?

Usai berpisah dengan Christien di depan stasiun Brugge, kami naik kereta menuju Brussels. Sebetulnya kami masih ingin berlama-lama bersama Christien kembali ke rumahnya. Karena dia harus menyupir pulang hampir dua jam untuk kembali ke Pommeroeul. Tetapi karena keesokan paginya kami harus berangkat ke Antwerpen bersama rombongan KBRI, kami pun harus kembali ke Brussles Sabtu malam itu.

Di kereta istriku bilang, kalau dalam beberapa hal Christien mirip dengan ibuku. Yang selalu kemana-mana dan mengurus segala sesuatunya seorang diri. Sebagai informasi, dalam tiga minggu terakhir ibuku sudah dua kali ke Ambon, dua kali ke Jogja dan sekali ke Jambi.

Kondisi kereta jurusan Brugge-Genk via Gent dan Brussels yang hening dan terdiri dari dua lantai, berarsitektur serupa dengan kereta Amsterdam- Nijmegen  mengingatkanku akan kisah ibuku setahun yang lalu. Cerita yang istriku juga pernah dengar langsung dari ibuku. Malam itu kami geli sendiri mengingat cerita itu. Begini ceritanya

1 Juni 2010

Garuda Indonesia, untuk pertama kalinya terbang kembali ke Eropa setelah 7 tahun mendapat larangan terbang dari Asosiasi Penerbangan Uni-Eropa.

2 Juni 2010

Ibuku berulangtahun ke 53

3 Juni 2010

Aku, ibuku, Zul, dan Greta terbang dengan Tiket Promo Garuda ke Belanda. Awalnya hanya kami bertiga untuk mengikuti konferensi di Groningen, tetapi karena Buy 1 Get 1 Free, aku pun “mendaftarkan” Ibuku dalam perjalanan ini. Cerita lengkapnya ada di sini.

4 Juni 2010

Untuk pertama kalinya Ibuku mendaratkan diri di Benua Eropa. Setelah berhasil “mengirim” kedua anaknya lewat program AFS tahun 2002 di Jerman dan 2005 di Belanda.

7 Juni 2010

Aku, Zul, dan Greta berangkat ke Groningen dari Haarlem. Di Groningen aku dan mahasiswa lain ditumpangkan di kost-kost an mahasiswa setempat. Tidak mungkin rasanya membawa Ibuku serta. Ibuku, agar lebih puas melihat-lihat Belanda “kukirim” bersilaturahmi dengan Mbak Ini di Utrecht. Ibaratnya, dulu aku pertukaran pelajar sekarang Ibuku pertukaran rumah tangga. Kami berpisah di Amsterdam. Sebelumnya kupesankan banyak hal pada Ibuku yang pertama kali naik kereta Belanda. Luar biasa khawatirnya. Mengingat ketepatan waktu dan di rute tertentu kereta Belanda bisa « membelah diri » menjadi dua stasiun tujuan berbeda di salah satu stasiun.

Aku                     : Ma, nanti jam 9.20 langsung berdiri nunggu di dekat pintu ya. Karena 9.24 Keretanya sampai Stasiun Utrecht Centraal. Nanti kondekturnya bilang pake halo-halo, “Utrecht Centraal”  gitu berulang-ulang. Pokoknya jangan sampai kelewatan, nanti repot.

Ibuku                    : Ya

Aku                        : Terus untuk memastikan, kalau ada yang siap-siap mau keluar  juga tanya lagi, “are you going to Utrecht Centraal”?

Ibuku                    : Ya

Alhamdulillah menempuh perjalanan sekitar 30 menit seorang diri Ibuku tiba dengan baik di Utrecht dan langsung jumpa Mbak Ina. Sudah hafal dengan karakter ibu-ibu Indonesia, bukan ke Museum Sejarah, Kereta, Seni atau lainnya seperti turis-turis mancanegara, Mba Ina mengajak ibuku “ziarah” ke “Museum IKEA”. Sudah bisa ditebak yang terjadi berikutnya, ibuku berbelanja dengan kalapnya. Terutama barang-barang yang serba satu Euro, satu set terdiri dari lima unit warna-warni cantik-cantik. Mulai dari pengupas kentang, pisau, pengiris keju, gelas plastic, dll.

8 Juni 2010

Berhiaskan tas karung IKEA dia kanan kiri ibuku kembali ke Haarlem seorang diri. Setelah dibekali dua lampiran kertas oleh Mba Ina yang di-print dari internet. Yang pertama tiket yang kedua kertas jadwal dan petunjuk transit. Hebat juga ibuku saat itu bisa pindah kereta lain peron di Amsterdam Centraal yang ramenya bukan main, seorang diri.

Di atas kereta Utrecht – Amsterdam.

Conducteur : Goede dag !!! alstublieft.. !

Suara khas tipikal kondektur kereta Belanda saat memeriksa karcis.

Ibuku              : Dengan pede menunjukkan kertas jadwal kereta dan petunjuk                                  transit. Bukan kertas tiket.

Conducteur : Uw kaartje alstublieft mevrouw. Wajah Indonesia, ditanya Bahasa Belanda dulu, banyak yang ngira kita Indonesia yang sudah berketurunan di Belanda.

Ibuku               : This is my ticket! Tetap menyorongkan kertas yang sama.

Conducteur   : That’s your schedule. Your ticket please!

Ibuku         : Yes, this is my ticket, my sister give me. Internet! Internet!  Dengan segala upaya menjelaskan ini tiket yang dkasih tadi pagi oleh Mba Ina dibeli dari Internet.

Conducteur     : No, this is not a ticket. You have to pay 40 Euro now! Denda dianggap tidak membawa tiket

Ibuku                 : Berusaha memberikan berbagai penjelasan dengan Bahasa Inggris patah-patah. Dan akhirnya harus rela membayar denda 40 Euro.

Selang beberapa menit ibuku tersadar. Ada satu kertas lain di kantongnya. Mungkin itu tiket kereta yang dimaksud kondektur. Sambil berlari terburu-buru berusaha mengejar Sang Meneer Conducteur. Tanpa bayangan di mana kini sang Meneer berada, ibuku masuk dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Rangkaian kereta Amsterdam – Nijmegen dan sebaliknya via Arnhem, Utrecht dan beberapa stasiun lain terdiri dari 8 gerbong tingkat dua. Di setiap gerbong ibuku berseru.

Ibuku                 : Where is my Conductur??!! This is my ticket!! Where is my Conducteur?! Gak peduli lagi kalimatnya apa, pokoknya kondetur harus ketemu.

Penumpang2  : There.. there…!!

Setelah beberapa gerbong dilalui akhirnya..

Ibuku          : Where is my money???!! This is my ticket!!! Where is my money???!!

Conducteur        : Next time, show me your ticket

Ibuku                    : Yes.. yes.. thank you.. thank you..

12 Juni 2010

Kami check in di Schiphol untuk kembali ke Indonesia, berbagai pemberian dari Oom Toyo, Tante Jean, Mba Ina sekaligus belanjaan ibuku selama di Paris dan Ikea menghasilkan kami overweight 17 kg. Padahal sudah dibantu dengan entengnya koper Zul dan Greta. Aku yang cemas dengan keadaan seperti ini ditambah kejutekan pelayanan counter Garuda yang dioperasikan oleh pegawai KLM (mbak-mbak sangar) yang akan mengenai charge 70 Euro kali 17 kg, atau 14 Juta pun segera membuang pakaianku dan beberapa barang yang agak bisa dibuang. Awal perjalanan kuhabiskan “menceramahi” ibuku yang beli menara Eiffel seberat 1,5 kg sampai 5 buah, 1 kg 5 buah, dan 0,5 kg 5 buah, berbagai produk IKEA, dan aneka souvenir dari Paris dan Belanda.

Aku                        : Besok lagi kalau ke luar negeri jangan gitu..  Kalau yang dikasih gapapa, tapi belanjaannya itu.. Uangnya habis, kopernya susah, yang dioleh-olehi tu gak tau dan gak mau tau kita repot Mah.

Ibuku                    : Iya, gapapa, wong ini juga titipan, diganti kok uangnya. Biar temen-temen kantor dan saudara pada seneng. Kalau pada seneng kan nanti banyak yang doain bisa balik ke Eropa lagi.

 Dengan enteng ibuku menjawab “ceramah”ku. Walau aku tahu persis, yang mengganti atau titipan dari teman hanya sebagian kecil saja. Lainnya, ibuku memang selalu suka memberikan oleh-oleh kepada siapa saja sepulang dari mana saja.

Oktober 2011

Kini empat belas bulan berlalu, aku mengetik tulisan ini di hadapan gelas warna-warni IKEA yang baru kami buka setibanya kami di Belgia. Satu-satunya belanjaan IKEA Utrecht Ibuku yang masih tersisa dan akhirnya kami bawa. Gelas yang kami pakai minum setiap hari. Yang lain? Sudah tersebar ke seantero Indonesia. Puluhan menara Eiffel dari yang 1,5 kiloan hingga gantungan kunci sudah berdiri tegak di ruang tamu teman dan saudara-saudara, di mana-mana. Termasuk di rumah mertua. Karena saat lamaran 23 Mei 2011 lalu aku gunakan 3 buah menara Eiffel, dari yang terbesar sampai yang kecil sebagai seserahan. Saat Tragedi Schiphol terjadi, tidak terlintas sedikit pun Eiffel-Eiffel yang aku gerutui itu berakhir menjadi bagian dari proses menuju pernikahan kami.

Sejak kepulangan kami dari Belanda dan Paris itu, ibuku mulai membagikan oleh-oleh di kantornya, ibuku menjadi selebritis tiba-tiba.  Mengingat tidak banyak PNS di levelnya bisa “liburan” ke Eropa. Tanpa tunjangan dinas pula. Murni cuma jalan-jalan dan ongkos sendiri, plus dibantu Buy 1 Get 1 Free. Lima belas hari sesudahnya Allah langsung memberiku kesempatan kembali ke Eropa, 1 bulan Internship di Ceko plus mampir-mampir Nuernberg, Wina.  Empat bulan sesudahnya,bulan Oktober, kembali lagi ke Eropa 1 minggu konferensi di Berlin plus mampir-mampir Haarlem, Hannover, Praha, Milan. Sebelas bulan sesudahnya, Mei 2011 kembali lagi ke Eropa untuk dua bulan Internship WHO. Di Jenewa. Dan Empat belas bulan sesudahnya bersama istri kembali ke Eropa untuk tinggal sepuluh bulan di Belgia.

Kalau mengingat semua perjalananku, sering aku mikir koq bisa sampai setahun bolak-balik 5 kali ke Eropa gini. Kalau disuruh sengaja ngulang lagi belum tentu bisa. Tapi kalau kembali ke cerita Tragedi Kondektur dan Tragedi 17 Kilo di Schiphol, mungkin ini jawabannya.

Orang tua kita mungkin tidak sekaya Bill Gates dengan Microsoftnya, tetapi kekayaan hatinya cukup untuk mengkayakan hidup kita

Orang tua kita mungkin tidak secanggih Steve Jobs dengan Apple, tetapi amalannya cukup canggih untuk bekal hidup kita

Orang tua kita mungkin tidak akan menguasai teknologi dan bahasa sebanyak kita di masa kita berada, tetapi doanya atas kita dikabulkan sepanjang masa.

Wallahu a’lam.

A demain!!

———————————————————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini?! Ayo Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

2 thoughts on “Where is my Kondektur!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s