Legenda Schiphol: Mimpi yang Terlunasi

https://www.facebook.com/photo.php?v=10150486957374833&set=vb.569674832&type=2&theater

Medio 1992-1994

“Nanti Bapak naik KLM sama Pak Menteri ke Eropa, mendarat di Schiphol!” ujar Bapak mantap pada kami berdua. Dari nadanya, tersirat rasa bangga bisa memberi “contoh” pada anaknya. “nanti dada dada dari atas.”

Persisnya aku sudah lupa berapa kali, yang jelas lebih dari sekali Bapak  diajak serta Menteri Kehutanan saat itu, Pak Hasrul Harahap kunjungan kerja ke beberapa negara Eropa, Belanda, Jerman, Belgia. Bukan sebagai staf ahli menteri atau pejabat protokoler, Bapak diajak sebagai “ajudan” karena disukai Pak Menteri, pandai memijat dan  enak diajak curhat. Juga dianggap cukup fasih berbahasa Inggris.

“Itu pesawatnya Bapak!” tunjuk Edo kakakku ke arah jejeran pesawat KLM.

“Yang kiri?!” tanyaku memastikan

“Bukan, itu Big Top, satunya, yang panjang (upper deck-ya), Mega Top!”

Setelah Bapak menghilang di balik counter check-in bersama Pak Menteri dan rombongan, giliran kami berlari-lari menuju anjungan Bandara Soekarno Hatta. Di antara sekian unit pesawat KLM yang berjejer rapat, kami berdua sibuk menentukan pesawat mana yang Bapak tumpangi. Kata Bapak KLM yang ke Belanda pakai Boeing yang baru, Megatop.

Di usia 8 dan 5 tahun, dibanding anak seusia kami, kami memang mengidap suatu “kelainan” dimana kami sudah membiasakan diri menganalisis jenis pesawat dari bentuk dan ukurannya. Ukuran upper deck  (lantai atas) salah satunya. Saat itu Boeing 747-400 yang disebut Megatop, baru saja diluncurkan “menggantikan” Boeing 747-300 disebut Big Top. Hmm, baiklah, sebetulnya tidak cuma pesawat, kereta dan bus pun kami analisis dari jenis mesin rangka, karoseri dan tahun produksi hingga ganti bodinya. Tidak heran, kenapa aku butuh 3 tahun untuk lulus TK.

Setelah yakin telah “menemukan” pesawat yang ada Bapak di dalamnya kami akan memfokuskan diri pada pesawat tersebut hingga pesawat itu bergerak ke runway, take off, dan hilang dari pandangan kami. Kalau sudah begitu, baru kami mau pulang ke Bogor.

Bagi kami rangkaian kejadian  ini benar-benar memberikan jejak sensasi yang luar biasa. KLM, pesawat Megatop, Schiphol, Eropa. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saat itu aku dan kakakku sebetulnya tidak begitu mengerti, Bapak tu sebetulnya ke luar negeri ngapain. “Jadi Ajudan”, hanya itu jawaban yang kami dapat kalau bertanya. Terlepas apapun itu, kesannya muantep. “Naik pesawat ke luar negeri! Aku besok kalo udah gede mau gitu!”

Sepulang dari kunker dengan Pak Menteri ini biasanya Bapak langsung sibuk merangkai album foto selama di luar negeri, termasuk selama di dalam pesawat. Sebuah pesawat “raksasa” memiliki tangga bertingkat dengan interior begitu canggih di dalamnya. Kami sendiri kebagian cerita sama oleh-oleh gambar tempel (bagaimana kami menyebut stiker zaman itu). Foto-foto inilah salah satu media Bapak mendidik kami. Bikin mupeng, mingin-mingini, tidak langsung memberi, cukup “menjual” mimpi. Agar kami “membelinya” sendiri.

Kelak, pengalaman ini semakin mempertegas sensasi dan pemikiran alam bawah sadar, mimpi, kami.  “Ga tau gimana caranya, pokoknya kalo udah gede mau naik pesawat ke luar negeri!!”

September 2002

Urut umur. Kakakku berhasil mewujudkan mimpinya lebih dulu. Terseleksi mengikuti program AFS kakakku berangkat ke Jerman. Pucuk dicinta, KLM ditungganginya. Semua sudah diatur untukya. Cengkareng – Frankfurt via Schiphol. Aku iri bukan main dibuatnya. Sudah ke luar negeri, naik KLM via Schiphol pula. Plek persis seperti rutenya Bapak satu dekade lalu.

Juli 2003

Kakakku mendarat kembali di tanah air dengan KLM, disambut penuh bangga  dan suka cita oleh Bapak melihat putra sulungnya pulang dari Jerman. Ke luar negeri dengan perjuangan sendiri. Sayang tiga bulan setelahnya Bapak dipanggil Yang Kuasa.

Kepergian Bapak seolah mempertegas, sampai mati Bapak tidak akan memberi, tapi “menjual” mimpi. Meski tidak terucap, terbersit keinginan rasanya bisa sekeluarga naik KLM ke Eropa sama-sama. Keinginan yang lebih mirip mimpi. Mimpi yang belum atau mungkin tidak dapat terlunasi.

September 2005

Giliran, aku mencicil mimpi. Mendapat kesempatan pertukaran pelajar yang sama, aku mendarat di Schiphol. “Sayangnya” aku diangkut dengan Cathay Pacific.”Belum berhasil” mengikuti jejak Bapak pakai KLM. Setahun kemudian saat kembali ke tanah air pada Schiphol aku “berjanji” suatu hari, paling lama lima tahun lagi, aku akan mendarat kembali dengan orang-orang yang kucintai.

Juni 2010

Allah memang Luar Biasa. Mendapat kesempatan konferensi di Groningen Belanda, setelah 7 tahun mendapat larangan terbang dari Uni-Eropa, keberangkatanku bertepatan dengan periode penerbangan perdana Garuda Indonesia kembali ke Belanda. Dengan tiket promo dari Garuda “Buy 1 Get 1 Free”, terlunasi janjiku di 2005, mendarat di Schiphol dengan orang-orang tercinta kali ini yang pertama bersama Mama.

Agustus 2011

Sering aku “menggugat” kenapa Bapak pergi begitu cepat. Tapi Tuhan selalu ada dengan rencana-Nya. Lewat suratan takdir pertukaran mahasiswa Erasmus MAHEVA, bersama Muti, istriku kami terbang bersama, Cengkareng – Brussels via Schiphol dan kali ini tepat persis seperti rute Bapak, dengan KLM pula. Ah, “lunas” sudah mimpiku rasanya. Terbang dengan KLM, mendarat di Schiphol, bersama istri, apalagi yang lebih baik dari ini??!!

KLM Ticket bagian dari Beasiswa Erasmus Mundus

KLM Ticket bagian dari Beasiswa Erasmus Mundus

Januari 2012

Ternyata Tuhan belum bosan menunjukkan kuasa-Nya. Oktober 2011 lalu, melalui perjuangan yang tak kalah panjang dengan sinema layar kaca, kakakku diterima di Passau Universitat Jerman untuk program S2.

1 Januari, tahun baru ini, tak lepas dari takdir-Nya, kami dizinkan melunasi mimpi kami lengkap dengan bunganya yang hampir 20 tahun tahun sudah usianya. Haarlem, tempatku tinggal dulu di Belanda, hanya berjarak sekitar 40 menit bersepeda dengan ujung bibir runway Schipol yang melegenda. Kalau dulu kami menyaksikan KLM yang membawa Bapak take off di Soekarno Hatta. Kini bertiga, aku, Muti dan kakakku, sesiangan kami puas memandangi pesawat-pesawat dan KLM landing di Schiphol. Bapak, mimpi lunas terbeli!

Berikut dokumentasi ngdhan kami berdua.. Euphoria KLM

http://www.facebook.com/photo.php?v=10150486957374833

8 thoughts on “Legenda Schiphol: Mimpi yang Terlunasi

  1. Edo…Wowok….siang ini …tante,,membaca tulisan kalian di sela sela tante istirahat di kantor
    dengan pekerjaan dan beban yg begitu berat bagi tante……

    tetapi dengan penuh keharuan dan tante bilang kamu anak anak yg hebat dan kuat semuanya…
    Dengan perjuangan dan Doa mama tercinta dan keluarga besar kalian bisa mencapai cita cita itu.

    Semoga tante bisa mencontoh itu semua untuk memperoleh jalan yang terbaik untuk tante plati, om Anam Dik Desi dan rani…

    Kita Saling mendoakan yaaa… Semoga Alloh SWT selalu melindungi kita semua amin amain..

  2. Hanya sebuah pertanyaan ‘skeptis’ yang terlintas dibenak ku setelah membaca beberapa tulisan kakak : “apa aku bisa seperti kakak?”
    diri ku hanyalah salah satu anak yang gagal dalam mengikuti seleksi pertukaran pelajar AFS yang pernah kakak kecap manis nya dulu.

    • Pasti bisa, AFS memang menawarkan begitu banyak kesempatan. Tapi AFS bukan segala-galanya. Tidak ada syarat mutlak untuk sukses tidaknya kita, kecuali jangan pernah berhenti berusaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s