Cultural Event for Solidarity, Pisau Bermata Dua

“You can always be a diplomat at your own..”

Pesan Mas Azis Nurwahyudi, membesarkan hatiku yang baru saja curhat tentang urungnya aku dulu kuliah di HI dan meniti karir sebagai diplomat, tetapi malah memilih kedokteran.

Bagi Mas Azis yang saat itu sedang menjabat Charge du Affaire KBRI Praha, pesan diplomatik itu bisa disampaikan oleh siapa saja, setiap masyarakat Indonesia, tidak hanya oleh diplomat formal.

“Kayak kamu sekarang pergi-pergi ke luar negeri gini juga kan bisa memperkenalkan budaya Indonesia tho Djar”, tambahnya.

Mas Azis sempat memberiku kesempatan untuk mengenalkan hasil kreasi budaya Indonesia saat menampikan Tari Truno di Festival Kedudayaan Kota Plzen tahun lalu.

Wageningen, Medio Mei 2006
“Suitt.. suitt.. suit.. plokk.. plok.. plok.. Suitt.. suitt.. suit.. plokk.. plok.. plok.. Suitt.. suitt.. suit.. plokk.. plok.. plok..”

Satu-per satu berbagai tarian Indonesia yang ditampilkan oleh mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Wageningen mendapat apresiasi panjang dari para dosen, mahasiswa  Internasional dan tamu di kampus Wageningen University Research (WUR) malam itu begitu luar biasa. Atas ajakan Mba Yustina dan Oom Ruandha di Wageningen, aku menerima tawaran untuk menari di malam fundraising untuk korban gempa Jogja yang baru saja terjadi saat itu.

Acara solidaritas berbasis petunjukan budaya ini diselenggarakan oleh PPI Wageningen, salah satu PPI terbesar di Eropa dengan jumlah mahasiswa bisa mencapai 100 orang setiap tahunnya. Tidak hanya tarian, malam itu juga diadakan auction  untuk produk budaya yang unik asal Indonesia. Misalnya Nasi Tumpeng yang dilelang hingga ratusan Euro.

Acara pada malam itu dihadiri juga oleh KUAI KBRI Belanda saat itu, Bapak Djauhari Oratmangun bersama Ibu. Malam itu beliau memberikan pengantar sekaligus menjadi tamu VIP bersama para petinggi universitas. Dari donasi dan auction souvenir khas Indonesia, malam itu PPI Wageningen berhasil mengumpulkan dana ribuan euro untuk korban Gempa di Bantul dan sekitarnya.

Kedekatanku dengan keluarga PPI Wageningen bermua dari “hobiku” menghadiri pengajian bulanan di PPI-Pengajian Wageningen yang sering diadakan di rumah Oom Ruandha. Tempat aku selalu bermalam juga. Merayakan Idul Fitri dan Idul Adha. Oom Ru dan Tante Retno kebetulan adalah teman sekantor dan satu bus jemputan dengan  Mama dan Bapakku di Departemen Kehutanan.

Sepulang dari Wageningen, aku yang agaknya dilahirkan narsis terpikir untuk meninggalkan jejak di sekolahku di Haarlem sekaligus melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk warga Jogja, sebelum kembali ke Indonesia.

Mengingat tahun AFS ku di Belanda akan segera berakhir, bermodal presentasi power point tentang gempa Jogja, satu tarian, dan ratusan souvenir dari Indonesia yang masih tersisa, aku berinisiatif untuk membuat event fundraising  yang lebih sederhana. Dibantu teman-teman dan guru untuk mengumpulkan para siswa di Aula, hari itu aku berhasil menjajakan diri ku dengan menari dan menawarkan diri untuk foto bersama dengan kostum tari lengkap, sementara teman-teman sekelasku mengedarkan topi untuk receh yang kuterima dari setiap foto yang dibuat dan souvenir yang dibeli. Sambutan seluruh siswa begitu meriah, alhamduillah, acara yang hanya berlangsung satu ham-an ini berhasil mengumpulkan 250 Euro yang selanjutnya kuserahkan ke PMI Jogja.

“Fadjar, je zou het gedaan hebben vroeger man!!!”

Temanku berkomentar bahwa seharusnya aku mengadakan hal seperti ini di awal kedatanganku sehingga lebih banyak murid yang sadar akan keberadaanku.

Akhir November 2011

“You can’t think that way, if we postpone it again, it will be just never happened!!”

Dalam sebuah rapat singkat aku menunjukkan kegemasanku dengan ide salah satu teman dari negara tetangga, sebut saja negara L, yang mengatakan lebih baik kami menunda acara Asian Evening hingga akhir tahun ajaran, karena dengan begitu menurutnya kita akan sudah lebih bisa berbahasa Prancis dan sudah punya banyak teman untuk diundang. Sebagai informasi, kami belajar di universitas francophone. Untukku dan istriku rasanya seperti mengulang tahun AFS saja belajar bahasa baru lagi.

Ide yang aku sanggah dengan, “Kowe ki piye to dul, justru kalau bikin acaranya sekarang kamu bakal makin dikenal dan mudah dapat banyak teman! Think the way around!!!”

Gemasnya aku, acara ini awalnya digagas untuk mengumpulkan dana bagi proses pengobatan ayah anak ini yang butuh transplantasi ginjal di negara L. Sementara di negara L belum ada tindakan transplantasi ginjal. Lah, sekarang koq malah dia yang mbalelo mau mengundurkan acara.

Yang bikin gemas lagi, kami 15 students dari 8 negara Asia penerima beasiswa Erasmus Mundus MAHEVA ini sudah bersepakat dan mengajukan tanggal pelaksanaan kepada program coordinator kami, Prof laire de Burbure. Tidak mungkin seenak jidat mundur dengan alasan takut kurang tamu. Yang ada kitanya yang harus makin giat membuat teman dan menggaet tamu dengan waktu yang tersisa.

 “Ever onward, no retreat!” slogan yang sering diucapkan Bapakku yang sejak kami kecil, meski aku dan kakakku belum mengerti bahasa Inggris.

Gayung bersambut. Mayoritas dari kami sepakat acara terus digulirkan sesuai rencana semula. Ide pun berkembang, dari sekedar berjualan makanan, bermodal pengalaman mengikuti inisiatif PPI Wageningen lima tahun lalu, cultural event for solidarity. Tanpa ragu aku tiru dan aku usulkan kepada semuanya. Tidak ada penolakan. Berbagai usualan nama acara didengungkan. Dari Asian Invasion yang terdengar atraaktif namun intimidating hingga Asian Evening  yang lebih layak menjadi nama acara. Semua nampak semangat mengeluarkan berbagai celotehan ide, meski dari sorot mata teman-teman MAHEVA ini aku tahu mereka semua bergumam dalam hati..

“Who will be in charge and move his ass to make this event become true?!!”

Ah, yang begini ini ni yang aku ga suka. Tanpa bermaksud memberi sentimen negatif, tetapi nampaknya sesama bangsa Asia ini ada kecenderungana memiliki kekurangan dalam hal leadership dan tanggung jawab.

Dari kecil aku yang sudah terlanjur hobi ngomong dan menyumbang ide ini itu menjadi terbiasa dan “hobi” memimpin proyek kecil hingga organisasi. Sewaktu masih single, rasanya semua kesempatan dan tantangan pengen disikat. Namun sekarang, mengingat masa honeymoon dengan istri belum selesai dan ga pengen selesai-selesai, rasanya aku tidak ingin menjadi yang bertanggung jawab di antara sorot mata saling melempar ini. Duh, jangan sampai 4L deh, loe lagi loe lagi.

Selang beberapa hari kemudian, masih belum ada tanda-tanda ada yang mau mengkoordinir perwujudan acara ini. Aku yang sudah kepalang tanggung izin pinjam kostum tari Saman dan mendapat support dari KBRI pun akhirnya terpaksa mengeluarkan jurus the power of kepepet. Kuterima tawaran penampilan angklung dari KBRI, sekaligus mengundang langsung Pak Havas, Dubes kita di Belgia saat menampilkan Saman pada Resepsi Diplomatik di Luxembourg.
“Wis, ben isin nganti modar sisan nek nganti ra kelakon..” motivasiku pada diri sendiri.
Sekalian saja, kalau sampai acara ini gak jadi kan aku yang malu sendiri sama Pak Havas.
Kadung melakukan tindakan-tindakan strategis di atas, akhirnya aku “terpaksa” menggerakkan juga teman-teman MAHEVA ini. Beruntung cukup banyak yang kooperatif meski dengan segala suka dukanya. Singkat cerita terwujudlah sudah acara ini pada malam Jumat lalu.
8 Desember 2011

ASIAN EVENING: A Cultural Event for Kidney Transplantation

[slidesho

This slideshow requires JavaScript.

w]

Kami semua berhasil mengumpulkan dana hampir mencapai 900 Euro. Tidak terlalu besar memang, namun jumlah tamu yang lebih dari 50 orang dengan minimum donation fee sebesar 12 Euro sudah tercapai. Enam Dubes dari delapan negara yang kami undang pun hadir.
Hanya dengan persiapan selama dua minggu, acara ini terbilang sukses. Beruntung aku menikah dengan Muti sebelum datang kemari. Pengalamannya bekerja di ASEAN Secretariat sangat berarti dalam pelaksanaan acara ini. Mulai dari konsep hingga beberapa teknis pelaksanaan acara. Mengingat pengalamannya dalam mengorganisir berbagai acara yang diikuti oleh para diplomat, tentu membutuhkan persiapan berbeda dengan acara sekedarnya untuk mahasiswa dari berbagai negara. Termasuk dalam membuat undangan, surat perizinan, dan sebagainya, untungnya Muti masih menyimpan beberapa file  pekerjaannya, termasuk undangan-undangan dan surat lainnya di hardisk. Hehehe.
Sehari sebelum hari-H, aku dan Muti masih heboh menyiapkan gad0-gado 50 porsi sebagai bagian dari konsumsi acara. Setiap negara menyajikan makanan tradisionalnya. Ternyata berdua menyiapkan kentang 5 kg, merebus telur 40 butir, menggoreng 100 kerupuk dengan teflon dan menyiapkan sayur-sayuran lainnya di dapur dan dengan peralatan mungil itu suatu pengalaman luar biasa. Kamar makan sekaligus dapur kami berubah menjadi gang senggol seketika.

Mengingat banyaknya teman-teman penari saman yang berhalanagn, kami berdua, dibantu Aswin Ami dan Armanda pun mengajari tiga kawan dari Filipina dan Malaysia dan menjadi bagian dari tim baru penari Saman. Tidak sia-sia upaya kami mengajari, akhirnya bisa menularkan budaya Indonesia ke pelajar dari negeri tetangga di seberang benua. Penampilan kami pun sukses tanpa kesalahan berarti. Meski saat nari harus nyambi jadi Syekh.

Di awal acara tidak lupa aku sedikit berkelakar dengan Dubes dari Malaysia,

“sorry that we hijacked your student Sir..”

Usai menampilkan Saman tidak lupa aku berterima kasih dan memuji kontribusi kawan-kawan dari Filipina dan Malaysia ini.

Brussels, 9Desember 2011

“Terimakasih ya, sudah lakukan acara amal semalam u kenalkan Indonesia”, sebuah pesan singkat dari Minister Counsellor Pensosbud KBRI Brussels kuterima.

Alhamdulillah, bak pisau bermata dua, acara Asian Evening kami bisa memberi manfaat ganda, mengenalkan budaya sekaligus memberi manfaat untuk sesama.

Terlintas kembali pesan Mas Azis seketika,

“You can always be a diplomat at your own..”

Yes, Mas Azis, once again, you are absolutely right!

Sampai jumpa pada cerita kami berikutnya.

A bientot!

———————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini? Bantu Rate dan jangan ragu untuk Share dan beri Komentar pada kolom di bawah ini.. :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

One thought on “Cultural Event for Solidarity, Pisau Bermata Dua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s