“Hope to see you again!”

1 Mei 2006

“Ik hoop dat ik je weer zie!”, terakhir kali Els berkata sebelum kami berpisah di Amsterdam Centraal.

Hari itu Els, Patrick dan Windha berkunjung ke Amsterdam. Sudah menjadi aktivitas rutinku sepanjang tahun selama di Belanda 6 tahun yang lalu untuk menjadi tour guide teman dan kerabat yang mampir ke Belanda terutama untuk city tour di Amsterdam.

Sama-sama bernasib baik, ketika aku diberangkatkan ke Belanda sementara Muti ke Italia, setahun itu Windha yang datang dari Sangatta terseleksi program AFS dari chapter Samarinda, mendapatkan host family di Brugge, Belgia. Sebuah kota yang baru saja terpilih Unesco sebagai salah satu city of world heritage. Sekaligus masuk lima besar kota wisata tercantik di Eropa saat ini.

Melihat Els dan Patrick, enam tahun lalu di Amsterdam, aku merasakan betapa keduanya merupakan pasangan yang sangat lovely dan sweet. Melihat mereka berdua tidak kalah mesra dengan pasangan muda yang baru jadian atau menikah. Di lain sisi mereka juga memperlakukan Wiendha benar-benar seperti anak sendiri. Aku sendiri yang bukan siapa-siapa bisa sangat merasakan ketulusan mereka. Berkali-kali aku bilang ke Windha,

“Gila..  beruntung banget lo dapet hostparents kayak mereka.. iri gw!!”

Terakhir aku bertemu mereka tidak ada bayangan suatu hari dapat bertemu kembali.

Oktober 2011

Dua bulan lalu aku dan Muti bersama Christiene sempat mampir untuk makan malam dan melihat keelokan centrum Brugge di malam hari. Tiba-tiba saja aku teringat dengan Patrick dan Els. Hostparents Windha. Keesokan harinya aku langsung mengcek inbox email ku kembali ke akhir tahun 2006. Masih ada email terakhir dari Patrick kala itu. Menceritakan kartu pos yang kukirim dari Haarlem sebelum aku kembali ke Indonesia.

Spontan aku mengirim email kembali kepada Patrick. Setelah 5 tahun berlalu. Aku menulis bahwa setahun ini aku dan Muti baru saja menikah dan tinggal di Brussels serta tentang keinginanku mengunjungi. Lucunya saat emailku terbalas, justru mereka yang memberi kabar bahwa Windha pun akan menikah dan mereka akan turut hadir di Sangatta. Tidak lupa mempersilakan kami untuk berkunjung di akhir tahun.

17-18 Desember 2011

“Hey, Fadjar, you’ve change a lot!!” aku kalah cepat, Els menyapaku lebih dulu begitu ia melihat kepala gundulku ngloyor masuk workshop reparasi sepatu milik mereka.

Aku pun memperkenalkan Muti. Haru sekali rasanya, lima tahun lalu saat bertemu aku masih merasa bocah SMA, saat ini aku sudah menggandeng istri.

Kalau dulu aku yang mengantar keduanya bersama Windha, dua hari di akhir pekan kemarin Els dan Patrick yang mengajak kami berkeliling mengenalkan kami pada keindahan kota Brugge dan berbagai peninggalan sejarahnya.

Kebetulan sekali pekan itu sedang diadakan pameran karya-karya koleksi Salvador Dali dan Picasso. Muti yang memang penikmat seni, sejarah, dan filosofi bersemangat sekali menemukan karya keduanya di kunjungan kami ke Brugge ini. Tanpa pemandu professional, sudah cukup sepertinya pelajaran sekolah selama di Itali yang Muti dapatkan tentang kedua pelukis surrealis legendaris ini.


Hal yang mengesankan kami berdua, sepanjang kami menghabiskan akhir pekan bersama keduanya tidak pernah sekalipun mereka kehabisan bahan pembicaraan. Mulai dari sejarah, budaya, fenomena sosial hingga pengalaman perjalanan keduanya ke Indonesia sebanyak dua kali.

Di rumah, kehangatan keduanya begitu terasa. Tepat memasuki ruang makan dan dapur, kami “disambut” oleh tiga buah jam yang menunjukkan tiga lokasi berbeda di dunia. Leuven menunjukkan waktu Belgia pada umumnya karena Lisbeth, anak pertama mereka pernah berkuliah di sana. Tegucigalpa yang 7 jam lebih lambat dari Belgia dipajang karena Charlotte anak kedua mereka pergi dengan AFS ke Honduras. Dan Sangatta 7 jam lebih awal karena “anak ketiga” mereka, Windha.

Memasuki kamar, kehangatan keduanya semakin terasa, karena tidak ada doble bed untuk tamu, demi menerima kehadiran kami yang hanya dua hari satu malam saja keduanya menarik dan menyatukan bed milik Charlotte dengan Lisbeth di kamar Lisbeth. Kami pun dengan ikhlas dan senang hati. Maklum, manten baru, mau doble, single, atau gelar tiker juga tetap seru. Uhukk.. uhukk.. Ehemm.

Dalam menyediakanmaupun mengajak makan di luar, seperti kebanyakan host family AFS yang lain, Patrick dan Els sangat memperhatikan apa-apa yang tidak dan dapat kami konsumsi.

“It’s a pitty that I can not serve you the best souvenirs of Brugge and Belgium, the beers..” tutup Patrick pasrah.

Mendapat penerimaan yang sangat hangat dalam kunjungan kami ke Brugge ini membuat kami berdua ingin segera kembali ke Jogja dan meng-host ,  jika ada kesempatan, siswa AFS yang datang ke Indonesia.

Melepas kepulangan kami ke Brussels, tidak lupa Patrick dan Els kembali mengucapkan magic words mereka.

“I hope to see you again..”

Dank julie wel, Els, Patrick en Windha.. we verwachten julie weer in Jogja!

———————————————————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Jika tulisan ini bermanfaat, jangan ragu untuk Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s