Paris Manis, 2

Avril 2010

Sepuluh menit sebelum pukul delapan malam, aku tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya, inilah momenku menjemput rizki ke luar kota. Ya, agendaku selama S-1, Senin sampai Jumat kuliah, Sabtu dan Minggu cari nafkah. Dua tahun terakhir ini telah kutekuni sebuah usaha bisnis pengisian pulsa pribadi berbasis network marketing bersama ratusan partner-member di beberapa kota, Jakarta salah satunya. Sembari kuliah, hari Senin sampai Jumat aku mengembangkan di Jogja sementara Sabtu dan Minggu aku menggarap pasar luar kota. Bandung, Surabaya, Madura, Magelang, Semarang, Jakarta dan beberapa kota di sekitarnya.

Karena sering bepergian keluar kota seorang diri, memperhatikan orang-orang di sekeliling hingga berkenalan dengan penumpang sebelah menjadi kebiasaan baruku. Banyak di antara mereka kemudian menjadi rekan bicara menarik sepanjang perjalanan. Dari sini banyak hal tak terduga kemudian terjadi. Seringkali di tengah perbincangan terungkap bahwa lawan bicaraku adalah teman SD ibuku atau kawan kuliah almarhum Bapakku. Pernah juga “penumpang sebelah” bahkan kemudian menjadi partner usaha yang sangat baik di kemudian hari. Tak terlupakan, pernah juga suatu kali aku berkenalan di kereta dengan seseorang yang pernah ditipu oleh orang yang juga pernah menipuku. Hehehe, sesama korban penipuan namanya!

Kembali ke setting stasiun Tugu, malam itu pandanganku tertangkap sebuah adegan perpisahan antara seorang Mbak-mbak bule bergaya Parisien dengan sebuah keluarga Indonesia. Mereka tampak begitu akrab. “Mbak ini pasti bukan turis biasa, mungkin dia mahasiswa pertukaran atau sejenisnya,” pikirku sejenak.

Ting nong ning nong.. ting nong neng nong..”. Rangkaian kereta Taksaka jurusan Yogya – Jakarta memasuki peron 3, sekejap aku tidak ingat lagi apa yang barusan kulihat dan kupikirkan. Aku fokus mencari gerbong di mana kursiku berada. Saat itulah aku kembali melihat Mbak bule bergaya Parisien tadi memasuki gerbong yang sama denganku. “Hmm, ada yang aneh pikirku”. Aku pun membatin, kalau sampai dia duduk di sebelahku, akan kuajak berkenalan sekaligus praktik bahasa Prancis. Ternyata benar, kami duduk di nomor yang sama dan hanya terpisah gang.

“Excusée-moi, vous parlez Francaise Mademoiselle?!” uwislah, kepalang tanggung. Itung-itung sinau Prancis mumpung ana native, pikirku.

“Ah oui, vous parlez aussi? Comment pourriez-vous parler le français?”

“Ou, no no no, pardon. A.. a..I don’t really speak French. I was just wondering if you were French. I just started learning French at Centre Culturel Français..” aku ngeles sambil gelagepan. Sumpah Mbake ngomonge Prancis buanter nemen, ora nangkep babar blas.

“Ah, d’accord.. No problemLouisa“. Mbak Bule memperkenalkan diri.

 Rupanya betul tebakanku kalau Louisa seorang Parisien. Aku bandingkan gaya berpakaiannya yang seperti mbak-mbak asal Paris, yang terkesan asal-berbanding terbalik dengan image Paris sebagai kota desain mode dan fashion.

Sudah tiga bulan Louisa tinggal untuk mempelajari batik di Jogja. Selepas menyelesaikan sekolah designer Louisa memutuskan untuk mempelajari batik di Jogja. Indonesia menjadi pilihannya karena ia dan keluarganya sudah cukup akrab dengan budaya Indonesia. Di Jogja Louisa tinggal bersama keluarga Bapak Iskandar, ayah Pak Iskandar adalah kawan lama kakeknya, di daerah Imogiri. Malam ini ia berencana ke Bogor mengunjungi Leo pacarnya yang sedang mempelajari ragam botani khas iklim tropis sekaligus bekerja magang di Kebun Raya Bogor. Seperti Louisa, Leo yang berasal dari Lyon pun sudah jatuh hati kepada Indonesia. Leo berharap dapat melanjutkan pendidikan masternya di Fakultas Biologi UGM.

“You can stay over with my parents in Paris,” responnya di luar dugaanku, ketika aku menceritakan rencanaku mengajak Mama ke Belanda dan singgah di Paris. Kebetulan sekali bulan Juni nanti, aku, Zul dan Greta akan mengikuti 17th International Students Conference of Medical Sciences di Groningen. Bertepatan dengan promosi tiket dari Garuda, buy one get one free, cita-cita menunjukkan Eropa pada Mama pun kesampaian. Rencananya Mama akan kuajak mengunjungi Paris dan Amsterdam selama seminggu Juni yang akan datang. Sulit dipercaya, malam ini aku baru berkenalan dengan Louisa dan langsung menawarkan agar kami tinggal di rumahnya saat nanti ke Paris. seorang Parisien yang baru kukenal.

6 Juin 2010

“Louisa has not checked her email lately. I am Martha, Louisa’s mother. If you are still in Paris, you are most welcome to stay at ours. We live at..”

Kami sudah check-in ke hotel yang kami pesan untuk bermalam selama tiga hari di Paris ketika sebuah sms kuterima dari seseorang bernama Martha. Hari itu juga dibantu Nadia, sepupuku yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar AFS di Prancis kami mencari alamat yang diberikan. Rue de Lappe, sebuah jalan di daerah Bastille yang memiliki sejarah panjang dan telah eksis sejak tahun 1600.

Menurut sejarah yang Martha ceritakan pada kami di kemudian hari, Rue de Lappe memiliki sejarah panjang yang sangat menarik. Di masa revolusi industri, jalan yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta Gare de Lyon ini menjadi tempat dinamis bertemunya para pelaku industri. Di jalan ini terdapat beberapa toko yang menjual belt conveyor bekas yang diminati para pelaku home industry di beberapa daerah di luar Paris. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, para pelaku industri di daerah ini tidak menyia-nyiakan kunjungannya ke Rue de Lappe, usai membeli machine belt untuk menjalankan mesin di pabriknya mereka juga mampir ke Bal. Bal adalah arena dansa public, sebuah bentuk hiburan yang sangat marak dan digemari di masa itu. Pada sebuah Bal biasanya dapat ditemui para wanita penari yang menawarkan jasa berdansa sekaligus teman minum. Sejak saat itu Rue de Lappe terkenal akan eksistensi hingga belasan bal di sepanjang jalan. Seiring berubahnya zaman, permintaan akan bentuk ajang hiburan dan sosialisasi pun berubah kini Rue de Lappe lebih dipenuhi oleh bar dan kafe-kafe di mana pengunjung cukup duduk dan memesan minuman. Meski begitu hingga kini masih tersisa satu Bal, Balajo dari kata Bal à Jo, yang masih terus membuka bisnisnya sekaligus menggelar pertunjukan.

Setibanya di kediaman Martha dan suaminya, Pierre, kami langsung dijamu makan siang. Martha meminta maaf karena Louisa tidak terus memantau rencana kedatangan kami karena ia dan Leo beberapa waktu terakhir memilih tinggal di desa tanpa akses internet. Hari itu kami tidak langsung menginap di sana tetapi berjanji keesokan harinya akan segera pindah ke sana. Saat itu juga di luar dugaan kami Martha membekali salah satu kunci rumahnya pada kami.

“This house has a unique system. You don’t need any normal key. What you need is just to remember the code that I will give you and swab this magic little thing over a green light outside the glassed door.” Martha menjelaskan kinerja sistem akses rumahnya yang serba otomatis.

“You keep it now so that tomorrow you can just come in anytime you want, okay?”  Aku begitu takjub dengan sikap Martha yang begitu percaya pada kami yang baru dikenalnya. Ia memberikan kunci rumahnya hari ini bukan besok meski tahu malam ini kami masih akan menginap di hotel untuk satu malam. Baru kali ini kami saling bertemu namun Martha begitu mempercayakan rumahnya sepenuhnya pada kami.

One more thing, which is very important, if you are hungry you can find and use everything in the kitchen. You can take anything you want out of the fridge and if you want to cook tomorrow, no problem. These are all yours. So, take as if this home yours,” kami cuma bisa melongo.

Hari berikutnya kami diajak Martha ke Marché Aligré dan menjamu kami makan malam. Saat itu Martha menunjukkan pada kami buku mewarnai milik Louisa yang berbahasa Indonesia karena mereka sekeluarga begitu sering mengunjungi Indonesia, berkat ayahnya yang banyak bekerja untuk pemerintah Indonesia. Hari ketiga di Paris Martha mengantar kami berfoto di depan La Tour Eiffel. Martha hanya geleng-geleng kepala melihat kesuksesan Mama menego harga dengan para penjual souvenir di sekitar La Tour Eiffel. Bahkan dua tahun kemudian pengalaman itu masih membekas di ingatannya. Ia kemudian melepas kami di Gare du Nord menuju kembali ke Belanda.

Mercredi, 9 Avril 2012

“Hei, Fadjar!!! You still recognized where the house was?!” sapa Martha tiba-tiba dari balik pintu.

“Hi Martha, how are you?! Yes I did. Let me introduce my wife, this is Muti..”

“Nice to see you both. Come on, get in, get in!”

Usai menempuh perjalanan lima jam dengan Eurolines dari Brussels, siang ini kami tiba di Paris dan langsung menuju kediaman Martha dan Pierre. Melanjutkan daftar honeymoon trip sekaligus silaturahmi kami selama di Eropa, kali ini kami akan tinggal di rumah Martha. Enam hari lima malam rencananya.

“Anytime you are in Paris, this is your house..” Aku hampir tidak percaya dengan apa yang Martha ucapkan dua tahun yang lalu, ketika kami akan meninggalkan rumahnya. Hanya dua hari satu malam kami bermalam di rumahnya, baru kali itu pula kami saling mengenal, namun sambutan Martha begitu tulus dan penuh kepercayaan. Dalam hati aku berdoa, ya Allah semoga aku segera laku dan bisa kembali lagi ke sini membawa istri.

Ucapannya bukan isapan jempol belaka, alhamdulillah, kurang dari dua tahun kemudian aku dapat kembali ke rumah ini bersama seorang istri, Muti. Di email balasannya Martha mengungkapkan ketidaksabarannya untuk bertemu denganku dan Muti. Ia begitu terkejut bahwa aku telah berada di Eropa lagi dan kini dengan seorang istri. “I cant’ wait to hear the story!”

Lima hari ke depan kami sudah siap dengan segudang hasil riset Muti di internet mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi di Paris. Tiga hari terakhir Muti sudah mendedikasikan waktu melakukan riset yang salah satunya bersumber dari sebuah artikel “Ten Things to Do in Paris” dari TIMES Magazine.

Hari pertama aku mengira Muti ingin segera menyaksikan simbol-simbol ke-Paris-an bagi umumnya WNI dan banyak warga asia lainnya yang berkunjung ke Paris. Rupanya dugaanku salah besar, bukan La Tour Eiffel, L’Arc du Triomph, Le Louvre, atau Notre Dame. Muti menunjukkan Cinematheque Français adalah kunjungan pertama kami sekaligus akan menonto sebuah film karya Tim Burton. Dasar katrok, aku kira ini bakalan jadi film romantis, salahku sendiri tidak mengerti dunia film dan siapa Tim Burton. Alhasil sore itu menjadi sangat seru dengan Sleepy Hollow yang kami tonton. Mengendurkan otot-otot sejenak di perjalanan pulang kami berbelok menyebrangi sungai Seine dan meregangkan otot berenang di Piscine Josephine Barker yang mengapung di atas Sungai Seine.

Belum ke Paris kalau belum ke covered market nya. Selain ke museum, gedung bersejarah, cafe, dan restaurant, pasar adalah tempat yang harus dikunjungi untuk merasakan atmosfer kehidupan kota Paris seutuhnya. Di sinilah kita merasakan salah satu interaksi sosial paling mendasar yaitu transaksi jual beli di kalangan Parisien yang multietnis. Di hari ketiga kami memulai hari memenuhi ajakan berbelanja bersama Martha di Marché Aligré. Kami mempersiapkan hidangan makan malam Indonesia untuk malam Minggu besok.

Dari marché Aligré kami berturut-turut mengunjungi Sacre Coueur di Montmartre. Bertepatan dengan misa Paskah yang diadakan hari itu Sacre Coeur dibanjiri umat Katolik dari berbagai bangsa, nuansa spiritual begitu kental terasa meski volume manusia begitu padat suasana tetap kondusif dan berlangsung teratur.

Berjalan kaki menuruni lereng Montmartre, Galerie La Fayette, Jardin Tullerie dan Museé du Louvre menjadi pemberhentian selanjutnya.

Magnifique, kesan yang kami dapat dari museum terbesar di dunia ini. Dibangun selama hampir enam ratus tahun, museum Louvre kini memuat  . Kami berhasil “menuntaskan” museum yang terdiri dari tiga bagian utama Richelieu, Sully dan Denon ini dalam waktu lima jam meski idealnya dikatakan membutuhkan waktu empat bulan untuk menikmati seluruh koleksi museum. Selain beberapa koleksi terkenal seperti Monalisa, Winged Victory of Samothrace, Seasons, eksposisi dari koleksi peninggalan peradaban Mesopotamia begitu menarik perhatian kami. Beberapa waktu kami sempatkan untuk membaca kode Hammurabi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Begitu dalamnya pemikiran seorang Hammurabi dalam bidang hukum di masa itu, dua ribu tahun sebelum masehi.

Hari keempat Martha mengajak kami melihat keselurahan negeri Prancis dengan mengunjungi Miniature Francaise, sebuah taman yang menampîlkan miniature bangunan-bangunan bersejarah di seluruh Prancis. Sorenya sesuai proposal kami, kami menyiapkan dine à l’Indonesie dengan Soto Madura, Rendang Sapi, dan Terong Balado serta Perkedel Daging sebagai menunya.

Fadjar, Muti we are thinking that you may stay longer. You have the key, there are still some food in the fridge, so feel free when we are not there,” Martha dan Pierre mempersilakan kami tinggal lebih lama sekaligus mempasrahkan rumahnya pada kami berdua. Awalnya kami hanya bisa tinggal sampai Senin pagi karena mereka berdua akan berlibur ke daerah Prancis selatan bersama sahabat mereka. Rupanya anak dari sahabat mereka ini, Mathieu, mulai hari Minggu akan menginap juga di rumah ini selama tiga hari. Mathieu perlu menyelesaikan beberapa urusan di Paris dan menemui beberapa temannya yang lama tidak ditemui sejak tinggal di Mali. Tiga hari ekstra di Paris, kami tidak kuasa menolaknya.

Aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuat Martha dan keluarganya begitu baik terhadapku dan Muti, bahkan sejak pertama kali aku datang bersama Mama, Zul dan Greta dua tahun lalu tahu  mempercayai kami dan begitu memiliki memori kuat tentang Indonesia. Dulu ia sempat bercerita bahwa ayahnya pernah bekerja di Indonesia dan memiliki banyak teman orang Indonesia.

My father was a professor in economy from MIT. He used to work for Indonesian government to work together with Indonesian economy expert to set up Indonesian economy and arranging program to make Indonesian student being able to study in MIT and some other universities in America,” Martha menceritakan bagaimana mulanya keluarganya memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Indonesia. Ayahnya, William Hollinger adalah seorang ahli ekonomi yang diminta membantu Prof. Widjojo Nitisastro dan Tim Ekonomi alumni Barkeley untuk menyiapkan pembangunan ekonomi Indonesia termasuk pendirian Bappenas. Ia juga sempat mengajar di Fakultas Ekonomi UI. Pertama kali datang ke Indonesia pada 1950, sang ayah kemudian mengajaknya tinggal beberapa tahun di Indonesia pada 1954 setelah menempuh perjalanan laut selama empat bulan dari Amerika termasuk transit dua minggu di Britania Raya. Sejak saat itu ia dan keluarganya begitu akrab dengan Indonesia dan selalu merasa dekat dengan setiap orang Indonesia yang dikenalnya.

Kembali ke kunjungan kami di kota Paris. Paris is so romantic in the rain. Banyak yang mempercayai hal ini, termasuk yang diungkapkan oleh sebuah film berjudul Midnight in Paris. Meski tidak khusus meminta, kami beruntung hujan senantiasa turun setiap kali kami mencapai objek yang kami tuju. Di hari kelima, Senin, kami memutuskan untuk naik ke level  3, level puncak dari La Tour Eiffel. Sejak hari kedatangan kami mengamati masa mengantri yang paling sepi, tapi tidak ada tanda-tanda Eiffel beranjak sepi karena bertepatan musim liburan. Setelah mengantri hampir empat jam akibat hanya satu elevator yang berfungsi akhirnya kami naik pada pukul dua siang. Kurang dari lima menit sejak kami tiba di puncak, hujan turun membasahi Paris, menyisakan seribuan pengunjung yang masih rela mengantri di bawah.

Hari berikutnya, Selasa, saat kami mengunjungi Musee d’Orsay, museum yang sebelumnya berfungsi sebagai statsiun kereta hingga tahun 1939, hal yang sama terjadi. Setelah berada dalam antrian yang mengular selama dua jam, hujan turun tepat saat kami dan menyimpan berbagai koleksi ternama seperti Opera Garnier, The Dance, Ophelia, juga karya dari pelukis dan perupa terkenal sebut saja, van Gogh, Rembrandt.

Hari Rabu, sehari sebelum hari kepulangan kami sekali lagi menikmati pemandangan keseluruhan kota Paris dari atas Montmartre tepat di depan Sacre Coueur. Mengikuti anjuran Xin dan Thomas, sahabat Muti saat di APU yang kini berdomisili di Prancisdan kami undang makan malam di malam sebelumnya, kami mencoba hidangan makan siang di salah satu restaurant legendaries di Paris yang berdiri sejak 1886, Chartier. Restaurant bergaya Eropa klasik ini menyajikan hidangan kuliner Prancis rumahan.

“They will exactly serve what your Mom would serve at home”, meniru Thomas yang begitu menganjurkan kami makan di situ.

City Tour kami tutup dengan menelusuri Seine di atas Vedette Bateaux (salah satu kapal yang mengarung sungai Seine) yang kami ambil dari  La Tour Eiffel.

Semoga nanti pas hujan,” harap Muti saat masih di Chartier.

Konon, waktu terbaik merasakan sensasi romantis kota Paris adalah saat hujan atau gerimis.

“Tapi masih terang gini Yang,” jawabku.

Melihat langit yang sejak pagi cerah, bahkan saat kami melintasi Trocadero menuju tempat berlabuh kapal di bawah kaki La Tour Eiffel, rasanya hampir tidak ada peluang untuk hujan datang hari ini. Baru saja kapal berjalan dua menit, tiba-tiba langit cerah berubah berawan. “Hahaha, rejeki kamu Yang,” kataku. Gerimis, hujan pun kembali membasahi bumi, menemani kami menyusuri La Seine rivière, menikmati kecantikan kota Paris .

Indeed, Paris is so romantic in the rain. 

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum Paris Manis, 1

Sambungan Paris Manis, 3

2 thoughts on “Paris Manis, 2

  1. Hey Kak Fajar, aku tertarik banget tentang ceritamu di Paris. Oh Aku Nurul, siswa SMA di Norwegia. Desember ini rencananya pengen ke Paris kalo ada tempat tumpangan, kira2 Martha bersedia gak ya? Aku berdua sama adek kelas aku dari Timor Leste, Bakhita. Bakal senang banget nih share cerita kita berdua bisa end up di Norwegia dan segala macamnya. Kita anak2 manis berumur 18 tahunan.. Mau cari tempat yang kira2 aman, soalnya taulah tipikal orang tua Indonesia, suka banyak khawatirnya kalo tinggal di hotel2 biasa🙂 Mohon bantuannya ya!
    Cheers🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s