Resep Keluarga Nugraha

Akhir Tahun 2005, Appartement Korteveerstraat

“Yak opo repot-repot Djar, buka’en ae websete Keluarga Nugraha.. uwaaakih iku nang kono resepe”[1]

Mbak Lya merespon pertanyaanku seputar sumber informasi resep-resep masakan Indonesia, lengkap dengan logat khas Jawa Timur-an nya.

“Mbak Astri karo Mas Hendra Nugraha iku loro-lorone yo returnee AFS Djar…”[2] sambung Mbak Lya. Mbak Lya adalah AFS returnee Belgia yang saat itu kuliah di Belanda. Kebetulan aku yang dulu returne AFS Belanda sekarang malah kuliah di Belgia.

Haarlem, November 2005

Seperti biasa, hari itu aku berkunjung ke shared-apartment milik Mbak Lya bersama Mbak Gina, Mbak Dita, dan Mbak Heri dan Mas Rico. Biasanya alasanku ke sana adalah numpang solat meski intinya adalah numpang makan. Karena masjid di centrum hanya dibuka saat waktu sholat tiba menjelang azan dan sesudah shalat jamaah dikunci lagi, seringkali saat berada di sekitar centrum aku mampir untuk ikut shalat. Selain itu sehabis sholat sudah kebiasaannya lalu ditawari makan.

Singkat cerita, ketika AFS di Belanda enam tahun lalu, giziku terselamatkan salah satunya karena sering diberi makan di Korteveerstraat ini. Itu pun masih turun 8 kg, tanpa keluarga Korteveerstraat mungkin aku bisa malnutrisi.

6 Tahun Kemudian

“Sayang, gampang kok masakan Indonesia itu. Ga perlu belajar sampe jago dulu, tinggal buka resep keluarga Nugraha terus disesuaikan sama bumbu yang kita punya”, jawabku akan keinginan Muti yang berharap bisa punya resep masakan nusantara. Keinginan yang muncul karena aku tiba-tiba ngidam makanan Indonesia. Aku pun bergegas mengambil folder dan mengisinya dengan resep-resep keluarga Nugraha yang kucetak sendiri.

Lucu juga alau diingat-ingat sekitar tahun 2005-2006 itu. Selain menikmati resep-resepnya, aku juga suka mengikuti perkembangan Deema dan Deeja yang dulu baru setahunan usianya. Aku sangat terinspirasi membaca kisah pasangan Mbak Astri dan Mas Hendra Nugraha yang kebetulan sama-sama returnee AFS. Kebetulan aku dan Muti juga sesama returnee AFS.

Sejak aku dulu di Belanda resep di website Keluarga Nugraha ini sudah menjadi “kiblat” para keluarga muda dan pelajar Indonesia yang berada di berbagai penjuru dunia. Baik mereka yang bekerja maupun yang studi lanjut.

Semula kukira akan mudah saja untuk Muti meniru resep Keluarga Nugraha, ternyata setelah kami berdiskusi akhirnya terungkao terdapat jurang kuliner di antara kita. Muti yang 16 tahun di Jakarta, setahun di Itali lalu kuliah S1 ke Jepang menjadi asing dengan masakan-masakan yang justru kugemari. Makanan favoritku terutama seperti sayur asem, soto, tengkleng, tongseng, gule memerlukan rempah-rempah primadona seperti lengkuas, pala, kapulaga, jinten, serai, kunyit dan sebagainya. Perbekalan bumbu kami ternyata masih belum genap untuk ukuran umumnya dapur rumah tangga Indonesia. Beberapa makanan itu pun sudah sangta lama tidak Muti rasakan.Lima tahun terakhir tidak di Indonesia, Muti lebih akrab mengolah resep dengan bumbu masakan Jepang dan Itali.

Aku jadi ingat wejangan Mbak Rian saat di Jenewa,

“Awas lho Djar, Muti jangan diminta masak-masak yang aneh-aneh… Entar jauh-jauh balik ke Eropa bukannya happy malah pusing…”

Akhirnya kami putuskan untuk membagi tugas sesuai kapasitas masing-masing. Awalnya, Muti yang hobi masak pasta akan menyajikan masakan berbasis pasta dan kentang tiga kali seminggu. Sementara aku yang masak nasi dan makanan Indonesia berbekal resep keluarga Nugraha dua kali seminggu. Untungnya kami sama-sama menikmati memasak. Syukur di Brussels tidak sulit menemukan bumbu-bumbu Asia dengan keberadaan Supermarket Asia Kam Yuen di centrum[1]. Tetapi setelah memperhatikanku lama-lama Muti senang juga menyiapkan masakan Indonesia. Aku semakin jarang memasak. Di akhir pecan, selalu saja ada saja rejeki untuk makan di luar, entah saat ada pengajian, maupun memenuhi undangan lain.

Tengleng dengan Resep Keluarga Nugraha

Sambel Goreng Ikan dengan Resep Keluarga Nugraha

Cod Fish Saus Thailand dengan Resep Keluarga Nugraha

Roti Pita, Lunch Favorit Kami

Selain makanan pokok, Muti juga senang sekali menyiapkan dessert. Karena Muti sangat menyukai Nutella, kami pun membeli buku resep-resep variasi dari Nutella.

Nutella Recette

Selain makanan, aku mendapat treatment spesial dari Muti berupa sajian kopi istimewa setiap kali kami sedang belajar atau bersantai di pagi hari di akhir pekan. Sebagai pecinta kopi Muti juga ahli dalam menyiapkan kopi dengan cara terbaik.

Selama bekerja di ASEAN Secretariat (ASEC), di kantor Muti yang sering tidak betah duduk lama di belakang komputer sering  membuat kopi di pantry kantor.Dari sana Muti belajar membuat kopi special dari Pak Yasin yang memiliki nama beken Pak Jason. Beliau adalah staff yang bertugas membuat kopi bagi para Secretary General (SG) ASEAN, termasuk ASEAN SG saat itu, His Exelency Mr Surin Pittsuwan.

Berkat kepiawaian Pak Yasin membuat kopi inilah beliau beberapa kali diajak SG untuk turut serta mengikuti duty travel ke beberapa negara. Sementara SG Surin yang pernah diusulkan menjadi Sekjen PBB ini ternyata  juga seorang returnee AFS asal Thailand yang dikirim ke Amerika Serikat empat puluh tahun lalu.

“Gaya kan kamu sekarang Mas, tiap pagi kopinya kopi diplomat, kayak Pak Surin… hehehe”

Tidak jadi diplomat, kita ngopi a la diplomat.😀

Bersama HE Mr. Surin Pitsuwan, semasa masih di ASEC

Hari gini, jauh dari rumah, jadi laki nggak jamannya lagi bisanya cuma nyuruh-nyuruh dan mempersulit diri. Tidak terbayang betapa kreatifnya para leluhur kita menemukan begitu banyak cara mengolah kekayaan rempah dan menjadikannya kuliner Indonesia. Dan kita juga tidak boleh kalah kreatif menikmati hidup, tidak menjadikannya rumit karena diri sendiri. Ga jadi diplomat, mari kita ngopi cara diplomat.. Hehehe.

A Demain!!!

[1] Pusat kota

[1] “Ngapain juga repot-repot Djar. Buka saja website keluarga Nugraha. Banyak banget resep-resep enak di sana.”

[2] “MbakAstri dan Mas Hendra Nugrah itu dua-duanya juga alumni AFS,Djar.”

———————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini? Ayo Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

7 thoughts on “Resep Keluarga Nugraha

  1. Wah kowe wis jagoan masak yo Djar saiki😛 nyicip donk!
    Jadi kangen suasana dapur+ruang keluarga Korteveerstraat nih saya😦 dan bau dapurnya yg selalu ngebul…hehe (sampe didatengin tetangga gara2 ada asep ngebul dari dapur kita, ternyata lagi manggang sate #episode ngisin2i)

    Aku add link blog mu ini di blog ku ya Djar🙂

    • Kapan-kapan takngicipi yo Mbaaa…
      trimakasih ya Mba.. pengetahuan akan website keluarga nugraha sangat berperan dalam perjalanan hidupku. hehehe

  2. Wah…ternyata Resep Keluarga Nugraha emang sudah mendunia. Btw salam kenal ya Mas Fajar, Saya kirim email, smoga tidak berkeberatan membalas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s