Hidup di Belgia, Refleksi 5 Bulan Pertama

Esok hari tepat lima bulan kami tinggal di Belgia. Mencoba melakukan refleksi apa yang telah kami lalui, aku coba membahas sekelumit pengalaman dan pengamatanku terhadap berbagai aspek kehidupan di Belgia. Semoga ada manfaatnya untuk yang sedang mempersiapkan keberangkatan studi lanjut di Belgia.

Politik

The Heart of Europe. Secara geografis, Belgia terletak cukup di tengah wilayah Eropa barat dan dikelilingi beberapa negara tetangga strategis. Silakan cek di peta. Bagi para pelajar yang hobi jalan-jalan, ini tentu menjadi faktor yang menarik sehingga memudahkan akses traveling ke negara sekitar. Penerbangan dari dan ke Brussels sendiri menjadi salah satu yang terpadat di Eropa. Low cost flight pun banyak melayani trayek-trayek ini.

Secara politis, Belgia merupakan pusat pemerintahan Uni Eropa. Di Brussels lah European Comission berada. Kondisi ini mendukung banyaknya industri raksasa dari seluruh dunia untuk mendirikan Headquarter, branch office dan menjalankan bisnisnya di Belgia terutama di kota Brussels yang juga merupakan Ibu Kota Uni Eropa. Status inilah yang dijual oleh kebanyakan institusi pendidikan yang memiliki jurusan bisnis, finance, dan manajemen. Bertahun-tahun Brussels dan Leuven, kota di dekatnya, selain Rotterdam di Belanda menjadi incaran banyak pelajar di seluruh dunia termasuk Indonesia yang ingin belajar bisnis di Eropa.

Pemerintahan

Belgia merupakan negara yang berdiri di tengah-tengah perbedaan budaya. Hal ini mempengaruhi sistem pemerintahan yang dijalankan dengan membagi tiga kawasan besar pemerintahan. Flanders di Utara, dengan penduduknya yang berbahas Belanda. Wallon di selatan dengan penduduknya yang berbahasa Prancis. Dan Brussels Capital Region di “tengah-tengah” yang merupakan campuran keduanya dan mengakomodir kedua bahasa secara  legal juga merupakan kawasan paling beragam.

Ekonomi & Demonstrasi

Menurut laporan yang mereka publikasikan, Belgia masuk ke dalam 20 besar negara dengan ekonomi terbaik di dunia. Dengan GDP bahkan mengungguli Inggris dan Prancis. Tarif listrik dan bensin hampir selalu masuk ke dalam 5 besar yang termahal di Eropa.

Meski demikian, krisi ekonomi Eropa yang melanda tak urung mempengaruhi situasi ekonomi Belgia jua. Tidak seperti lima hingga sepuluh tahun lalu, kini pengemis dari berbagai bangsa sudah menjadi bagian dari wajah Belgia. Terutama di Brussels. Banyak pendatang yang kecele mencari penghidupan yang lebih baik tetapi justru ikut terjebak krisi di dalamnya.

Demonstrasi dan mogok publik dalam dua tahun terakhir ini seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Belgia. Sejak aku dan Muti tiba di sini pada Agustus lalu, setidaknya sudah dua kali mogok masal kami lalui. Pertama mogok transport publik se-kota Brussels pada bulan Oktober dan mogok nasional public service di seluruh Belgia pada Desember lalu. Mogok yang terakhir ini membuat dua sahabat kami Abi dan Pamung masing-masing harus berjalan 8 km dari stasiun dan bandara untuk mencapai tempat kami dan membuat kami berempat mencetak rekor sehari berjalan kaki total sejauh 30km. Lebih lanjut, insyaAllah 30 Januari nanti akan ada mogok nasional lagi.

Alasan aksi mogok yang selama ini terjadi umumnya terkait masalah ekonomi. Pertama krisis ekonomi Eropa dan yang kedua penolakan kebijakan pemunduran usia pensiun. Kelompok kaum pekerja di Belgia menolak usia pensiun yang akan diubah dari 62 menjadi 65. Wah, Indonesia aja 55, dengan catatan live expectancy kita memang jauh di bawah Eropa. Walau aksi mogok massal ini membuat jengah, bagiku aksi mogok ini cukup menarik karena public service  biasanya mengumumkan rencana mogok mereka satu hingga dua minggu sebelumnya. Tetep ae, njelehi!

Budaya

Mengingat Belgia secara garis besar terbagi menjadi dua wilayah utama. Flanders dan Wallon, karakter budaya negeri ini bisa dibedakan pula menjadi dua. Orang-orang Flemish dikenal agak menyerupai orang Belanda yang lebih dingin, kaku, perfeksionis dan punctual. Sementara orang-orang Wallon dikenal lebih ramah, senang berbicara, dan lebih santai

Kedua jenis karakter budaya di atas memiliki nilai kurang dan lebihnya. Juga kita tidak dapat serta merta memberi stigma karena tentu saja terdapat kadar yang berbeda pada setiap individunya.

Kalau boleh memilih aku sendiri lebih merasa sesuai dengan karakter orang Flemish yang lebih menyerupai orang Belanda dibanding Wallon yang agak menyerupai orang Prancis. Karakter yang lebih santai pada orang Wallon ini kadang mengarah pada unprofessional membuat aku beberapa kali megalami kerugian dalam tataran praktis dan administratif.

Bagaimanapun juga, secara umum orang Belgia cukup ramah dan pas. Yang saklek tidak (maaf) sekaku orang Belanda, yang santai tidak (maaf) selambat orang Prancis. Kalau harus membuat perbandingan simbolisasi karakter antara orang Belgia, Belanda dan Jerman, I would say: Belgian is nice, Dutch is friendly, German is cool.

Sosial

Posisi Brussels yang strategis menjadikannya sebagai salah satu kota paling multietnis di dunia karena didatangi banyak pendatang dengan berbagai keperluan dari studi, bekerja, hingga menetap dengan berbagai cara. Perlahan namun pasti kota-kota lain di sekitarnya dapat merasakan pengaruhnya.

Sejarah Belgia yang pernah memiliki pemerintahan atas Democratic Republic of Congo dan Rwanda menjadi salah satu faktor banyaknya imigran dari kedua negara mewarnai Belgia terutama, kota Brussels. Alasan lain, kebijakan pemerintah Belgia mendatangkan pekerja imigran asal Maroko untuk membangun indsutri di Belgia pada era 70-an membuat populasi warga keturunan Maroko cukup banyak dan terus tumbuh pesat. Penggunaan bahasa Prancis juga menjadi faktor lain banyaknya imigran asal Afrika di Belgia mengingat para pendatang dari negara eks-koloni Prancis dapat dengan mudah beradaptasi di Belgia. Terutama bagian Wallon.

Sedikit cerita menarik dari salah satu senior asal Indonesia mengenai pekerja imigran dari Maroko. Tahun 1970-an saat Belgia meminta Raja Maroko untuk mengirimkan tenaga kerja, Raja Maroko mengirimkan ribuan pekerja yang berasal dari kawasan di Maroko yang selalu bergolak oleh sikap warganya yang sering menentang kebijakan sang raja. Untuk meredakan polemik di sana, dikirimkanlah mereka ke Belgia. Ibarat “membeli kucing dalam karung” kemudian hari Belgia turut merasakan imbasnya dengan banyaknya pelanggaran disiplin dan keamanan yang cukup tinggi berasal dari kalangan pekerja yang sebelumnya sudah dianggap rebel ini. Namun demikian, seiring waktu, pendatang asal Maroko semakin beragam sehingga kini stigmatisasi warga asal Maroko sebagai pemicu kondis instabil tidak dapat dibenarkan lagi.

Memiliki pengalaman puluhan tahun dengan masalah imigrasi dan kependudukan, Belgia memiliki sistem Social Security Service yang cukup baik. Hal ini tergambar dari murahnya biaya pendidikan dan berjalnnya sistem jaminan dan pembiayaan kesehatan. Umumnya warga hanya membayar sekitar 20 persen biaya pelayanan kesehaatan. Sementara 80%nya akan mendapatkan ganti dengan sistem reimbursement.

Alam

Lebih dari 50% permukaan Belgia adalah wilayah hijau. Seperti halnya negara Eropa barat lain yang banyak memberikan ruang hijau di tengah kota, berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita para senior, Belgia merupakan salah satu negara dengan tatanan taman yang paling niat dan paling baik. Berada di Belgia adalah kesempatan yang paling baik untuk banyak jalan-jalan, joging, hingga piknik di berbagai taman yang tersebar di tengah maupun pinggir kota.

Pengeluaran dan Kebutuhan Sehari-hari

Membandingkan pengalaman hidup di Belanda, Belgia menawarkan biaya hidup yang relatif murah. Perlu diicatat besar-besar, pengeluaran berbanding lurus dengan gaya hidup dan masing-masing kita memiliki gaya hidup yang berbeda.

Berdasarkan pengalaman para pelajar Indonesia, beasiswa master yang umumnya berkisar 1000 Euro dan PhD yang berkisar 1700-2000 Euro adalah jumlah yang sangat cukup untuk bertahan hidup di Belgia. Sejauh ini dengan biaya akomodasi 400 Euro, aku dan Muti bisa bertahan dengan belanja konsumsi pangan berkisar 100 Euro perbulan. 100 Euro alokasi jalan-jalan. 200 Euro untuk berbagai keperluan seperti les, buku dan printer. 100 Euro kami potong untuk tabungan di depan. 100 Euro lagi untuk dimanfaatkan oleh yang membutuhkan. Sementara kami juga memliki alokasi pengeluaran tak terduga umumnya berkisar 100 Euro per bulan, yang aneh tapi nyata alhamdulillah sejauh ini selalu diimbangi pemasukan tak terduga juga dengan nilai yang sama.

Pendidikan

Seperti di Jerman dan negara Eropa yang masih memelihara sistem sosialis, pendidikan dasar di Belgia umumnya gratis. Biaya kuliah tingkat S1 tidak mahal bervariasi dengan rata-rata biaya 500 Euro per semester untu program non-internasional. Begitu pula untuk program master, biaya per semester untuk jurusan non-bisnis di universitas negeri juga berkisar 500 Euro per bulan. Di beberapa universitas, untuk jurusan tertentu bahkan diterapkan tuition fee sebesar 80 Euro saja per tahun untuk mahasiswa dari negara berkembang.

Varian harga akan jauh berbeda jika jurusan yang diminati adalah bidang terkait bisnis yang kebanyakan diselenggarakanoleh universitas swasta. Informasi mengenai pendidikan tinggi dapat diakses di website www.studyinflanders.be (Universitas di daerah Fanders dan www.studyinbelgium.be (Univeristas di daerah Wallon).

Sekolahku sendiri cukup unik. Universite catholique de Louvain, french-speaking univerist  terbesar dan terbaik di Belgia. Sekolah ini merupakan universitas pertama di Belgia, berdiri pada tahun 1425 di kota Leuven provinsi Noord-Brabant, wilayah Flanders dengan nama Katholieke Universiteit Leuven (KUL). KUL memiliki tradisi kuat dalam pengembangan sains dan iptek. Teori Big Bang milik Stephen Hawking berlandaskan penelitian kosmologi Georges Lemaitre pada era 1920-an. Pada tahun 1968 terjadi perseteruan hebat antara orang-orang Flemish dan Wallon. Hal ini menyebabkan orang-orang Wallon “terusir” dari kampus KUL dan perlu mendirikan kampus baru dengan para akademisinya yang berasal dari Wallon sehingga didirikanlah Universite catholique de Louvain, UCL di kota Louvain-La-Neuve, The New Leuven. Meski demikian, untuk kampus fakultas berbasis ilmu kesehatan terletak di kota Brussels. Secara geografis, lokasi kampus UCL ini dapat dianalogikan dengan kampus UI yang utamanya berlokasi di Depok dan Fakultas Kedokterannya di Salemba, Jakarta Pusat.

Tidak hanya di Leuven. Polemik antara Flemish dan Wallon ini juga berdampak pada universitas lain shingga kini di Brussels terdapat dua “Brussels Free University” yaitu Vrije Universiteit Brussel (VUB) dan Universite Libre de Bruxelles (ULB).

Pelajar dari Indonesia kebanyak melanjutkan studi di Flemish university, alasannya sederhana karena penggunaan bahasa Inggris yang jauh lebih awal, informasi asal universitas berbasis bahasa Belanda ini lebih tersiar secara luas. Begitu juga dengan komposisi mahasiswa internasionalnya yang rata-rata mencapai 30%. Sementara universitas berbahasa Prancis lebih didominasi oleh warga Wallon sendiri dan banyak pelajar pendatang dari negara-negara Afrika.

Bahasa

Faktor demografi memberi corak pada Belgia dengan memiliki tiga official language, Belanda, Prancis dan Jerman. Kebanyakan pelajar Indonesia menuntut ilmu di berbagai kota seperti Hasselt, Antwerpen,  Gent, dan Leuven yang berada di wilayah Flanders yang berbahasa Belanda. Kebanyak universitas di wilayah Flanders telah melaksanakan pendidikan master dan doktorat dalam bahasa Inggris.

Penguasaan bahasa Belanda atau Prancis selain Inggris menjadi modal yang sangat berharga untuk melanjutkan studi dan bekerja di Belgia. Sayang, modalku tidak tepat sasaran, belajarnya bahasa Belanda, dapat universitasnya berbasi bahasa Prancis.

Komunitas Indonesia

Secara kuantitatif komunitas Indonesia dengan berbagai latar belakangnya di Belgia terbilang besar. Di Brussels sendiri tercatat hampir seribu warga Indonesia berada dengan 30-an di antaranya mahasiswa yang sedang studi lanjut (S1, S2, S3). Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussels yang mencakup wilayah kerja Grand Duchy Luxembourg dan sebagai perwakilan untuk Uni Eropa memiliki peran penting dalam kerjasama Indonesia – Belgia dan Indonesia – Uni Eropa.

Kedutaan Besar Indonesia juga sangat aktif dalam mempromosikan budaya Indonesia melalui berbagai event lokal maupun Internasional di Belgia. Di antaranya mengikuti berbagai pameran pariwisata dan budaya hingga berpartisipasi dalam berbagai acara sosial. Kepada komunitas Indonesia sendiri KBRI juga memlihara hubungan yang sangat dekat dan harmonis. Berbagai acara untuk kepentingan komunitas Indonesia diselenggarakan dan difasilitasi oleh KBRI mulai dari perayaan hari besar, peringatan hari kemerdekaan, hingga pelestarian kesenian tradisional dan pendidikan anak usia dini.

Dua yang terakhir sangat menarik perhatianku. Yang pertama di mana aku dan Muti terlibat belajar menari Saman dan Pendet, ini Muti saja, aku nggak ikut-ikut. Dengan duet Oom Made bersama Tante Wayan yang selalu rajin mengenalkan dan melatih komunitas Indonesia kepada berbagai kesenian seperti gamelan, tari-tarian, dan atraksi lain, pelestarian kesenian tradisional di KBRI Brussels begitu hidup terasa. Yang kedua, baru saja diresmikan adalah TAMSASYA, kegiatan sarat muatan kreativitas untuk anak-anak Indonesia yang bermukim di Belgia.

Untuk pelajar yang tinggal di Brussels dan sekitarnya, KBRI Brussels dengan segala kegiatannya merupakan obat penawar yang adekuat jika sewaktu-waktu peajar mengalami homesick yang sangat.

Informasi lebih lanjut tentang studi di Belgia silakan mengunjungi website senior kami Mas Roil di http://roilbilad.wordpress.com/2010/12/11/kehidupan-mahasiswa-indonesia-di-belgia/#more-761

Semoga bermanfaat!!

A la prochain

————————————————————————————————————————————–

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaat kah tulisan ini?! Jangan ragu RateShare dan Komentar pada kolom di bawah ini!

Ingin membaca kisah-kisah penuh inspirasi? Kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/

Writing, to me, is simply thinking through my fingers.— Isaac Asimov

19 thoughts on “Hidup di Belgia, Refleksi 5 Bulan Pertama

  1. Maaf NIH ma’s mau koreksi sedikit Saya tgl di NL sdh 20 thn, tp menurut Saya org Belanda itu org paling ramah loh diantara orang2 Europa, malah bisa dibilang Lebih ramah dr org kita, Coba deh liburan ke NL pst Ma’s bisa buktikan ucapan Saya ini terima kasih, matur nuwun

    • Terimakasih Bu Etty, tulisan ini baru mencakup pengallaman lima bulan pertama. Dan sekarang menurut saya Bu Etty betul sekali, setelah sepuluh bulan kami mengalami banyak pengalaman rasis di Belgia ini. Yang frekuensinya lebih sering dari saat saya dulu tinggal di Belanda. Mengenai pengalaman di Belanda monggo mampir ke cerita kami di sini ya Bu.. Terimakasih, Belanda adalah tempat ternyaman di Eropa untuk saya dan alhamdulillah istri juga suka https://mutiarafadjar.wordpress.com/2012/01/10/hollandse-honeymoon-sembilan-hari-penuh-arti/

      • silakan, paling mudah cari lowongan pekerjaan dari perusahaan2 belgia, dapatkan letter of acceptance dari perusahaannya/kontrak lebih baik lalu daftar visa bekerja ke kedutaan belgia

    • kami sudah kembali ke Indonesia sejak Juli 2012.
      banyak mahasiswa Indonesia dan mereka semua dapat ditemu melalu Facebook group PPI Belgia.
      silakan dicoba, sangat ramah dan baik2 semua

  2. Apakah ada teman-teman yang berkuliah di Hasselt? Ada teman ynag mau share appartemen yang cukup besar dengan seoarang mahasiswi. Teman ini orang Belgia. Jika ada bisa kontak ke saya dan bisa diberikan detail lebih lanjutnya. Terima kasih.

    • Mudah sekali, karena banyak imigran Maroko dan negara populasi besar Muslim lain sudah banyak masjid dan di universitas pun ada musholla.

  3. selamat siang mba Muti dan mas fajar, mau tanya apakah mas dan mba ada informasi mengenai pernikahan dengan warga negara luxembourg di luxembourg ?
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s