Satu Hari, Tiga Negara

Bersama tiga bendera negara: Jerman, Belanda, Belgia

Baru tadi malam kutulis cerita Legenda Schiphol: Mimpi yang Terlunasi. Pada salah satu paragrafnya, dalam satu kalimat aku mengetikkan tiga nama negara: Belanda, Jerman Belgia. Tanpa kusangka ternyata itu sebuah pertanda!

Hari ini aku dan Muti lagi-lagi mendapat pengalaman seru dan berharga. Tanpa direncanakan sebelumnya, Ibu Anita dan Pak Tantyo sekeluarga mengajak kami jalan-jalan bersama. Tidak tanggung-tanggung, tempat yang kami kunjungi dalam sehari meliputi tiga kota di tiga negara berbeda. Uniknya urutan negara yang kami kunjungi sama seperti yang kutulis di artikel tadi malam, urutannya persis sama. Pertama kami mengunjungi Vaals di Belanda, kemudian Aachen di Jerman lalu Maasmechelen di Belgia.

Sejak dulu aku selalu bercita-cita suatu hari bisa merasakan aktivitas dalam sehari di tiga negara berbeda. Dulu kupikir hal seperti itu hanya bisa menjadi nyata kalau kita seorang pejabat atau pengusaha yang memiliki jet pribadi. Rupanya sering kali tidak kita sadari, ternyata impian kita sudah sangat dekat dengan kenyataan.

Perjalanan Brussels-Vaals ditempuh hanya dalam waktu sekitar satu setengah jam. Perjalanan melalui highway ini semakin tidak terasa dengan hadirnya celotehan-celotehan dan nyanyian si kecil Atma, putra Ibu Anita yang sedang lucu-lucunya.

Di atas menara drielanden punt, 30m dari permukaan tanah.

Di Vaals (Belanda), Vols (Jerman), kami singgah di drielanden punt[1]. Titik temu tiga negara, Belanda, Jerman dan Belgia. Sebuah menara yang didirikan pada tahun 1884 menjadi tempat kami menikmati pemandangan tiga negara sekaligus dalam satu pandangan mata. Terletak di wilayah Belanda, tempat ini juga ramai dikunjungi warga Jerman. Untuk melayani warga Jerman, bahkan bus kota asal Aachen Jerman juga masih beroperasi di daerah ini.

Dari Vaals, rute jalan-jalan berlanjut ke Aachen. Yak, betul! Aachen adalah kota tempat Pak Habibie, Bapak Teknologi Indonesia kebanggan kita menempuh studinya ditemani Ibu Ainun. Sepanjang langkah kaki kami menelusuri Aachen Zentrum, berkali-kali kami membahas dan membayangkan kehidupan Pak Habibie dan Bu Ainun sekeluarga di sini.

“Waktu ngobrol sama Pak Habibie dulu, ga ngeh kalau kita bakal sempat mampir ke Aachen. Coba kalau tahu pasti udah tanya-tanya tempat favorit beliau…” aku membahas tentang pertemuan singkatku dengan Pak Habibie sethun yang lalu. Beliau senang sekali saat tahu ada alumni Insan Cendekia sekolah yang didirikannya kembali ada yang melanjutkan studi di Eropa. Tetapi saat itu tiak terbayang olehku akan sempat mengunjungi Aachen.

Selanjutnya kami membayangkan sosok Pak Habibie sedang berjalan melalui salah satu jalan yang kami lewati. Pulang dari lab tempat beliau melakukan riset kembali ke apartemennya.

“Mas, kata Pak Habibie di bukunya, dengan kepergian Bu Ainun, menurut beliau orang yang meninggal itu sebetulnya tidak pergi begitu saja. Dia masih ada, tetapi dengan dimensi waktu yang berbeda. Dan baginya semua berjalan lebih lambat. Jadi, bisa jadi Bu Ainun sekarang ada di sini…” istriku berpendapat.

Katedral Aachen yang dibangun oleh Charlemagne

 Aku sendiri tidak punya pendapat lain, tapi mengikuti feeling istriku yang berkali-kali terbukti begitu kuat, dalam hati aku sepakat.

Hari ini pula aku baru sadar kalau Aachen terletak sangat dekat bahkan berbatasan langsung dengan Belanda. Aku jadi ingat ketika bertemu dan ngobrol sejenak dengan Pak Habibie tepat setahun yang lalu di Gramedia Jogja, beliau begitu fasih berbicara bahasa Belanda. Aku dan Muti pun membayangkan, mungkin dulu Pak Habibie dapat dengan mudah dan sesuka hati jalan-jalan ke daerah Belanda di sekitar Aachen ini karena dengan mudah beliau dapat berbicara baik bahasa Jerman maupun Belanda.

Sepulang dari Aachen, Bu Anita mengajak kami mampir di Maasmechelen. Ddi sini giliran Muti dan Dinda, putri sulung Bu Anita, yang semangat. Di Maasmechelen terdapat sebuah pusat belanja yang menghadirkan seluruh merk fashion yang ada di Belgia. Untuk istriku tempat ini bagus untuk survey “kebutuhannya”, sedangkan buatku tempat ini bagus untuk mempertebal iman. Zikir tanpa henti, berharap semoga tidak perlu ada yang dibeli.

6 Bulan yang lalu, Juli 2011

“Wah, itu dekat dengan KBRI dan rumah saya..!”

Bu Anita menimpaliku saat kuceritakan kampus dan bakal tempat tinggal kami di Brussels nanti rupanya masih satu “kecamatan” dan satu area kode pos dengan KBRI Brussels dan rumah Bu Anita. Jadi kami terbilang akan bertetangga.

Bertemunya aku dengan Bu Anita yang hanya sekali ini sebetulnya suatu kebetulan. Aku yang sedang menjalani WHO Internship di Jenewa, sesekali mampir ke Wisma PTRI Jenewa yang kebetulan terletak di depan Headquarter WHO ini. Tante Nur yang berkediaman di sana berinisiatif mengenalkanku pada Bu Anita yang sedang menghadiri konferensi di Jenewa dan tinggal di Wisma PTRI karena tahu aku saat itu akan segera menikah lalu memboyong Muti ke Belgia. Tidak disangka rupanya aku dan Muti akan tinggal di kamous UCL yang jaraknya sangat dekat dengan lingkungan Bu Anita dan keluarg tinggal.

Dari Jenewa aku pulang ke Jakarta untuk menikah dan memboyong Muti dengan perasaan semakin mantap. Kelak di Brussels nanti kami ditakdirkan tidak berjauhan dari lingkungan keluarga Indonesia. Ternyata Allah memilihkan kampus UCL ini sudah dengan segala perhitungan. Namanya takdir, pasti serba pas selama yang terbaik diupayakan.

Terimakasih Ibu Anita, Pak Tantyo dan keluarga atas kebaikannya.

 

[1] Titik Tiga Negara

Di Vaals (Belanda), Vols (Jerman), kami singgah di drielanden punt. Titik temu tiga negara, Belanda, Jerman dan Belgia. Sebuah menara yang didirikan pada tahun 1884 menjadi tempat kami menikmati pemandangan tiga negara sekaligus dalam satu lemparan mata. Terletak di wilayah Belanda, tempat ini juga ramai dikunjungi warga Jerman bahkan bus antar kota asal Aachen, Jerman juga masih beroperasi di daerah ini.

Dari Vaals, rute jalan-jalan berlanjut ke Aachen. Yak, betul! Aachen adalah kota tempat Pak Habibie, Bapak Teknologi kebanggan kita menempuh studinya ditemani Ibu Ainun. Sepanjang langkah kaki kami menelusiri Aachen Zentrum, berkali-kali kami membahas Pak Habibie.

Bersama Pak Habibie

“Waktu ngobrol sama Pak Habibie dulu, ga ngeh kalau kita bakal sempat mampir ke Aachen. Coba kalau tahu pasti sudah tanya-tanya tempat favorit beliau..”

Selanjutnya kami membayangkan hari-hari di mana sosok Pak Habibie sedang berjalan melalui salah satu jalan yang kami lewati. Pulang dari lab tempat beliau melakukan riset kembali ke apartemennya.

“Mas, kata Pak Habibie di bukunya, dengan meninggalnya Bu Ainun, menurut beliau orang yang meninggal itu sebetulnya tidak pergi begitu saja. Dia masih ada, tetapi dengan dimensi waktu yang berbeda. Dan baginya semua berjalan lebih lambat. Jadi, bisa jadi Bu Ainun sekarang ada di sini..” ujar istriku berpendapat.

Kerch im Aachen

Fadjar & Muti, signed by Pak Habibie

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaat kah tulisan ini?! Jangan ragu Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini!

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://indonesiamenginspirasi.org/

The desire to write grows with writing. — Desiderius Erasmus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s