Insan Cendekia Serpong Berjaya, Ceritaku

Hari ini kami kedatangan tamu spesial di apartemn mungil kami di Alma. Bu Sri yang beberapa waktu lalu sempat kami ceritakan, Mas Komar dan Mas Azis yang baru tiba dari Norway. Semakin Spesial karena Bu Sri membawa perbekalan Teri Pedas dari Riau. Kalau sudah ngobrol dengan Bu Sri, mulai dari masalah politik, sosial, budaya, agama, pendidikan pasti seru sampai ketawa ngekek-ngekek tanpa titik. Salah satu topik kami hari ini masalah sekolah. Kebetulan salah satu putra beliau hendak masuk SMA. Tersebutlah Madrasah tempat saya menyelesaikan sekolah menengah empat tahun lalu. Beberapa saat sekembalinya Bu Sri dari apartemen kami, saya membuka FB yang koq ndilalah teman-teman alumni Insan Cendekia (IC)  sedang saling membagi link rekaman para siswa MAN IC saat ini di Indosiar. Tergelitiklah saya untuk sedikit bernostalgia. Inilah liputannya

 dan sedikit cerita saya.

Awal 2003

“Ni, Wok ada sekolah bagus. Ditonton dulu, terus nanti coba daftar ya”, ibuku menyodorkan sebuah CD dengan judul “Insan Cendekia Boarding School” saat sedang mengunjungi kami anak-anaknya di Jogja.

Saat itu aku yang sedang duduk di awal kelas tiga SMP memang sedang berburu SMA favorit untuk kulamar tahun depan. Meninggalkan rumah sejak lulus SD di Bogor, aku selalu bersemangat untuk terus berkelana mencari pendidikan yang terbaik. Mengingat almarhum Bapak yang sangat bangga ketika kakakku bisa belajar ke luar negeri dengan program AFS ke Jerman, aku berpikir, “kalau bisa kuliah di luar negeri, Bapak pasti lebih bangga.” Meski berasal dari SMP favorit di Jogja, prestasi akademisku biasa-biasa saja. Supaya bisa kuliah di luar negeri, aku harus masuk SMA yang bagus tentunya.

Aku pun meminta petunjuk pada Mbah Google. SMA mana saja yang memiliki peringkat terbaik di Indonesia. Sebelumnya, aku sudah berjanji pada diri sendiri, harus bisa masuk salah satu dari 10 SMA terbaik ini.  Aku berhasil mendapatkan peringkat 100 besar SMA di Indonesia. Dari data yang kuperoleh ada beberapa fakta yang cukup mengejutkan. Pertama, hanya ada satu SMA Negeri masuk peringkat 10 besar, yakni SMA N 8 Jakarta. Kedua, SMA N 3 Yogyakarta, SMA impianku sejak kecil ternyata “hanya” menempati peringkat 38 saat itu. Ketiga, dilihat dari namanya, di 10 besar, ada 9 sekolah swasta, dan 8 di antaranya sekolah berbasis agama, namun hanya satu berbasis agama islam yang sesuai denganku. Insan Cendekia, di peringkat kedua. Satu sekolah swasta lainnya adalah Taruna Nusantara.

Sedikit intermezzo, sebetulnya aku dan istriku sama-sama diterima di IC di tahun yang sama. Namun akhirnya ia memilih SMA 8 Jakarta karena program akselerasinya. Sementara sebelum “menemukan” Insan Cendekia, aku pun sangat termotivasi untuk menjajal SMA negeri terbaik di negeri itu, namun urung kutindaklanjuti karena pertimbangan biaya hidup di Jakarta yang tinggi. Meski aku dan Muti urung bertemu di Insan Cendekia maupun SMA 8 Jakarta, tapi toh sekarang kami bersama juga. Hahaha.

Masa itu 96 kursi di Insan Cendekia diperebutkan 600-an calon siswa. Angka yang masih kecil dibanding zaman sekarang yang sudah mencapai 4000-an pendaftar untuk 120 kursi saja. Ujian masuk yang dilaksanakan selama dua hari cukup membuatku keder. Apalagi ujian bahasa Arab, mengingat aku berasal dari SMP Negeri dan selama dua malam mengikuti ujian aku mendapat teman sekamar dari MTs Assalam, Solo yang sudah sangat teruji kemahiran bahasa Arab dan prestasinya. Saat ujian, bahasa Arab terpaksa kujawab asal.

Hasil ujian masuk yang menyatakan aku diterima membuatku benar-benar lega dan gembira. Bagaimana tidak, untuk tes saja aku harus datang khusus dari Jogja, beli formulir, dan persiapan lain yang memakan biaya total hingga satu juta. Tak sampai hati pada Mama dan Bapak kalau sampai aku tidak diterima. Saat itu aku pun harus meninggalkan ujian masuk SMA Taruna Nusantara (TN), salah satu harapanku lainnya, karena dilaksanakan bersamaan dengan seleksi di IC. Awalnya aku hendak shalat istikharah untuk menentukan pilihan, tapi urung kulakukan karena aku pikir, “ridho Allah, ridho orangtua”, Bapak dan Mama mengindikasikan akan lebih bahagia kalau anaknya belajar di sekolah berbasis agama daripada sekolah nasional.

Benar saja, Bapak Ibuku tampak puas dan sangat gembira begitu tahu aku diterima di Insan Cendekia. Hanya saja sebagian teman-teman SMP dan saudara yang belum tahu apa IC dan mengiranya sebuah pesantren seperti pada umumnya menyesalkan keputusanku. Mereka bilang, seandainya jadi aku, mereka akan memilih TN atau SMA 3 Jogja. Menjawab “penyesalan” mereka, aku pun tetap  mengikuti tes masuk SMA 3. Karena tahu kalau aku akan diterima aku akan menyia-nyiakan jatah satu kursi, aku berniat “membayarnya” dengan membantu siapapun yang duduk di dekatku jika bertanya. Sesuai rencana, aku diterima, dan begitu juga temanku yang duduk di belakangku dan kuberi jawaban. Walau ini salah, berkurang sedikit rasa bersalahku saat itu karena telah “membuang” satu jatah kursi calon siswa SMA 3.

Minggu pertama, masa orientasi, di Insan Cendekia, beratku turun 3kg langsung. Berlari adalah kegiatan utama kami. Setiap perpindahan aktivitas kami hanya diberi waktu 10 hitungan yang setara dengan 2 menit. Setiap perpindahan berjarak sekitar 500 meter. Dari asrama ke sekolah. Dari sekolah ke masjid. Dari masjid ke sekolah. Dari kantin ke asrama. Begitu seterusnya. Kalau telat, kami diminta push-up. Bisa ditebak kami selalu telat dan push-up. Injak rumput, diminta push-up. Makan atau minum berdiri, diminta push-up. Lupa mengucapkan salam, diminta push-up.  Hari ketiga, aku sudah tidak tahan lagi dengan sistem di sini dan memantapkan hati untuk mengundurkan diri dari “penjara” ini. Sayang untuk telepon rumah sulit, HP tidak boleh bawa. Telepon umum hanya dua unit yang siap pakai. Antri telepon berarti melewatkan jadwal makan malam. Setelah tiga minggu tidak boleh bersua keluarga, bapak dan ibuku datang menjenguk, raut wajah mereka penuh gembira. Tak tega aku merusaknya dengan mengajukan permintaan keluar dari “penjara” ini. Bersama kakakku yang baru mendarat pulang AFS, tidak ingin aku mengurangi suka cita bapak yang baru menyambut kepulangan anak sulungnya dari Jerman, aku urung meminta keluar dari sekolah ini.

Beruntung semua ini hanya berlangsung seminggu dan “hanya” bagian ospek menggambarkan kehidupan kami 3 tahun ke depan yang disaripatikan dalam seminggu. Beginilah “budaya” IC ditanamkan pada kami siswa baru. Budaya salam, shalat berjamaah, makan duduk, tidak telat, dll.

Hari-hari berikutnya kehidupan berangsur membaik. Meski dengan berbagai peraturan yang sangat mengikat dan merasa begitu terpenjara karena hanya beraktivitas di dalam areal kampus seluas 5 hektar. Kehidupan organisasi di sekolah dan sosial di asrama dengan banyak teman dari seluruh pelosok Indonesia membuat hidup cukup nyaman. Kondisi kelas yang ber-AC, toilet yang jauh lebih bersih dari semasa di sekolah negeri cukup membuatku terhibur. Jam sekolah dari Senin sampai Jumat dimulai pukul 7 hingga 4 sore. Sementara Sabtu masuk setengah hari. Suasana sekolah dan asrama dengan ragam karakter dan budaya yang berbeda justru membuatku senang tinggal di asrama ini.

Salah satu hal yang sangat kunikmati dan kusyukuri adalah siswa IC berasal dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda. Mulai dari anak Menteri, anggota DPR, Dirjen, Guru, hingga anak “bukan siapa-siapa” ada di sana. Perbedaan latar belakang ekonomi dan sosial membuat toleransi, rasa kekeluargaan, di antara kami terus tumbuh dan terpelihara. Yang kami tahu bagaimana belajar dan mengikuti peraturan dengan benar. Dari teman-teman aku belajar beberapa bahasa dan logat daerah baru juga memperhatikan karakter dari setiap daerah. Kehidupan antara senior dan junior juga sangat sederhana dan mudah. Tidak ada norma yang mengharuskan untuk menggunakan Kak kepada senior kecuali kesadaran sendiri. Tidak seperti di kebanyakan SMA yang ribet dan sensitif akan gesekan, di sini kakak kelas bersifat mengayomi.

Hari Minggu kami libur dan setiap dua minggu sekali, bergantian antara putra dan putri kami bisa meninggalkan “penjara suci” ini mulai dari pukul 6 pagi dan 5 sore harus sudah kembali. Jika telat, sanksi sudah menanti. Di tahun-tahun awal aku cukup tertib mematuhi. Tapi berikutnya, bisa dibaca sendiri. Kadang ikut teman ke Plaza BSD, sering juga keluar hanya mencari rental komputer dan printer karena saat itu di sekolah kami masih berebutan dengan proporsi yang belum sepadan. Hari Minggu seringkali habis untuk main bola liga lokal kami, dilanjutkan dengan mencuci pakaian kotor selama beberapa hari terakhir.

Bulan ketiga di Insan Cendekia, mendadak Bapakku dipanggil oleh-Nya. Aku benar-benar patah arang. Membandingkan antara biaya sekolah dan asrama yang besarnya 3x lipat pensiunan bulanan Bapak. Ahli waris PNS yang wafat, hanya menerima 33% dari hak pensiunnya. Aku benar-benar ingin keluar dari sekolah ini dan ingin pindah sekolah, kemana saja, asal murah.

“Jo, bagi susu nya donk..” ini temanku kelima yang meminta bekal susu kotakku. Begitulah kehidupan asrama, sekali tersiar kabar kamu punya makanan, bersiaplah menjadi lumbung semua orang. Hari ini ibuku membekaliku dengan sekardus susu ultra. Rasanya nyaman membagikan perbekalan dari rumah untuk teman sekamar, tetapi kalau sudah pelosok penghuni asrama mendengar, bisa bubar.

Di kotak susu ultra yang keenam aku mendapat ilham. Setidaknya 15 ribu rupiah sudah “melayang”, sementara tidak ada tanda teman-teman akan berhenti datang. Aku pikir pasti ada solusi di balik situasi ini. Belum rela rasanya jika kubiarkan perbekalan dari ibuku yang masih berjuang menghidupi dua anak malah stok logistik darinya pasrah kuhamburkan. Kuambil secarik kertas dan sebuah bolpoin kutorehkan, “Jual, susu ULTRA Rp 3000”. Maka kotak ketujuh yang kubagikan menjadi penjualan pertamaku hari itu yang merupakan awal dari upayaku menjadi mandiri secara finansial.

Berkat dukungan seluruh warga asrama yang tidak bosan-bosan membeli daganganku, “warung”ku pun semakin berkembang. Peran terbesar terutama kudapat dari teman-teman sekamar, Ulil, Ahmad dan Ageng. Kadang mereka membantu mengawasi perputaran uang dan barang dan seringkali rela terganggu belajarnya karena pembeli tak kunjung berhenti. Sementara aku sendiri hampir tidak terganggu karena aku jarang belajar. Meja belajarku sudah kusulap menjadi rak warung. Susu Ultra, Buavita, Wafer Supeemen, Gery coklat wafer, Piattos, Leo Snack, Dahfa Snack Ikan, Espresso Kopi Instan, terjejer manis di meja. Bersama sebuah kotak yang berfungsi sebagai mesin uang. Tempat teman-teman yang jajan di warungku menyetorkan uang dan mengambil kembaliannya sendiri. Alhamdulillah, salah satu hal yang sangat kusuka dari kehidupan penjara suci ini, kesadaran akan kejujuran relatif tinggi.Dari pembukuanku, aku tidak pernah rugi dengan sistem layanan-mandiri ini. Justru sering di rekapan bulanan hasil penjualan lebih dari yang seharusnya karena seringkali beberapa teman malas mengambil kembalian recehan.

Begitu juga kejujuran saat ujian. Ulangan harian pertamaku di IC begitu berkesan. Usai Pak Guru membagikan soal ujian, beliau segera keluar meninggalkan kami tanpa pengawasan. Lima menit pertama, ruangan terasa begitu sunyi. Semua kepala menunduk menghadap kertas. Aku yang dari kecil tidak bisa diam di kelas sesekali celingak-celinguk memperhatikan isi kelas. Sepuluh menit berlalu suasana masih sama, hening. Hanya ada suara pendingin berhembus. Sekitar menit kelima belas tiba-tiba kami dikejutkan sebuah suara, “an****!!! ini elo pada ga ada yang nyontek apa??!! Saakiiitt!!!”, sebut saja Bul-bul namanya, asli anak Jakarta, mengangkat suara, mengekspresikan kebingungannya. Sama seperti yang ada di kepalaku. Campur aduk rasanya, antara aneh, takjub, haru, sedih, senang. Bagi kami kebanyakan mencontek pada level tertentu pasti pernah melakukannya di jaman SMP.  Tapi seolah sudah tradisi, begitu di IC mencontek menjadi perbuatan yang dimusuhi bersama. Sekali ketahuan nyontek, tamat riwayatmu.

Kembali ke cerita daganganku, warungku semakin berkembang. Di tahun kedua, untuk menyusun daganganku, aku nekat membopong sebuah rak seperti yang biasa dipakai di Indomaret. Alhasil, rkku langsung disita oleh pembina asrama. Aku sempat berbantah kata dengan pembina asrama. Meski sia-sia. Argumenku sederhana. Di buku tata tertib, tidak seperti laptop, handphone, barang elektronik berdaya besar hingga instrument pornografi dan seksual yang dilarang keberadaannya, rak lemari untuk berjualan dan aktivitas berjualan tidak tertulis di sana.

“Kamu kesini mau belajar, apa cari uang?”

“Dua-duanya Pak. Ngeprint tugas, butuh uang”, jawab saya yakin. Pembina asrama tidak bergeming. Keesokan harinya aku menggalang dukungan. Bersama Qoidi, teman sekamarku di tahun kedua yang sekarang sedang mengejar mimpinya menjadi dokter di Jerman, aku mendatangi kantor pembina asrama dalam upaya pembebasan rak dagangan. Qoidi turut meyakinkan bahwa daganganku tidak mengganggu proses belajar di asrama justru membantu mengatasi kelaparan di saat para penghuni asrama belajar. Meski rak tetap disita, “izin berjualan” ku tidak dicabut. “Boleh jualan, tapi jangan dipajang-pajang.” Putusan terakhir diambil. Selain Qoidi, Auliyaz dan Aufar, teman sekamarku yang lain juga selalu memberi dukungan moril. “Iya Jo, jangan berhenti jualan Jo..!” Jo ini singkatan dari Fad-Joe panggilanku di IC which stands for Fadjar Jogja.

Singkat cerita, aku masih bisa berjualan, alhamdulillah dengan margin antara 500-1500 rupiah per unit produk, setiap bulan aku bisa meraup untung 300 ribu hingga 1,5 juta rupiah. Cukup untuk menunjang ongkos laundry, jajan, transport untuk wira-wiri ke Jakarta atau pulang ke Bogor. Sebagian kutabung dan menjadi modalku berbisnis kelak di bangku kuliah. Di balik, hobi dagangku ini aku beruntung didukung penuh oleh ibuku sebagai pemberi modal awal hingga membantu mengkulakkan dagangan yang aku butuhkan. Di akhir pekan, dengan mobil dinas, Kijang Grand 1995 ibuku membawa berkardus-kardus dagangan dan minuman.

Meski aku termasuk dianggap siswa baik-baik dan tidak pernah membuat masalah, diam-diam aku sudah melanggar peraturan prinsip sejak awal. Sejak kelas satu aku sudah membawa handphone, laptop, bahkan printer di kelas dua. Sederhana saja, jumlah komputer saat itu belum mumpuni. Hanya 48 buah untuk 300-an siswa dan hanya bisa diakses 1,5 jam di sore hari. Sementara kami harus mengerjakan banyak tugas sekolah dan organisasi. Alhasil, selain untuk kepentingan pribadi, laptop dan printer yang kubawa juga kosodorkan untuk kantor OSIS. Selain sebagai kamuflase, agar keberadaannya yang penuh trik bisa lebih bermanfaat.

Tahun kedua aku semakin nekat dan merindukan kebebasan. Seiring banyaknya kegiatan yang aku ikuti di luar sekolah, mulai dari mengikuti lomba, mengikuti seleksi pertukaran pelajar, hingga mencari sponsor untuk kegiatan-kegiatan OSIS  kami dan ekstrakurikuler lain aku menjadi semakin sering meninggalkan kompleks sekolah dan asrama. Untuk hari sekolah, aku mengikuti prosuder apa adanya, karena mustahil untuk menghilang dari kelas begitu saja. Tetapi di hari Sabtu sore dan Minggu, aku yang sudah bosan dengan administrasi yang panjang selalu melarikan diri dengan menyelundupkan diri ke Kijang tua dengan ibuku di kemudi, aku di belakang bersembunyi di balik sarung atau tmpukan kardus susu. Dua kilometer dari areal kampus, aku yang menyupir hingga ke rumah. Sensasi yang begitu luar biasa begitu tahu mobil sudah melewati portal satpam. Untung bagasi atau bagian belakang mobil tidak diperiksa seperti di hotel-hotel.

Begitulah sebagian cerita pengalamanku selama menghabiskan masa sekolah di Insan Cendekia. Nah, jadi inilah penjelasan logis mengapa ketika temana-teman IC yang lain menjadi jawara Oimpiade tingkat provinsi hingga internasional berbagai bidang sementara aku tidak. Hehehe. Meski dianggap siswa baik-baik, banyak pelanggaran yang sebetulnya kulakukan, mohon maaf  ya Bapak Ibu Guru, saya tidak punya pilihan saat itu. Hanya berdoa semoga tidak banyak ditiru adik kelas sehingga menyusahkan Bapak Ibu. Yang jelas, Bapak Ibu guru Insan Cendekia tidak ada duanya. Karena mereka bukan hanya mengajar di kelas siang hari, namun juga mendidik kehidupan bahkan hidup bersama kami di ruang kelas, di dalam masjid, bahkan berbagi kehidupan di lingkungan asrama Insan Cendekia ini.

Aku sendiri sudah tidak dapat selalu mengikuti info perkembangan Insan Cendekia, beberapa saja berita yang membuatku sedih sempat kudengar. Salah satunya banyak perbedaan pendapat dan perang kepentingan sejak madrasah ini beralih pengelolaannya penuh kepada Kementerian Agama. Lainnya, program AFS yang pertama kali dirasakan pada angkatanku hingga tiga angkatan di bawahku, harus terhenti dengan statement dari petinggi Madrasah, “tidak bisa lagi kita mengizinkan siswa ikut AFS. Saya mengkhawatirkan pemikiran baru yang akan turut terbawa sepulangnya dari luar negeri.” Begitu juga konon dengan jumlah lulusan ke luar negeri yang menurun salah satunya karena aulmni mendapat akses tidak semudah dulu untuk membagikan informasi. Tapi di masa aku sekolah berbagai larangan, termasuk mengikuti pertukaran ke luar negeri lah yang menjadikan ku kini berkali-kali terdampar di luar negeri. Pengalaman hidup terpenjara di Insan Cendekia, aku ibarat pegasyang ditekan dengan gaya maksimal, aku kini terus (berusaha) meloncat dengan kekuatan maksimal. Dengan mimpi 5 benua kuompati dalam rangka karir dan studi.

Dari informasi yang kudapat, prestasi di tingkat olimpiade nasional dan internasional masih terpelihara bahkan meningkat. Sejak “dipegang” oleh Kementrian Agama biaya sekolah menjadi gratis tis tis. Proses seleksi dilakukan  oleh Kanwil Depag di setiap provinsi memberikan kesempatan kepada siswa MTs dari seluruh Indonesia. Sebagai dan sebaran informasi yang berarti meningkatkan kompetisi masuk. Hal ini sebetulnya sesuai dengan cita-cita pendirian Insan Cendekia oleh Pak BJ Habibie. Berikut video-nya.

Bagaimanapun perkembangannya, sebagai alumni, InsyaAllah saya selalu bangga dan mengharapkan yang terbaik untuk keluarga besar Insan Cendekia. Sebagaimana Mars Insan Cendekia karangan Pak Okto Vivaldi yang pernah kami (Qoidi, Fauzan, Satrio, Rulit, aku sendiri) populerkan (masih ada gak ya?), “Insan Cendekia Serpong Berjaya!!!

Video lain tentang Insan Cendekia.

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini? Ayo Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

17 thoughts on “Insan Cendekia Serpong Berjaya, Ceritaku

  1. Wah…dek Fadjar ini sudah ‘bandel’ dari sana ya?…senang sekali punya banyak pengalaman hidup sedari muda…itulah yang membuat kita ‘kaya’…bukan kaya harta dunia tapi kaya’hati’…selamat..teruslah mengisi kehidupan ini dengan baik dab reguh sebanyak2nya pengalaman untuk dapat diturunkan ke generasi selanjutnya…(utk cerita anak cucu)..

  2. wah, ceritanya jempolan, kak fadjar! menarik banget😀
    gimana kalo kakak bikin buku tentang ic biar saingan sama negeri 5 menara? :p
    saya angkatan 12 kak. pasti dukung kak fadjar deh kalau beneran jadi bikin bukunya. hehehe

  3. Jooo!!! Ngakak banget bagian “cebul” pas ujian pertama itu! hahaha… baru tau😀
    Kalo ngomongin IC emang gak pernah ada abisnya ya.
    Tiap Sansa kumpul aja, meskipun uda lama lulusnya, tetep aja yang jadi bahan obrolan itu lagi itu lagi :p
    Pernah sekolah di IC emang bikin bangga🙂

  4. Sumpah gw ngakak bgt baca teriakannya cebul di ujian IC pertama lo jar.. Bahahahaaha… Cebul bgt deh..😄

    Seru banget yaa klo inget2 crita di IC dulu. Jd inget dulu lo sring crita2 jg ttg impian lo skolah di luar negeri.. Klo udh crita, smpe lamaaaaa bgt gak slese2..😀
    Eh skr kesampeannya udah jauh kelebihan..
    seneng bgt deh dengernyaa..😀
    Kangen sansaaaaaaa!!!

    • Hahaha.. itu teriakan ekstrim abis.. gw ga akan lupa Nop, semoga yang teriak baca ya
      sorry ya jaman dulu gw kebanyakan cerita.. sejujurnya gw hampir lupa karena sering ngumbar cerita
      (gw bilang istri gw dan kata Muti, elo kasian jd korban cerita gw) *sekarang malah makin parah ceritanya pake di blog segala
      Sukses terus ya Nop, thank you for coming by. Looking for Sansa Reuni 2016

  5. Blog Walking:D nyari tau pengalaman alumni MAN ic karena pengen sekolah disana hehe:B kebetulan saya juga anak jogja, sekarang mau kelas 9 di SMP 8 Jogja, dulu pengen banget masuk padmanaba, temen-temen juga pada bilang suruh masuk Padmanaba aja karena pada nggak tau IC._. tapi karna bujukan orang tua akhirnya setuju dan semangat buat masuk MAN IC:D Makasih banget postnya, memotivasi banget:))

  6. Alhamdulillaah Indonesia punya Prof. Habibie, yang telah mendirikan Sekolah Insan Cendekia Serpong, dan Alhamdulillaah sejak dikelola Kemenag, menjadi Sekolah Gratis, untuk semua kalangan yang lulus tes masuk. Dan Alhamdulillah, anak sulungku termasuk anak yang beruntung bisa bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong…

    • Insan Cendekia manapun, selama memiliki hubungan dengan Insan Cendekia “asli” insyaAllah akan berusaha menyediakan pendidikan yang terbaik. Meski memang kebanyakan orangtua calon murid lebih mantap dengan yang “asli”.

  7. Assalamualaikum….slam kenal bu.

    Saya tinggal di BSD City, Serpong. Dekat IC Serpong. Tadinya sy mau masuk IC….krn deket rumah…..Sy dari SMP AL Azhar BSD City. Tapi gak jadi ikut tes masuk IC.

    Habis papa sy suruh ke Jakarta. Di Online Tangsel, sy tembus SMAN 2 Tangsel (Muncis/Monnzher)…… Tp gak di ambil.

    Diterima juga di Labschool Kebayoran (milik Prof Dr H Arief Rahman Hakim). Sy Juga tembus SMA Islam AL Azhar BSD City….gak di ambil juga.

    Itu… gara2 teman2 sy di SMP Al Azhar BSD City pd “Hijrah” Jakarta : SMAN 8, SMAN 28 SMAN 47, SMAN 34, Labschool Kebayoran, SMAN 70, SMAN 6…..akhirnya sy juga ikut Daftar Jakarta (ppdb Online)

    Alhamdulillah malah tembus SMAN 8 Bukit Duri, Jakarta…..sampai sekarang (masih kls X MIA – I, SMAN 8 Jakarta). Kakak kelas saya banyak lo yg masuk IC (dari SMP Islam Al Azhar BSD)

  8. Sejak lihat pertandingan IC di olimpiade indonesia cerdas dan berhasil meraih juara pertama, saya kagum sama IC mungkin begitu juga dengan mantan2 pesaing IC dari sekolah lain. Menjadi yang terbaik dari sekolah2 terbaik tidaklah mudah, tapi IC bisa mendapatkannya, salut😉. Semoga anak saya kelak bisa sekolah di IC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s