Jogja Jerman

2002 – 2003

Di Jerman seperti mimpi menjadi nyata, Kakakku sempat merasakan canggihnya menjadi technician di Pusat Maintenance Maskapai Nasional Jerman, Lufthansa di Hamburg. Masa SD hingga SMA yang diwarnai koleksi pesawat replika di rumah, kini mainannya menjadi pesawat beneran dan tidak tanggung-tanggung mainnya langsung di garasi pesawat Jerman.

Sepulang dari Jerman, Kakakku berubah sangat drastis. Segalanya menjadi sangat “keJermanan”. Bahkan aku menyebutnya “lebih Jerman dari orang Jerman”. Apa-apa diprotes, apa-apa diatur, harus rapi, harus bersih, harus on-time,  harus well-panned. Aku yang sembrono, pelupa, dan berantakan sering jadi sasarannya. Seperti ada Bapak versi 2 saat itu. Beruntung saat itu aku sudah masuk asrama Insan Cendekia jadi segera terhindar dari cecarannya.

Tiga bulan sepulangnya dari Jerman, Bapak dipanggil kembali oleh Sang Khalik. Sebuah pukulan telak bagi Kakakku yang juga dapat kurasakan. Sebelum Kakakku berangkat ke Jerman, kemanapun kami pergi sama Bapak, hampir selalu aku yang jadi topik pembicaraannya. Sebagai anak bungsu yang selalu mendapat perhatian emas dan dielu-elukan. Kami selalu dibanding-bandingkan tapi ujungnya aku yang dipuji. Aku yang selalu ranking, aku yang juara nggambar, dsb. Tetapi keberhasilan Kakakku menembus Jerman, seolah membuat keadaan berbalik 180 derajat, sikap Bapak berubah jauh melunak dan lebih fair kepada kami berdua. Belum lama kami merasakan perubahan sikapnya Bapak harus “pergi”, kaetika aku di Serpong, Mama di Palangkaraya, Kakakku di Jogja sementara Bapak dinas di Madiun.

Agustus 2004

Belum berhasil diterima di Jurusan Hubungan Internasional UGM, tidak menyurutkan langkahnya untuk mengejar mimpi berkarir di dunia diplomasi. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan. Cocok sekali dengan hobinya memerintah. Hehehe. Sebagai konsekuensinya GPA cum laude pun diraihnya saat wisuda. Setahuku tidak ada nilai C di ijazahnya. Semasa kuliah dia juga disibukkan dengan berbagai aktivitas di luar seperti mengajar les Bahasa Jerman, menjadi panitia berbagai acara salah satunya bersama Michelle di event Dream  2009 salah satu event tahunan unggulan UGM.

Gempa Jogja 2006

Gempa Jogja 2006 membawa berkah sekaligus ujian tersendiri. Sebagai orang muda “alumni Jerman”, status yang cukup langka di Jogja, Kakakku mendapat kesempatan menjadi volunteer sekaligus translator bagi sebuah NGO asal Jerman, Maltesser, yang memberikan bantuan kepada para korban gempa Bantul 2006. Di sini ia berkenalan dengan Mario, seorang dosen muda asal Universitas Passsau Jerman yang sedang melakukan riset di Universitas Indonesia. Serasa pulang kampung saja, setiap hari dia leluasa berbahasa Jerman kemudian menerjemahkannya begitu juga sebaliknya. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat memperluas koneksi dan tali silaturahmi dengan para ekspatriat dari negeri Thomas Mueller ini

Di tengah-tengah kesibukan kegiatan sukarelawan bersama para volunteer Maltesser, sebuah cobaan datang. Suatu hari Kakkakku membawa logistik bantuan dengan mobil peninggalan Bapak kesayangan kami, sebuah motor dengan tiga orang bersaudara masing-masing usia 9, 12, dan 15, jalanan licin selepas hujan, berboncengan tanpa helm menabrak dari belakang. Mengakibatkan yang paling kecil terlempar dan meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilahi rajiun. 

Selalu ada hikmah di balik musibah. Pengalaman manis pahit menjadi sukarelawan saat musibah gempa Jogja ini menyimpan makna di kemudian hari.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s