Numpaq Sepur Senel

Sore tadi adalah ujian Prancis terakhirku. Melihat hasil yang langsung dibagikan oleh guruku, Nicholas,  menunjukkan hasil yang lumayan, ketika kami diminta membahas lagi soal ujian tadi, aku sudah tiak begitu memperhatikan. Aku malah melamunkan bagaimana mulanya beberapa bulan yang lalu, aku dan Muti memutuskan untuk benar-benar berusaha menguasai Prancis ini.

Selain karena kebutuhan dan percaya bahwa belajar bahasa itu banyak manfaatnya, kami memutuskan untuk belajar bahasa Prancis juga karena sebagai pasutri, kami merasa perlu memiliki satu “common language” untuk komunikasi khusus  kami berdua dalam situasi mendesak tertentu. Saat menawar harga misalnya. Hehehe.

Aku sendiri mulai menganggap common language” penting bagi pasutri karena terinspirasi  cerita dari pakde, bude, oom dan tante kala kami berkumpul saat lebaran beberapa tahun lalu. Cerita sama yang selalu diulang di setiap kami berkumpul di hari lebaran, tapi masih tetap membuat kami tertawa. Bahkan ketika sekedar mengingatnya.

Kinderen wis di-krijgen?”

Dengan dialek Pemalang khas keluarga besar dari sisi Bapak, Tante Yuni meniru bagaimana Mbah Opo (Mbah Sofro) menanyakan kepada Eyang Mami apakah anak sudah diberi uang saku. Kinderen dalam bahasa Belanda sendiri artinya anak-anak. Sementara krijgen berarti menerima.

Sebagai generasi yang besar dan bersekolah di bawah sistem pemerintahan Belanda, bahasa Belanda menjadi bagian dari komunikasi keduanya. Mungkin karena sudah saking melekatnya, penggunannya pun dicampur sekenanya.

Mam, kiye kinderen vervellend Mam!”

Tanpa membuat anak-anak menyadari kalau sedang dirasani, Mbah Opo dan Eyang Mami tetap bisa berkomunikasi dengan nyaman satu sama lain.

Itulah salah dua contoh bagaimana “common language”, meski dicampur-campurdapat bermanfaat. Selain ketika membuat keputusan di hadapan penjual, polisi, atau siapapun kami perlu bernegosiasi.

Mencampur-campur bahasa seperti ini, asal baik motivasinya,  menurutku sah-sah saja. Justru cerita-cerita menggelikan ini yang dulu memotivasiku untuk belajar bahasa Belanda, menguak “mitos” mana yang lebih berpengaruh dalam hubungan saling mempengaruhi antara Bahasa Jawa dan Belanda. Masih banyak cerita lain di keluarga kami mengenai campur-campur bahasa ini.

Suatu hari Mbah Opo menganjurkan Pakde ku yang hendak naik kereta untuk memilih kereta ekspress agar lekas sampai. Masih dengan logat Pemalang yang diceritakan ulang Pakde ku Mbah Opo berkata, “Numpaq Sepur Senel baen, men cepet..”.

Sepur Senel sesungguhnya berasal dari kata Sneltrein atau kereta cepat. Dalam bahasa Jawa, kata spoor yang berarti jalur, dikeliruartikan menjadi kereta.

Cerita lain, setengah ingin tahu dan setengah becanda, Pakdeku pernah bertanya padaku, “Mas Wowok, waktu Pakde muda di Pemalang gardu-gardu PLN ada tulisan peringatan dalam bahasa Belanda, lalu ada terjemahan di bawahnya bener nggak kayak gini?”

“Apa itu Pakde?”

Levensgevaar, sing ngemek mati!!”

I loved words. I love to sing them and speak them and even now, I must admit, I have fallen into the joy of writing them. -Anne Rice-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s