Sang Penunda

Biasanya orang itu bikin tulisan yang dramatis dan monumental jika dengan awalan Sang pada judulnya. Seperti Sang Pemimpi, Sang Pejuang, Sang Pemenang, Sang Penakluk. Nah kali ini tulisanku tentang diriku yang setelah kurenungi adalah seorang Sang Penunda.

Dibandingkan dengan istriku, kiprahku di dunia akademis sejak TK tidaklah begitu cemerlang. Tidak seperti istriku yang berkali-kali juara kelas dan menikmati bangku akselerasi, aku hanya pernah juara kelas dua kali saja saat SMP juga saat SD. Parahnya, setidaknya tiga kali sudah aku tercatat “tidak naik kelas”.

Baru TK saja aku sudah tidak naik kelas dari 0 besar ke SD kelas 1. Gara-garanya usiaku waktu itu belum genap enam tahun, dan kalau ingin “memaksa” masuk, orang tuaku harus membayar ekstra 300 ribu. Tiga ratus ribu jaman sekarang mungkin “kecil” tapi jika itu dikonversi dari gaji ibuku dulu ke gaji yang sekarang, kira-kira bebannya akan setara dengan 12 juta rupiah.

Saat SMA nasibku berangsur membaik, meski tetap aku harus “tidak naik kelas” lagi, menunda kelas tiga karena aku mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke Belanda. Karena Insan Cendekia sekolah ku saat itu tidak mengenal tunda kelas, cuti sekolah, dan sejenisnya,  aku sempat diwanti-wanti tidak bisa meneruskan sekolah di sana sekembalinya dari Belanda.

“Ndakpapa Pak, kalau saya ndak diterima lagi, nanti saya pulang dari Belanda ke Jogja saja ndaftar kelas tiga di Muhi..” “Di sana sudah banyak senior AFS, insyaAllah saya boleh sekolah di sana” tanggapku setengah berstrategi saat itu.

Akhir cerita, alhamdulillah dengan kebesaran hati Bapak Kepala Madrasah dan dukungan Ibu Rini Kristiani di BK, aku boleh kembali menyelesaikan kelas tiga di Insan Cendekia.

Kini setelah wisuda sarjana pun alhamdulillah aku kembali menjadi “Sang Penunda” karena harus izin ko-ass untuk mengikuti Erasmus Mundus Exchange Program di Belgia dalam rangka memperolah dasar-dasar ilmu kesehatan masyarakat yang penting bagi minat karirku di kemudian hari.

Yang ingin kutekankan di sini adalah, hidup itu pilihan. Tidak selamanya memilih “menunda” itu buruk hasilnya. Asal kita punya alasan dan tujuan jelas di baliknya. Meski kebanyakan lebih cepat itu lebih baik. Termasuk menikah misalnya, terutama jika sudah tidak ada alasan untuk menunda. Menunda sejenak untuk meningkatkan kapasitas, mengkatrol kualitas dan menambah jam terbang untuk percepatan raihan prestasi di kemudian hari, menyalip di beberapa tikungan strategis dan mencapai garis finis tertinggi yang sudah ditentukan tentu lebih baik daripada hanya berjalan hanya mengikuti arus tanpa tahu harus kemana menuju.

4 thoughts on “Sang Penunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s