Wedding of Mba Gaty-Mas Iman, an Inspirational One

22 April 2011

“Dulu netapin nikahnya bulan apa Mas?”

“Berapa bulan setelah kenal ya..”

“Setelah itu bilang ke orang tua sendiri dan ke calon mertuanya gimana?”

“Siapa aja yang perlu datang? Ada yang perlu dibawa atau disiapin khusus kah?”

Teriknya sinar matahari yang mengiringi langkah kami menuju Masjid Mubarok di Jl. Mas Suharto, Tukangan, Yogyakarta siang itu tidak membuat keingintahuanku mengenai prosedur persiapan menikah surut. Mulai dari proses kenalan, sepakat menikah, hingga yang paling penting terlintas di benakku saat itu adalah bagaimana menyampaikan niat menikah kepada kedua belah keluarga. Sementara kami berdua Jumatan, Mba Gaty dan Muti menunggu kami selesai Jumatan di toko musik Popeye Jl. Mataram.

Mendapat berondongan pertanyaan dariku, Mas Iman menjawab dengan ringan dan tenang. Aku sampai ga habis pikir koq bisa mau nikah tetap se-cool ini. Selain memang waktu persiapan yang sudah jelas dan cukup dialokasikan, sejak lamaran hingga penentuan tanggal, mungkin memang begini ya kalau orang sudah siap nikah pikirku saat itu.

Justru malah aku sendiri yang sibuk bertanya sambil dalam pikiranku berputar-putar tentang kapan, bagaimana, dan mulai dari mana aku akan menikah. Mendengar penjelasan Mas Iman yang sebetulnya singkat-singkat dan sederhana, aku pun sampai pada kesimpulan: untuk menikah itu sebetulnya sederhana. TIdak perlu dipikir dan dibikin ribet, yang penting niat, rencana jelas, dan dilakoni. Dilakoni, bagiku itu kuncinya, kalau semua hanya dibatin dan dipikirkan tanpa action, ya cuma mumet sendiri dan tidak kunjung terlaksana.

Mas Iman dan Mba Gaty adalah pasangan yang awalnya kukenal dari istriku. Bagi Muti, sejak sama-sama kuliah di Jepang Mba Gaty sudah seperti kakak sendiri. Saat aku bertemu Mas Iman dan Mba Gaty di Jogja April 2011 lalu, keduanya sudah mulai sibuk mempersiapkan pernikahan yang diadakan bulan November nanti.

Salah satu agenda keduanya ke Jogja merupakan bagian dari persiapan pernikahan keduanya. Dengan baik hati Mba Gaty yang tahu dari Muti bahwa aku tinggal di Jogja pun mengajak Muti turut serta ke Jogja. Saat itu kami baru tiga bulan “jadian”.

Namun begitu aku dan Muti keesokan harinya mencapai konsensus bahwa kami akan menikah segera.  Dengan pertimbangan cukup sederhana: “sudah tidak ada alasan untuk menunda”.

23 April 2011

Mendengar penjelasan Mas Iman, cukup membuatku menebalkan niat dan mengambil keputusan. Aku yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu, langsung mengutarakan maksudku pada Muti saat itu. Well, kalau kata orang sih emang akunya yang udah kebelet. Hari itu juga, aku mengajak istriku berkenalan dengan Pakde dan Bude Salam di Jogja yang hendak aku mintakan tolong untuk melamarkan Muti di Jakarta.

Malam harinya kami berdua sudah bergabung kembali dan makan malam bersama Mba Gaty & Mas Iman. Kami selalu berpikir, bahwa pertemuan ini, perbincangan seputar pernikahan dengan Mas Iman dan Mba Gaty telah menjadi salah satu bagian dari “skenario” pernikaan aku dan istriku.

Bersama Mba Gaty & Mas Iman di Jogja

23 Mei 2011

Berbekal pengetahuan yang kudapat dari pengalaman Mas Iman, kulamar Muti bersama rombongan keluargaku yang datang dari Jogja maupun Jakarta.

9 Oktober 2010

Dalam acara lamaran Mas Iman dan Mba Gaty, Muti diminta untuk kelak menjadi pagar ayu pada pernikahan keduanya. Saat itu bahkan kontak belum terjalin lagi antara Muti denganku.

23 Agustus 2011

Usai pernikahan pada 13 Agustus 2011, bersamaku, Muti berangkat ke Belgia dan akan kembali ke Jakarta pada 23 September sebagaimana rencana semula mengingat validitas Visa Schengen nya segera berakhir dan bulan November nanti sudah mendapat amanah untuk menjadi salah satu pager ayu di pernikahan Mba Gaty dan Mas Iman.

23 September 2011

Mendapat penjelasan dari Maison de Comunal  (Dinas Dukcapil) setempat, istriku dianjurkan untuk tidak pulang dulu mengingat panjangnya proses perizinan dan tidak adanya jaminan istriku dapat kembali lagi ke wilayah Schengen jika sekalinya istriku kembali ke Indonesia.

4 November 2011

Hari ini InsyaAllah hari pernikahan Mba Gaty dan Mas Iman. Pernikahan yang telah memberi inspirasi, menggerakkanku dan istriku untuk take action dan akhirnya menikah Agustus lalu. Selamat ya Mba Gaty & Mas Iman, mohon maaf karena kami malah tidak dapat menepati janji mengahadiri acara dan Muti mendampingi sebagai pagar ayu di resepsi nanti. Semoga Mba Gaty dan Mas Iman senantiasa sehat, bahagia dan penuh cinta. Menjadi pernikahan yang barokah dan berkekalan. Amin ya Rabbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s