Sepuluh Ribu!!!

Yak, alhamdulillah 10.000 kali sudah blog Mutiara Fadjar kami ini sejak akhir September dikunjungi. Dengan rerata hits berkisar 89 per hari, bukan angka yang “wah” namun insyaAllah cukup berarti. Apa arti penting di balik angka 10.000 ini? Kenapa aku dan Muti begitu getol mengelola blog ini?!

Tujuan Semula

Pada mulanya, blog ini kami tujukan sebagai sarana komunikasi kami dengan keluarga dan sahabat di Indonesia. Pernikahan dan keberangkatan kami yang mendadak ke Belgia membuat kami kekurangan waktu untuk menyampaikan undangan dan berpamitan, sehingga menyisakan banyak pertanyaan di antara saudara dan sahabat yang lama tidak berjumpa. Dengan tutur cerita di blog ini, kami berharap bisa menjadi media kabar-kabari yang lebih nyaman dan akrab dibanding media sosial lainnya.

Bergesernya Tujuan

Warna-warni peristiwa dan pengalaman hidup yang kami hadapi di negeri Tin-Tin ini menjadi topik utama cerita-cerita di blog kami. Mulai dari kisah tentang musibah hingga anugrah. Dari cerita penuh tantangan hingga kenikmatan. Dari kisah seputar harapan hingga jawaban. Dari kisah duka hingga suka. Dari pengalaman tentang perencanaan hingga kejadian-kejadian penuh kebetulan. Juga tak jarang kami memasukkan kisah dan impian di masa kecil yang di sini kami menemukan perwujudannya. Perlahan namun pasti, tujuan kami dalam mengelola blog ini mengalami modifikasi.

Meski tak selamanya berada “di atas”, pengalaman hidup setahun di Belgia yang setengah bercanda kami istilahkan dengan “HoneyYear” ini, merupakan nikmat luar biasa yang sebelumnya kami bahkan tidak berani memimpikannya. Sensasi nikmat  yang mencapai kulminasinya inilah yang menggerakkan kami untuk berbuat lebih dari sekedar menuturkan cerita!

Untuk Cerita Adik-adik, Anak, dan Cucu

“Wok, nulisnya diterusin, biar untuk motivasi adik-adik..” komentar Ibuku suatu hari.

Sebagai cucu nomor empat dengan belasan adik sepupu dari sisi keluarga Ibuku, Ibuku ingin suatu hari apa yang kami alami saat ini bisa menjadi motivasi untuk adik-adik agar berusaha memiliki masa depan yang lebih baik dari kami. Mendengar saran Ibuku ini, aku yang sejak kecil berpikiran tua dan kolot pun berpikir, “kalau adik-adik bisa baca, anak, cucuku nanti bisa baca juga donk..”

Menghidupkan Semangat Almarhum

“Bapakmu dulu ke luar negeri usaha sendiri..!”

“Bapakmu dulu begini.. Bapakmu dulu begitu..”

Delapan tahun sudah Bapak dipanggil Allah SWT. Praktis, hanya enam belas tahun saja, itupun dikurangi masa memoriku sebagai bayi yang belum tumbuh sempurna, jumlah memori dalam tahun yang kumiliki tentang Bapak. Delapan tahun berpisah dengannya cukup efektif mengerosi memori kami akan Bapak.

Mengaitkan dan menuliskan pengalaman hidup kami di rantau ini dengan memori tentang Bapak menjadi sarana efektif bagi kami menghidupkan kembali dan memelihara semangat dan teladan hidupnya.

Melanjutkan Amal Almarhumah

Wok, …. kondisi Mbah sudah banyak menurun. Mbah sudah banyak pesan, supaya kita banyak beramal ke anak yatim piatu, sekolah Aisyiah, untuk pendidikan, kesehatan. Ojo pelit, ojo cuma ngaji tapi banyak beramal..”

Ini adalah sebagian wasiat dari Eyang Mami, Ibu dari Almarhum Bapakku saat meninggal bulan September lalu. Berbagi, memberi, sedekah. Sejak aku kecil, itulah yang selalu ada dalam setiap pesan dari Eyang Mami di masa sehatnya saat kami berkumpul lebaran, bahkan juga masih sama hingga akhir hayatnya.

Memang, saat beliau menghembuskan nafas terakhir, aku dan Muti tidak berada di sisinya. Kami hanya sempat berpamitan pada beliau di Jogja, 3 hari setelah pernikahan kami di Jakarta, seminggu sebelum keberangkatan kami ke Belgia. Beliau wafat di minggu ke-6 kami berada di Belgia. Meski begitu, sebagai seorang cucu yang belum punya banyak bekal materi maupun ilmu, aku ingin bersama istriku berbuat sesuatu. Menjalankan apa yang kepada anak dan cucunya Eyang Mami wasiatkan.

Memberi dan berbagi informasi lewat cerita demi cerita inilah salah satu jalannya.

Rencana Selanjutnya

Tumbuhnya keinginan kuat aku dan Muti berdua, diiringi dengan bertambahnya dukungan dan harapan dari keluarga. Bertambahnya sahabat yang mengikuti kisah-kisah kami. Tiga bulan lalu kami pun membulatkan tekad untuk menyusun cerita kami menjadi sebuah buku.

Mengapa buku?! Tergerak oleh tagline pada blog kami sendiri, it’s not how much you have achieved, but things you have shared, dibukukannya cerita-cerita pada blog ini akan menjadikan kumpulan cerita, kisah dan pengalaman ini semakin mudah untuk diakses, dibagi dan dinikmati.

Buku kami anggap dapat menjadi media pelipatganda manfaat dari cerita-cerita kami. Pertama, isi cerita yang tertuang di dalamnya bermanfaat sebagai informasi, syukur dapat menginspirasi, para pembaca dan komunitasnya. Untuk yang sedang mencari beasiswa tulisan kami sesekali memberi informasi agar para pembaca semakin semangat berusaha, yang sedang mencari calon pasangan juga kami ceritakan kisah yang mingin-mingini supaya terus berapi-api semangat mendekati calon mertuanya. Kedua, hasil penjualannya akan menghasilkan roalti yang 75% nya telah kami tetapkan akan disalurkan kepada salah satu yayasan yang mengelola biaya bantuan pendidikan untuk ratusan adik-adik di Yogyakarta.

Kenapa  75%, apa ngga kebanyakan? Kamu tahu nggak royalti terbaik penulis maksimum 10% dari harga buku?

“Kebahagiaan tertinggi adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain..”

“Kesempatan terbaik adalah ketika kita bisa membuka kesempatan untuk orang lain..”

Pada cerita Bahagia dengan Sedekah, kami sedikit membahas upaya kami menyisihkan anugrah beasiswa yang kami dapat agar menjadi lebih bemanfaat untuk adik-adik pelajar yang membutuhkan di Jogja. Apa yang terlihat kecil untuk kita, belum tentu bagi mereka. Bagaimana tidak??! 10% beasiswa bulanan yang kami terima sama dengan nominal bantuan pendidikan adik-adik ini untuk satu tahun! Membuka kesempatan sekaligus menawarkan kebahagiaan pada mereka yang membutuhkan. Betapa sesuatu yang kecil dan sederhana dapat memberi makna yang nyata. Melihat kenyataan ini, aku dan Muti menjadi ketagihan untuk bisa berbuat lebih dari ini, lebih dari sekedar “sepuluh persen”.

Mengingat kami sendiri masih berstatus pemula dalam belantara ekonomi. Hanya bergantung pada finansial semata akan banyak batasnya. Oleh karena itu, kami ingin menjual ide berupa cerita nyata perjalanan hidup kami di Belgia. Dengan diterbitkannya kumpulan cerita di blog kami ke dalam sebuah buku, adik-adik ini bukan hanya dapat menerima manfaat dari 10% beasiswa kami tadi saja, tetapi juga dari pembaca yang nantinya membeli buku ini. Semakin banyak dana yang terkumpul semakin banyak pula adik-adik yang terbantu.

Ide ini bukan tanpa dasar, Muti sendiri sejak kecil terbiasa diajak oleh sang Papa melakukan penggalangan dana dari mereka yang berkenan untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak banyak yang dibutuhkan selain niat yang kuat dan ketekunan.

Dengan kata lain, buku ini akan menjadi alat bantu kita semua, keluarga dan sahabat pembaca untuk bersama-sama melakukan hal sederhana tetapi bermanfaat nyata. Meski hanya berawal dari kumpulan cerita. Ini pula berarti semakin sering buku ini akan dibeli dan dibaca semakin banyak adik-adik yang akan mendapat manfaat darinya.

Mengenai royalti yang besarnya hanya 10% dari harga buku, aku juga sudah berhitung-hitung. Katakanlah buku ini nantinya dihargai 60,000 rupiah perbuahnya artinya hanya 4,500 rupiah saja yang dapat disalurkan dari setiap buku yang terjual. Maka aku berusaha agar setidaknya 10,000 buku terjual. Sehingga menghasilkan dana 45,000,000 rupiah. Sudah cukup membantu biaya pendidikan 10 orang anak selama 3 tahun melalui  yayasan ini.

Terimakasih

Kembali ke angka 10.000 tadi, meski bukan angka yang wah, angka yang dicapai dalam 4 bulan ini (2500 per bulan) setidaknya mengindikasikan bahwa tulisan di blog ini bisa dinikmati. Tentu saja, angka ini tercapai berkat kesetiaan keluarga, teman dan sahabat pembaca mengikuti kabar-kabari kami. Juga kesediaan memberi Rate, membagikan link blog kami dengan meng-klik Share  dan mengisi kolom Comment. Sehingga izinkanlah kami berterimakasih kepada semua yang telah menyempatkan diri mampir dan membaca blog Mutiara Fadjar ini.

Terkait dengan rencana pembukuan blog ini, kami membuka diri untuk segala  informasi terkait prosedur pengiriman naskah kepada penerbit, sehingga proyek blog to book ini dapat terealisasi. Sebuah niat sederhana untuk hasil nyata.

Terimakasih. Jangan bosan-bosan mengikuti cerita kami, memberi Rate dan Comment sebagai bahan evaluasi juga meng-klik Share jika ada yang dianggap bermanfaat dari pengalaman kami. Semoga cerita-cerita kami bermanfaat sebagai kabar cerita dan informasi, syukur-syukur dapat menginspirasi.

Sampai jumpa lagi!!

A bientot!!

There is creative reading as well as creative writing.— Ralph Waldo Emerson

4 thoughts on “Sepuluh Ribu!!!

  1. Wuaww joo… Slamat yaa…
    I’m on of the fan jo! Inspiring bgt cerita2 nya…
    Even gw blm kenal muti scr personal, tp via blog ini jd berasa uda kenal lama ama istri tercinta mu ituu jo.. Haha..
    Gw dukung seribu persen klo mw dibukuin… Berhubung blm punya link ke penerbit dll, gw siap siaga deh jd volunteer promotor klo buku nya uda jadii… Hehehe..
    I’ll do reference to anyone who need an inspiration to read the book!
    Ayoo joo smangaatt!!!

    • Coree, thank you Cor..
      Skill kehumasan dan marketing lo makin membahana Cor..
      Jadi inget kolaborasi lo sama Elfa Welly Nugraha selama di IC dan Sansa
      Iya, dan memang “seharusnya” dulu Muti jd seangkatan ama kita. Hehehe.
      Makasih semangatnya.. Please do soo.. we’ll absolutely need your support Corr..
      Sukses terus ya, we’ll keep you updated

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s