Sweet Things, Sweet Guys

Malam Minggu Klepon
“Mas beasiswanya sudah keluar belum?”

“Hmm, mungkin sudah. Tapi belum ngecek, kalau ternyata belum nanti takut lemes. Senin aja ya?”

“Yah, pengen belanja supaya bisa masak enak sekalian bikin klepon!”

Yak, K-L-E-P-O-N, Klepon saudara-saudara! Akibat menyimak video pembuatan klepon yang diunggah zus-zus mahasiwi Belanda di Youtube, minggu ini Muti begitu bersemangat untuk membuat klepon pertamanya. Melihat kesungguhan istriku, aku pun mengumpulkan keberanian untuk mengecek rekening ING-ku.

“Alhamdulillah, sudah turun Yang uangnya!!”

Tanpa buang waktu lagi kami langsung membagi tugas. Muti belanja, aku di rumah. Hehehe, bukan apa-apa, kalau aku ikut kadang bikin recok dan apa yang dibutuhkan malah tidak jadi dibeli.

Bermodal koper berdimensi 70x50x40 cm Muti berhasil membawa pulang kebutuhan dasar pangan kami hingga tiga minggu ke depan. Harus menggeret koper ini seorang diri, alhamdulillah sepanjang perjalanan Muti mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Berbeda halnya jika kami belanja berdua, orang akan mengira, “oh, ini laki rajin sekali, belanja bulanan masih sempet bawa ponakannya” dan membiarkan kami begitu saja.

Koper ini kuprediksi berbobot 16 Kg, melihat dari 10 liter susu dan dua lusin telor yang dibeli saja sudah bisa mencapai 13 Kg. Sebagai catatan, susu dan telor adalah konsumsi terbesar kami selain roti dan nasi, mengingat kandungan gizi dan harganya yang di sini lebih murah daripada di Jakarta. Dengan syarat tambahan belanjanya di supermarket termurah di Belgia, Colruyt.

Sampai di rumah kami langsung berjibaku menyiapkan makan malam. Melihat bumbu sate yang sudah teronggok rapi lima bulan, kami putuskan membuat sate ayam. Dikarenakan tidak adanya tusukan, kami putuskan ayam ini hanya kami goreng dengan bumbu dasar, kemudian melumurinya dengan bumbu sate. Sate kelar, Muti mulai mengerjakan proyek kleponnya. Aku menanti klepon yang sudah direbus untuk dibalur dengan parutan kelapa. Sayang, kami tidak berhasil menemukan ppasta pandan. Sebagai penawarnya, kami memberikan aroma rose pada serombongan klepon ini.

Meski tidak berhasil menemukan pasta pandan untuk memberi warna hijau, inilah klepon paling bersejarah dalam hidup kami. Pas pengen nglepon, pas turun beasiswanya, alhamdulillah Penampilan yang bersahaja dari klepon ini, dengan warna putih bersih, disesuikan dengan musim yang sedang bergulir, maka kuberi klepon ini nama, Klepon Salju.
Sate dan Klepon, dua makanan manis ini rupanya menjadi pertanda akhir pekan yang manis kali ini.
Klepon Salju

Ayam Goreng Sate

The Sweet Antwerpers
Hari Minggu ini kami janjian untuk mengunjungi salah satu sudut kota Brussels bersama Patty, Anthonie Sophie dan Tom. Tom yang sempat kuliah di Brussels mengajukan diri sebagai tour guide. Tujuan pertama, kami mengunjungi musee du Margrit, berisi karya Rene Margrit seorang pelukis beraliran surrealis asal Belgia yang berguru kepada sang maestro Salvador Dali.
Gelagat enak sudah sejak awal terasa, pertama, kami dibiarkan untuk tidak membayar tiket museum oleh Anthonie. Masuk ke museum yang dikelola dengan sangat impresif, bersih dan berkelas ini membuatku merasa tidak sedang berada di Brussels yang belakangan sangat padat dan kurang terpelihara. Awalnya, menikmati pemandangan surealis selalu bekerja bertolak belakang untukku dan Muti. Muti bisa dengan santai menikmati, aku biasanya duduk di kursi pusing sendiri. Tapi semakin sering terpapar, memang ada cara tersendiri untuk menikmati karya para master surealis ini. Saking bisa menikmatinya kali ini kamera hanya bergelantungan di leherku.
Usai berkeliling museum, memasuki museum shop, gelagat enak kembali terasa. Benar saja baru beberapa langkah kami masuk..
“Muti, I want you to choose one you like, I want to give you!” seru Patty menunjuk beberapa lukisan repro Rene Margrit. Alhamdulillah.
Tiba saat makan siang, aku dan Muti yang bertindak sebagai tuan rumah karena saat ini tinggal di Brussels justru dilarang untuk mentraktir bahkan untuk membayar makanan kami sendiri. Tujuan berikutnya adalah Marolle. Di masa medieval, Marolle adalah kawasan yang didiami oleh warga kelas menengah Brussels. Kondisi jalan dan beberapa gedung yang masih tegar berdiri seolah setia bercerita bagaimana kondisi masyarakat yang mendiami wilayah itu di abad pertengahan.
Usia berkeliling sembari menikmati wafel yang dijual dengan mobil VW combi yang disesuaikan sedemikian rupa kami memutuskan untuk beristirahat menghabiskan waktu sambil berbincang dan minum kopi. Kali ini aku menolak ditraktir. Yaelah, beraninya cuma nolak ditraktir kopi.
Usai minum kopi, kami pun berpisah. Menanyakan tujuan masing-masing, aku dan Muti sadar, Patty, Anthonie, Sophie dan Tom hari ini datang dari Antwerp ke Brussels hanya untuk mengajak kami jalan-jalan. Sambil berjalan menuju Metro Station De Brouckere aku dan Muti membatin hal yang sama. These guys, they came all the way to Brussels and please us. Isn’t that sweet..

The Antwerp Gang

The Sweet Indonesian Bruxellois

Akhir pekan yang manis ini kami akhiri dengan makan malam bersama The Sweet Indonesian Bruxellois, nama keren untuk PPI Brussels yang beranggotakan puluhan mahasiswa dari berbagai kelompok usia tetapi yang jelas manis dan ceria. Seperti sudah otomotis, berhubung aku dan Muti datang dengan tangan hampa, sementara makanan sudah siap tersedia, merasa belum berkontribusi nyata, usai makan malam kami pun langsung nge-DJ di dapur, alias nyupir sedan, nyuci piring sendok garpu dan sebagainya bersama Aswin sebagai DJ utama. Sementara kami mencuci, dari ruang seberang terdengar lantunan lagu-lagu mahasiswa rantau full galau dimainkan. Mulai dari “Dimana” Ayu Ting-Ting hingga “Cinta Satu Malam” dari Melinda yang fasih dipilihkan oleh DJ Anto dari Bandung.

Nyupir Sedan

Happy to see you all again guys, Mbak-mbak, Mas-mas..

Ingin terus mengikuti cerita kami? Klik Folow pada WordPress page ini.

Bermanfaat kah tulisan ini?! Jangan ragu Rate, Share dan Komentar pada kolom di bawah ini!

I am a drinker with writing problems. — Brendan Behan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s