Bis Jerman

Awal 1990

“Ngeng.. cechh cheess… Selamat datang di Banda Aceh..”

“Ngeng.. cechh cheess… Selamat datang di Medan..”

“Ngeng.. cechh cheess.. .Selamat datang di Padang.. Pekanbaru.. Jambi.. Lampung.. Bengkulu.. Jakarta.. Semarang.. Jogja.. Solo.. Madiun.. Surabaya.. Denpasar.. Singapur.. Jeddah.. New Delhi.. Moskow.. Helsinki.. Stockholm.. Amsterdam..”

Saat itu aku masih TK O besar, dan Kakakku Edo kelas 3 SD. Aktivitas favorit kami sepulang sekolah adalah main bis-bisan. Bukan dengan bis mainan yang ditarik mundur lalu dilepas dan bergerak sendiri maju ke depan. Kami main bis-bisan dengan menyulap ranjang tingkat dua kami menjadi sebuah bis imajiner. Selembar selimut besar kami sandingkan dari bagian atas sehingga menutupi sisi ranjang yang tidak mepet tembok. Jadilah ranjang tingkat itu berbentuk balok seolah menyerupai bis malam. Kakakku duduk di kasur atas menentukan kota yang kami tuju, sementara aku duduk di bawah sebagai supir. Bantal dan guling kutata menyerupai dashboard dan speedometer bus malam. Di atas “dashboard” tadi kusandarkan Atlas Dunia bersampul merah. Atlas Dunia ini setiap tahun Mama belikan mengganti “saudara-saudaranya” yang menjadi kucel karena sering kami buka. Bukan hanya untuk main bis-bisan, tapi juga tebak bendera, tebak negara, tebak ibukota, Atlas-Atlas itu menjadi begitu singkat umurnya.

Sebagai penggemar pabrikan Mercy, “bis malam” ini kami tentukan “bermesin” Mercedes-Benz. Sehingga kalau aku mengerem hendak berhenti , aku harus bersuara “che.. cheech chess...”. Suara yang pada jaman itu hanya dihasilkan kompressor rem angin pada bis bermesin Mercedes-Benz. Bukan bunyi “ciitt” sebagaimana bunyi rem imajiner pada dunia anak umumnya.

Lucunya, selain melayani trayek dalam negeri bis kami ini, juga melayani trayek luar negeri hingga Eropa. Trayek yang tidak biasa ini muncul akibat kami senang menghafal nama negara beserta ibukota, terutama semenjak Bapak sering menceritakan negara-negara yang pernah dikunjunginya. Namanya juga bis imajiner, bis ini bisa melintas benua bahkan samudra. Tidak lupa kami juga membuat rumah makan imajiner karena para penumpang dan supirnya butuh istirahat. Anehnya, meskipun trayek kami hari itu Jakarta – Amsterdam, bis kami tetap mengistirahatkan penumpangnya di Rumah Makan Sendang Wungu, Kendal. Terpengaruh pengalaman kami di dunia nyata, di RM Sendang Wungu lah bis Mulyo Indah yang kami tumpangi ke Jogja berhenti sejenak. Namanya juga anak-anak, berimajinasi seperti apa ya sah-sah aja. Kebiasaan ami naik bis malam seorang diri atau berdua ini sudah kami mulai sejak kecil, menjadi salah satu cara Bapak dan Mama melatih kami berani dan mandiri.

Medio 1995-2000

nggambarnya yang bagus, nanti dikirim ke New Armada. Besok sekolahnya sekolah mesin di Jerman, pulang bikin perusahaan Bis!”

Melihat aku hobi menggambar desain bis, Kakakku sering memintaku menggambar bis dengan model-model yang dia suka. Semakin mengenal bis, terutama pabrikan Mercy, semakin kami bercita-cita ingin ke Jerman. Kala itu kata-kata Jerman sering kali bergema di antara kami. Pemberitaan media mengenai sosok Pak Habibie yang sedang di puncak ketenaran seiring keberhasilan pryek IPTN semakin menegaskan luar negeri negara yang sahih untuk belajar teknik mesin itu Jerman.

Sebagai pecinta bis, bukan hanya miniatur bis yang kami koleksi, tetapi juga tiket, kalender bahkan hingga tissue basah dari bis malam yang kami, maupun yang kerabat kami tumpangi. Hobi yang aneh kalau kata orang-orang. Bahkan ketika anak di usia kami meminta untuk berekreasi ke Dufan, aku dan Kakakku sudah senang bukan main kalau Bapak membawa kami ke “kandang” bis yang bertebaran di daerah Tajur Bogor. Aku yang paling bangga karena jaman itu, Lorena, perusahaan bis favoritku sudah memiliki garasi seluas lima hektar  lengkap dengan maintenance center yang canggih dan pom bensin sendiri. Sementara Mulyo Indah, bisa favorit Kakakku dan bis malam arah timur lainnya hanya memanfaatkan lahan kosong untuk istirahat bis dan crew nya. Sepulang dari field trip garasi bis ini kami sibuk bermimpi, suatu hari bisa memiliki perusahaan bis sendiri.

Seiring bertambahnya usia, minat dan mimpi kami semakin tinggi. Tidak hanya bis, kami mulai merambah ke kereta api dan pesawat terbang. Terutama Kakakku mulai mengkoleksi miniatur pesawat. Ketenaran Pak Habibie bersama IPTN yang ditandai peluncuran N-250 Gatotkaca, menjadi salah satu pencetusnya. Sejak saat itu ia semakin rajin mengikuti perkembangan industri pesawat meski tetap memelihara romantikanya dengan Mulyo Indah perusahaan bis favoritnya.

Akhir 80-an

Sana berdiri bilang, “Good morning Sir..”

Aku dan Kakakku tak bergeming.

“Ayoo.. sana.. cepet!!! Ga boleh malu!!” paksa Bapak dengan mata melotot.

Setiap pergi ke Kebun Raya Bogor maupun tempat wisata lainnya, Bapak selalu memaksa kami untuk berani menyapa dan meminta turis untuk berfoto bersama kami. Paksaan yang ternyata menjadi modal berharga bagi kami untuk menjadi pribadi yang supel dan tidak canggung berkomunikasi dengan orang asing.

Awal 2001

“Sial, sejak kamu ke Jogja, aku sekarang yang dimarahin terus.”

Sepindahnya aku masuk SMP di Jogja, kakakku masih sempat sekolah selama dua cawu di Bogor. Bukannya bahagia menjadi anak tunggal. Dia malah semakin merana karena kebiasaan marah Bapakku yang biasa ditangung berdua kini ditelannya sendiri. Bahkan kalaupun kami berdua, dia yang jauh lebih sering dimarahi. Meski aku yang salah. Ya, derita anak sulung namanya. Hekhekhek.

Dengan berbagai cara, sama sepertiku, ia pun akhirnya melarikan diri ke Jogja saat kelas 1 SMA cawu ketiga. Bersekolah di Muhi Jogja, kakakku mendapat informasi tentang pendaftaran AFS.

Kuperhatikan setiap hari dia sibuk dengan formulir berbahasa Inggris yang saat itu aku masih juga belum begitu bisa mengerti. Yang aku mengerti pokoknya kalau lolos AFS bisa ke luar negeri lama dan bisa dapat beasiswa. Wah asik dia, bisa makin jauh dari Bapak pikirku.

Hanya sesekali bertemu Bapak yang kadang mampir ke Jogja, suatu hari Kakakku bermaksud menanyakan cara mengisi salah satu bagian formulir. Bukan jawaban teknis yang didapat tapi malah didamprat,

“Yang mau ke luar negeri tu siapa??!! Kamu apa Bapak??!!”

“Gitu aja gak bisa!!!”

Antara kaget dan sudah biasa mendengarnya. Aku sendiri tidak pernah menyengajakan diri memulai pembicaraan dengan Bapak. Karena takut salah ngomong dan kebanyakan ujungnya pasti salah.

Entah apa yang salah, apakah kami yang terlalu penakut. Atau Bapak yang terlalu keras. Meski aku yakin maksudnya baik, kalimat-kalimat yang kami dapat seringkali begitu pedas di telinga dan kadang mematahkan semangat, Yang jelas saat itu kebahagiaan terbesar kami adalah justru kalau Bapak dinas ke luar kota. Jauh dari nya, kami merdeka.

Awal 2002

Di akhir kelas 1  SMA, Kakakku sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit karena gegar otak ringan akibat kecelakaan saat bermain bola. Sedikit membingungkan dan mengejutkan, beberapa waktu kemudian nilai di raportnya justru terus meningkat. Mungkin juga seiring dari berkurangnya tekanan. Puncaknya, prestasinya justru semakin meningkat di kelas. Begitu juga dengan aplikasi AFS nya dinyatakan diterima. Banyak yang bilang, sejak kecelakaan bola kakakku ini malah jadi makin pintar. Di catur wulan pertamanya ia masih ranking 44, meningkat menjadi 36, 20, lalu 10 besar. Sepulang AFS bahkan ia selalu ranking 3 besar.

September 2002

Dengan program AFS Kakakku berangkat ke Jerman.

“Anak saya yang besar sekolah ke Jerman!!”

Sejak pengumuman diterima sampai setahun kemudian, rasanya tiada hari tanpa kudengar kalimat itu keluar dari Bapakku. Beberapa kali ikut ke kantornya, aku sadar mulai dari teman satu bus kantor, sopir bis, satpam lobby, satpam bagian, direktur Perhutani, Menteri Kehutanan saat itu Pak Nur Mahmudi, dokter klinik, semua penghuni Manggala Wanabakti yang kenal Bapakku, tahu kalau anaknya Pak Sophie yang besar sedang ke Jerman. Hingga saat Pak Endhut, bakul Sate Tegal langganan kami pun mengetahui kepergian kakakku ke Jerman.

2004-2008

Waktu pun bergulir, meski bisa masuk IPA, sepulang dari Jerman Kakakku memilih jurusan IPS mengikuti panggilan hatinya. Iya ingin menempuh karir diplomat atau setidaknya bekerja di area organisasi internasional. Rankingnya melejit, ia bahkan menjadi juara kelas. Meski tidak diterima di jurusan pilihan pertamanya, Hubungan Intrnasional ia berhasil diterima di jurusan Ilmu Pemerintahan dan lulus dengan predikat cum laude dan tepat waktu. Pengalamannya tinggal di Jerman dan kemampuannya fasih berbahasa Jerman membawanya ke banyak kesempatan kerja magang dan kontrak dengan beberapa organisasi berbasis negara Jerman di Indonesia seperti Maltesser Interntional, DAAD, hingga Konrad Adenauer. Pengalaman ini kelak membuka jalannya diterima di jurusan South East Asian study di Universitat Passau.

2011-2013

Waktu yang mepet antara penerimaan dan jadwal keberangkatan, tidak memungkinkan Kakakku mencari beasiswa untuk menunjang studi di Jerman. Ia berangkat berbekal uang jaminan dari keluarga asuhnya kala AFS di Jerman. Kakakku sudah benar-benar dianggap seperti anak sendiri. Saat itu, untuk studi di Jerman pertahun kita harus menyiapkan dana jaminan sekitar 8400 Euro per tahun sebagai bukti hidup selama di Jerman akan terjamin. Untuk biaya sekolah, luar biasa murah. Hanya 500 Euro per semester. Bahkan lebih murah dari sekolah S2 di Indonesia. Hari demi hari berlalu awalnya semua berjalan lancar, tetapi upaya untuk mengganti biaya jaminan tentu harus diupayakan.

Meski begitu, segala upaya untuk mendapatkan beasiswa dan mencari kerja di kampus di Jerman masih mengalami kebuntuan. Kegagalannya untuk mendapatkan beasiswa disebabkan oleh banyak hal antara lain grogi pada saat wawancara dan belum adanya nilai yang keluar pada semester pertama. Dari 5 lamaran beasiswa, hanya satu lembaga yang memanggilnya untuk proses wawancara dan sisanya gagal total bahkan semua dokumen dikembalikan karena belum adanya nilai semester satu. Untuk mendapatkan kerja di kampus pun ternyata bukan takdirnya karena dari 5 lamaran yang dikirim, ternyata hampir semua posisi mencari mahasiswi. Ia lantas memutuskan untuk bekerja apapun asalkan halal.

Ia memulai upayanya dengan bekerja sebagai cleaning service di tempat olahraga di sebuah pusat kebugaran di Passau. “Pekerjaan” ini dilakukan setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 7. Waktu di saat orang-orang masih terlelap dan jalanan di kota masih sepi dari aktivitas. Ia memilih untuk bekerja di akhir pekan agar waktu kuliah tidak terganggu. Untuk mendapatkan pekerjaan ini pun tidak mudah. Kakakku berkeliling menawarkan jasanyauntuk sekedar menjadi tukang kebun, bantu-bantu di dapur, atau tukang bersih-bersih di sejumlah panti jompo sebelumnya. Secara fisik, Panti Jompo di Jerman bisa dikatakan seperti rumah sakit atau hotel di Indonesia. Meski semua Panti Jompo menolaknya, motivasinya tidak pernah surut. Setiap berangkat kuliah ia sengaja melewati sebuah kantor Agen Tenaga Kerja Jerman hingga akhirnya menemukan lowongan pekerjaan sebagai cleaning service pada sebuah pusat kebugaran di sana.

Bukan perkara mudah mempertahankan semangat belajar di tengah target finansial, tetapi Kakakku selalu menemukan cara untuk bangkitkan motivasinya.  Setiap kali merasa gagal, hal yang ia lakukan adalah membuka Youtube dan melihat video motivasi dari Mario Teguh. Kebetulan di salah satu video-video tersebut terdapat  ulasan tentang kesuksesan dua Menteri BUMN yaitu Sugiharto dan Dahlan Iskan. Keduanya memulai karir saat masih muda sebagai pekerja kasar. Sugiharto sebagai pedagang asongan yang cerita lengkapnya dicetak dalam sebuah buku yang berjudul Pengasong Jadi Menteri. Begitu pula Dahlan Iskan, beliau bangkit dari kemiskinan dan akhirnya berhasil menjadi CEO Jawa Pos dan saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN. Tokoh lain yang menjadi inspirasinya, juga berasal dari BUMN yang saat ini berkarir di PT. Telkom, Tbk. Beliau adalah paman kami sendiri sendiri. Oom Dudung kami memanggilnya, meski Pak Soma nama aslinya. Semasa kuliah di ITB beliau menjalani kerasnya kehidupan dengan “bekerja” di rumah tangga orang. Hasil kerja keras beliau kini terbayar lunas dengan kepercayaan yang diberikan oleh Direksi Telkom, Baitul Maal Muttaqin Telkom, hingga Telkom University . Berbekala motivasi-motivasi itu, Kakakkku selalu percaya apa yang dikerjakannya saat ini akan menjadi modal berharga di masa depan.

Bis Jerman

Di pertengahan masa kuliahnya, di pertengahan tahun 2012, alhamdullillah perjuangan panjang di Jerman perlahan-lahan mulai terlihat hasilnya. Salah satunya adalah tercapainya cita-cita masa kecil untuk bisa kerja di salah satu perusahaan bis. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bukan hanya pekerjaan, kecintaannya terhadap bis terbayar lunas dengan menjadi seorang pemandu wisata  yang bahasa kerennya yaitu travel guide di Perusahaan Bus EICHBERGER. Awal mula untuk bisa “nyambi” di perusahaan yg artinya Bunga Matahari ini, berasal dari sebuah obrolan ringan dengan salah satu sekretaris Professornya. Ternyata putri ibu Sektretaris bekerja di  Perusahaan Otobus EICHBERGER dan sekaligus menjadi istri dari pemilik PO Bus. Atas rekomendasi beliau ia memiliki kesempatan untuk mencicipi Bus-Bus Mercy, Neoplan, dan MAN yang menjadi role model bus-bus di Indonesia.

Tugasnya sebagai travel guide merupakan pengalaman baru. Terkadang mendampingi penumpang di Muenchen International Airport dan juga memandu perjalanan Passau-Prague (Praha).  Pekerjaan sambilan di akhir pekan semacam ini sangat menyenangkan meski sangat melelahkan. Di satu sisi, ia bisa mencicipi Bus-bus Jerman versi terbaru seperti New Travego-Evo Bus dan berkenalan dengan penumpang yang semuanya asli Amerika, di sisi lain pekerjaan ini menuntut fisik yang optimal karena harus membantu angkat koper penumpang dan lari-lari antara Terminal 1 dan Terminal 2 di bandara.

Kkecintaannya terhadap bus yang dimulai sejak waktu masih bayi dan selalu berlangganan Mulyo Indah dari kelas VIP, Executive sampai Super Executive, dan akhir-akhir ini menjadi pelanggan setia Safari Dharma Raya Super Executive berujung manis di Jerman. Dengan modal bahasa Jerman dan Inggris yang dikuasainya, bergelut dengan bis bukan lagi sekedar cita-cita masa kecilnya tapi kini menjadi bagian dari hidupnya.

2014

Di akhir masa studinya, Edo akhirnya mendapat 2 beasiswa berbeda dari organisasi pemerintah di Jerman yang jumlahnya menutupi seluruh pengeluaran selama di Jerman bahkan berlebih, karena ia bisa menyelesaikan program S2nya lebih cepat dengan hasil yang memuaskan. Kini, ia sedang mengakhir tugasnya di sebuah organisasi non-pemerintah Partnership Indonesia di Jakarta, dan telah menerima tawaran untuk bekerja di DAAD Jakarta dengan tugas pertama yang sangat menarik dan sesuai dengan pengalaman panjangnya, menyeleksi aplikasi beasiswa DAAD di Indonesia. Roda berputar kawan!

***

Semoga bermanfaat. Anda dapat memberi rate dan share serta memberi masukan pada kolom di bawah ini😀

Ingin semakin terinspirasi?? Kunjungi http://indonesiamenginspirasi.org/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s