Mutiara Namanya

Bayi cantik itu lahir di suatu pagi yang cerah  di RS Bersalin Asih, Kebayoran Baru. Merupakan rumah sakit bersalin terbaik pada era itu dan masih menjadi pilihan utama banyak warga Jakarta hingga saat ini.  Kelahirannya  ditolong oleh dr. Waluyo Sapardan, Sp.OG. Seorang ahli kandungan ternama, bahkan para artis rela mengantri menjadi pasiennya.

Demi menantikan kehadiran Sang Dokter yang cakap bersosialita, malam itu Sang Ibu menunggu Sang Dokter dengan rela. Bahkan para perawat pun  tidak berani menghubunginya.  Tepat 23 tahun lalu, pukul 9:20 pagi, 23 Februari,  hanya sepuluh menit setelah Sang Dokter tiba,  bayi berkulit putih bersih itu lahir ke dunia.  Sang Ibu sudah menyiapkan nama  untuknya, Monika, terkesan dengan bocah cantik Monika yang selalu riang dan tidak bisa diam.

Namun Sang Ibu berubah pikiran dan mengganti menjadi Mutiara, yang dirasa lebih pas dan indah dengan harapan sang bayi akan tumbuh menjadi gadis cantik dan berhati mulia.

Bayi Mutiara tumbuh sehat dan sempurna, umur enam bulan sudah bisa merangkak meniti tangga dan pada umur sebelas bulan sudah bisa berjalan.  Umur tiga tahun  masuk Taman Kanak Kanak dan sudah terlihat sifat percaya dirinya yang tinggi.

Mutiara mendapat didikan keras dari Sang Ayah,  sehingga tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat aktif dan berani. Ketika umur tujuh tahun Mutiara kecil terluka. Di Mall Metropolitan Bekasi, lengan tangan  kanannya patah karena Mutiara yang lugu bermaksud melambaikan tangan, memasukkan lengannya di jeruji kincir angin yang sedang berputar. Dibawa ke RS Mitra Keluarga sambil menangis menahan sakit dia berteriak-teriak, “Allahu Akbar..Allahu Akbar..!”

Dokter, pengunjung, pasien dan perawat di rumah sakit terharu iba mendengar jeritannya. Melihat Mutiara kecil yang berbeda dengan anak seusianya.

Waktu berjalan, di bangku SMP Mutiara tumbuh menjadi gadis mandiri. Diterima program akselerasi, ia meninggalkan rumah di Bekasi, tinggal bersama Sang Pakde dan Bude di Slipi. Setiap pagi ia berangkat  ke Al-Azhar di Kebayoran Baru dengan mengambil bus kota di depan RS Harapan Kita. Melintas jembatan penyeberangan Harapan Kita, setiap pagi Mutiara menyedekahkan sebagian uang jajannya kepada mereka yang selalu duduk tersebar di atas sana.

Suatu hari tiba-tiba ia ditunjuk oleh gurunya untuk ikut lomba pidato antar SMP di Jakarta.  Tanpa persiapan dia berangkat mengikuti lomba, dan dalam kegalauannya menunggu waktu  dia sholat dhuha. Di akhir lomba dan pengumuman  pun tiba, di luar nalarnya dia mendapatkan dirinya menjadi juara pertama.

Atas nasehat Ayah tercinta,  ketika masuk SMA 8 Jakarta Mutiara dianjurkan mengikuti berbagai macam kegiatan ekstrakurikular, agar belajar berorganisasi dan memupuk jiwa sosialnya. Hari tertentu, selepas sekolah ia menyambangi anak jalanan di Rumah Singgah Sakinah, kepada mereka mengajari Matematika. Semua dilakukannya di kala teman-teman sekelasnya sibuk dengan tuntutan program akselerasi.

Di penghujung bangku SMA, kala siswa lain sibuk menentukan bangku kuliah dan memperiapkan ujian, Mutiara malah sibuk latihan menari dan menyanyi  mempersiapkan diri menjadi duta Indonesia lewat program pertukaran pelajar Bina Antarbudaya – AFS, satu tahun ajaran ke Italia.

Menghabiskan sepuluh bulan tinggal bersama keluarga Romano di sebuah desa terpencil berpenduduk seribu orang, lebih sedikit dari domba yang digembala, Mutiara bertemu dengan Patty, salah satu sahabat sejatinya.

Kembali dari Itali, hanya beberapa minggu setelah mendaratkan kakinya di Jakarta Mutiara kembali harus terbang meninggalkan tanah air Indonesia. Kini ke Jepang memenuhi kesempatan beasiswa. Begitu dahsyatnya tantangan yang harus dihadapi seorang diri selama di negeri Sakura. Berbekal niat suci membahagiakan orang tua ia berhasil mendapatkan gelar sarjana tepat pada waktunya.

(Ketika teman seangkatannya sibuk bertahan di Jepang dan mencari kerja, Mutiara begitu yakin untuk segera kembali pulang ke Jakarta. Entah dalam bentuk apa, tapi ia yakin ada yang menantikannya.)

Puncak kesuksesan Mutiara adalah ketika ia menemukan jodohnya. Di depan Masjid Agung Al-Azhar Allah mempertemukan keduanya. Dalam waktu singkat,  atas ridho Allah SWT dan restu kedua belah pihak orang tua, Mutiara dan Fadjar akhirnya berikrar diri  untuk hidup bersama. Ternyata ini yang “menarik” kepulangannya.

Begitu “sederhana” perjalanan hidup Sang Mutiara, segalanya berjalan begitu cepat dan  indah. Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah mengatur perjalanan hidup hamba-hambaNya dengan begitu sempurna.

Selamat ulang tahun anakku tersayang Mutiara.., semoga Ananda selalu bahagia, semakin  sabar dan dewasa dalam menjalani kehidupan rumah tangga.  Tetap menjadi istri yang istiqomah dan shalehah kebanggaan suami tercinta. Amiin.

With all best wishes and love,

Peluk Cium,

Mama & Papa

I Live to Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s