Nostalgic Trip of Omar

“Bowo, kita ketemuan di Grand Place aja jam 10 ya..”

Sms dari Mbak Dessy masuk ke handphone ku. Hari ini, enam tahun sejak pertemuan terakhir, akhirnya aku bertemu Mbak Dessy lagi dan kali ini bersama Muti. Rencana semula kami akan bertemu di Leuven sehari sebelumnya. Karena pertimbangan waktu yang mepet, akhirnya kami bertemu di Brussels.

Mba Dessy, Muti, Me, Mas Panji, Omar, Ansa, Mba Fatma

Enam tahun lalu, saat sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Belanda, aku sempat main dan menginap di apartemen Mba Dessy dan Mas Panji selama dua hari di Brussels. Saat itu Omar baru berusia sekitar tiga bulan.

Yang lucu dari kunjunganku kali itu adalah ketika aku yang baru tiba siang hari di Brussels, Belgia dari Haarlem, Belanda, malamnya sudah “harus” kembali ke Belanda karena Mas Panji ingin menikmati  ‘Bebek Rotterdam’.

Seminggu ini Mba Dessy dan Mas Panji kembali berkunjung Eropa. Nostalgic trip, terutama untuk Omar yang baru pertama kalinya kembali menginjakkan kaki di Eropa setelah enam tahun. Sejak masa bayinya.

Seharian aku dan Muti tidak habis-habisnya menguntit keaktifan dan terkagum-kagum dengan kecerdasan Omar.

Di Grand Place, Omar yang baru akan masuk SD tahun depan di Singapore namun sudah bisa membaca dengan lancar, berkali-kali berhenti karena tertarik untuk membaca setiap patung atau objek lain yang memiliki penjelasan tertulis di bawahnya. Tiga hari di London, tiga hari di Paris dan kini di Brussels sudah cukup membuatnya mengerti tentang Napoleon Bonaparte, termasuk kisah kekalahannya. Aku dan muti selalu senang mendengar celotehan khas Singlish nya.

Di Cook & Book, melihat fasilitas bermain di depan toko buku yang berformat cafe & restaurant ini Omar langsung asyik sendiri dengan mainan yang ada. Tiba-tiba Omar menghampiri sekelompok anak kecil francophone yang sedang asyik bermain di sisi lain taman. Aku yang terus mengamatinya makin penasaran, “how will this English-speaking young guy deal with these francophone kids”. Awalnya Omar masih ragu.

Omar and Belgian 'Cook & Book' playground

“Tu vas jouer??”
“Kamu mau main?”
Tanya salah seorang dari mereka. Sekejap saja tiba-tiba Omar dan ketiga anak Francophone ini sudah saling bertukar canda dan tawa. Tidak dalam bahasa Inggris, maupun Prancis. Tetapi bahasa kanak-kanak, dengan senyum, teriak, dan tawa.

Omar and his new Francophone Friends

“Mau kemana lagi ni, Brussels masih sama aja kan? Gimana kalo Bebek Rotterdam?! Bowo ikut?!”

Awalnya hanya aku yang akan ikut rombongan, karena Muti ada agenda lain. Tapi terlalu sayang melewatkan nostalgic trip ke Rotterdam ini, dan pertama kalinya untuk Muti ke Belanda, aku mulai berusaha membujuknya.

Sore harinya, akhirnya aku berhasil membujuk Muti untuk membatalkan rencananya menjadi volunteer dalam acara Bal de France yang diadakan Unicef Brussels. Sayang sebenarnya, tapi Unicef insyaAllah ada lagi. Ketemu Mba Dessy, Mas Panji dan Omar mungkin hanya 6 tahun sekali.

Kemarin malam bersama Mas Panji, Mba Dessy dan Omar kami menuju Rotterdam. Perjalanan pertama Muti ke Belanda. Alhamdulillah, meski tidak direncana, perjalanan spontan ini menjadi perjalanan luar negeri yang kedua dalam minggu ini. Setelah sempat menari Saman dalam acara Resepsi Diplomatik KBRI di Luxembourg Rabu lalu. Demi ‘Bebek Rotterdam’ yang kesohor ini.

Enam tahun sebelumnya, sewaktu Omar masih bayi..

Sepanjang perjalanan satu setengah jam Brussels Rotterdam, Omar sudah melahap dua buku bergambar yang didapatnya dari Cook&Book. Yakuri dan The Beavers.

“Do you know you were born here?”
“Yes, I know..”
Penasaran aku tanya Omar, kecil-kecil udah ke Eropa, tempat kelahirannya.

“You know what, when you were just born, I went to Brussels and saw you were very very small, like this.. and we went to Rotterdam”
Matanya hanya membesar, mungkin mikir nih si oom beneran apa boongan.

Dalam perjalanan pulang Mas Panji sengaja memilih rute melalui RSM Erasmus Universiteit. Kampusnya sebelum Omar lahir.
“Look, that’s Bapak school, the one with green and white light”
Omar memperhatikan gedung-gedung modern di kompleks Erasmus Universiteit dari jauh.

“Enak ya Mas kayak Omar, masih kecil sudah tahu dan lihat banyak hal, nanti anak kita kayak gitu juga ya..”
“Amin..”

“Ini Bowo, nanti arah pulangnya kemana”
“Arah Woluwe, di dalam kampusnya, UCL..”
“Loh UCL bukannya yang deket St. Luc hospitalnya?”
“Iya, St. Luc rumah sakit kampusnya..”
“Yah, Omar kan lahir di situ..!!”

Sejurus kemudian, aku dan Muti saling bertukar pandang tanda mengerti. Once again  He showes us His greatness, as always. It’s too good to be just another coincidence, I might say it’s destiny.

A demain!

——————————————————————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Jika tulisan ini bermanfaat, jangan ragu untuk Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

One thought on “Nostalgic Trip of Omar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s