Muti, Stefy, Berlusconi

“Aaaa Muttiii…”

“Stefyyyy…..”

Ya, setelah Patty lagi-lagi kemarin istriku kembali berkesempatan reuni dengan seorang sahabat lamanya. Stefy. Sama sepertiku yang mendapat kesempatan belajar di Belgia dengan program Erasmus Mundus, bedanya Stefy berstatus mahasiswa Eropa dari Italia. Ketika Muti mengikuti program pertukaran pelajar dan bersekolah di Sardegna, Stefy adalah sahabat sekaligus teman sekelasnya.

Seperti yang kuceritakan pada cerita Patty mengenai karakter penduduk Sardegna yang jarang bepergian, begitu pula Stefy.

“Non preoccuparti, Muti è a Bruxelles anche..”

“Jangan khawatir, ada Muti di Brussels..”

Tedengar lucu ya, tetapi itulah yang jawaban Stefy kepada keluarganya begitu khawatir melepas kepergiannya. Justru Stefy yang berasal dari Italia menjadikan istriku yang jauh-jauh dari Indonesia sebagai pegangan. Bagaimana pergi ke luar negeri dari Sardegna, sebuah pulau bagian dari wilayah Itali yang hanya selemparan batu jaraknya ke Eropa daratan adalah sesuatu banget bagi penduduk Sardegna. Terutama di Seulo, desa tempat istriku pernah tinggal.

Lebih lucu lagi, karena keluarga Stefy ini benar-benar merasa “baikan” setelah mengetahui bahwa ada Muti di Belgia. Kebetulan sekali sang mama, papa, kakak dan adik Stefy masih mengingat Muti dengan baik meski sudah tidak bersua 6 tahun lamanya. Keduanya masih saling berkomunikasi satu sama lain.

Hari itu juga Stefy kembali menanyakan bagaimana Muti dan aku akhirnya memutuskan menikah. Ketika tahu kami menikah, Stefy mengabarkan pada keluarganya dan mantan teman-teman sekelas Muti. Semua masih mengingat istriku dengan baik dan begitu terkejut dengan pernikahan kami yang begitu cepat. “Also my family, especially my mom, she still remember you very well..” Usai menyampaikan cerita mengenai teman-teman sekelas semasa di Liceo Scientifico F. Bissirli Seui, Stefy menceritakan betapa sulit baginya untuk bertahan di Brussels ini.

“I feel people are not nice to me especially once they know I am from Italy. We have difficult time in politic and financial crisis now.”

“Haha.. Berlusconi.. Berlusconi!!!” “People make joke of him and point at me”.

Kemudian Stefy menceritakan bagaimana sulitnya ia menghadapi respon orang-orang yang mengaitkan dirinya dengan situasi politik dan ekonomi di Italia. Di sini dia merasa warga Uni Eropa lain bahkan tidak menganggap Italia sebagai bagian dari Eropa. Ia lalu menceritakan krisis politik di Italia yang terjadi akibat semakin mengguritanya kekuatan mafia. Di mana para mafia sudah mengendalikan Berlusconi dan para anggota parlemen begitu tergantung pada Berlusconi yang memberikan banyak uang.

Meski Berlusconi sudah meyatakan kemungkinannya untuk mundur, tetapi tidak ada kandidat lain dari Partai Fasis pemenang pemilu yang dianggap mumpuni. Sementara Partai Komunis sudah jauh hari kalah amunisi. Turun atau tidaknya Berlusconi, pemipin baru atau lama, bak lingkaran setan, selama kekuatan mafia masih menggurita siklus politik Italia akan berputar sepert itu saja.

Vacuum of power dan krisis ekonomi berlanjut, adalah hantu kembar yang membayangi warga Italia saat ini.  Gaji dipotong hingga 20%, tidak tersedianya lapangan kerja, menumpuknya pengangguran muda menjadi beban terberat Itali saat ini. Jatuh bangkrut seperti Yunani terus membayangi.

Hal ini membuat warga Italia yang tinggal di luar negeri terpojok. Kecaman Sarkozy, Barack Obama, dan Angela Merkel terhadap Berlusconi hanya semakin memojokkan dan mempersulit status mereka sebagai warga Itali.

Apa yang diceritakan Stefy bisa jadi hanya pengalaman subjektif saja, namun dari beberapa percakapan lain sepertinya kisah ini cukup mewakili apa yang dirasakan sebagian masyarakat Itali. Selain prihatin mendengarnya, aku dan Muti begitu bersyukur menjadi putra Indonesia dan berkesempatan “melihat” dunia. Meski keberadaan koruptor pada tataran tertentu mungkin equivalent dengan mafia, secara makro Indonesia masih terus bergerak progressive di mata dunia dan juga semoga demikian adanya di akar rumputnya. Semoga Indonesia bisa terus belajar dari bangsa lain dan meperbaiki diri. Sementara itu Itali segera kembali pulih dan kembali mampu menyangga ekonominya sendiri.

However, this experience keeps us aware how much we should have been grateful to be Indonesian.

———————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini? Ayo Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s