Di Balik “Fadjar”

29 November 1987

Saat para pegawai negeri se-Indonesia bersiap diri melaksanakan upacara peringatan hari Korpri -Korps Pegawai Negeri-, 24 tahun lalu, usai adzan subuh aku dilahirkan. Fadjar, pakai ‘D’, begitu namaku diberikan. Dengan diawali Mochammad, pakai ‘ch’. Dari segi maksud dan doa sudah dapat dengan mudah diterka. Dari segi cara penulisan menggunakan ejaan lama zaman Belanda, mengingat Mbah Kakung yang memberinya. Dengan nama ini aku sendiri cukup berbahagia. Karena menjadi pembeda dari yang lainnya. Mungkin karena ini juga aku jadi suka dunia sales dan marketing. Kata Oom Hermawan Kartawijaya, kunci marketing adalah pembeda dari produk sejenis lainnya. Hehehe. Meski dalam perjalanannya aku punya nama panggilan lain di keluarga, Wowok. Oalah, apik-apik dijenengi Fadjar koq celukane Wowok..

AKu yang awalnya hendak dilahirkan di Jogja, dimana ibuku berasal dan keluarga besarku berada, “terpaksa” dilahirkan di RSUD Ciawi, karena sang dokter meleset perhitungan. Ciawi sendiri salah satu kota kecamatan yang sering dilalui warga Jabotabek yang hendak menuju Puncak. 40 km jaraknya dari rumah kami di Bogor. Bukan rumah sakit terbaik kala itu, bukan pula terdekat. Tapi yang paling murah meriah. Ketika bagi raport zaman SD, temanku kadang ada yang tanya. Itu Ciawi di mana. Padahal SD ku di Bogor, tapi beberapa temanku tidak tahu apa itu Ciawi. Kadang aku merasa minder, ketika teman-temanku banyak yang lahir di Kota besar bahkan luar negeri karena sang orang tua sedang tugas belajar, nama Ciawi sering di-underestimate oleh beberapa teman.

Sebelum lahir ibuku sempat mengharapkan anak perempuan yang hadir. Begitu juga perkiraan dokter. Bahkan “perkakas” bayiku bernuansa merah jambu.

29 November 2010

“Aku baru pulang, dan harus adaptasi.. Kita temenan dulu ya..”

Diiitoolaaak.. ya inilah hasil tembakan pertamaku pada Muti pada malam 29 November. Saat itu aku sedang mengantarnya pulang dari pernikahan Kak Nena dan Kak Ei di Senayan.

Jam menunjukkan pukul 23.00

“Besok pulang ke Jogja jam berapa?”

“Pesawat jam 6, boarding jam 5, dari Bogor biasanya jam 3”

“Kemaleman donk, kalau ke Bogor sekarang cuma tiga jam harus udah ke Cengkareng”

“Nginep tempatku dulu gimana”

Dalam hati, habis ditolak, koq responnya begini, berarti sebetulnya ga ditolak beneran. Hehehe.

Sebelum berangkat ke Cengkareng, sambil sahur, Muti diam-diam menyiapkan kado ulang tahun untukku dan menyerahkannya sebelum aku berangkat. Dan waktu fajar pun tiba.

Dalam perjalanan ke Cengkareng aku berpikir, kalau begini kejadiannya insyaAllah sudah cukup pertanda yang kupunya. Pagi itu aku berjanji, mari, segera tuntaskan “perjuangan” ini dengan niat sepenuh hati.

Sebetulnya masih banyak “pertanda” lain yang kudapat saat itu. Nama kami misalnya, sama-sama tipikal nama kereta. Aku Fadjar Utama (Gambir-Jogja), sedangkan Muti, Mutiara Selatan (Bandung-Surabaya) dan Mutiara Timur (Surabaya-Jember). Hehe, ngga ding.

29 November 2011

Alhamdulillah, kini ditemani Muti yang sudah menjadi istriku, hehehe, aku berkesempatan belajar di Belgia. Negara dengan dua bahasa nasional resmi Prancis dan Belanda. Juga dengan dua bahasa fungsional lainnya Inggris dan Jerman. Penulisan namaku yang jadul, ternyata ada hikmahnya.

Untuk bisa menghasilkan bunyi “Fajar” yang lazim kita dengar, pemilik bahasa ibu Belanda, Prancis dan Jerman “membutuhkan” huruf ‘D’ di depan huruf ‘J’. Kalau tidak, orang Prancis akan membacanya sebagai “Faszhar” dan orang Belanda dan Jerman akan membacanya sebagai “Fayar”. Alhamdulillah, “kebijakan” Mbah Kakung mengeja namaku pakai “D” ada hikmahnya.

Begitu juga dengan orang Maroko, Pakistan, Mesir dan negara jazirah arab lain, aku bisa “memanfaatkan” namaku sebagai bahan obrolan sekaligus ice breaking. Tinggal cerita saja, bahwa namaku diambil dari waktu saat aku lahir, Al Fajr.

Kalau ketemu orang India dan Thailand lain lagi ceritanya, aku menggunakan nama belakangku Wibowo yang diambil dari bahasa Jawa turunan Wibawa dalam bahasa India yang juga digunakan dalam bahasa Thailand.

Banyak sekali yang sebetulnya masih ingin kuceritakan. Tetapi intinya adalah, di usiaku yang menjadi 24 ini, wajahku sudah pantas menjadi 42. Eh salah, maksudnya aku sudah sangat bersyukur dengan segala nikmat yang kudapatkan. Terlepas bagaimana sejarah aku dilahirkan. Semua ada hikmahnya. Menjelang kelahiran sang Dokter miskalkulasi, kini aku bisa sekolah dokter. Malu sama teman yang lahir di luar negeri, sekarang bisa belajar di luar negeri. Diharapkan terlahir perempuan, menjadikanku tidak alergi memasak dan menari, sehingga bisa sedikit-sedikit bantu di dapur dan nambah uang jajan istri.

Terimakasih kepada seluruh simbah, keluarga, saudara, kerabat, guru dan sahabat. Kalau banyak hal baik terjadi dalam hidupku ini, semua tidak lepas dari didikan, teladan, dukungan dan terutama doa dari semuanya, wa bil khusus Mama dan Bapak. Tapi kalau banyak kekurangan dan kelemahan, ya akunya yang masih harus terus belajar. Sehingga kelak Mama & Bapakku, Muti & Kakakku, Keluarga dan sahabatku, mungkin juga nanti anak-anakku setidaknya tidak malu untuk mengaku Fadjar itu anakku, suamiku, adikku, saudaraku, sahabatku dan Bapakku.

-Fadjar-

———————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Jika tulisan ini bermanfaat, jangan ragu untuk Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

One thought on “Di Balik “Fadjar”

  1. Selamat Milad buat Mas Fadjar. sukses selalu dalam studi, karir dan percintaan😀
    Masih mendinglah lahir di Ciawi banyak yang tahu kok, lah tempat lahir saya aja ngga tercantum di peta hahahahaha….
    Koreksi, Kereta bandung-surabaya itu Mutiara Selatan (secara dulu aku pelanggan tetap kereta ini karena istri dari Jombang :p), Kalo Mutiara Timur tujuannya beda ngga tahu kemana😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s