Ngelmu Tinemu Kanthi Laku

9 November 2011

“You know, I never pay to learn languages!”

Di tengah-tegah kelas biostatistik berbahasa Prancis yang aku masih belum kunjung bisa mengerti bahasa pengantar Sang Professor, Degi malah bercerita panjang lebar soal pengalamannya mempelajari 5 bahasa.

Bahasa Rusia sempat menjadi bahasa resmi kedua di yang diajarkan di sekolahnya, Mongol. Saat berusia sembilan tahun dalam setahun ia sudah menguasai bahasa yang begitu berbeda ini. Alasannya, belajar bahasa apapun anak kecil pasti bisa. Karena belum banyak kegiatan yang membatasi pola pikirnya. Dengan kata lain, selama kita tidak membatasi diri kita, sampai tua pun kita masi bisa belajar bahasa.

Di usia 12 ia belajar bahasa Jepang karena tidak ingin kalah gengsi dengan kakaknya yang les juga. Setiap sang kakak pulang dari les, dipelajarinya sendiri bahan lesnya. Suatu hari sang kakak bosan, dan dia datang ke tempat les, bilang kepada guru kakaknya bahwa sejak hari itu dia akan menggantikan sang kakak les di sana. Sempat diragukan, seminggu berselang dia bisa menuntaskan ujian kakaknya. Saat itu pula dia mengetahui peraturan bahwa partisipasi dari anak kedua digratiskan dari biaya.

Empat belas tahun ia masuk sekolah berasrama bilingual atas dana bantuan Turki dan berbeasiswa. Bahasa Turki pun dikuasainya. Di Indonesia sekolah ini persis seperti sekolah internasional Turki SMA Semesta yang ada di Semarang, Pribadi di Depok dan Kharisma Bangsa di Tangerang. Kalau dipikir lagi, banyak sekali SMA berkualitas di Indonesia yang membuka wawasan international siswanya. Selain SMU Negeri unggulan yang meng0internasional karena alumni-alumninya.

Lulus SMA ia menikah muda kemudian bersama suaminya sama-sama mendapat beasiswa pemerintah China untuk studi kedokteran Cina di Guang Zhou. Lima tahun berada di China, bahasa China Mandarin pun di kuasainya, juga sebagian.

Mendengar kicauannya, semangat ku untuk mempelajari bahasa Prancis meningkat lagi. Bahasa yang menurutku bikin mikir berkali lipat untuk memahaminya dibanding Bahasa Belanda, Jerman, atau Inggris yang pernah kupelajari. Benar-benar memakan banyak energi. Tapi lagi-lagi, tidak ada yang tidak bisa dipelajari selagi kita tidak membatasi diri. Limitation appears only if you let your mind to have one, when you don’t, you are limitless!!!

10 November 2011

Pukul 09.06 Aku, Degi, Khan dan Enzo, suaminya Degi sudah berlari-lari dari stasiun Metro Delta ke arah gedung EPFC, lembaga kursus dan pelatihan milik pemerintah. Berdekatan dengan kampus Universite Libre de Bruxelles. Lembaga ini tidak hanya memberi kursus bahasa Prancis saja tetapi 9 bahasa lain dan ketrampilan lain seperti administrasi, penggunaan software komputer.  Jauh hari sebelumnya merek sudah kuinformasikan untuk mencoba les ini. Mereka antusias dan sangat senang aku mengajak mereka.

Dari informasi di website nya, aku tahu kami harus sudah tiba di sana pukul 9.00 untuk mengambil kupon antrian yang akan dipakai sore hari saat melakukan inskripsi. Hanya untuk ngambil kupon antrian. Tiba di sana antrian sudah mengular hingga jalan universitas, setidaknya 300 orang sudah berdiri di depan kami. Butuh waktu dua jam hingga akhirnya kami terlayani dan mendapat kupon antrian sore. Keluar dari gedung bukannya semakin sepi, ternyata di belakang kami masih ada sekitar 500-an orang mengantri yang terus bertambah setiap beberapa menitnya.

Lembaga kursus ini menjadi sangat diminati oleh para pendatang terutama mengingat biayanya yang di subsidi pemerintah. Sehingga satu jam les, baiyanya setara denga 1 Euro, beda dengan swast yang hingga 5 Euro per jam. Meski begitu di sini kami belajar dengan situasi tidak sekondusif dan begitu cepat progress teorinya jika dibandingkan swasta seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya.

Hasil tes tertulis menunjukkan aku harus pergi ke level 1. Setelah wawancara, melihat aku sudah mulai bisa berbicara, sang penguji mengganti hasilnya menjadi level 2.

“You are lucky, because you help us! Alhamdulillah”

Degi mengatakan aku bisa naik level karena telah mengajak mereka mencoba kursus murah yang langka ini. Sehari sebelumnya kami beridskusi tentang keber-agama-anku dan sementara dia tidak. Meski dia tidak beragama, dia masih meyakini alam semesta ada pengaturnya. Pernah bersekolah di sekolah Turki membuatnya tahu beberapa hal tentang Islam. Dan melihat aku beberapa kali mengucap alhamdulillah, kini dia sering mendahuluiku mengucap alhamdulillah.

Meski harus turun level, mengulang lagi, dari level dua ke satu dikarenakan kelas telah penuh duluan, aku putuskan tetap mengambil kursus ini. Seperti kata para guru, repetisi atau pengulangan adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu tujuanku juga untuk memelihara kontinuitas penggunaannya dengan teman-teman dan guru di lingkungan kursus. Satu-satunya cara memelihara bahasa adalah dengan memakainya. Meski dengan teori dan grammatika terbatas, dalam belajar bahasa praktik adalah segalanya.

alah bisa karena biasa

ngelmu iku kelakone kanti laku

Mumpung masih muda dan selagi ada kesempatan, ayo belajar, belajar, belajar!!!

———————————————————————————————————————————————

Minggu depannya di hari kelas dimulai, dengan Prancis yang kufasih-fasihkan aku nembung guru di kelasku untuk naik ke level dua dengan berbagai alasan, dan berhasil!! Alhamdulillah, you can always try!

A bientot!!!

Bermanfaatkah tulisan ini?? Bantu rate dan jangan ragu untuk share dan beri komentar di bawah ini yaa.. :D

Ingin lebih terinspirasi?? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

2 thoughts on “Ngelmu Tinemu Kanthi Laku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s