Serba-Serbi Salon Des Vacances

1 Februari 2012

“Sayang, aku sudah siapin sotonya, nanti tolong gorengin kerupuknya sebelum jemput Michelle yaa!”

“Siap!!” aku terima pengajuan “nota kesepahaman” dari Muti sebelum ia bergegas menuju KBRI di Tervuren.

Beberapa minggu belakangan Muti sibuk belajar Tari Pendet dari Rama dan Shintanya kesenian Indonesia di Brussels, Tante Wayan dan Oom Made. Hari ini Muti harus mengikuti gladi resik acara pembukaan Salon Des Vacances yang diadakan esok hari di Brussels Expo. Muti juga direncanakan akan menampilkan Tari Pendet sebagai pembukaan event pameran pariwisata ini oleh Panitia dan Bapak Dubes RI, Bapak Arif Havas Oegroseno. Sepulang dari gladi resik Muti langsung berangkat les bahasa Prancis. Sehingga soto dan pelengkapnya sengaja sudah disiapkan sejak pagi tinggal aku goreng krupuknya dan terpaksa tidak bisa turut serta menjemput tamu istimewa dari Groningen.

Ya, hari ini kami kedatangan tamu istimewa dari Groningen. Siapa lagi kalau bukan Michelle yang ditemani Dandi dan Rian. Sebelum menjemput mereka di Mannekin Piss, tidak lupa aku siapkan dulu krupuk udang istimewa asli Sidoarjo yang kami simpan khusus kalau ada tamu. Sementara kami biasanya makan krupuk Viet Nam yang diimpor Belanda saja. “Untuk kita yang biasa aja, untuk tamu harus yang spesial”, begitu selalu kata istriku.

Sore menjelang, aku janjian bertemu dengan Michelle, Dandi dan Rian di Manneken Piss. Michelle pernah tinggal di Belgia, Lubbek tepatnya, sehingga tidak terlalu asing dengan centrum Brussels terutama untuk menemukan patung anak kecil yang tidak pernah berhenti pipis ini. Sedikit informasi istimewa, 17 Agustus tahun 2012 ini Mannekin Piss akan mengenakan salah satu pakaian tradisional dari Indonesia.

Dari Mannekin Piss, aku yang bertindak sebagai tour guide berturut-turut menggiring ketiganya menuju Grand Place, King and Queen Galery, Janneke Piss, Bourse, St. Michael Cathedral dan Parc du Cinquantenaire. Sebelum kami semua menjemput Muti di Metro Station Rodebeek, dekat dengan tempat kurusnya.

Malam dengan suhu -5 derajat itu kami akhiri dengan menghangatkan diri bersoto-ria dan minum teh Prendjak panas sambil bertukar cerita dan tawa di studio mungil kami tercinta. Tidak lupa untuk kami saling tukar kado, wafel dari Belgia dan tempe dari Belanda.

Dandi, Michelle, Rian di antara kasur angin "Hotel MutiaraFadjar"

2 Februari 2012

“Mas, ayo kita foto di Atomium!!”

“Yakin?” sahutku.

Awalnya “sesi foto” ini memang sudah kami rencanakan sejak di rumah. Tapi melihat perkembangan suhu hari ini aku pikir rencana akan berubah. Memang kesempatan yang langka, foto dengan baju daerah di depan landmark utama suatu negara, tapi suhu di luar saat itu -8 derajat Celcius!!

“Kapan lagi..”

Tanpa ba bi bu, masih dengan kostum Tari Pendet lengkap, dengan selembar winter coat dan sandal jepit Muti menyeretku untuk mengambil foto di depan Atomium yang berjarak sekitar 500 m dari Brussels Expo.

Dandi, Michelle, Muti, Fadjar

Bersama Mbak Nina, Nur, dan Armanda, Muti baru saja sukses menampilkan Tari Pendet dari Bali sebagai pembukaan Salon des Vacances Bruxelles atau Brussels Holiday Fair  ini.

Kesuksesan penampilan para penari Pendet ini tidak lepas dari permainan Gamelan Ibu-ibu Dharma Wanita KBRI yang memikat. Penampilan yang sudah membuatku begitu penasaran, sejak pertama kali kulihat di acara resepsi diplomatik KBRI Brussel di Luxembourg. Baru pertama kali ini aku menjumpai Ibu-ibu Dharma Wanita di lingkungan institusi negeri begitu kompak terlibat aktif di promosi seni dan budaya Indonesia di luar negeri. Ketika kutanyakan pada salah seorang ibu apa rahasianya.

Nggak enak sama Bu Dubes tiap kali beliau selalu ikut latihan!”

Penari Pendet , Gamelan Ibu-ibu Dharma Wanita bersama Ibu Dubes

Ah, betapa teladan adalah senjata ampuh bagi para pemimpin. Bukan sekedar unjuk fasilitas dan kekuasaan seperti oknum wakil rakyat di Senayan.

Sang Merah Putih di Belgia

Kami merasa sangat beruntung bahwa keberadaan kami yang hanya sepuluh bulan di Brussels ini bertepatan dengan partisipasi Indonesia, diwakili KBRI Brussels dan didukung Kementrian Parekraf, sebagai host country dalam Salon Des Vacances. Bersama masyarakat Indonesia di Belgia kami berkesempatan menampilkan berbagai kesenian tradisional Indonesia.  Selama 5 hari ini, KBRI Brussel dan komunitas Indonesia di Belgia menampilkan Tari Pendet, Tari Saman, Tari Rantak, Tari Merak, Tari Muli Betangkai, Legong Keraton, Bajidor Kahot, dan pertunjukan Angklung. Benar-benar kesempatan yang langka. Bahkan bendera Merah Putih sempat dikibarkan di hari-hari awal pelaksanaan acara.

Salon Des Vacances Bruxelles adalah agenda rutin dunia pariwisata Belgia, mempertemukan para calon pewisata dengan destinasi wisata terbaik di seluruh dunia. Melihat animo pengunjung pada pelaksanaa sebelumnya, tahun ini diperkirakan kembali lebih dari 100.000 pengunjung akan membanjiri event yang diadakan untuk ke lima puluh empat kalinya ini.

Bersama Miss Belgique, cantikan yang dari Indonesia

Malam pertama penyelenggaraan Salon Des Vacances dilengkapi dengan agenda dialog pariwisata . Sebuah dialog yang sangat mencuri perhatianku sepanjang berlangsungnya, bagaimana tidak, dialog yang melibatkan lima orang pakar dunia pariwisata dan satu moderator ini selama dua jam berjalan dalam dua bahasa, Prancis dan Belanda. Bukan seperti di parlemen Eropa maupun sidang PBB yang dilengkapi penerjemah, para ahli ini saling menimpali pendapat satu sama lain dengan tetap menggunakan bahasanya masing-masing. This is so Belgian!! Lucunya penutur bahasa Belanda (Flemish) tidak jarang “terpaksa” bergonta-ganti bahasa untuk memastikan idenya dipahami lawan partner dialognya yang berbahasa French Belgique (francophone). Di akhir dialog, aku, Muti dan kawan-kawan Saman KBRI yang lain, mempersembahkan Saman sebagai penutup agenda malam itu. Permintaan panitia agar penari Saman sudah berada di hall di mana dialog diadakan sejak awal acara, membuat kami harus menunggu giliran tampil hingga dua jam di dalam kostum lengkap sambil menahan lapar dan kedinginan. Tetapi justru karena kedinginan dan kelaparan, kami jadi tampil lebih  semangat dan bergerak lebih cepat!

Sekotak Berdua Nasi Goreng Bebek Jatah Konsumsi Penari Saman

3 Februari 2012

Hari ini hibernasi judulnya. Sama-sama kelelahan usai pentas dan jalan-jalan di hari pembukaan, kami memutuskan untuk tinggal dan membereskan studio. Malam ini kami akan kedatangan tamu lagi. Sahabat istimewa kami lainnya, Pertha! Di hari pernikahan kami Agustus lalu di Jakarta, Pertha menjadi salah satu Pager Ayu nya. Seperti reuni yang telah diatur, empat bulan lalu, selang beberapa minggu setibanya kami di Belgia, Pertha  mendapat tugas untuk menjalani internship selama tiga bulan di KBRI Brussels. Kami pun kembali bertemu. Saat ini Pertha sedang mengikuti pendidikan diplomat di Belanda dan berkesempatan untuk mampir ke Brussel dan menyaksikan penampilan kami di Salon Des vacances ini.

Bukan kebetulan menurut kami apa yang terjadi. Seolah sudah pertanda dari-Nya, sebulan sebalum pernikahan Muti sempat menginisiasi reuni sekaligus mengklarifikasi pernikahan “jeruk makan jeruk” sesama returnee AFS  di antara sahabat AFS kami di Jakarta. Maksud hati ingin berbagi denganku yang belum kembali ke Jakarta, sebuah foto mereka ambil dan tag padaku.

Tampak Pertha merangkul Muti dan duduk bersebelahan. Mungkin ini pertanda kalau di Brussel kami akan “bertetangga”.

4 Februari 2012

Hari ini kami kembali “bertugas” menampilkan Tari Saman. Tdak tanggung-tanggung dua penampilan kali sekaligus. Sekali di panggung Indonesia, sekali di panggung Asian Village. Semangat dan kebanggan kami berlipat ketika kami tahu penampilan kami akan disaksikan Patty, Anthonie dan Sophie. yang jauh-jauh datang dari Aalst untuk melihat penampilan kami.

Fadjar, Muti, Patty, Anthonie, Sophie

Usai menampilkan Saman, kami langsung diboyong ke rumah orang tua mereka di Aalst. Memenuhi undangan makan malam, sekaligus memenuhi janji kami memasak di rumah mereka.

Menyiapkan Gulai, Ayam Goreng, Oseng Buncis

5 Februari 2012

Hari ini pengunjung Salon Des Vacances terutama stand Indonesia benar-benar melimpah ruah. Tidak hanya warga Brussels dan sekitarnya, komunitas Indonesia dari berbagai kota, baik pelajar maupun yang bekerja, juga tidak kalah turut meramaikan. Stand Indonesia hari ini menampilkan Tari Muli Betangkai, Pendet, pertunjukan Angklung dan Legong Keraton.

Melihat permainan gamelan adik-adik Indonesia baik yang lahir di Indonesia dan hanya beberapa tahun di Belgia hingga yang lahir bahkan campuran darah Indo-Belgia ini, aku jadi ingin segera punya anak. Eh salah, maksudnya ingin juga bisa menanamkan seni tradisional Indonesia ketika dikaruniai kelak. Bukan sekedar kurikulum ekstra yang kemudian untuk dilupa.

Apresiasi spesial untuk penampilan gamelan anak “Vitasati” dan gamelan dewasa “Saling Asah”, dari penampilan kedua kelompok arahan Oom Made ini terlihat jelas betapa seni Indonesia tidak hanya sekedar untuk dipelajari dan dipertontonkan oleh para seniman ahli, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sendiri bahkan sahabat luar negeri. Tidak pandang usia, tidak pandang latar belakang budaya.  Sebuah kesan yang kutangkap semakin jelas manakala di akhir hari kutanya Oom Made yang terkenal di Belgia dengan Ciaatt Band nya,

“Oom, kalau event  seperti ini KBRI nggak rencana ngundang artis dari Indonesia? Biasanya KBRI pada begitu..”

“Pak Dubes nggak mau yang kayak gitu..”

Oom Made bersama Gamelan Anak "Vitasati" didukung Bapak Dubes Arif Havas Oegroseno

6 Februari 2012

Hari ini hari terakhir Salon Des Vacances. Sayang, meski ingin aku dan Muti tidak bisa hadir karena sudah harus sekolah dan les lagi. Menyaksikan sendiri sebagian besar penampilan dan pertunjukan seni Indonesia di Salon Des Vacances, kami sepakat, partisipasi total komunitas Indonesia di Belgia tidak lepas dari totalitas Oom Made dan Tante Wayan dalam memelihara dan mengembangkan seni Indonesia sejak semula.

Bravo Oom Made, Brava Tante Wayan, Bravo KBRI Brussel! Ciiaaattt!!!

6 thoughts on “Serba-Serbi Salon Des Vacances

  1. Hi Mas! Salam kenal, aku Aulia, mahasiswi UGM yang sekarang sedang exchange di KU Leuven (jadi kita tetanggaan deh hehe!). Blognya bagus deh, informatif bgt, and you both complement each other and look very romantic :”) [terjemahan: jadi iri] Aku mau nyewa kostum tari bali Mas (untuk Halloween sih sebenernya hehe), kemarin Mbak Muti dkk dapet kostum dari mana ya, dari Pak Made-kah?
    Terima kasih sebelumnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s