Hollandse Honeymoon!!! Sembilan Hari Penuh Arti

Pekan ujian seusai liburan Natal dan Tahun Baru membuat kami memilih Honeymoon Trip kali ini ke Belanda. Bukan cuma jalan-jalan, trip ini aku maksudkan juga untuk mengenalkan “kampung halaman” keduaku, Haarlem, pada istriku.

24 November 2011

Sabtu dua pekan lalu, berempat dengan Abi dan Pamung sahabat kami sejak SMA, dengan kereta kami berangkat dari Brussels Central menuju Amsterdam Central. Seiring berubahnya sinyal telepon di GSM ku dari BASE menjadi KPN, berubah pula suasana hatiku. Alhamdulillah, Dreams Come True. Kesampaian juga mimpi untuk bersama istri menapaktilasi apa yang aku alami 6 tahun lalu. Salah satu episode yang paling berpengaruh dalam hidupku. Sepanjang jalan Muti kukenalkan berbagai budaya, sejarah Belanda yang masih nyantol di kepalaku dari pengalaman hidupku hingga dari buku favoritku “The UNDUTCHABLE”. Dari tulisan-tulisan yang kami temui aku juga berusaha menjelaskan beberapa kata, kalimat dan tata bahasa yag sangat tipikal Belanda. Aku berusaha agar istriku nyaman dengan kultur Belanda sembilanhari ke depan.

Perjalanan tiga jam tidak begitu terasa akibat kelelahan kami yang luar biasa. Dua hari sebelumnya kami terpaksa berjalan kaki hingga 30 kilometer akibat mogok massal fasilitas publik di Brussels. Aku hanya sempat terbangun menjelang kereta melintas Masjid Essalam Rotterdam yang kini telah resmi berdiri. Aku ceritakan pada istriku, enam tahun lalu masjid ini sudah memsauki tahun kedua pembangunannya. Meski mendapat tekanan dari mana-mana, terutama politisi dan masyarakat Atheis Belanda, akhirnya kini jadi juga diresmikan berkat  keteguhan masyarakat muslim Rotterdam dan Walikotanya yang kebetulan muslim juga.

Tiba di Amsterdam kami berpisah dengan Pamung dan Abi, lalu melanjutkan perjalanan ke Haarlem. Ibukota Provinsi Noord-Holland, provinsi dimana Amsterdam, Ibu Kota Belanda berada di dalamnya. Merupakan Provinsi di mana paling banyak mollen, kincir angin, ditemukan dan tulip dibudidayakan. Juga salah satu provinsi, selain Zuid-Holland, yang paling mewakili karakter dan ciri-ciri ke-Belandaan sehingga menjadi asal-usul nama Holland.

Haarlem adalah kota yang terkenal dengan kelestarian budayanya. Mulai dari Oude Stad, kota tua, dan museum-museum  yang terpelihara. Dari segi bahasa, dialek Haarlem dikenal sebagai dialek terbaik di antara dialek lain dalam berbahasa Belanda. Haarlem-Amsterdam adalah jalur rel kereta pertama yang dibangun di Belanda.  Di masa lalu, Haarlem juga kota sasaran distribusi pertama hasil trading lintas samudera Belanda usai merapat di Amsterdam dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Haarlem, kota di mana aku belajar selama 10 bulan. Membuka mataku akan luasnya dunia dan mengakrabi diri dan bangsa sendiri di perantauan. Kota yang selalu ngangeni sebagaimana Jogja. Sebagai suplemen, di Haarlem juga Irvan Bachdim pernah bermain selama setahun.

Tiba di stasiun Haarlem, aku langsung menggiring istriku ke gerai Kebab langgananku di stasiun.

This slideshow requires JavaScript.

“Alle stroop, met sambal, alstublieft. Veel sambal!!” kalimat yang selalu aku ucapkan otomatis setiap pesan Kebab di sini.

Sebelum menuju daerah tempat Ineke dan Yohanes tinggal, Schalkwijk, aku ajak Muti sebentar melihat centrum kota Haarlem dan beberapa sudutnya yang dulu menjadi tempat yang selalu kukunjungi. Toko Nina, tempat aku biasa berbelanja bumbu dan bahan Indonesia. Botermarkt, tempat aku biasa jajan kibbeling, ollieballen dan membeli kejuGedung postkantoor yang kini sudah tutup. Supermarket Dekamarkt tempatku biasa berbelanja sepulang sholat Jumat. Bahkan tempat aku biasa mencari obat pelipur homesick, mengais rizki numpang minta makan nasi dengan berjuta alasan termasuk numpang sholat, apartemen yang dihuni para koki handal, Mas Rico, Mba Lia, Mba Dita, Mba Heri, Mba dan Mba Gina. Korte Veerstraat 7!

“Hoe gaat het?!”

Tiba di Schalkwijk, Ineke dan Yohanes menyambut kami di halte bus terdekat dengan ceria.  Ini adalah kunjunganku yang ketiga dalam 18 bulan terakhir. Alhamdulillah, berkat Buy 1 Get 1 Free Garuda, tahun lalu bersama ibuku aku pertama kali mengunjungi mereka setelah tidak bertemu empat tahun lamanya. Kini kedatanganku berikutnya sudah ditemani istri tercinta.

“Eindelijk, ben ik blij dat ik met mijn vrouw en moeder heeft jullie bezocht. Volgende keer, ik laat mijn kinderen zichzelf jullie bezoeken. Misschien met AFS naar je en je vrouw huis Yoh!”

“Tenang hidupku sekarang, Ibu dan Istriku sudah kuajak bertemu kalian, tinggal anak-anakku nanti biar kusuruh cari jalannya sendiri ke luar negeri”

Dengan kesederhanaan mereka, Ineke dan Yohanes selalu menyambut kedatanganku dengan spesial. Malam pertama di rumah mereka, aku ketahui ternyata ruang yang diberikan kepada kami untuk tidur adalah kamar tidur Ineke sendiri. Sementara Ineke “mengalah” tidur di ruang

komputer dengan kasur pompa. Hal yang sama terjadi ketika aku tinggal bersama mereka enam tahun lalu di rumah sebelumnya. Saat itu Ineke “memberikan” kamarnya padaku sementara ia tidur di ruang kerjanya menggunakan sofa.

Malam itu kami istirahat semalam di Haarlem, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Alkmaar via Amsterdam. Di Amsterdam kami sudah membuat janji spesial, bertemu Michelle, mak comblang kami dan Dandi yang sedang studi S2 di Groningen.

25 Desember 2011

Amsterdam!!! Sudah kesekian puluh kalinya aku mendaratkan kaki dan menjadi tour guide di kota ini. Akhirnya kali ini aku menjadi tour guide untuk istriku sendiri. Selain menunjukkan Amsterdam pada teman-teman yang mengunjungiku, gini-gini dulu aku berusaha rutin datang ke pengajian yang diadakan senior-senior PPI Amsterdam dua minggu sekali. Kuceritakan titik di Amsterdam ini yang dulu sering kulewati. Mulai dari bus dan tram stop di Centraal Stationmenyusuri Damstraat  hingga sampai di area favoritku, Dam Square. Aku tidak tahan melihat burung-burung Merpati yang berkeliaran bebas. Aku selalu senang menikmati pemandangan ini. Dan apa yang sering kulakukan 5 tahun lalu, aku tunjukkan pada istriku. Bermain-main bersama Merpati.

Puas bermain-main dengan merpati, dari kejauhan aku sudah melihat Michelle dan Dandi. Dengan bergaya a la paparazzi mereka berdua kufoto sambil kudekati!!

“Heii..!!”

“Ha..ha..ha..” kami pun saling bertukar tawa. Ah, akhirnya ketemu lagi kami di sini. Sebuah kejutan besar bagi kami, beberapa saat sebelum pernikahanku dan Muti di mana bersama Temin Micehelle menjadi MC, Michelle mengabarkan kalau ia dan Dandi mendapat tiket keberangkatan menuju Groningen di hari yang sama dan waktu yang hampir sama dengan kami. What a destiny!! Kredit untuk Michelle dan Dandi, keduanya sama-sama mendapatkan beasiswa yang sangat kompetitif dari Rijk Universiteit Groningen dan Pemerintah Belanda. Beberapa saat kemudian muncullah Abi dan Pamung. Dalam sekejap pertemuan ini menjadi reuni plus-plus kami.

Sudah menjadi rute utama “ziarah Amsterdam”, setelah Dam Suare yang dituju berikutnya adalah Museumplain, melintasi Leidseplein, Prinsengracht dan Herengracht yang kesohor sejarahnya. Puas berfoto-foto dengan latar “I AMSTERDAM” kami berpisah menjadi dua, Abi dan Pamung melanjutkan rutenya. Sementara kami berdua dengan Michelle dan Dandi menuju RijkMuseum. Salah satu museum yang paling banyak menyimpan koleksi Indonesia di Belnda. Selain VolkenkundeMuseum di Leiden dan TroppenMuseum di Amsterdam.

Sayang sekali, tiket masuk RijkMuseum cukup mahal dan diskon pelajar tidak berlaku di museum ini kecuali berusia di bawah 18 tahun. Aku melihat informasi untuk ING Bank Card Holder ada diskon 50%. Meski di sana tertera 1 kartu untuk satu orang. Aku tetap bertanya pada Bapak-Bapak berperawakan India di bagian tiket. Tidak ada salahnya mencoba. Kami merangsek maju ke loket, aku tetap keluarkan student ID dan nekat bertanya.

“Sir, I just want to ask first. Can I use the card for four of us?”

“I am sorry, you can’t.”

“Oh, ok then, let us discuss first. Thank you.”

Kami pun keluar dari barisan untuk berdiskusi apakah kami akan tetap jadi masuk atau jalan ke tempat lain. Kami pun mencapai kesepakatan, “nggapapalah bayar full.. bismillah”

Baru tiba di depan Bapak-bapak berperawakan India tadi,

“Normally, it should be full price, but for you I give you the discount!”

Laa hawla walaa quwwata illa billah. Wow, it works!!! Bener kata oranga-orang, you can always tray!! Aku benar-benar girang, karena hal seperti ini jarang sekali terjadi di Belanda. Setidaknya padaku selama dulu tinggal setahun Belanda. Yang namanya Belanda pastri strict to the rules dan ga kenal kompromi. Kalau di Indonesia mungkin pengalaman seperti ini sering dijumpai. Sementara ini Belanda, bung! Negara yang “diperolok” para pelaut dan pedagang Inggris dengan anekdot, “the ask too much and they give too litte!”. Michelle yang juga paham karakter ke-Belanda-an juga tidak kalah kagetnya.

Ah, senang sekali kami berempat. Dengan baik hati Bapak Sang Penjaga Loket memberi kami semua diskon. Entah apa motivasi Bapak Penjaga Loket tadi. Kasihan dengan wajah melas ala  mahasiswa atau rona bulan madu di wajah kami. Mungkin ini yang dibilang menikah menambah rezeki. Ini bukan yang pertama. Sejak kami menikah, banyak sekali kemudahan yang kami terima. Dua kepala ternyata tidak selalu berarti dua harga. Ada saja rezeki tak diduga.

Dari Amsterdam kami melanjutkan perjalanan mudik kami ke Alkmaar. 25 Desember, selain hari Natal adalah hari ulang tahun Selma. Host-coordinator AFS ku enam tahun lalu. Sebelum pindah dari host-mom yang pertama ke rumah Ineke dan Yohanes aku sempat “ditampung” dan tinggal seminggu bersama Selma dan keluarganya ini. Tahun 2010, ibuku bisa datang ke Belanda atas undangan Selma dan berjumpa dengannya. Sehingga meski keluarga ini sudah tidak merayakan Natal, malam itu kami merayakan ulang tahun Selma dengan makan malam bersama anak dan Ibu mertuanya yang kami panggil Oma.

Oma ini lucu dan hebat sekali. DI usianya yang ke 82, samar-samar beliau masih mengingatku walau enam tahun lalu hanya sekali bertemu. Jujur, aku sudah sempat lupa malah. Beliau tinggal seorang diri di sebuah apartemen di Groningen. Tempat kuliah Dandi dan Michelle. Untuk datang ke Alkmaar, Oma harus naik kereta dengan sekali overstappen. Hebatnya Oma bisa melakukannya sendiri walau harus menempuh jarak sejauh Jakarta-Cirebon, via Tasikmalaya (Rutenya memang ngalang). Sebagai kesibukan, Oma menawarkan diri untuk mengurusi Ibu-ibu sepuh lain di komunitasnya yang berusia rata-rata 12 tahun lebih muda darinya. Saat kami akan kembali ke Haarlem, Oma juga tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke Groningen setelah mendapat kabar salah satu nenek-nenek “binaannya” jatuh dari kursi. Salut Oma, ik ben trots op jou.

 Memang jempolan Oma-oma Belanda.

Sebelum tiba di Alkmaar aku sedikit khawatir kalau istriku akan “kesepian”. Mengingat ingkungan Belanda yang sama sekali baru untuknya. Di luar dugaan, selain bersama Oma, Geert (suami Selma), Judith, Erik (anak-anak Selma) ternyata dinner malam itu juga diramaikan oleh kehadiran Matteo dan Giulia. Yang mengejutkan kami adalah Matteo yang datang dengan AFS dari Sardinia, kini tinggal bersama Selma. Kekhawatiranku pun sirna, meski mudiknya ke “kampung”ku istriku bisa merasakan suasana “kampung”nya juga, Sardinia. Bersama Giulia dan Matteo, Muti bisa melepaskan rindunya berbahasa Italia selama berada di Akmaar. Istriku ini memang banyak rejekinya, Erik yang sebaya dengan kami juga ternyata mengikuti program AFS ke Jepang di tahun yang sama. Alhasil, istriku pun bisa bernostalgia tentang kampung ketiganya, Jepang. Parahnya lagi tiga buan yang lalu bersama Geert dan Selma, Erik baru saja kembali mengunjungi Jepang dan tinggal lama di Beppu, pulau tempat universitas Muti mendapat gelar sarjana. Oalah, Yang, kemana-mana kok ketemunya temen-temen kamu semua, Itali sama Jepang.

Usai makan malam Selma menunjukkan kliping koran dari artikel yang dibuatnya untuk sosialisasi program AFS Nederland. Artikel yang menggambarkan seorang ibu yang memiliki “anak” di seluruh belahan dunia. Di sana ia mencantumkan fotoku dengannya enam tahun lalu. Ah, senangnya..  Memang Selma sudah seperti ibuku yang kesekian. Karena itulah aku berusaha mempertemukan keduanya pada 2010 lalu. Kami pun mengabadikan reuni kami kali ini dengan berusaha membuat foto dengan Drooste effect.

Keesokannya kami menghabiskan waktu mengunjungi Zaanse-Schans, salah satu tempat terbaik untuk menikmati “peradaban” Belanda kuno dengan tradisi trading, produksi keju, klompen (sepatu kayu), dan pemanfaatan mollen untuk berbagai tujuan. Di Zaanse-Schans berbagai  rumah tradisional didatangkan dan ditata untuk menghadirkan suasana Belanda di masa awal kejayaan industrinya. Kejutan kecil kami temukan ketika kami memasuki toko Albert Heijn yang pertama didirikan, di bagian depan kami menemukan deretan produk kopi Perla. Perla sendiri dalam bahasa Italia berarti Mutiara. Sama seperti nama istriku.

28 Desember 2011

Kembali dari Alkmaar, aku melanjutkan mengenalkan Haarlem lebih jauh pada istriku. Aku tunjukkan Stad Bibliotheek, perpustakaan kota, tempat aku biasa bergalau ria mencari internet gratis berkabar cerita dan mencari berita-berita dari Indonesia. Aku ajak juga ke Mabrouk, slagerij  atau rumah potong halal langgananku yang berada paling di tengah kota. Sore harinya kakakku Edo tiba di Haarlem station. Seperti yang sudah kulakukan pada ibuku tahun lalu dan istriku tempo hari aku pun menggiringnya langsung ke Kebab langgananku. Delapan jam di kereta dari mudiknya di Hamburg Jerman, lahap lah dia.

29 Desember 2011

Bertiga kami menuju Volendam. Tempat wisudanya orang Indonesia. Volendam sejatinya adalah desa nelayan tradisional Belanda yang terletak di area Waterland. Tata kota dan pemukiman daerah ini diupayakan mempertahankan bentuk aslinya di masa lalu. Karena itulah Volendam menjadi salah satu objek wisata paling atraktif di Belanda. Selain toko suvenir, restaurant, hotel, dan penjual ikan, di Volendam bertebaran studio foto dengan properti mencitrakan kehidupan nelayan tradisional Belanda zaman dulu. Di sinilah hampir semua turis  dan pelajar dari Indonesia “harus” mengambil foto sebelum kembali ke Indonesia. Seolah ada aturan tidak tertulis, “Kalau belum foto di Volendam, belum ke Belanda”. Aku pun menyebutnya foto wisuda Belanda.

Tapi kalau tidak kreatif bukan orang Indonesia namanya, aku dan istriku tidak lupa membuat foto khusus di Volendam. “Ta’gendong kemana-mana” judulnya. Hahahaha.

Dari Volendam kami melanjutkan perjalanan e Edam, salah satu kota yang terkenal produksi kejunya selain Gouda.

30 Desember 2011

Hari ini menjadi hari yang istimewa. Bersama Muti dan Edo kami menjumpai Tante Jean dan Oom Toyo. Hampir tepat setahun yang lalu31 Desember 2010, aku dan Muti menantikan malam tahun baru sambil makan besar dan main kembang api bersama Oom Toyo dan Tante Jean di Jogja. Saat itu kami juga bersama Mama Nani, Aniss, Kak Dhifa, dan Ibuku juga bersama teman-teman terdekatiku di FK UGM yang menjadi alumni rumah Tante Jean dan oom Toyo. Tidak ketinggalan Michelle dan Ahlul juga ada di sana.

“Nanti kalau sudah jadi main-main ke Haarlem ya, biar dimasakain Oom Toyo,” ajak Tante Jean saat itu “memberi restu”.

Kala itu Muti belum menjawab tegas tembakanku di pantai Indrayanti, Gunung Kidul. Hanya tanda-tanda saja, baru keesokan harinya di Raminten Kota Baru resmi bilang “IYA”. Malam tahun baru itu sebetulnya salah satu “settingan”ku supaya Muti mau denganku. Hehehe. Maksudnya, aku memang serius sehingga aku berani mengajak berbagai sektor, pihak dan golongan dari sahabat hingga keluarga untuk menghabiskan waktu bersama. Termasuk Tante Jean dan Oom Toyo yang kuanggap seperti ayah dan ibuku sendiri ketika dtinggal di Haarlem enam tahun lalu.

Bertepatan dengan hari Jumat, aku dan kakakku menuju masjid Ar Rahman, masjid yang selalu kutuju untuk melaksanakan shalat Jumat selama tinggal di Haarlem. Di masjid inilah aku dikenalkan pada Oom Toyo oleh Mas Icol. Tidak memberi kabar sebelumnya, aku membayangkan memberi kejutan Oom Toyo yang biasa Jumatan disini.

“Heh, ngapain? Kapan datang? Tidur di mana??!!” kaget beneran Oom Toyo. Hehehe. Selepas Jumatan kami menghampiri Muti yang sedang berbelanja kemudian aku usulkan untuk menikmati Kopi di La Place cafe. Cafe & Resto yang terletak di lantai 6 Mall V&D, point terbaik untuk menikmati kecantikan kota Haarlem dari atas. La Place menjadi tempat favoritku di Haarlem. Walau begitu aku baru seklai ke sana, itu pun ditraktir, maklum enam tahun lalu mana ada  duit untuk ngafe. Kalau datang sendiri cuma cari galau aja. Awalnya aku yang mau nraktir, eh sampai di atas Oom Toyo sambil senyum memamerkan dua kupon diskon 50% yang berlaku untuk empat orang dari dalam dompetnya. Luar biasa, entah feeling atau apa, beberapa hari sebelumnya Oom Toyo memutuskan memotong kupon dari koran ini dan memasukkan ke dalam dompetnya. Ndilalah, pas kami datang kok ya pas kepake jadinya. Terima kasih Oom.

Menjelang sore kami bertiga, menngunakan dua sepeda, menghampiri tempat workshop dimana Tante Jeane menyalurkan bakat seninya. Kuperhatikan karya-karya Tante Jeane tampak menonjol di antara rekan yang lain. Di workshop “Kunst om de Hoek” ini personal dengan kebutuhan khusus seperti kursi roda atau lainnya difasilitasi oleh yayasan dan didukung oeh negara untuk menyalurkan bakat seninya. Sebuah proyek yang sangat ingin sekali bisa ditransfer oleh Tante Jeane ke Indonesia mengingat masih minimnya proyek sejenis di Indonesia. Tidak di semua kota ada, beruntung di Yogyakarta sudah ada, seperti YAKKUM, namun jumlah dan daya serapnya masih belum maksimal.

Hari itu kami habiskan berkeliling kota Haarlem dengan bersepeda. Termasuk mengunjungi Mollen Adrian. Di akhir hari, kami mencoba mampir ke rumah Laura. Karena kujumpai tidak ada orang di rumah, kuselipkan saja kartu ucapan lewat bawah pintuya. Dengan harapan ia segera membacanya.

“Ik blijv nog tot 1 Januari in Haarlem..”

Dari sana, aku ajak mampir dulu Muti dan kakakku ke warung Kebab langgananku lainnya. Sayang, pemiliknya sudah berganti bukan lagi kawanku yang dulu dan pindah entah ke mana.

31 Desember 2011

Leiden!!! Kunjungan kami berikutnya. Hari ini kami berencana setidaknya mengunjungi satu museum dan centrum Leiden. Baru jalan beberapa saat dari Leiden NS, kami sudah tiba di VolkenkundeMuseum.

“Hello, good afternoon. Are you coming to visit the museum?!”

Sapa seorang Mba-mba bernama Lionel ramah. Ternyata Lionel ini berasala dari sebuah lembaga ekspedisi budaya yang baru saja merampungkan proyeknya di Afrika dan Asia. Beberapa hari ini VolkenkundeMuseum menjadi tuan rumah eksposisi dari ekspedisi tersebut. Lionel bertugas mempromosikan eksposisi ini kepada orang yang melintasi gerbang museum. Lucunya, hari itu Lionel memberikan kami member card lembaga ekspedisi ini tanpa harus mendaftar atau melakukan apapun. Member card ini pun hany berlaku satu tahun, 1 Januari hingga 31 Desember 2011. Hari itu hari terakhir!! Tujuan Lionel memberikan kartu ini pun hanya satu: agar kami bisa masuk museum dengan gratis!!! “Dariapada nggak kepakai mas..” katanya santai. Alhamdulillah, rejeki ngga kemana. Kami pun bisa menikmati berbagai dokumentasi sejarah dalam bentuk fisik, audio, visual dari tim ekspedisi ini tanpa biaya.

Selesai dari VolkenkundeMuseum atas saran Ineke kami mengunjungi BoerhaveMuseum. Museum sejarah sains dan sejarah pendidikan kedokteran ini memiliki koleksi yang begitu lengkap untuk berbagai disiplun ilmu. Selain kedokteran, museum ini menyimpan koleksi instrumen astronomi dari abad 17. Selain itu museum ini juga memiliki reka studi anatomi dengan video simulasi bagaimana praktek pelajaran dan ujian anatomi dahulu diadakan. Mungkin kalau aku mengunjungi museum ini sebelum menjadi mahasiswa kedokteran, akan berbeda jalur minat yang kutempuh. Yang kuperhatikan dari koleksi museum Boerhave ini, pendidikan sains Belanda di masa itu dan hingga kini memang sangat mengutamakan presisi dan dokumentasi sehingga transfer ilmu berjalan dengan simultan dan terarah.  ucunya, 31 Desember ini, bertepatan dengan ulang tahun Menheer Boerhave. Sehingga, lagi-lagi hari itu kami masuk museum gratis!!

1 Januari 2012

Sehari sebelum kami kembali ke Brussels, Yohanes kembali menyiapkan menu spesial kali ini Spagetti andalannya. Yohanes yang pernah mengenya pendidikan ke sekolah koki memang lihai memasak. Dulu saat aku tinggal bersama mereka, kami sering saling membantu memasak. Kedatangan kami dimanfaatkannya untuk menunjukkan kebolehannya. Sejak kami datang ia selalu menghidangkan beraneka makanan Belanda dan Prancis dengan daging yang khusu dibeli di Halal Slagerij. Mulai dari stamppot dengan boerkool, patat, kroket, kibbeling, hingga daging shoarma yang disajikan bersama menu Belanda lain karena ia tahu aku begitu mencintai shoarma yang kini semakin merajalela di Eropa.

Dalam dinner terakhir ini aku mengundang Laura, hostmom pertamaku di Haarlem. Aku sempat tingga. tiga bulan bersamanya, termasuk merayakan ulang tahun bersama putra putrinya. Bisa dibilang, meski aku lebih lama tinggal bersama Ineke, Laura memberikan impact ke-Belanda-an yang tidak kalah, bahkan lebih besar dari Ineke. Karakter Londo nya sangat kuat dan influential. Tergambar dari berbagai diskusi mengenai kultur, agama, dan karakter yang pernah terjadi antara kami. Salah satu pengalaman yang tidak bisa kulupakan bagaimana ia “menuntut pertanggungjawaban”ku manakala aku membatalkan makan malam bersamanya di rumah melalui telpon ketika aku diajaka makan malam oleh keluarga Dubes RI untuk Belanda saat itu. Malam itu kami berdiskusi hingga tengah malam untuk “masalah” ini.

Meski begitu di usianya yang memasuki 70 tahun ini ia masih begitu perhatian padaku yang ditunjukkannya dengan membawakan kado tahun baru sebuah buku “De Kleine Prins” terjemahan dari “The Little Prince” yang telah diterjemahkan ke 192 bahasa. Inilah perjumpaan pertama kami sejak Desember 2005. Dua hari sebelumnya ia begitu kaget menemukan sebuah kartu ucapan dariku terselip di bawah pintunya.

2 Januari 2012

Hari ini kami kembali ke Brussels. Sembilan hari di Belanda, kami menuai banyak makna. Berbagai kemudahan, rezeki dan kejutan. Mengunjungi banyak keluarga, jumpa teman dan saudara, praktis tidak banyak biaya yang kami keluarkan.  Selain transport, mungkin hanya sedikit untuk oleh-oleh dan jajanan. Selebihnya murni pemberian. Ahamdulillah, honeymoon trip kami kali ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus obat kangen. Terimakasih Yohanes, Ineke, Selma & Keluarga, Laura. Tidak lupa, terimakasih juga untuk kakakku yang sudah mau kutodong ketika ING Card ku sudah ga bisa menafkahi Euro lagi. Zie jullie straks!!

———————————————————————————————————————————————————————————

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaatkah tulisan ini?! Berikan Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini! :D

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

4 thoughts on “Hollandse Honeymoon!!! Sembilan Hari Penuh Arti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s