Patty-tje…!!!

Lahir, tumbuh besar, dan menetap di sebuah desa kecil di pinggiran kota Aalst, bagian dari Belgia Vlanderen (berbahasa Belanda), tidak banyak mengunjungi negara lain di Eropa kecuali yang berbatasan langsung dengan negaranya, membuat gadis ini tertantang untuk membuka mata melihat dunia. Perginya sang kakak mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika membuatnya mengambil keputusan mengikuti program serupa ke Italia. Pengalaman menjumpai kondisi geografis, bahasa, budaya, hingga kuliner yang sangat berbeda menjadi hal yang sangat dinantikannya.

Awal September 2005

Roma. Hari pertama tiba di Italia gadis ini dikumpulkan bersama ratusan pelajar dari berbagai penjuru dunia. Eksitasi dan euphoria berada di lingkungan baru, bertemua ratusan orang baru seusianya dengan puluhan bahasa dan budaya berbeda membuatnya tidak terlalu meninggalkan kesan mendalam pada satu dua orang di antaranya.

Beberapa hari kemudian

Sardegna, sebuah pulau di selatan Italia, dengan kultur penduduk yang sangat berbeda dari Belgia bahkan dengan mereka yang berasal dari Italia daratan, di sini lah gadis ini sekarang berada. Centro Locale Senorby, sebuah chapter (perwakilan tingkat provinsi) di Sardegna mengadakan orientation camp pertama untuk 50-an pelajar pertukaran dari berbeagai negara  untuk tinggal selama setahun ke depan bersama host-family mereka di Pulau Sardegna. Beberapa hari di camp ia mulai dekat dengan dua orang yang kelak menjadi sahabat barunya. Satu datang dari Swiss, Julia. Dan seorang gadis mungil, manusia pertama dari Indonesia yang pernah ditemuinya. Saat itu mereka belum menyadari, bahwa mereka akan tinggal cukup berdekatan dan kelak menjadi sahabat sepanjang tahun mereka di Italia, bahkan hingga tahun-tahun berikutnya.

Seui dan Seulo

Gadis ini, Patricia namanya, Patty pangilannya, kemudian tinggal di kota Seui. Sebuah kota yang didominasi topografi pegunungan di satu sisinya dan berlukiskan bibir pantai di sisi lainnya. Kota yang didiami oleh 1500-an penduduk. Jumlah yang bahkan kurang dari sepertiga jumlah domba yang digembala di sana.

Semua tampak berbeda, semua tampak baru dan menarik perhatiannya. Termasuk ketika ia menyadari bahwa gadis Indonesia yang ia temui di orientation camp beberapa hari lalu ternyata pergi ke sekolah yang sama. Gadis ini, Mutiara namanya, Muti panggilannya “terpaksa” harus pergi ke sekolah yang sama dengan Patty. Di Seulo, desa di mana ia tinggal jumlah penduduk hanya berkisar 1000-an jiwa dan tidak ada satu pun SMA berdiri. Setiap hari, dengan naik bus yang hanya tersedia sekali setiap paginya, ia berangkat dari Seulo menuju Seui. Beruntung, kalau terpaksa terlambat ia masih bisa berangkat bersama ayah asuhnya, Babo Romano, yang juga seorang guru matematika di sekolahnya.

Keberadaan keduanya di sekolah yang sama cukup menarik perhatian para guru, siswa hingga janitor di sekolah bernama Liceo Scientifico F. Bissirli Seui ini. Ini kali pertama sekolah ini menerima murid dari luar negeri. Penduduk pulau Sardegna sendiri terkenal tidak pernah keluar dari Italia, bahkan pulaunya hingga dewasa. Kebanyakan mereka hanya keluar kota untuk menempuh pendidikan universitas di Cagliari, masih di Sardegna. Kemudian kembali melanjutkan hidup di kotanya masing-masing, sebagai guru, pegawai pemerintahan atau petani. Ke luar pulau? Cukup sekali dalam hidup kebanyakan dari mereka, untuk mengunjungi Sang Ibukota saja, Roma. Tak heran, kedatangan dua manusia yang hanya bisa bercakap bahasa Inggris, Belanda dan Itali ini menjadi barang langka bagi mereka. Demikian halnya juga dengan dua gadis ini, Patty dan Muti, belum pernah keduanya menemukan seorang murid SMA butuh waktu hampir satu menit untuk mengatakan, “whhaaaaaaattt.. iiiissss.. youuuuuuurrrr naaaaaaammmme..?”

Berada di tempat unik, dengan lingkungan baru yang serba berbeda membuat keduanya merasa senansib dan selalu menghabisan waktu bersama. Hingga suatu hari Muti yang tampak senang mengangkat telfon dari teman di Indonesia dan tertawa, Patty hanya bisa berkata, “I am jealous seeing you laughing with someone else..”

Jalan kaki sepulang sekolah tanpa tentu arah menjadi hobi keduanya. Sambil saling mengambilkan foto, keduanya sering menghabiskan waktu hanya untuk berjalan ke pantai atau meniti jalan setapak hingga batas ujung desa. Mengisi waktu dan berinteraksi dengan teman-teman lokal, keduanya juga bergabung dalam grup marching band yang dipimpin Victo Marchi.

Meski sudah semakin dekat satu sama lain, Patty masih sering terheran-heran, bagaimana bisa gadis sekecil ini tidak makan tidak minum selama 13 jam. Juga kenapa setiap hari harus berkali-kali memakai kain putih dan berdiam diri sambil gerak naik turun di atas sehelai kain. Apapun itu, tidak menghalangi keduanya untuk terus menjalin persahabatan lewat kebersamaan keduanya, persahabatan yang tidak pernah terucap tapi selalu terasa.

Patty - Julia -Muti, Memoru of Sardegna

April 2011, Enam Tahun kemudian

“Sayang, alhamdulillah Mas dapat Maheva nya di Belgia,” kusampaikan hasil pengumuman pada Muti. Saat itu kami belum memutuskan menikah kapan. Hanya di awang-awang, mungkin 2012.

“Hah?? Beneran Mas?! Sahabatku waktu AFS di sana, kuliah di sana, asli Belgia.. Ahhh.. Pattyy.. akhirnya bisa ketemu Patty lagi..”

“Oh ya, dia ngomong apa, Belanda apa Prancis?” sambungku.

“Belanda, kaya kamu..”

“Wah, cocok ya nasib kita, kalian ketemu di Itali, sekarang aku dapat sekolah di Belgia, kita sama-sama Hollandspreken..  Jodoh banget emang kita, kalo nikah sebelum berangkat aja gimana? Kalian bisa ketemu lagi.. Hehe”

Hari-hari itu kerjaanku bukan lain dan tidak bukan ya begitu itu.. Godain Muti.. Connecting the dots, ngomongin hal2 yang nyerempet pernikahan. Ya gimana, emang dasarnya sudah pengen nikah, karena kalau tahun depan kelamaan harus pisah dulu. Kalau sekarang-sekarang pusing juga gimana ngomongnya sama keluarga, sementara aplikasi visa Swiss untuk internship WHO sudah dimasukkan. 50 hari kemudian sudah terbang. Wacana saat itu masih dari Swiss langsung ke Belgia tanpa kembali ke Indonesia. Menikah sebelum berangkat menjadi pilihan satu-satunya.

September 2011

“Muttti-tjeee…” setengah berlari Patty yang berkaca-kaca memeluk Muti yang menunggunya di Metro Station Alma. Senang, haru, penuh ketidakpercayaan memenuhi hati dan pikirannya..

6 Oktober 2011

“Woow.. you are cool guys, you dance for your embassy..”

“I have never been to any embassy in my life.. You are cool..”

Heboh Patty terheran-heran, dua minggu lalu baru saja ia menginfokan pada kami bahwa ada acara penggalangan dana untuk anak sekolah Indonesia dan menyarankan kami utnuk menghadirinya. Menurutnya di sana kami dapat bersenang-senang dengan bertemu banyak komunitas Indonesia.

Patty begitu kaget ketika tahu ternyata justru kami bukannya berencana datang ke acara tersebut, justru kami akan mengisi salah satu acara pertunjukannya. Saat itu kami akan menari saman, karena ajakan Aswin dan persetujuan Oom Made dan Tante Wayan. Lebih takjub lagi saat itu Patty pertama kalinya masuk ke dalam lingkungan suatu kedutaan. Selama ia pergi kemanapun ia tidak pernah harus apply visa hingga harus datang ke kedutaan suatu negara. Konsekuensi logis sebagai pemegang Paspor Uni Eropa dan baru mengunjungi beberapa negara saja. Kedutaan negaranya sendiri di luar negeri pun dia belum pernah.

Meski hanya mengantar satu tas besar berisi perabotan rumah untuk kami dan pakaian untuk Muti yang dipînjamkannya, menemui kami di sebuah kedutaan menjadi pengalaman menarik tersendiri baginya.

Antonnie, Patty, Muti, Fadjar


31 Oktober 2011

Muti dan suaminya, aku maksudnya, memenuhi undangan Patty. Di tahun yang sama Muti menemukanku. Eaahh.. gayamu! Patty juga menemukan pasangan hidupnya, Antonnie , beberapa bulan lalu. Hari ini mereka mengundang kami  berdua ke peresmian apartemen baru keduanya di Antwerpen. Berjumpa dengan keluarga intinya.

“Mutiii.. finallyy.. we see you in real.. six years already Patty has been talking about you..”

“Muti in Italy, Muti in Japan, Muti in Jakarta, Muti was everywhere.. and now Muti is here.. with us!!!”

Mama Patty, kakak dan adiknya bergantian memeluki istriku.. Bak menyambut seorang putri yang baru keluar dari dalam buku dongeng..

Bersama Sang Kakak & Mama Patty

Malam itu kami pulang bermalam ke rumah Patty di Aalst. Rumah yang selalu diceritakan Patty pada Muti enam tahun lalu. Rumah tempat Patty tumbuh besar, yang ia selalu bilang pada Muti untuk mengunjunginya suatu hari. Enam tahun lalu. Sembari berfoto-foto menghabiskan sore hari berjalan bersama hingga ujung desa, di sebuah pulau bagian barat daya Italia, Sardegna..

8 thoughts on “Patty-tje…!!!

    • Maturnuwun Mba,
      sehat2 to Mba Fadmi, selamat Idul Adha ya..
      aku sudah cerita tentang Mba Fadmi ke Muti
      Nanti biar Muti kenalan langsung yaa..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s