Bergoyang untuk Kambing Kurban

Kelelahan usai mengikuti Housewarming rumah baru Patty dan Antonie semalam, membuat kaiu terlambat berangkat dari Aalst untuk kembali ke Brussels.

Pindahan Mba Alfi

Hari ini kami sudah janjian, bersama kawan-kawan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Brussels akan bantu-bantu Mba Alfi pindahan barang, ke apartemen barunya dan juga mengadakan housewarming setelahnya. Ya, mau housewarming, mau pengajian, mau ulang tahunan kalau ala Indonesia yang jelas harus ada makan-makan. Mba Alfi sendiri beberapa waktu terakhir “menjabat” Plt Ketua PPI dikarenakan Pak Ketua asli Mas Devy beberapa waktu lalu sedang di Indonesia. Jadi kalau hari ini ga nongol bisa-bisa jatah ransum di pertemuan berikutnya disunat. Wkwkwk.

Sampai di tempat Mba Alfi kami sudah telat satu jam, tapi untung acara utama angkut-angkut barang belum berlangsung. Acara angkut-angkut berlangsung meriah dengan memindahkan barang dari apartemen Mas Fred di lantai tiga, ke gedung di depannya dimana apartemen baru Mba Alfi berada. Juga di lantai 3!! Nyam-nyam.. Bersama Aswin, Anto, Mas Komar, Mas Fred, cukup dua kali bolak-balik pindah semua barang-barang yang di maksud. Inilah dia.

Selamat pindahan ya Mba, semoga PPI Brussels makin sering silaturahmi, kumpul-kumpul dan makan-makan. Hehehe.

Berikutnya, sudah bisa ditebak, ga ada kumpul PPI tanpa makan. Ya, inilah kelebihan para pelajar Indonesia di luar negeri. Sejak enam tahun lalu pertama kali aku mengenal istilah PPI di Belanda hingga detik ini, aku selalu kagum dengan para pelajar Indonesia yang bisa selalu aktif di berbagai negara di seluruh belahan dunia, saling mengisi, menolong dan secara tidak langsung turut menjaga nilai-nilai Indonesia.

Potangan Pertama Cake untuk Rumah Baru

Menjaga nilai-nilai Indonesia??? Wakkss, terdengar berlebihan, nilai yang mana? Keseringan baca web berita seperti menitdotcom sangat cukup untuk membuat kita pemuda Indonesia, terutama yang sedang di luar negeri untuk malu bahkan frustrasi dengan negeri sendiri. Tapi cobalah perhatikan, adakah country-based student community dari negara lain yang tersebar di seluruh dunia ini yang sekomplit PPI. Melalui berbagai kegiatan yang diadakan mulai dari sekedar jalan-jalan, makan-makan, bertukar informasi dan lowongan studi-pekerjaan di milis, gotong royong saat pindahan, ulang tahun, pengajian, buka bersama, menunaikan ibadah umroh dan haji bersama, perayaan hari besar agama lain, pengumpulan dana untuk korban bencana, hingga penampilan seni dan budaya. Adakah yang semeriah, sekuat dan seguyub pelajar Indonesia???!! Itulah Indonesia sesungguhnya LUARR BIASAA!!! Masih terlalu banyak hal baik dari Indonesia yang belum disadari.

Bu Sri Wahyuni

Masih ingat Bu Sri ya sahabat pembaca? Selalu ada hikmah di balik perjumapaan dengan Bu Sri ini. Kali ini beliau bercerita kalau ada mahasiswa UNS yang ingin mengenal beliau lebih dekat dan sangat termotivasi untuk belajar dari beliau agar bisa belajar di luar negeri, setelah membaca tulisanku. Bu Sri ini memang jempolan, belum selesai program Post-Doct nya dengan Erasmus Mundus di Brussels ini kini beliau sedang menanti undangan untuk dipanggil mengikuti Research Project di USA dan sudah “menolak” halus Maastricht Universiteit di Belanda. Ckckck.. Semoga terus berhasil dan bisa membawa keluarg serta lagi ya Bu.

Satu hal menarik perhatianku hari itu, mengapa Bu Sri tidak kunjung makan, meski yang lain, termasuk aku asik makan. Ternyata Bu Sri dan Mba Yeyen tetap istiqomah bertahan menggenapi puasa 10 hari awal bulan Dzulhijjah. Dari berbagai makanan Indonesia, yang menarik disini saya baru (kembali) tersadar dan akhirnya makan Tagliatelle yang diperlakukan sebagaimana kwetiau di Indonesia! “Kwetiau” ini hasil olahan banyak tangan, mulai dari Mba Intan, Anto, hingga Pertha.

Anto, Master Chef Kita lagi Sibuk Motong Ayam

Pertha

Oya, dalam cerita kami kali ini, ada sosok baru yang perlu aku ceritakan. Sekitar dua pekan lalu telah tiba salah satu sahabat kami, salah satu dari kami ber-12 siswa pertukaran pelajar AFS chapter Jakarta enam tahun lalu. Saat aku dikirim ke Belanda, istriku ke Italia, Pertha berangkat ke Amerika Serikat. Saat pernikahan kami Agustus lalu, alhamdulillah Pertha menjadi salah satu pager ayu nya. Selang beberapa hari kami tiba di Brussels, Pertha mendapat kabar bahwa ditugaskan kantornya untuk magang di kantor KBRI Brussels. Lagi-lagi kebetulan yang “terlalu” baik menghampiri kami.

Sejauh ini apa ya hubungan judul dengan isi tulisan ini. Ini dia hubungannya, sebelum kami tiba di kediaman baru Mbak Alfi, Aswin yang menghampiri kami di Stasiun Metro Schuman menyerahkan titipan uang lelah hasil menari saman beberapa waktu lalu di Hoboken, Antwerpen.

Uang lelah yang sebelumnya tidak kusangka dan nantikan, mengingat acara yang kami ikuti saat itu adalah acara sosial. Namun ternyata tetap ada uang lelahnya. Alhamdulillah, karena aku dan Muti sama-sama menari maka kami mendapat dua pendapatan sekaligus. Alhamdulillah.

Malam sebelumnya

Aku     : Hmm.. untuk kambing kurban masih kurang sekitar 50 Euro  sayang, udah pas banget budget bulan ini sesuai rencana..

Istriku: Iya ya.. Oya Mas, bulan pertama kita dapat 100 dari tante, bulan kedua dapat 100 kado nikahan dari Ineke, mungkin aja bulan ini bakal ada 100 ekstra dari mana gitu..

Aku     : Bener juga, ya.. Biar kita budget-in100 untuk amal tiap bulan, pasti ada 100 Euro ekstra juga kita terima. Hehe, yang berikutnya dari mana nih ya.. Hmm.. ada yang tiba-tiba datang lagi kali nanti, hekhekhek.. xp

Alhamdulillah, uang lelah kami menari ternyata menjadi jawaban dua pertanyaan kami.. Dari mana dana bulanan tambahan kami kali ini berasal dan bagaimana pembelian kambing kurban kami tergenapi..

Ternyata menari di luar negeri tidak hanya mendatangkan turis manca ke Indonesia, namun bisa juga mendatangkan kambing pada akhir usianya.

Selamat datang eMbek.. Selamat dikurbankan😀.

A demain!!!

7 thoughts on “Bergoyang untuk Kambing Kurban

  1. Dek fajar, nama saya ditulis lagi…saya jadi malu..tapi mudah2an ini adalah doa yang akan diijabah allah..amin..trimakasih utuk tulisan dan persahabatan serta silaturahmi yg baik..semoga berkekalan..

    • Supaya yang dapat manfaat silaturahmi dengan ibu bukan hanya saya dan istri saja Bu.. tapi lebih luas lagi..😀
      Habis ini ndak sering2 deh..

  2. Sejak 3 tahun terakhir, populasi PPI Bxls dan PPI Belgia secara keseluruhan terus bertambah. Mudah²an tahun-tahun berikutnya, makin banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah ke Belgia.

  3. Ibu Sri Wahyuni, apakah kenal dengan Mas Feri Adrianto–mengajar di UNS juga (jurusan Fisika), saat ini sedang mengambil dengan second Ph.D di University Oslo, Norwegia.

    Salam hangat dari Oslo ya Bu,

  4. mutiiii…masi inget Sandy ga? =) yg waktu itu kenalan di EM pre departure n dirimu mewakili sang swami..hehehe selamat nikaaah ya neng, slamat jadi manten baruuu :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s