Persembahan Untuknya

Andaikan aku punya sayap..

Ku kan terbang jauh mengelilingi angkasa

Kan kuajak ayah bundaku
Terbang bersamaku
Melihat indahnya dunia..

Berlinang air mata kami, 119 siswa pertukaran pelajar AFS &  YES yang akan dikirim ke 9 negara berbeda, menyanyikan lagu “andaikan aku punya sayap” ini di hadapan ratusan audiens, mulai dari orang tua & kerabat, hingga pejabat negara, dan diplomatic dari kedutaan negara tujuan kami. Di atas panggung auditorium Gedung Patra Jasa Kuningan, Gatot Soebroto.

Malam itu merupakan farewell party, malam pelepasan, bagi para siswa pertukaran program AFS dan YES 2005/2006. Jika kebanyakan tangisan kami memaknai lagu ini mewakili perasaan sedih kami harus meninggalkan teman dan keluarga untuk memulai petualangan baru di negeri asing, Tidak demikian halnya dengan saya. Saya lebih memaknai lagu ini pada bait yang saya kutip di atas. Saya dengan begitu sadar bahwa apa yang saya nyanyikan hanya akan menjadi kata-kata, karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah lagi bisa mengajak Bapak untuk terbang bersama melihat indahnya dunia. Ya, karena Bapak sudah tiada.

Tangisan malam itu bagi saya adalah tangis yang paling menyakitkan kedua, setelah tangisan saya ketika Bapak tiada 2 tahun sebelum malam itu. Bukan, bukan karena beliau telah tiada, tapi karena saya sadar saya belum memberikan apa-apa kepadanya, bahkan sangat seidikit mengahbiskan waktu bersamanya, mengingat keputusan saya untuk berpisah sejak lulus SD.
Memori pada malam “farewell party” itu telah membuat saya selalu berjanji pada diri saya sendiri, di setiap saya mengunjungi tempat2 yang sangat menakjubkan bagi saya. Alhamdulillah, melalui kuasanya selama 1 tahun menjalani program pertukaran di Belanda saya diberi kesempatan mengunjungi tempat2 indah seperti Taman Tulip Keukenhoff, Kota Tipikal Tepi Pantai Belanda Volendam, “Pusat Peradaban Kincir Angin” Zaanse Schan, Eiifel Tour diParis, Brandenburger Tor di Berlin, Pelabuhan terbesar Eropa di Hamburg, Stadion Camp Nou Barcelona, Kota Brussel Belgia, Frankfurt di Jerman , dan masih banyak lagi.. Janji yang juga doa tersebut sangat singkat dan sederhana..

Ya Allah, aku akan kembali ke tempat ini bersama orang-orang yang kucintai..
dan Mama adalah yang pertama akan kesini..
ketika program berakhir dan aku harus meninggalkan Belanda pada Juli 2006, tidak lupa aku “berjanji”..
“aku akan kembali kesini, 5 tahun lagi..”
Ya, kala itu akan sangat bersemangat untuk bisa belajar lagi di negeri Belanda ini. Saat itu aku bercita-cita untuk kuliah di ITB dan ambil master di Technische Universiteit Delft. Mengingat banyak sekali alumni ITB di tempat itu. Orientasi saya sempat menjadi: yang penting bukanlah apa yang akan saya pelajari, tapi bagaimana saya bisa belajar yang akan membawa saya kembali ke Belanda.

Namun waktu terus bergulir dan ketika tiba saatnya memutuskan tempat kuliah, demi memenuhi amanah almarhum Bapak dan harapan mama, saya malah kuliah di kedokteran sampai saat ini. Sempat sedikit patah arang karena tidak jadi ikut USM ITB, yang artinya menutup peluang untuk masuk TU Delft, harapan saya untuk kembali ke Belanda kembali berkibar karena ternyata Fakultas Kedokteran UGM berkiblat dan bermitra dengan Universitas2 di Belanda. Seolah-olah Allah kembali menujukkan jalan baru menuju kembali ke Belanda. mngkin untuk s2 nantinya

Hingga hari yang menentukan itu pun tiba, seorang sahabat memberi saya informasi tentang kesempatan mengikuti seminar di Belanda dengan terlebih dahulu mengirim abstrak penelitian yang dimiliki. Lucunya, informasi ini baru saya dapat 3 hari sebelum penutupan, walhasil, jumpalitan lah saya memperbaiki dan menerjemahkan abstrak penelitian saya. Oia, sahabat saya ini bernama Zulrahman Erlangga (Zul). Selang beberapa minggu saya mendapat jawaban bahwa bersama Zul, dan sahabat saya yang kain, Greta, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti rangkaian acara yang bernama ISCOMS 2010 di Groningen Belanda..
Hari itu, perasaan saya benar2 campur aduk tak terperi, jika saya berangkat maka ini akan menjadi jawaban bagi doa saya “lima tahun lagi saya akan kembali ke tanah ini”. Bahkan doa ini terkabul hanya 4 tahun sesudahnya. Saya sungguh-sungguh bahagia dan haru menerima kenyataan ini. Tapi saya juga teringat “janji” saya, bahwa jika saya kembali ke tanah ini, saya akan mengajak ibu saya, seperti kutipan lagu di atas..

Kan kuajak ayah bundaku
Terbang bersamaku
Melihat indahnya dunia..

Keinginan saya untuk mengajak ibu saya ke Belanda bukan sekedar keinginan untuk menunjukkan indahnya tempat ini. Terutama bunga, yang menjadi salah satu kegemaran ibu saya. Tapi juga kumpulan serak-serak memori masa kecil yang kini menggunung tinggi dalam diri saya. Memori-memori ini yang seolah menggerakkan saya hingga akhirnya berada di titik ini dan insyaAllah akan berkunjung kembali ke Belanda.

1. Memori (almarhum) Bapak
“kalau di luar negeri pasti udah ketinggalan kereta!!” adalah kalimat yang hampir setiap hari dilontarkan oleh ayah saya member peringatan kepada kami untuk segera bersiap. Terutama pagi2 ketika ngoprak-ngoprak kami (saya, kakak, mama) untuk berangkat sekolah dan kantor. Maklum sejak SD saya sudah sekolah naik angkot dan kondisi rumah kami yang berjarak 1 km dari jalan raya membuat ritual berangkat sekolah menjadi sedikit tidak mudah. Bahkan di musim hujan kami harus berjalan kaki menuju jalan raya dengan sepatu berbungkus dan diikatkan plastik, karena kondisi jalanan becek berbatu pada masa itu, agar tidak kotor separtu kami pun dipakaikan “baju” plastik. Percaya atau tidak alamat kami adalah jl. Pangkalan Batu no 47,jadi isinya batu2 dan tanah becek. Setiap mendengar lontaran kalimat bapak dengan nada keras itu saya jadi penasaran, dan semakin penasaran, “seperti apa sih luar negeri itu?”

Selain itu, ketika saya masih di TK, bapak sering bepergian ke luar negeri. Dan setiap Bapak keluar negeri pasti mengirimi kami postcard bergambar Negara tempat bapak singgah. Lucunya bukan dikirim ke rumah postcards tersebut dikirim ke sekolah. Entah apa alasan bapak, mungkin karena pak pos malas ke rumah kami yang jalannya berbatu dan bikin frustrasi untuk ditempuh, atau alasan lain. Yang jelas aku sangat bangga dengan hal ini. “Fadjar, ada kartu pos dari bapak…” begitu bu guru memanggilku ketika ada kartu pos dari bapak, dan seketika teman2 akan mengerubungi dan berkata, “liat donk jar, dimana ayahmu, wah senengnya dapet kartu pos lg, dst dst..” ya, itulah satu dari sedikit hal yang bisa kubanggakan atau tepatnya kupamerkan (maklum anak TK) kepada teman-temanku. Maklum saja, setiap “kontes” tempat minum, tempat bekel, tempat pensil, tas, gamewatch,jam tangan aku tidak pernah bisa berbangga, karena teman-teman selalu punya yang lebih baru dan lebih bagus. Tapi soal kartu pos, seingatku tidak ada yang menyaingi. Hehehe, dasar sombong.. (kan masih TK..) padahal SUMPAH demi Allah, saat itu saya belum bisa baca tulisan bapak yang seperti umumnya tulisan orang dewasa diseret-seret. Sementara saya sedang proses bisa membaca tulisan cetak.
Tetapi yang lebih lucu lagi ketika SD, aku baru sadar kenapa sewaktu aku TK bapak bisa sering ke luar negeri tetapi ketika SD tidak. Ternyata pada masa itu, bapak menjadi ajudan kesayangan pak Menteri Kehutanan pada masa itu, Bapak Djamaludin. Berbekal kemahiran dalam interpersonal communication dan pijat memijat, bapak yang hanya pegawai BUMN Perhutani (bukan departemen kehutanan-nya) tiba-tiba menjadi pengawal sekaligus tukang pijat pribadi pak Djamaludin. Singkat cerita, bersama rombongan Menteri Kehutanan dalam periode Pak Djamaludin, bapak sempat berkunjung ke beberapa Negara antara lain:
Belanda, Jerman, Finlandia, Rusia. Beberapa tahun berikutnya sebgai perwakilan pramuka Indonesia dengan bendera Pramuka Saka Wanabakti bapak juga mengikuti jamboree internasional di Malaysia dan mampir ke Singapore& Thailand. Ketika masih kuliah, bapak sempat cuti untuk membantu mengasuh putra2 dari pakde saya yang sekolah doktor di Australi, sambil cari tambahan uang untuk kuliah (biologi UGM) dengan mengamen. Di Australi ini bapak sempat belajar ilmu pijat Vietnam yang kemudian hari mengantarnya ke berbagai Negara Eropa bersama Pak Menteri.

2. Memori (Almarhum) Mbah Kakung –bapaknya mama-
“Djar, kowe ki mBelandaisme tenan yo…”, gurau sahabat dagelanku Ardi Kuncoro beberapa waktu lalu mengomentari pandangan saya. mungkin ada benarnya kata saya dalam hati tapi yang menarik bagi saya adalah “kenapa harus Belanda”. Ketika seleksi AFS saya dinyatakan lolos dan berkesempatan memlih Negara tujuan, awalnya saat itu saya memilih Jerman dan Swiss sbg most desired country. Tetapi Mbah Kakung berkali-kali mengatakan, “sudah..Belanda saja..” Setengah tidak ingin kualat, dan setengah penasaran, saya pun menempatkan Jeman di urutan 1 dan Belanda urutan 2. ajaib, sungguh ajaib..akhirnya saya benar2 dipilih untuk berangkat ke Belanda.

Mbah Kakung dan Belanda, bagi saya memang sudah menjadi satu kaitan erat sejak kecil. Setiap saya menghabiskan waktu berdua, sejak belum TK hingga SMP, Mbah Kakung berkali-kali menceritakan tentang luka erosi yang terdapat di betis kirinya, ia selal bercerita. “Ni.. betis mbahkung keserempet peluru Belanda, temen2 mbahkung mati semua kena tembak, tapi mbahkung tidak, karena punya “pegangan”, Cuma keserempet dan tidak apa2”. Sangat ajaib dan heroic setiap saya mendengar beliau bercerita.
Ketika saya mendapat Negara tujuan Belanda untuk program AFS, mbahkakkung sangat senang dan sering memancing saya untuk segera belajar bahasa Belanda. Menurut orang-orang, mbahkakung bicara bahasa Belanda jauh lebih baik dari saudara-saudaranya. Di beberapa sore terakhir bersamanya, saya sering berujar, “Mbahkung, kalo wowok pulang dari Belanda , nanti kita ngobrolnya pake Belanda ya.. biar yang lain nggak tau..” cita-cita yang saat itu membuat saya sangat antusias dan pengen cepat2 ke Belanda. Namun cita-cita itu kini menjadi kenangan belaka.. 5 minggu setelah saya mendarat di Belanda dan menjadi warga sementara kota Haarlem, mbahKakung pergi untuk selamanya..

Sore itu di Haarlem, saya menangis 3 jam sampai malam, dan berhenti memasak, meninggalkan Laura, hostmom saya dinner sendirian utuk menenangkan diri dan mempercayai kabar yang disampaikan kakak saya melalui telfon. Seminggu sebelum mbahkung meninggal, saya kirim kartu pos ntuk mbahKakung dan kartu pos itu baru sampai beberapa hari setelah beliau pergi.. tidak lupa saya menulis, “MbahKung, nanti kita ngobrol pake Belanda ya..”

Di kemudian hari saya baru mengetahui bahwa selama dirawat di Sardjito, ibu saya sempat mem-printkan beberapa lembar foto hari-hari pertama saya di Haarlem untuk Mbah Kakung.. dan diletakkan di samping ranjangnya, setiap ada perawat atau dokter yang memeriksa, dengan mantap beliau akan berkata.. “anak saya dokter, cucu saya di Belanda..” sembari merujuk foto di sebelahnya.. dan itu beliau lakukan berkali-kali..

Itulah kira-kira mengapa saya agak “mBelandaisme”.. bagi saya setiap ada sesuatu positif berbau Belanda.. saya merasakan seolah2 mbah Kakung menyapa saya saat itu juga.. apalagi salah satu cabang ilmu kedokteran yang saya minati saat ini sangat berkembang di Belanda.. yaitu kesehatan komunitas, utamanya promosi kesehatan..

3. Eyang Mami –ibunya bapak-
Tidak banyak anggota keluarga saya yang fasih berbahasa belanda, di antaranya hanya Eyang Mami dan Oom dudung, adik bungsu bapak. Saya sungguh bersyukur dengan kehadiran keduanya terutama Eyang Mami yang tetap sehat di usianya yang ke 83, sehingga saya memiliki banyak kesempatan untuk ber-hollandspreken-ria.. hari ini saya menemani beliau nonton FTV, sebelum pamit u berangkat.. nyaman rasanya, walau saya sadar beliau sudah mlai mengalami demensia, tapi masih bisa berbahasa belanda sangat baik..

4. Demi Mama
Ok, here we go, Mama adalah sosok yan paling saya perjuangkan dengan kesadaran penuh terutama sejak kepergian Bapak. Sederhana saja, rasa sakit karena merasa belum mempersembahkan apa-apa untuk Bapak hingga ketiadaannya, lebih menyakitkan dari luka apapun yang pernah saya rasakan. Jujur saja, bahkan saya sering berfikir, akan lebih mudah jika suatu hari saya “pergi” lebih dulu daripada mama.. Mama sosok yang luar biasa, seumur hidup ia hanya pernah 1 kali memarahi saya, di usia 3 tahun ketika saya membuat kakinya berdarah karena keserempet sepeda roda 3 yang saya kebut tanpa plastik pelindung pedal, sehingga besi tajamnya menggores kaki mama. Benar2 saya tidak akan lupa memori itu, betapa saya pernah membuatnya terluka hingga berdarah, dan mungkin lebih dari itu saya sering membuat hatinya terluka. Itu saja, sisanya berteriak pun tidak pernah, mama hanya menjadi pelindung saya dan tempat saya berani marah, karena takut dengan Bapak. Busuk memang saya ini, beraninya cuma sama mama.

Selain itu, selama Bapak, terlebih ketika tidak, mama tidak pernah lelah mencari nafkah.. 24 tahun hidupnya dihabiskan 3-4 jam/hari menempuh Bogor-Jakarta untuk bekerja, dan setiap 2 minggu keluar pulau untuk dinas, bahkan sebulan terakhir ini mama sudah saya minta untuk berhenti dinas luar pulau, tapi tetap saja sempat ke Manokwari, Makassar, Surabaya, Jogja, Aceh, Medan, dalam waktu berbeda. Bahkan mungkin pilot Lion Air kalah dengan kilometer terbangnya mama. Nggak banyak wanita setangguh mama.

Tahu ketangguhan mama apalagi? masih banyak, salah satunya ketika mengandung saya, bersama Bapak setiap musim kemarau harus pergi ke rumah temanna denga mobil pick up “umprung” untuk minta air yang ditampung di bak belakang mobil beralaskan terpal. dalam keadaan mengandung saya, karena tidak punya selanhg yang memadai mama harus berusaha memindahkan air dari terpal di bak mobil ke drum di rumah gedek (anyaman bambu) kami saat itu. berkali-kali2 mama harus terpeleset untuk memindhkan air itu. dan dari air itu mereka memenuhi kebutuhan sehai-hari termasuk merawat saya yg masih dalam kandungan untuk Itulah kenapa saya merancang ini semua. Suatu persembahan yang sama sekali jauh dari sepadan. LUAR BIASA, itulah mama.

Keikutsertaan saya di ISCOMS 2010 nanti berarti merupakan kunjungan saya yang kedua ke Belanda, setelah program AFS 5 tahun lalu. seperti yang sudah saya nazarkan sejak 5 tahun yang lalu di Belanda, saya akan kembali ke tanah ini bersama orang yang saya cintai, karena energy utama cinta saya, dg perjuangan mama di atas, adalah untuk mama dan sudah sepantasnya kali ini yang saya ajak mama, mau siapa lagi, anak istri juga belum punya..walau insyaALlah ada gilirannya ^^

Alhamdulillah, 15 bulan terakhir Allah memberi saya kemudahan rizki lewat bisnis pulsa yang mungkin tidak asing lagi bagi sebagian teman-teman.. situasi inilah yang membuat saya berani untuk coba-coba daftar kegiatan di luar.. shg kalaupun tidak dapat sponsor atau dukungan fakultas, setidaknya ada pegangan.. hingga akhirnya kesempatan ini datang..

Tapi yang ajaib, atau mungkin memang sudah rejeki Mama, dan saya sangat yakin Allah Maha Kaya dan mampu mengatur segalanya.. 3 bulan lalu ketika saya sedang kebat-kebit di bogor-jakarta menimbang harga tiket pesawat PP untuk dua orang.. tiba-tiba mama dapat sms.. “..nikmati penerbangan Garuda perdana ke Amsterdam, buy one get one free!!!” AllahuAKbar.. berdiri bulu romakau, berdetak jantungku lebih cepat.. “iniah jawabanmu ya Allah??” sungguh mudah sekali bagi-Nya menjawab keraguan saya.

Saya sempat berfikir klau ajak mama, it will cost more, tapi kalau tidak mau kapan lagi, 1 ini sudah cita-cita bahkan mungkin termasuk nazar, mumpung mama masih sehat, selagi masih kuat silaturahmi dengan sahaba dan kerabat di Belanda.. dan mumpung saya belum KOAS..(yang artinya amat terbatasi mobilitas non kliniknya).. dan sederhana sekali cara Tuhan memberi jawaban.. cukup dengan mengirimi SMS, buy 1 get 1 FREE!!. Walaupun harga nya lebih mahal dari maskapai lain, tapi karena dibagi untuk 2 orang terbang bersama, jatohnya lebih murah.. mungkin ini memang sudah rejeki mama.

Banyak sekali kemudahan yang kami dapat selama persiapan. Missal untuk membawa mama, saya harus mencari surat undangan yang dibuat oleh WN Belanda yang bersedia menjamin keberadaan mama selama di Belanda, Alhamdulillah, Selma, cp saya sewaktu program AFS berkenan untuk itu sehingga mengurus visa mama menjadi sangat mudah.. selain itu betapa bersyukurnya saya, 5 tahun yang lalu dipertemukan sepasang “malaikat” lewat shalat Jumat di Haarlem. Ya, pasangan malaikat tersebut adalah Oom Toyo Natadiningrat dan Tane Jeane E Sellier, yang berkenan menampung kami terutama mama selama tinggal di Haarlem nanti..

Tapi yang membuat saya tidak henti bersyukur adalah waktu keberangkatan kami.. 3 Juni.. ya, 1 Juni Garuda akan terbang perdana ke Amsterdam, 2 Juni Mama ulang tahun, 3 Juni kami berangkat.. semoga ini menjadi salah satu kado terindah untuk mama.. percaya atau tidak, ini adalah kado pertama saya untuk mama semenjak saya dilahirkan 22 tahun yang lalu.. T.T, busuk sekali saya ini..

Bapak, mungkin saat engkau berujar “kalau di luar negeri pasti udah ketinggalan kereta!!” ada emosi disana.. tapi aku tahu ada juga doa disana, bahwa engkau ingin kami anak2mu belajar disiplin dan suatu hari bisa mengikuti jejakmu untuk ke luar negeri dengan tangan kami dan kaki kami sendiri. Dan besok, dengan doamu, wowok akan bawa mama untuk jalan-jalan, melihat keindahan yang telah kita saksikan secara terpisah, tapi wowok janji Pak, tanpa ketinggalan kereta..^^

Jadi ingat Pak, 6 tahun lalu ada anak wakil rakyat bilang seperti ini ketika tahu saya jualan susu di kelas, “emang elo semiskin itu ya Jar?” lucunya, Bapak dan bapaknya anak ini kerjanya sama2 di senayan, gatot subroto. Bedanya si onoh gedungnya ijo, pendek ceper, gedung MPR/DPR. gedung bapak sebelahnya, Manggala Wanabakti, lebih tinggi (14 lantai).. saya yakin Bapak telah menanamkan nilai yang lebih tinggi terutama dalam kerja keras dan silaturahmi.. dan itu wowok jadikan pelecut untuk membuktikan, kalau wowok KAYA, karena punya Bapak yang KAYA LAHIR BATIN, sejenak teringat memori ttg Bapak yang hampir setiap hari nenteng selusin botol madu ke kantor untuk di jual di koperasi, setiap ikut ke kantor selalu diperkenalkan mulai dari satpam hingga pak Menteri. Mulai dari CS sampai artis.. (kebetulan kalo DepHut nanggap artis, bapak sering jadi humasnya dan ngajak saya dan kakak untuk sekedar kenalan & foto2). Gak ada yang lebih hebat dari Bapak

MbahKung, walau kita belum sempat ngobrol dengan bahasa Belanda, wowok niatkan setiap kepergian dan setiap usaha untuk pergi ke Belanda tetap terpelihara dengan memori akan dirimu.. seolah-olah kau ada disini..kita berbincang bersama.. dan minggu lalu saya (dua minggu sebelum ulang tahunmu) benar2 terkejut ketika menemukan 4 carik kertas bernoda coklat yang ketika saya baca adalah pengalaman hari pertama saya sekolah di SMP 5 Jogja, yang beliau catat hasil ngobrol dengan saya tanpa sepengetahuan saya.. dan baru saya temukan tulisan itu sekarang, 10 tahun kemudian..

Mama, mungkin wowok tidak cukup gentle untuk memberi kecupan sebagai wujud sayang seperti anak kebanyakan kepada ibunya, wowok juga belum pernah sekalipun memberi kado di ulang tahun mama.. tapi semoga perjalanan ini menjadi suatu yang membahagiakan bagimu.. walau saya tahu mama tidak akan baca tulisan ini (makanya saya berani nulis gini) karena tidak punya facebook dan tdk begitu mahir berinternet.. saya yakin Mama bisa merasakan sedikit apa yang ingin saya tunjukkan..

Mama mungkin memang “hanya” PNS golongan III D, yang gajinya perbulan lebih kecil dari SPP 1 semester saya, tapi saya berjanji untuk perjalanan kali ini.. mama akan menikmati ini jauh lebih indah dari para pejabat tinggi, dan para legislative yang jalan2 ke luar negeri, bahkan Gayus sekalipun wok jamin kalah..

Selamat Ulang Tahun Mama, perjalanan ini takkan berarti dibanding pengorbananmu, kubawa ke bulan pun tidak akan cukup, tapi mulai skg apapun akan wowok lakukan untuk membahagiakan mama, apapun.. izinkan aku mengutip dan menyanyikan syair dari keris patih..

Bunda.. izinkan aku bersujud kali ini.. sebagai tanda, aku mencintaimu..
Bunda.. demi langit bumi aku bersumpah, kan kujaga pengabdianmu di hidupku..

Selesai ditulis 31 Mei 2010

Pukul 05.00 waktu fajar di Baciro Jogja,

Anakmu, Mochammad Fadjar Wibowo –Wowok-

4 thoughts on “Persembahan Untuknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s