Paris Manis, 1

Mardi, 27 March 2012

“Wih, mirip banget ya Wowok sama Oom Udji. Kalo Edo kan mirip Bapake, Oom Sophie, iki si Wowok mirip karo Oom Udij. Wis jan, ora ngapusi Dik Muti, bisa mirip nemen si yaak,” seru Mbak Nunuk saat memasuki ruangan tempat aku menjalani internship di CRED (Center for Research on Epidemiology of Disaster). Kumplit dengan logat khas Brebes nya yang kental dan tertib qolqolah kubro’. Terakhir kali aku dan Muti bertemu Mbak Nunuk adalah di hari pernikahan kami Agustus lalu. Menurut Mbak Nunuk, tongkronganku sekarang sangat mirip dengan Oom Udji, adik nomor sebelas almarhum Bapak. Kami tidak mengira, selang beberapa hari kemudian seruan Mbak Nunuk ini ternyata merupakan sebuah pertanda kebetulan manis di Paris.

Jeudi, 10 Avril 2012

“Oke, cakep deh.. Yuk jalan lagi!” ujarku sambil memasukkan kembali kamera ke dalam tas.

“Yang, bener kan kubilang, pasti ketemu orang Indonesia!” seruku penuh yakin.

“Mana, koq tau?” sahut Muti cepat.

“Tadi kefoto di belakang kamu..”

Ih kamu terus kenapa kalau orang Indonesia.. Awas, kualat lho nanti.” Jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah “mewanti-wanti” Muti, kalau di Paris pasti akan ketemu orang Indonesia. Bukan apa-apa, setiap kali aku berada di Paris, aku sering terkejut dengan begitu seringnya bertemu sesama orang, seringnya dalam sebuah rombongan dari Indonesia. Pertemuan-pertemuan ini biasanya menyimpan cerita menarik di baliknya. Salah satu pengalaman menarik, saat pertama kali tiba di Paris tujuh tahun lalu tidak sengaja aku bertemu dengan Pak Arif Rahman pakar pendidikan Indonesia yang saat itu sedang menghadiri konferensi UNESCO di Paris. Empat bulan sebelumnya, Pak Arif Rahman baru saja memberikan training kepada kami para siswa pertukaran pelajar Bina ANtarbudaya di orientation camp yang kami ikuti selama seminggu di Taman Mini. Mengetahui aku seorang siswa program AFS yang juga pernah beliau ikuti semasa SMA, beliau mengajakku berbincang-bincang dan bertukar kabar. Di akhir perbincangan beliau meninggalkan pesan sekaligus salam tempel, “Nih, untuk beli Coca Cola. Bawa selalu nama baik Indonesia!” Sejak saat itu selalu saja ada pertemuan menarik dengan sesama warga Indonesia setiap kali berada di Paris.

Belum jauh kami melangkah meninggalkan tempat kuambil foto Muti di depan gerbang istana Versailles tadi, langkahku terhenti. Tampak, serombongan bapak ibu berwajah khas Indonesia sedang berpose di depan kompleks istana Versailles. Mau tidak mau aku dan Muti beririsan jalur dengan rombongan Indonesia tadi yang sama-sama menuju entreé  Le château de Versaille. Tiga wajah di antaranya terasa begitu familiar bagiku, menangkap telak pandanganku.

“Yang, Allah bercanda lagi coba Yang..”

“kenapa Mas?”

“Lihat itu siapa di dalam rombongan Indonesia yang Mas bilang tadi..” kuarahkan kepalaku memancing pandangan Muti ke tiga sosok yang sedang aku fokuskan. Masih setengah tidak percaya dengan sosok yang aku lihat, aku bilang kalau Allah bercanda. Maksudku Allah yang tidak mungkin bercanda dengan makhluk-Nya, untuk ke sekian kalinya menunjukkan kuasa-Nya kepada kami berdua. Bagaimana Dia bisa mengatur segala sesuatu tanpa bisa lagi akal sehat kami dengan sederhana mencernanya. Cukup meyakininya.

“Heh? kayak Tante Retno??!”

“Iya kan, terus itu Dik Laras sebelahnya. Nah, itu Oom Udjie lagi ambil foto!”

Aku tak bisa lagi bersuara untuk memanggil. Hanya melambaikan tangan sambil melempar senyum dengan lebar jarak optimal khas keluarga kami. Alhamdulillah, keluarga kami dianugerahi cukup keunggulan dalam bidang senyum. Selain sumeh, setiap kami senyum, barisan gigi kami akan serentak maju tanpa ampun. Desakan barisan gigi ini bahkan tak tertahankan lagi oleh kedua belah bibir. Dalam berbagai foto keluarga kami, semuanya pasti kelihatan gigi, bahkan gusi. Anugerah herediter ini sangat membantu kami untuk mengenali sesama anggota keluarga secara anthropologis, juga memperlancar rizki kami. Dengan konstruksi anatomi gigi seperti ini, kami menjadi mudah disenangi atasan, guru, dosen, klien dan pasien. Meski begitu, anugerah ini juga beronsekuensi logis membuat kami jadi sering haus karena gigi dan gusi yang tiada henti diterpa angin, terutama saat berada di belahan bumi sub-tropik seperti di Eropa atau saat menjalani ibadah umrah dan haki di Saudi.

“Loh, Mas? Kapan sampai? Minta maaf, Oom kemarin ndak sempat kabar-kabar. Eh, malah ketemu di sini, MasyaAllah.”

Aku spontan langsung memeluk Oom Udji yang di hari pernikahanku dan Muti menjadi pimpinan rombongan pihak keluarga temanten pria. Kami lalu bertukar cerita bagaimana kami masing-masing tiba di Versailles hari ini dan tanpa rencana dan komunikasi malah dapat berjumpa dengan Tante Retno, Dik Laras dan Oom Udjie. Rupanya Oom Uji sudah tiga hari di Paris dan ini adalah hari tur terakhirnya sebelum kemabli ke Semarang besok pagi. Sebelumnya selama tiga hari Oom Udji mengikuti konferensi infectious disease di London. Karena padatnya acara dan merasa sulit untuk dapat mengatur waktu untuk bertemu, Oom Udji tidak sempat memberi kami kabar mengenai lawatan ke Eropa nya kali ini.

Setahun terakhir sudah dua kali Oom Udji sekeluarga ke Eropa. Pada kunjungan yang pertama September lalu, Tante Retno sempat mampir menengok kami ke Brussels. Kesempatan wira-wiri ke luar negeri, buat Oom Udjie bukan serta merta datang sendiri.

“Pertama kali Oom ke luar negeri baru tahun 2004 Mas, sudah usia, tidak seperti Mas Wowok dan Mbak Muti.. Eh, tapi setelah itu koq malah pergi terus..”

“Kalau kita banyak membuka jalan untuk orang lain, banyak jalan terbuka untuk kita Mas. Dan semua dimulai dari bawah Mas..,” pesan Oom Udjie yang kuamini sepenuh hati. Dua tahun yang lalu ketika dalam lima bulan aku harus melakukan tiga kali kunjungan ke Eropa, pinjaman dana dari Oom Udjie sempat menjadi jalan pembuka untukku sebelum kemudian aku dapat dukungan dari berbagai pihak seperti Dirjen Dikti, Garuda Indonesia, dan fakultas.

Kedekatanku dengan Oom Udji dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya mungkin karena tanggal lahir Bapak dan Oom Udji hanya terpaut 1 hari, 18 dan 19 Maret. Berikutnya, almarhum Bapak sempat “menitipkanku” pada Oom Udji. Melihat kesuksesan Oom Udji sebagai dokter dan pengalaman Bapak pernah bekerja menjadi detailer obat semasa kuliah, seminggu sebelum wafatnya, almarhum Bapak seolah berwasiat agar aku diarahkan menjadi dokter. Sejak saat itu aku makin dekat dan sering berkomunikasi dengan Oom Udji mulai dari masalah kedokteran hingga rencana masa depan. Kebetulan saat aku menempuh kuliah S1 di FK UGM, Oom Udji sedang menyelesaikan disertasi doktoralnya. Setiap hari Jumat kami makan siang dan sholat Jumat bersama, kesempatan berharga bagiku mendengar kisah dan pengalaman beliau sewaktu muda yang sangat memotivasi. Selain kemiripan fisik, kami juga memiliki kesamaan nasib, menjadi yatim di usia remaja.

“Dulu, Oom ketua kelas di Muhi mas. Suatu hari Oom ditugasi untuk mengumpulkan sumbangan dalam rangka membantu teman seangkatan Oom yang ayahnya baru meninggal. Oom Udji spontan saja bilang ke teman-teman, ayah saya juga meninggal! Lalu kawan-kawan mengumpulkan sumbangan untuk oom. Oom kan tidak bohong Mas, Mbah Opo (Sofro) meninggal waktuOom kelas 3 SMP di Pemalang. Kemudian setelah uang terkumpul ada yang tanya, kapan meninggalnya. Oom jawab saja dengan jujur, tahun lalu. Eh, uangnya semua malah diambil kembali, kasihan ya. Padahal dulu Oom tidak dapat sumbangan waktu Eyang meninggal dan waktu hidup Oom hidup prihatin nunut pakde.”

Antara ingin menangis dan tertawa aku mendengar cerita ini. Tapi cerita ini selalu aku ingat sebagai pelajaran hidup, bahwa menjadi yatim bukan akhir segalanya. Keyatiman adalah salah satu cara Tuhan memandirikan seseorang lebih cepat. Kisah motivatif Oom udjie lainnya adalah semasa mahasiwa Oom Udji menghadiri acara pernikahan di Surabaya bersama Pakde Salam dan keluarga. Karena tidak ada pilihan transportasi lain, Oom Udji harus rela kulitnya nglotok karena kehujanan dan kepanasan demi menempuh perjalanan Jogja-Surabaya di bak belakang pick up.

Usai memasuki setiap sudut Versailles dan bagian tamannya kami bergabung makan siang dengan Oom Udjie dan rombongan para dokter ahli penyakit menular dari berbagai RS dan universitas di Indonesia. Usai makan siang giliran Oom Udjie sekeluarga yang memisahkan diri dari rombongan dan bergabung bersamaku dan Muti dengan kereta RER menuju pusat kota Paris dan berhenti di Station St.Michelle – Notre Dame. Kami kemudian menelusuri sungai Seine dimulai dari Fountain St. Michele, Cathédrale Notre Dame, hingga melihat pemandangan kota Paris dari puncak salah satu gedung paling penting untuk umat islam dan warga keturuna Arab di Prancis, Institut Monde de Arab. Melewati Love-lock bridge Pont de l’Archevêché, Oom Udjie dan Tante Retno menyempatkan memasang “gembok cinta” di salah satu jembatan paling fenomenal di Paris tersebut. Melihat aksi oom dan tante, satu sama lain, hati kami serasa ikut saling terkunci. Paris, Manis.

One thought on “Paris Manis, 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s