Dokter Umum Bukan Orang Bodoh

Dua hari lalu saya tersentak membaca sebuah artikel nelangsa tulisan seorang dokter PTT, RD, yang sepertinya bertugas di Papua. “Orang Bodoh yang disebut Dokter Umum” judulnya. Semakin membuat tersentak ketika seorang senior saya, dosen muda di universitas asal saya, hari ini menyampaikan kalau tulisan ini mendapat banyak apresiasi dan “pengaminan” dari para dosen senior. Meski sebetulnya ketika saya menjalani kuliah S1pun saya seringkali menjumpai dosen-dokter yang curhat mengenai kesejahteraannya sebagai dosen-dokter di bawah sistem yang berjalan. Saya menjadi tergerak untuk turut “meramaikan” respon terhadap tulisan ini setelah membaca dalam sebuah milis kebijakan kesehatan salah seorang professor idola saya menstimulus para member untuk mengomentari artikel ini dengan tulisan yang saya sesuaikan dengan pengetahuan-pemikiran, pengalaman dan status saya.

Keputusan saya membuat tulisan respon ini setelah saya membaca artikel tersebut berkali-kali dan menyimpulkan bahwa artikel ini “ekstrim bawah”, dalam arti meski berbasis fakta dan pengalaman nyata, DR menumpuk-numpuk kemalangan diri dengan junior-juniornya sehingga mewujudkan citra dokter umum yang bodoh. Bodoh secara finansial dan akan ke-Maha Besar-an Tuhan lebih tepatnya yang dikemukakan di sana. Tulisan bergaya seperti ini menurut saya berpotensi memunculkan inferioritas pada sahabat-sahabat saya yang sedang menjalani ko-ass dan yang baru disumpah menjadi dokter umum, menurunkan minat saudara saya untuk menjadi dokter umum, menumbuhkan kecemasan di kalangan masyarakat awam dan ancaman depresi bagi dokter umum yang kebetulan nasibnya serupa di daerah PTT sana. Sementara tulisan saya ini saya niatkan sebagai penawar agar motivasi kami yang sedang dan akan menjadi dokter umum tidak jeblok.

Pada paragraph pertama artikel tersebut, penulis (saudara RD) langsung memfokuskan topik bahasan pada nasib dokter dari segi ekonomi, khususnya dokter umum. Pada paragraph kedua, artikel tersebut menceritakan betapa nasib dokter umum (secara ekonomi) sudah sedemikian blangsaknya sejak masa kuliah. Uang pendaftaran, uang semesteran, uang buku yang hingga ratusan juta rupiah ditengarai sebagai penyebabnya. Sebetulnya penulis sudah insyaf menyatakan, “bagi mahasiswa menengah ke bawah dengan tekad kuat dapat mensiasati biaya pendidikannya”, tetapi gejala depresi yang mungkin terlanjur melekat beberapa waktu menutupi pernyataan positifnya sendiri lalu melanjutkan kisah keluhannya.

Mengingat saya baru berstatus sarjana kedokteran, berikut kehidupan finansial mahasiswa kedokteran yang saya ingin kupas lebih dalam.

Betul biaya masuk fakultas kedokteran (FK) mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Kebijakan pemerintah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan tidak berpengaruh terhadap “tarif masuk” ini. Justru makin tinggi dari tahun ke tahun. Sebuah pengalaman nyata, usai dinyatakan diterima di fakultas kedokteran, dokter DSL, sahabat SMP saya yang cerdas dan gigih, bersama beberapa kawannya angkatan 2006 berhasil menemui pimpinan fakultas dan berdiskusi sehingga biaya masuk mereka dari 25 juta turun menjadi 5 juta dan gratis bagi beberapa di antaranya.  Jadi usaha dulu, jangan salah memahami informasi di media kemudian bilang mahal dan menyerah begitu saja.

Sahabat saya yang lain, Z, alumni sebuah madrasah di Sukabumi saat ini sedang menjalani ko-ass berhasil mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan ditanggung biaya masuk, kuliah, buku, hidup bulanan sejak awal hingga menjadi dokter. Sejumlah beasiswa S1 dalam negeri pun tersebar luas jika seorang calon mahasiswa memang berniat mendapatkannya. Apalagi kini telah ada beasiswa Bidik Misi dari Kemendiknas. Beberapa universitas pun terus meningkatkan proporsi mahasiwa yang terjaring beasiswa lokal universitas. Sebut saja UGM dengan beasiswa UGM Peduli yang mencakup 17% mahasiswanya. Belum lagi beasiswa yang diselenggarakan berbagai perusahaan dan yayasan, sebagai contoh Beasiswa dari Lembaga Pendidikan Nurul Fikri yang bahkan menyediakan asrama dan biaya hidup untuk mahasiswa. Saya sendiri setelah gagal diterima beasiswa BOP UGM dibisiki oleh staff bagian kemahasiswaan rektorat, “Mas, coba yang dari Kalbe saja. Masih sedikit yang daftar”. Jadi sebelum putus harapan lihat faktur biaya masuk fakultas kedokteran, lihat dulu peluang beasiswa terbentang. Beramahtamahlah dengan teman mahasiswa, dosen kita, dan staff non-akademik, tambah saudara pasti tambah rezekinya.

Saya baru mengetahui informasi beasiswa di tahun kedua kuliah, tahun ketiga baru berhasil diterima. Jumlahnya pun hanya cukup menutupi biaya semesteran sebagian saja. Jujur biaya masuk yang harus kami bayar puluhan juta jumlahnya, beruntung saya memiliki Ibu dan Almarhum Bapak hebat yang membekali teladan semangat dan kerja keras tiada dua. Seperti mimpi, empat bulan terakhir menjelang pembayaran di luar dugaan aktivitas network marketing Ibu saya yang PNS golongan IIIC menghasilkan bonus yang mencukupi untuk membiayai dana masuk FK. Coba tes masuk FK dulu, Tuhan Maha Kaya, kalau memang diterima pasti ada saja jalan-Nya. Terbukti beberapa kali diberitakan anak tukang becak berhasil jadi dokter di FK UGM.

Berjanji pada diri sendiri untuk mengembalikan biaya masuk FK pada Ibu sebelum jadi dokter bahkan sarjana, sambil kuliah saya coba banting tulang dari ujung crania (tulang tengkorak) sampai phalangea (jari jemari). Jualan produk lintas network marketing, menjadi agen asuransi, memasarkan apartemen, franchise pulsa, suplemen, aksesoris, parfum, hingga tas wanita tiga tahun aktif saya lakoni silih berganti. Alhamdulillah setahun sebelum lulus Tuhan mengabulkan target saya.

Apa yang saya lakukan bukan hal aneh apalagi luar biasa. Teman angkatan 2007 saya, Bang L, sepanjang masa kuliah sarjana setia menjalani bisnis pulsa hingga merambah ke gerai milkshake. Saat ini sembari ko-ass ia mengembangkan usahanya hingga sektor konveksi. Tidak gengsi facebook nya kini dipenuhi foto sepatu dan jaket design terkini. Trio kawan angkatan 2007 saya yang lain, Bayu-Bije-Kirun, sejak tahun ketiga membuka usaha bersama kafe Si Omay di kampus kami tercinta dan terus berkibar hingga kini.  I, membuka usaha cakery, fashion dan accessory. Sahabat lain D, bersama kelompoknya sukses mengembangkan usaha Sukery, Sukun Bakery, usaha bakery berbahan dasar sukun dan kini ia mendapat beasiswa Erasmus Mundus (EM) untuk mengikuti ko-ass di Italia. Saya rasa dia bisa menabung cukup banyak dari beasiswa EM-nya kelak untuk melanjutkan ko-ass nya di Jogja.

Lebih fenomenal, seorang senior dari angkatan 2005 Mas Dokter T, berhasil merintis dari nol dan mempopulerkan bisnis fotokopi 24 jam pertama di Provinsi Yogyakarta dan kini memiliki satu-satunya stadion futsal yang terletak di pusat kota Jogja. Yang bersangkutan kini sebagai dokter umum aktif melakukan penelitian kebijakan kesehatan di daerah pedalaman di NTT dan menjadi nominasi penghargaan Millenium Development Goals Award di bawah arahan Prof. Laksono Trisnantoro.

Di tahun kedua, saya ingin sekali ke luar negeri tanpa biaya. Tulisan saya tentang kehidupan akademik mahasiswa FK tempat saya belajar dinilai layak sehingga berhak mengikuti rombongan BEM FK ke Malaysia dan Singapura dengan biaya fakultas. Saat itu BEM FK hanya menyediakan dua jatah untuk mahasiswa non-pengurus BEM, anehnya hingga deadline berakhir BEM hanya menerima dua buah karya. Coba dulu, Tuhan selalu punya jalan.

Tiba di Malaysia, melihat buku Oxford Handbook of  Clinical Medicine dan seri lainnya yang sedang digemari di kalangan mahasiswa FK dijual dengan harga hanya sepertiganya di Indonesia, berkat pemerintah Malaysia mengcover sebagian besar buku kedokteran, bersama kawan-kawan kami mendadak membuat “joint-venture” kulakan buku-buku tersebut dan kemudian kami jual kembali di Indonesia dengan pasar UI, Unpad, UNS, Unibraw, hingga Udayana. Alhamdulillah pulang studi banding, kami justru menyebarkan ilmu dengan berjualan buku dan turut mensejahterakan kehidupan mahasiswa. Kelakuan kami ini akhirnya banyak ditiru dan berkembang menjadi usaha yang dikawal oleh Bang L, N, dan A. Semua masih kawan kami di angkatan yang sama. Uniknya, banyak di antara mereka yang kemarin lulus dengan predikat cum-laude.

Kelakuan kami yang unik ini sebetulnya bukan fenomena baru, jauh-jauh hari hampir lima puluh tahun ke belakang, dr. Lucas Meliala, Sp.S menjalani kuliah kedokteran sambil merintis sewa becak, kemudian berkembang menyewakannya hingga 41 buah, hingga berkembang menjadi usaha colt kampus yang hingga kini masih bisa kita lihat eksistensinya di jalan-jalan utama wilayah kota Jogja. Begitu juga perjuangan Dokter Gideon pendiri apotek waralaba K-24. Tidak jauh-jauh, dosen kami yang berselisih usia kurang dari sepuluh tahun dari kami kini sedang naik daun di wilayah Kulon Progo akibat kesuksesan membuka usaha Bakul Bakmy yang menggunakan logo BB plesetan Blackberry.

Di paragraph ketiga, RD melanjutkan keblangsakan nasib dokter umum saat mengenyam status freshgraduate. Harus UKDI, STR, SKP, dan lain-lain yang ujung-ujungnya dikalkulasi dalam skala nominal. Ujung-ujungnya duit. Mudah saja, namanya jadi dokter ya memang begitu tahapannya. Di Eropa di Amerika, berbagai tahapan tes dan sertifikasi memang harus dilalui dan berbiaya relatif tinggi. Kalau tidak mau begini ya buka lapak saja. Pengacara, bankir dan profesi lain pun memiliki kenjlimetannya sendiri. Kalau hal teknis begini ingin terus dipermasalahkan tanpa berkontribusi aktif dalam solusi, silakan saya rasa lebih baik memilih meninggalkan kehidupan. Kalau masalahnya adalah kompensasi finansial yang tidak berimbang perlu diinsyafi lagi bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Memilih PTT berkonsekuensi ditempatkan di tempat nun jauh dan tidak berimbang secara finansial pendapatan dan pengeluaran. Karena kolaborasi kebijakan PTT dan kemampuan pemerintah Indonesia dalam meregulasi, dari dulu hingga kini ya begini. Kalau hanya punya bekal keluhan bukan solusi jangan pilih jalan ini, atau pilih setelah punya bekal cukup nanti. PTT sendiri sebuah “investasi”, meski diceritakan sering hidup dalam kondisi sulit saat di daerah, kelak alumni PTT mendapat prioritas untuk masuk residensi dibanding yang tidak PTT. Ada perjuangan ada hasil. Jer basuki mawa beo (untuk mencapai kebahagiaan diperlukan pengorbanan). Menteri Kesehatan pun memulai karirnya dengan PTT di daerah terpencil.

Kalau ingin PTT tapi tidak sengsara finansial, mungkin bisa mencontoh senior saya Dokter YH. Begitu bergelar dokter beliau tidak langsung PTT tapi mengumpulkan pengalaman dan rizki sebanyak-banyaknya di Yogyakarta. Dalam seminggu, inilah aktivitasnya: mengisi acara konsultasi kesehatan di radio, menjadi dokter jaga dan praktek di rumah sakit dan klinik, menjadi website developer pusat studi pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, berpartisipasi dalam sunatan massal, menulis artikel kesehatan popular, dll. Rezeki tambahan tidak selalu dari berbisnis. Tapi upaya beliau memang ekstra dan strategi beliau realistis, kelak menjalani PTT insyaAllah sudah berbekal finansial lebih dari yang langsung nyemplung. Dengan demikian selain mendapat pengalaman klinis, beliau tetap dapat bisa menghasilkan rezeki cukup, tetapi menjadi manfaat dan saya amati dari FB nya tiap dua minggu sekali beliau bisa jalan-jalan ke luar pulau Jawa.

Kalaupun ingin segera PTT dengan modal nekat (ilmu cukup, doa banyak, financial minimal), bisa belajar dari dokter-anthropologist Paul Farmer lulusan Harvard, yang bersama sahabatnya Jim Yong Kim (kini Direktur World Bank) dan mendirikan NGO Partners in Health, yang mendedikasikan diri sepenuhnya di Haiti meski awalnya tiada sebuah badan pun yang menggajinya, semua ia lakukan dengan sukarela, tingggal di apartemen bekas seadanya, sempat terkapar karena kehabisan makanan, namun kemudian novel tentangnya menjadi sangat popular di seluruh dunia, “Mountains beyond Mountains: A Man Who Would Cure The World” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cinta dan Pengorbanan Seorang Dokter.

Untuk PTT ini saya tidak dapat membahas terlalu banyak mengingat minimnya pengetahuan dan pengalaman saya. Mengingat focus RD adalah kesejahteraan dokter umum yang diukur secara finansial, lebih akur jika pembahasannya mengarah ke kesempatan menjemput rizki finansial. Saya agak keberatan kalau karena kurang cerdas financial dokter umum dibilang orang bodoh.

Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Setiap pilihan membawa konsekuensi. Ketika konsekuensi datang tinggal seberapa luas hati kita untuk bersyukur dan menerima atau menggerutu sambil tidak bisa menolak. Saya sendiri tidak punya cukup banyak uang untuk melanjutkan ko-ass saat menjelang wisuda. Meski ibu akan memperjuangkan sisa biaya pendidikan, saya berusaha dulu untuk mencarinya sendiri. Maka saya memutuskan melamar beasiswa pertukaran Erasmus Mundus, rupanya saya diterima. Tinggal di Eropa sepuluh bulan seorang diri bukan pilihan yang mudah buat saya yang dulu telah menemukan pujaan hati, daripada terlalu lama menunggu sukses ala dokter pada umumnya, jadi spesialis untuk bisa bulan madu ke Eropa, saya ajukan lamaran kepada calon istri untuk menikah. Alhamdulillah, kini kami bisa curi start bulan madu ke Eropa meski gelar dokter belum saya dapat. Saya sengaja cuti dari ko-ass tahun ini juga dengan perhitungan akan konsekuensi, kalau saya ko-ass segera saya tidak punya penghasilan memadai, dengan beasiswa InsyaAllah membawa istri pun berani dan sedikit-sedikit ada yang bisa disisihkan untuk di Jogja nanti.

Kini sembari mengikuti aktivitas akademik di Belgia, saya bersama kawan-kawan di Indonesia melanjutkan proyek kerjasama jilid dua dengan salah satu produsen ponsel sebagai kontributor healthy lifestyle content. Pekerjaan yang kami niatkan untuk “menyehatkan” orang Indonesia melalui promosi kesehatan ini sekaligus menjadi salah satu ikhtiar kami menjemput rezeki. Menyadari dua tahun ke depan saya akan menjalani ko-ass dan tidak bergaji, saya mengikuti anjuran paman dan bibi di Boyolali, enam bulan sebelum wisuda, saat itu masih jomblo, saya menanam bibit sengon, jabon, dan jati yang insyaAllah akan dipanen kelak untuk biaya masuk TK di kemudian hari kami dianugerahi putra. Kebetulan saat itu saya sedang pedekate dan ingin segera menikah, jadi untuk ancang-ancang saya tanamlah bibit-bibit tadi. Saya menyadari saat koass nanti tidak banyak waktu nyambi, sementara waktu terus berjalan. Maka investasi tanaman produktif lah yang tepat menurut saya. Saya rasa kok ya lebih produktif membuat inisiatif seperti ini, daripada mengeluh jadi ko-ass yang tidak digaji (mau ko-ass ya harus terima konsekuensi tidak digaji, memang itu proses yang harus dilalui), akibat kalah “nasib” sama teman seangkatan yang sarjana ekonomi yang sudah bekerja di segitiga emas Jakarta. Apalagi sampai kemudian curhat menularkan pesimisme dan nelangsaisme di FB dan media lainnya. Sama-sama makan waktu, mending nanem bibit.

Padahal cita-cita saya dulu jadi dokter dulu, baru cari beasiswa master lalu membawa istri ke Eropa. Itulah kehidupan, jalannya berliku, kita harus aktif tapi juga fleksibel dalam menjemput rezeki Tuhan. “God gives, but doesn’t share”. Tuhan memberikan semuanya pada manusia, nyoh pek’en kabeh bumi dan isinya. Tapi kita manusia sendiri yang ribut memperebutkan pendistribusiannya. Celakanya bukan berusaha merebut haknya, malah sebagian kita sibuk mengeluh di sosial media. Sadar atau tidak berpotensi besar menyebar negativisme ke masyarakat Indonesia lainnya.

Meskipun saya tampak menegasi artikel karya RD tersebut saya percaya kalau artikel itu didasari fakta dan yakin sesungguhnya artikel tersebut dapat berdampak positif jika ada policy maker terkait (PB IDI, Kemenkes, Presiden) yang membaca kemudian bergerak untuk membuat perubahan nasib kesejahteraan dokter umum pada situasi-situasi yang digambarkan di sana.  Namun mengingat artikel ini sudah berusia dua tahun dan tampaknya nasib dokter umum masih belum jauh berbeda, lebih baik kita bersama membangun sikap positivisme daripada hanya berharap dalam nelangsaisme. Suatu hari sepupu saya, dr. Nurul Hidayatie, yang mendapatkan gelar doktor dalam bidang farmakologi di Jepang (sekolah spesialis terlalu mahal, lebih feasible mencari beasiswa) berkata, “Indonesia itu negara auto-pilot”, yang bisa diartikan banyak hal yang tidak sempat terurus pemerintah atau banyak hal yang kalau nggak diurus pemerintah justru bagus jalannya. Ini juga yang menjadi pijakan saya dalam berpikir dan berkarir, daripada mengharap berujung kecewa, lebih baik menjadi positif mandiri sambil terus berbagi. Itu menurut saya. Wallahu a’lam, semoga niat saya, melalui tulisan ini terhantarkan. Semoga mereka yang menyebarluaskan link “Orang Bodoh yang disebut Dokter Umum” juga berkenan menyebarluaskan tulisan ini, kasihan orang Indonesia dicekoki produk (tulisan) penuh aura pesimisme melulu. Mari juga berdoa untuk kebaikan implementasi UU BPJS yang akan dieksekusi pada tahun 2014 bagi kesehatan masyarakat dan dokter umum Indonesia.

Saya bersyukur kepada Tuhan yang atas anugerah lingkungan positif yang dilimpahkan-Nya sejak saya kecil dalam jalan “becoming a doctor” melalui: Almarhum Bapak yang mencoba masuk FK, diterima di Fak Biologi, mencari sambilan sebagai detailer obat di Dexamedica. Melihat dokter yang diprospeknya setiap hari membuatnya bermimpi anaknya kelak harus ada yang jadi dokter seperti kakaknya dan adik-adiknya. Sang kakak nomor tiga, Prof. Abdul Salam, yang mencoba menjadi spesialis anak, terhalang biaya namun ditunjukkan jalan menjadi ahli biokimia, sejak mahasiswa merintis apa yang kemudian dikenal sebagai  HSC di FK UGM dan terus lestari hingga kini. Dokter umum yang hingga menjadi professor makan malamnya selalu berlauk tempe. Sementara sang adik nomor sembilan, dr. Zaenal Muttaqien, darinya saya belajar tidak ada satupun  hal di dunia, kemalangan, keberuntungan termasuk homeostasis terjadi tanpa seizin Allah. Bahwa agama dan fisiologi itu akrab satu sama lainnya. Juga adik lain nomor sebelas, dr. Muchlis A. Udji yang tumbuh besar dalam keprihatinan, kuliah dengan vespa pinjaman, saat mahasiswa aktif menjadi panitia simposium setiap angkatan demi mendapat nasi kotak, menjadikannya kini tetap sumeh, runduk dan bersahaja di masa suksesnya sebagai spesialis interna.

Sebagai penutup, pembakar nyala api positivisme dokter umum, mengutip titah favorit dari salah seorang guru idola saya dr. Bambang Djarwoto, Sp.PD-KGH

“Dokter itu harus SEHAT, agar dapat membantu yang sakit, Dokter itu harus KUAT, agar dapat membantu yang lemah, Dokter itu harus KAYA, agar dapat membantu yang miskin!”

Semangat, Dokter Umum Indonesia!

This slideshow requires JavaScript.

Artikel terkait: Road to Docplomat

129 thoughts on “Dokter Umum Bukan Orang Bodoh

  1. Nicely delivered…i got the point..
    However, niatan dalam diskusi artikel tersebut bukan untuk membodohkan dokter umum, tetapi berusaha menunjukkan bahwa dokter umum di Indonesia benar-benar kehilangan tempatnya, padahal peranannya luar biasa. Mohon tujuan ini dipahami dengan benar. Penyebaran tulisan ini sebagai awalan saja, coba cermati diskusi yang terjadi. Awalnya memang semua pada berkonsentrasi masalah duit, tapi syukurlah sekarang sudah pada mengarah pada diskusi yang diharapkan. Silahkan dinikmati kelanjutannya.

    • Maturnuwun Dok,

      Nggih, Alhamdulillah responnya semakin positif. ingin nunut respon khawatir kepanjangan jadi tulis pengalaman sendiri. Terimakasih untuk motivasi dan inspirasi nya selama ini.

    • Ijin share mas fadjar, semoga istri saya yg barusaja jadi dokter umum lebih bersemangat dlm bertugas…

      Sepertinya kenal dokter Nurazid degh.. salam pramekers boos!! :p

    • Ijin share mas fadjar, semoga istri saya yg baru saja jadi dokter bisa menjadi dokter pengusaha seperti contoh2 di artikel anda, hehe..

      Sepertinya kenal dokter Nurazid degh.. salam pramekers dokter azid..!!

  2. Betul juga. Jadi dokter umum jangan cengeng minta ini itu. Sebagai pendidik dan pelayan masyarakat harus kuat. Good writing. Jangan lupa didokumentasikan. Kelak pasti akan bermanfaat! Salam!

  3. Very nice post.
    Sangat positif dan memotivasi.

    Kalau dilihat secara netral, sebenarnya tulisan di kolom tetangga yang negativistik itu banyak menampilkan realita yg cukup dipandang sebagai data saja. Seandainya disampaikan dengan benar, dan didengar oleh orang yg tepat kemudian ditindaklanjuti menjadi kebijakan mungkin akan membawa perubahan yang baik.

    Semoga semua yg membaca kedua tulisan ini bisa mengambil hikmahnya dan membuat perubahan sesuai kemampuannya masing2.

    Sukses selalu

    • Setuju Mas Zucha point2nya.
      Sadar atau tidak belakangan lebih banyak tulisan negativistik beredar di sekitar kita. Aku urun yang positif aja Mas, sama-sama nulis, hidup sama-sama sekali lebih nyaman kalau yang dibagi positifistik.
      Sukses selalu di negeri F-4 Mas.

  4. wah., betul ini..
    pride sebagai dokter umum harus di tinggikan,
    walaupun demikian, apresiasi terhadap ts yg rela berkorban tetap harus di berikan dengan layak. Kebijakannya ini lho mas yg terkadang bikin geram.
    Ingin idealis memajukan kesehatan bangsa, kalau ditawarin material ratusan ribu dolar di negeri orang jadinya galau juga.. ^_^
    salam kenal sesama dokter umum yg berjuang merantau di negeri orang..🙂

    • Salam Kenal Dokter Diaz,

      Bekerja di manapun bumi Tuhan juga kan Dok, merantau lebih utama daripada berdiam di tempat asal. Semakin maksimal ketika kembali bisa berbagi manfaat lebih dibanding jika awalnya tidak merantau.
      Tetap positif, tidak mengeluh. Mari terus produkti dan berkreasi. -Ratusan ribu dolar di luar, zakatnya ke Indonesia jadi lebih besar kan dok dibanding tidak merantau-

      Salam, Fadjar

  5. Halo perkenalkan..
    saya nungki angkatan 2000..

    saya setuju dengan semangat enterpreneurshipnya…bagus bgt…
    hanya ingin menambahkan sj…
    bahwa filosofinya yg kurang dari bangsa indonesia adalah…
    pekerjaan yang pada tempatnya..dan itu yg kurang dihargai…
    berapa banyak masalah kesehatan yang tidak terselesaikan..kematian ibu, penyakit infeksi yg luar biasa, penyakit kronik, sindrom metabolik…yg lama2 benar2 membebani bangsa dan rakyat yg jaminan sosialnya hampir tidak dirasakan rakyat kecil…
    orang2 yg sungguh2 bekerja disini, dan tidak berbisnis…juga berhak mendapat penghidupan yg layak…saya kira..layak sj dg jaminan sosial yg cukup…tidak perlu kaya saya kira….
    salam utk indonesia lebih sejahtera…
    nungki🙂

    • Hallo Mbak Nungki,

      saya setuju apresiasi pada yang mengabdikan diri sepenuhnya pada pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan. seperti diungkapkan Dr. Ali Mashar, memang remunerasi belum adil di kalangan PNS pekerja kesehatan.
      Namun begitu, saya ingin menumbuhkan semangat kemandirian di kalangan pekerja kesehatan daripada berharap selalu berbuah kecewa, akan baik kalau bisa fleksibel dan terus optimis. Kecuali mereka yang bertarung di perumusan kebijakan tentu lebih baik, atau yang memang sudah cukup dengan penghargaan saat ini, menerima (fokus bekerja, tidak berbisnis) dan tidak mengeluh.

      Terimakasih banyak atas poin tambahannya.

      Salam Fadjar

  6. An old Cherokee is teaching his grandson about life. “A fight is going on inside me,” he said to the boy.

    “It is a terrible fight and it is between two wolves. One is evil – he is anger, envy, sorrow, regret, greed, arrogance, self-pity, guilt, resentment, inferiority, lies, false pride, superiority, and ego.” He continued, “The other is good – he is joy, peace, love, hope, serenity, humility, kindness, benevolence, empathy, generosity, truth, compassion, and faith. The same fight is going on inside you – and inside every other person, too.”

    The grandson thought about it for a minute and then asked his grandfather, “Which wolf will win?”

    The old Cherokee simply replied, “The one you feed.”

    So, ayo semangat dokter umum indonesia ^^

    • Saya suka sekali cerita di atas. Can’t agree more. It’s simply what would I tell to my grandson. Semangat2!!

  7. wah, mantap tulisane! ijin share ya.

    kalau saya berusaha melihat profesi dokter sebagai suatu profesi yang sama seperti profesi2 lainnya. dengan jadi dokter seseorang bisa sukses atau nelongso ya tergantung kemampuan strugglenya dan nasib (misale anake dekan. hehe..). ya sama saja seperti profesi yang bukan dokter lah. dan sebetulnya proses struggle itulah yg membentuk seseorang.

    • Terimakasih atas pendapatnya. Saya beruntung orangtua saya bukan Dekan, hehehe. Sepertinya itu membentuk proses struggle saya seperti kata Mas 3temennya achong”
      Salam, Fadjar

  8. Bukan bermaksud mengecilkan arti perjuangan beberapa TS baik senior maupun yunior saya, ingin rasanya mengomentari tulisan ini, Saat ini saya yang PNS di Puskesmas di Jawa Timur memang merasa penghargaan pemerintah terhadap Profesi dokter memang agak kurang. Sebagai sesama PNS, coba aja lihat berapa besar remunerasi yang diterima PNS di Kementrian Keuangan, Kementrian Kehakiman, atau Guru SD.
    Tunjangan sertifikasi seorang Guru adalah 1 kali Gaji Pokok, juga masih ada tunjangan fungsional. kita sebagai PNS di puskesmas hanya mendapatkan tunjangan fungsional yang besarnya tak msampai 1/2 gaji pokok. tanpa ada remunerasi dan jasa medik….
    Saya pernah mengusulkan untuk gaji Dokter PNS ditambah dengan tunjangan resiko kerja, krn memang profesi kita sangat dekat dengan resiko tinggi. tapi tak tahu usulan saya nyampai apa enggak ke Pembuat Kebijakan negeri ini…..

    • Salam Dokter Ali,

      Setuju Dok mengenai remunerasi, semoga sampai dan segera terwujud usulannya ya. Mohon maaf kalau mungkin Dokter Ali sudah tahu, Professor kami mengembangkan http://kebijakankesehatanindonesia.net/ mungkin dapat menjadi ajang penyampaian ide dan gagasan. Sukses selalu dan terimakasih atas kesempatannya membaca tulisan saya.

      Salam, Fadjar

  9. berusaha netral…bagi saya di dunia ini memang ada seorang insan yg bisa menjadi enterpreneur muda, ada yg tidak…tidak terkecuali dokter..kenyataannya kedua-duanya ada…bagi saya kedua tulisan ini memiliki makna sendiri..yg pertama bicara soal fakta-fakta yg dialami dokter non enterpreneur…yg kedua adalah dokter merangkap bisnis…..saya ndak memandang pesan artikel yg pertama negatif, tetapi kondisinya memang begitu…makanya tulisan ini mempersiapkan kita buat berlapang dada..memang sejak koas kita sudah dipersiapkan jaga malam, jaga 24 jam….membiasakan diri kita bekerja seperti itu, tapi toh jgn terus-terusan, kasihan badan kita, mestinya memang Gusti pasti buka jalan supaya kita karirny bertambah…asal bekerja sambil berdoa, yg kedua..adalah solusi lain bagi yang memang punya bakat atau tanpa bakat tapi berminat…..jadi dokter pengusaha……anggap saja solusi dari keresahan kita selama karir awal masi jadi dokter muda sampe dokter pemula🙂

  10. great!senang sekali membaca tulisan ini,langsung membangkitkan optimisme, mengingat anak sulung saya jg ingin menjadi dokter kelak,sempat gmn gtu mendengar biaya pendidikan dokter yg begitu mahal…ada niat insya Allah ada jalan…semangat!

  11. hi.. terima kasih tulisannya..
    membaca tulisan ini saya teringat cerita tentang karakter pohon redwood.
    ada jenis pohon yang bila ditanam tidak seperti pohon lainnya. dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun dia tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan. pada tahun ketiga atau keempat, barulah ia menunjukan tanda-tanda kehidupan, baru muncul tunas.
    apa yang berbeda? apa yang ia lakukan beberapa tahun kebelakang?
    ternyata pohon ini sama saja tumbuh denga pohon lainnya, cuma bedanya pohon lain tumbuh ke atas, sedangkan pohon ini tumbuh ke bawah. ia tumbuh untuk memperkuat & mengokohkan akar-akarnya menembus tanah dan bebatuan. saat akar tersebut dirasa cukup kuat, barulah ia tumbuh ke atas terus menerus, menjadi pohon yang paling tinggi di dunia… the wind and storm wont be a problem for that tree, kind a cool eh..
    banyak orang yang sangat menolak dan mengeluh disaat dia bisa menginvestasikan waktu tenaga dan pikirannya untuk membentuk suatu karakter yang baik, hebat dan kokoh menjulang ke atas menjadi yang paling tertinggi diantara yang lain..

    semua yang disebutkan diatas, itu hanya masalah teknis, how to do it? every person have their own unique signature, why you want to be somebody else?
    setiap orang yang berhasil mempunyai beberapa karakter yang sama:
    1. tujuannya jelas
    2. rencana nyata
    3. batasan waktu yang tegas
    4. siap action dan kerja keras

    saya teringat perkataan Ayah Edi di radio waktu perjalanan saya dari bandung ke serang,
    dulu kita dicekoki dengan kalimat: “bila ingin bahagia dan sukses maka kamu harus masuk SD-SMP-SMA favorit, kemudian kuliah ke jurusan favorit, setelah itu kamu kerja dapat uang, baru kamu bisa bahagia” menurut saya makanya tidak heran banyak yang mengeluh dan depresi dalam menerapkan prinsip ini. dokter dan non-dokter.
    kemudian:
    1. “yang baik adalah kita harus menemukan apa yang membuat bahagia dan membuat kita paling bergairah (what makes us excited the most),
    2. kemudian bila kita telah bahagia, maka bila ada hujan dan badai menerpa, dibayar dan tidak dibayar, kita tetap melakukannya, karena itu membuat kita bahagia.
    3. setelah kita melakukannya secara konsisten, tanpa disadari kita menjadi seorang expert atau ahli di bidang itu.
    4. setelah kita menjadi seorang yang ahli, well money will find you, even you are hiding somewhere… rezeki mah pasti ada aja…

    so do what you love the most and see what happen…learn from it..experience life.. embrace it..
    as a doctor he/she should be able to respect him/herself first before respecting others. what doesn’t kill you makes you stronger, right?
    bila seseorang mempunyai waktu untuk mengeluh untuk sesuatu, saya rasa pasti dia juga punya waktu untuk melakukan sesuatu yang bisa merubah itu.

    medical school is tough, even tougher when you are an intern, and even more when you are a doctor, and even more when you are a resident taking specialist, and more and more.. so what?

    salam sukses dan sehat selalu

    • Halo Dokter Arief,

      What a heart-touching saying.. “do what you love the most and see what happen…learn from it..experience life.. embrace it..”
      Mental & spiritual satisfaction worth much more than the money or salary..
      Kerjakan pekerjaan yang kita cintai, jangan mengeluh (kalo masih ngeluh sebaiknya ganti kerjaan) rezeki dengan sendiri akan mengikuti.. Seandainya semua orang bisa begini..

      Terimakasih sudah mampir dan berbagi semangat optimisme dan positivisme
      Salam sukses, sehat & bahagia selalu
      Fadjar

    • Seandainya ada petisi minta ttd anda agar Gaji Dokter Umum Minimal Rp Sekian.. apakah anda pro atau kontra ? begitu saja… tidak usah berfilsafat. kita bicara nominal.. Cukup/tidak itu relatif. Tapi angka itu absolut.

      • Ya jelas mau Pak, untuk kebaikan dan mudah. Mohon dikirimkan segera petisinya ke fadjar.wibowo@yahoo.com Bapak, dengan senang hati saya akan tanda tangan dan kirim kembali ke Bapak.
        Mohon juga untuk petisi mengenai biaya sekolah kedokteran dan koass juga agar dapat dikirimkan, dengan begitu hasil usaha saya (dan semua sjawat yg berwirausaha) selama S1 dan ko-ass kelak bisa wutuh dinikmati keluarga, orangtua, tetangga dan sesama. Amin.

        Kemudian jika Bapak Dokter Jaga ada artikel, opini, blog, jurnal, petisi, RUU, atau apapun bentuknya yang mengarahkan penentuan perbaikan jasa dokter umum mohon di-share linknya. Saya akan senang untuk membantu menyebarkannya. Sembari menunggu hasilnya, kita bisa mengupayakan banyak ikhtiar lain seperti: mengisi acara konsultasi kesehatan di radio/televisi, mengembangkan website informasi kesehatan/pusat studi terkait kesehatan dan kedokteran, berpartisipasi dalam sunatan massal, menulis artikel kesehatan popular di media, mencari beasiswa, dan masih banyak lagi. Waktu berjalan, Tuhan senantiasa membuka banyak jalan, terlalu congkak jika kita menutup mata hanya pada satu peluang, sementara sedemikian banyak kesempatan bisa dioptimalkan. Semua usaha yang baik patut diperjuangkan dengan usaha dan semangat optimal, termasuk ide petisi Bapak, dan sebaiknya tidak lewat usaha merendahkan diri atau “membodohkan” diri sendiri. Yang kita butuhkan sekranag hanya ACTION, ACTION, ACTION!

        (Syukur usulan petisi dari Bapak bisa mengubah segalanya bulan ini, sehingga bulan depan saya bisa gratis ko-ass misalnya. Kalau petisi yang kita bahas ini belum berhasil menggratiskan/menurunkan biaya sekolah dokter dan menaikkan gaji DU saya akan jual tabungan emas hasil rezeki saat saya wirausaha kala S1 dulu Pak dan melanjutkan usaha karena masih butuh bekal koass 2 tahun plus internship 1 tahun. Apa Bapak mau mbayari ko-ass saya? Kalau iya nanti saya kirim nomor rekening saya.)

        Terimakasih atas kunjungan dan komennya. Dinantikan draft/naskah akhir petisinya Pak. InsyaAllah bisa saya muat di blog ini agar banyak yang bisa membaginya juga.

      • Ah..kelihatan sekali dokter jaga ini pemburu rupiah. Jaga 24 jam saja pak, full time selama 10 tahun..maka nominalnya akan sebesar impian bapak..walaupun nantinya tidak akan bisa bapak nikmati..hhe

  12. saya setuju dengan pak dokter bahwa setiap pekerjaan itu tidak bisa langsung mencapai kesuksesan mengingat definisi kesuksesan itu sendiri berbeda” pada setiap orang. namun 1 hal yang pasti sbg prinsip hidup saya jg bahwa jika kita ingin mengincar posisi dalam pekerjaan maka jgn permasalahkan uang yg dihasilkannya bgtu pula jika kita ingin mengincar uang yg bnyk dari pekerjaan kita maka jgn permasalahkan pekerjaan kita apa. terkait pendapat dokter mengenai setiap pekerjaan pasti ada tantangan dan permasalahan yg dihadapi saya setuju karena meski saya bukanlah mahasiswa kedokteran tapi mahasiswa dari ilmu hukum, permasalahan selalu muncul sperti masalah finansial ketika masih berkuliah hingga kebingungan yang menerpa ketika sudah wisuda, akan ada suatu pertanyaan “akan kemana saya setelah mendapat gelar sarjana?” saya pikir pertanyaan ini terlambat muncul jika baru terpikir ketika atau sesaat sebelum wisuda, namun jika jauh sebelum itu sudah dipersiapkan matang” dgn langkah dan tujuan yg jelas maka pada akhirnya tidak akan terjadi lagi kebingungan dan kegalauan setelah lulus s1.
    memang selama ini masyarakat kebanyakan men judge bahwa mahasiswa kedokteran itu berasal dari kalangan menengah ke atas dan lulusannya pun pasti langsung makmur, tapi 1 hal yg perlu kita semua tahu bahwa tidak ada 1 pun pilihan hidup khususnya pekerjaan yang tanpa resiko dan tanpa permasalahan sehingga yang terpenting adalah bgmn kita mempersiapkan segalanya di awal dan menyikapi permasalahan dgn ikhlas..
    terkait enterpreneur saat masih menjadi mahasiswa saya sangat mengapresiasikan mahasiswa yang survive di kampus dgn berjualan, menjadi agen MLM ataupun aktif di banyak kepanitiaan demi mencukupi kebutuhan sehari”nya sbg seorang mahasiswa. seorang senior saya pernah berkata bahwa kuliah itu bukan ajang untuk mencari ilmu namun untuk melatih kedewasaan kita dan mencari bnyk pengalaman sebelum diaplikasikan untuk mengabdi kepada masyarakat. dan beliau merupakan mahasiswa yg dulunya sangat aktif di bnyk perlombaan dan kepanitiaan, sebelum bergelar sarjana pun sudah ditawari berbagai macam pekerjaan di perusahaan” ternama.
    George Washington pernah berkata”jika saya diberikan 6 jam untuk menebang pohon, maka saya akan menggunakan 4 jam untuk mengasah kapak dan sisanya untuk menebang pohon”
    intinya segala sesuatu itu bergantung kepada persiapannya dan persiapan selalu lebih berat dan lebih lama dari apa yang akan dihadapi.
    akhir kata terimakasih ya pak dokter atas tulisannya saya sangat tertarik pada diskusi seperti ini semoga kita bisa berdiskusi lagi ya di lain waktu😀

    • Terimakasih Mas/Mbak untuk responnya yang sangat lengkap, dan positif. Semoga kita semua selalu dipenuhi semangat dan petunjuk positif dalam setiap mengambil keputusan.

  13. CEO BakulBakmy enterprise would like to say thanks in advance and in after for your very very inspiring idea…… sukses selalu utk Fajar.
    salam suskes dari BakulBakmy nDalem Kacongan
    agung “acong” nugroho
    anti kekerasan rindu kekenyalan

    • Maturnuwun sudah berkenan membaca Dok, izinkan saya dan istri segera menikmati sajian Bakul Bakmy begitu menyentuh tanah Jogja.. Sukses selalu u Dokter Acong dan selalu dinantikan inovasi dan sensasi nya..😀

      • Salam hormat untuk guru farmakologi dan farma-koclog-i saya mas dokter Acong, semoga selalu sehat dan inovatif.

      • Terbukti sudah kejayaan bendera Dokter Acong bersama Bakul Bakmy dengan racikan farmakologi.. Hehehe

  14. artikel http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/05/19/orang-bodoh-yang-disebut-dokter-umum/ yg ditulis dua tahun lalu itu sekarang sudah tidak relevan lagi, karena kebijakan gaji dokter PTT sudah berubah dan sangat lumayan dibanding jaman sy 3 th lalu. Kriteria T dulu 1,53jt skrg Rp 5jt/bulan, kriteria ST skrg 7,5 jt/bulan. Klo jiwa wira usaha tergantung masing2 dan terkondisi dengan lingkungan keluarga dan masyarakat pembentuk kepribadiannya, tidak semua orang punya bakat, wajar lah ada orang2 seperti RD ini,bermanfaat juga tulisannya sbg advokasi terhadap kebijakan soal kesejahteraan dokter umum khususnya yg lg PTT, untuk yg PNS seperti sy sekarang memang betul bahwa sertifikasi hasil uji kompetensi (UKDI) tidak sama dengan sertifikasi guru, tp tidak apa2 sy tetap memilih dan menikmati jadi dokter daripada jd guru SD.

    • Terimakasih Dokter Tulus untuk kabar baiknya mengenai kesejahteraan yang sudah meningkat. Semoga semua dokter umum bebrbesar hati dan rezeki seperti Dokter Tulus

      Salam, Fadjar

  15. Ya semoga kita sebagai dokter lulusan alumni UGM tetep menjadi seorang yg bersahaja, yg positip, bertakwa…karena kalo baru lulus jd dokter ya memang blm ada apa2nya, tp nanti akan tiba jg suksesnya. Apalagi seperti saya yg sekolah kedokteran cuma byr uang semesteran yg tdk mahal cuma 1,25jt/semester jd tdk berharap lebih…bisa jd dokter saja sdh syukur. Semoga bagi pembaca artikel ini jd lebih terbuka fikirannya ttg pendidikan kedokteran. Yg terlanjur sdh byr mahal, ya hrs ikhlas hehehe

  16. Sama seperti beberapa komen yang mengkritis nafas ‘entrepreneurship’, saya berpendapat kok rasa2-nya tidak adil bila penulis menyarankan agar Dokter Umum berwiraswasta agar tidak ‘berkekurangan’ (ekstrim bawah) sementara Kesehatan sudah menjadi industri dimana pemilik modal menikmati dan ada (sebagian) dokter (spesialis) yang menikmati ‘kelebihan’ yang luar biasa.

    Optimisme & bersyukur itu bagus, mengeluh tidak akan menghasilkan apa2… semua juga tahu itu. Menurut saya, Dokter Umum sedang mempunyai aspirasi untuk minta “bagian kue” yang lebih besar daripada yang diterima sekarang. Aspirasi ini tidak akan tercapai apabila sejawat DU berfilsafat “udah diterima aja kuenya, nanti kita cari kue di tempat lain”. Sungguh tidak empatik.
    Cukup / tidak itu relatif, tapi Nominal Rupiah saya kira bisa di absolutkan. Untungnya PB IDI sudah sependapat bahwa THP DU idealnya 7-12 juta/bulan. Saya percaya banyak rekan DU yang dari profesi utamanya (DOKTER) mendapat kurang dari itu.
    Tidak kah anda tergerak untuk mendukung aspirasi tersebut ?

    • Respon dari komen

      Sama seperti beberapa komen yang mengkritis nafas ‘entrepreneurship’, saya berpendapat kok rasa2-nya tidak adil bila penulis menyarankan agar Dokter Umum berwiraswasta agar tidak ‘berkekurangan’ (ekstrim bawah) sementara Kesehatan sudah menjadi industri dimana pemilik modal menikmati dan ada (sebagian) dokter (spesialis) yang menikmati ‘kelebihan’ yang luar biasa.

      Respon: Saya tidak melulu menulis tentang wirausaha, tapi juga kreativitas yang masih dalam lingkup dunia kedokteran yang termuat dalam
      “Kalau ingin PTT tapi tidak sengsara finansial, mungkin bisa mencontoh senior saya Dokter YH. Begitu bergelar dokter beliau tidak langsung PTT tapi mengumpulkan pengalaman dan rizki sebanyak-banyaknya di Yogyakarta. Dalam seminggu, inilah aktivitasnya: mengisi acara konsultasi kesehatan di radio, menjadi dokter jaga dan praktek di rumah sakit dan klinik, menjadi website developer pusat studi pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, berpartisipasi dalam sunatan massal, menulis artikel kesehatan popular, dll. Rezeki tambahan tidak selalu dari berbisnis. ”

      Respon dari komen
      Optimisme & bersyukur itu bagus, mengeluh tidak akan menghasilkan apa2… semua juga tahu itu. Menurut saya, Dokter Umum sedang mempunyai aspirasi untuk minta “bagian kue” yang lebih besar daripada yang diterima sekarang. Aspirasi ini tidak akan tercapai apabila sejawat DU berfilsafat “udah diterima aja kuenya, nanti kita cari kue di tempat lain”. Sungguh tidak empatik.

      Respon: saya mendukun segala kreativitas perbaikan rezeki Pak. upaya selain wirausaha melalui advokasi misalnya juga sangat baik. yang penting tidak sekedar mengeluh dan dibagi2. tapi bertindak, bikin produk (RUU, petisi, artikel ilmiah, lalu dibagi2)
      “Itulah kehidupan, jalannya berliku, kita harus aktif tapi juga fleksibel dalam menjemput rezeki Tuhan. “God gives, but doesn’t share”. Tuhan memberikan semuanya pada manusia, nyoh pek’en kabeh bumi dan isinya. Tapi kita manusia sendiri yang ribut memperebutkan pendistribusiannya. Celakanya bukan berusaha merebut haknya, malah sebagian kita sibuk mengeluh di sosial media. Sadar atau tidak berpotensi besar menyebar negativisme ke masyarakat Indonesia lainnya.”

      Tidak kah anda tergerak untuk mendukung aspirasi tersebut ?
      Intinya saya tergerak Pak, sbagai langkah nyata saya telah berkomunikasi sejak tahun lalu dg Prof Laksono Trisbnantoro pakar kebijakan kesehatan dari UGM agar saya dapat membantu research2 beliau di Center for Health System and Policy UGM.

      Kalau boleh tahu Bapak di institusi mana saja? mungkin bisa share data informasi dan gagasan terkait upaya peningkatan kesejahteraan DU ini?

      terimakasih semoga berkenan

  17. Menurut saya, konteks permasalahannya perlu dirinci terlebih dahulu. Solusi yang ditawarkan dalam artikel ini adalah dalam konteks “personal”, dan bukan dalam konteks “sistem”. Adapun artikel yang ditulis oleh dokter RD, lebih mengarah pada konteks “sistem”.
    Solusi semacam entrepreneurship, beasiswa, pekerjaan sambilan, itu adalah solusi yang bisa direalisasikan untuk sejumlah person saja.
    Tidak mungkin kalau semua mahasiswa FK dituntut untuk harus berwirausaha, sementara kondisi mereka berbeda-beda. Tidak mungkin pula kalau semua mahasiswa FK, dituntut untuk harus dapat beasiswa, sementara yang namanya beasiswa pasti ada batasan kuota.
    Meskipun demikian, saya menangkap sebuah pesan yang brilian dari artikel ini: man jadda wa jada! siapa yang bersungguh, pasti dia akan mendapatkannya. Banyak kesempatan di luar sana, dan jalan keluar akan selalu ada selama seseorang bersungguh-sungguh untuk mencarinya.
    Berkaitan dengan artikel yang ditulis oleh dr. RD, saya kira artikel dr. MutiaraFajar ini bukanlah suatu counter atas tulisan yang dibuat oleh dr. RD. Kedua artikel ini saling melengkapi satu sama lain, dr. RD membuat kritik atas sistem yang berlaku, dr. MutiaraFajar mengusulkan solusi yang dapat direalisasikan oleh person.
    Dengan demikian, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan:
    1. Adalah sangat naif jika tujuan menjadi dokter umum adalah semata untuk menimbun kekayaan dengan cara yang mudah. Masyarakat sangat membutuhkan keberadaan kalian, wahai dokter Indonesia!
    2. Sistem dan birokrasi harus segera dibenahi
    3. Bagi calon dokter, jangan berkecil hati, karena sungguh Alloh tidak akan pernah menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya. Pada-Nya jalan keluar atas segenap permasalahan. Pada-Nya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka.
    Sebuah ayat Al-Qur’an sebagai penutup:
    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)
    Terima kasih, dan mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dari apa yang saya sampaikan.

  18. makasih pak atas ilmunya saya sangat termotivasi sekali berbuhubung saya masih kelas 1 sma jadi pikiran saya tidak labil untuk melihat kedepan dan tau bahwa allah swt selalu ada di samping kita dan memberi jalan lurus untuk kita

    • Pak Ipik,

      Banyak nilai dari Bapak yang turut membentuk pribadi saya. wat we zijn nu bestaat omdat wat we gedaan hebben.. en ik heb uw geschiedenis klas blijlijk meegedaan..

  19. inilah perjalanan dokter [dokter umum] harus bertahan menjadi dokter dengan senggol sana senggol sini, saat profesi ini blm mendapat keadilan… ya semoga aja dokter ke depan lebih sejahtera sehingga tak perlu senggol sana sini untuk bertahan, sehingga sang dokter bisa konsentrasi mengembangkan keilmuannya… yg sangat dinamis ini…
    btw saat ini saya juga masih senggol sana sini juga… klo gak gitu yo susah dab!

  20. Tidak semua bung bernasib enak kayak anda.kita bukan berkeluh kesah.tp stdknya perhatikan nasib kami yg bener2 jadi dokter.(beda dg anda yg dokter murni.plus usaha lain).saya rasa kita gapengen kaya konglomerat krn kami sadar dg pilihan kami sbg dokter.tp jgn kebangetan sampe keringat kami gadibayar layak.dg gaji yg sm dg tukang. Parkir.bijaklah mengamati dan mengomentari.anda sendr gapernh jg to ke daerah dan merasakan kepedihan teman2 kita?smtr kita ptt gaselalu lo pak bs ketrima ppds.plg praktis pinginnya ya pengabdian.tp bgmn kami khusyuk mengabdi kalo kami sndr dan keluarga kelaparan??sekrang profesi lain aja gajinya sangat layak dan kalo kita butuh jasanya mesti bayar mahal.dokter??saya rasa anda paham jawabannya…

    • Jadi tukang parkir aja kalo gitu Pak. masih syukur Bapak bisa jadi dokter. bukannya ikhtiar dikencengin sama doa ditambah-tambah, malah ngeluh gaji sama kayak tukang parkir. harga dokter yang setara tukang parkir itu yang malah bikin doa2 Bapak didenger Tuhan. Tau ga, nyawa Bapak, keluarga Bapak utuh sampe hari ini bisa jadi karena “kesediaan” dituker sama gaji tukang parkir. ngeluh terus, dicatet malaikat jadi tukang parkir bener baru tau rasa.
      Minta perhatian pemerintah??? Daftar S2 kebijakan kesehatan di UGM, cari beasiswa unggulan dikti, daftar CPNS Depkes, ikhtiar masuk sistem rubah sistem. atau alternatif lain masih banyak.
      Emang Bapak pernah ngrasain jualan kartu nama, pulsa, parfum, asuransi, ketipu forex 30jt, selama 4 tahun kuliah S1.. hasilnya? ongkos kuliah FK balik modal dalam 6 semester dari modal sunatan waktu SD!!!
      Emang Bapak tau, sebulan magang di ceko, saya cuma sarapan energen sereal, makan siang roti seharga 700 perak . makan malam kornet nasi seharga 1500 perak selama 30 hari??
      Emang Bapak Tau di Jenewa saya bantu2 ngiterin lunch box masakan Indonesia supaya bisa dapet jatah satu gratis?
      maaf, saya ga mau ngeluh banyak2.. sudah syukur saya bisa nulis di sini😀

      • perkenalkan, saya ang 2001 dik
        Koq jadi emosi dik???saya cm berusaha menengahi sekalian share sedikit pengalaman, tidak setiap dokter (umum) punya jalan dan bakat yg sama spt adik, ada yg cuma bisa mengandalkan profesinya, tapi ada juga yg punya jiwa enterpreneur (seperti adik). Saya sendiri skrg seorang PPDS kepingin seperti adik (sedang merintis) namun kadang jg terbentur dengan kegiatan profesi di RS (waktu terbatas, kadang harus pulang malam, masih harus jaga 3 hari sekali, ada tugas2 di luar kewajiban kita, masih harus maju ilmiah, dll). Adik mungkin belum ko ass, jadi belum tahu betul bagaimana susahnya membagi waktu antara kegiatan RS dengan kegiatan pribadi (wirausaha). Saya sendiri perjuangannya berat jg lho dik, berhubung waktu S1 dulu ortu sudah pensiun (bapak pensiunan swasta, harus menanggung beban 3 orang anaknya termasuk saya) jadi saya jg bekerja serabutan, pernah saya jadi tukang tagih arisan,harus keliling dlm kota, 1 rumah dikasi 1000 perak, pernah juga jadi agen MLM, pernah juga jadi guru les. Itu semua harus dilakukan karena uang dari ortu tidak cukup. Setelah lulus dokter 9tahun 2007), sambil menunggu PTT saya bekerja di 4 tempat (1 RS, 3 klinik kecil); adik tahu gajinya?di RS saya digaji 1 jt per bulan dan klinik kecil saya digaji 2500 perak per pasien+uang duduk (20 ribu). Total yang saya terima perbulan sekitar 2 juta. Dan uang gaji untuk 6 bulan langsung habis untuk bayar kursus ACLS+ATLS (2,5 jt+3,5 jt) sisanya modal berangkat u/ PTT ke NTT (karena 3 bln pertama gaji telat+biaya transportasi ke sana). Setelah 6 bulan bekerja saya ingin PTT dengan tujuan agar dapat mengumpulkan modal untuk sekolah spesialis dan mendapatkan rekomendasi (saya mendaftar tujuan sangat terpencil, namun yang dikabulkan terpencil). Setelah diterima PTT,saya berangkat ke NTT, gaji cuma 1,5 jt (terpencil) dan untuk tambah2 saya praktek pribadi dapat sekitar 2 jt perbulan, Untuk mengirit pengeluaran per bulan akhirnya untuk biaya makan saya dibantu penduduk asli sana yang berkenan untuk mempersilahkan dtg ke rumahnya tiap siang dan malam dik, akhirnya total setelah 1 tahun bekerja saya bisa kumpulkan uang sekitar 20 jt. Selama masa PTT mencoba mendaftar menjadi PPDS DEPKES BK(berbekal rekomendasi dari kadinkes prov+bupati daerah) tapi tetap tidak diterima (kuota sedikit+saat itu ada beberapa rekan titipan anak profesor). Setelah kembali ke Jawa, ada periode nganggur 4 bulan karena blm diterima bekerja dimana2 (uang tabungan berkurang untuk biaya hidup dan ikut seminar2 ilmiah), baru kemudian diterima di RS besar dengan gaji lumayan sekitar 6 jt/bln (kewajiban jg sebanding dengan gajinya), setelah 2 tahun bekerja saya bisa mengumpulkan sekitar 80 jt. Setelah itu saya menikah (dengan modal sendiri tentunya, karena ortu tidak sanggup membiayai), uang tabungan akhirnya menyusut tajam. Dan pada saat yg sama saya nekat memutuskan u/ coba lagi masuk PPDS dan ternyata diterima. saya terkejut karena setelah masuk (saya angkatan 1) baru diberi tahu bahwa biaya nya ternyata sangat mahal dik (uang masuk 65 jt+SPP tiap semester 9 jt, jelas uang tabungan saya tidak cukup). Karena sudah terlanjur masuk tidak mungkin mundur, akhirnya saya putuskan mencoba mengurus DEPKES BK ternyata juga gagal (pdhl oleh bupati tempat saya melamar diminta uang untuk bikin rekomendasi 3 juta). Akhirnya dengan berat saya coba jalani hingga saat ini dik, mengandalkan gaji istri yg tidak seberapa, saya harus betul2 mengatur keuangan apalagi saya sudah dikaruniai seorang anak yg masih bayi. Mau mencari uang tambahan juga susah sekali mengingat waktu yg sangat-sangat terbatas.
        Dari cerita saya ini, saya berharap adik tahu bahwa tidak semua dokter umum sama seperti adik, walaupun jujur saya sangat ingin betul-betul bisa seperti adik, bisa berwirausaha di luar profesi dokter dengan harapan profesi dokter akan saya gunakan kelak untuk membantu orang2 yg tidak mampu dan usaha sampingan akan saya gunakan sebagai penghasil uang untuk hidup dan keperluan sehari2 saya dan keluarga(ini masih cita2 lho). Mungkin dokter2 umum seperti purple tidak memiliki jiwa wirausaha (seperti adik) dan betul2 menggantungkan pada profesinya. Ini lho yang perlu digarisbawahi dan diperjuangkan dik. Ini bukan soal harga diri dan martabat seorang dokter dik, tapi soal urusan perut seorang dokter umum beserta istri dan anak-anaknya (malah saya sekalian adik saya yg biaya sekolahnya saya tanggung). Jadi mungkin adik perlu menjadi dokter umum dulu dan bekerja (PTT) supaya bisa lebih memahami.
        Tapi dari tulisan adik saya sangat mengapresiasi semangat, usulan, keuletan, jiwa wirausaha, dan ide2 adik. Salut untuk adik!semoga segera lulus menjadi dokter dan bisa menjadi dokter yang berjiwa wirausaha (tanpa melupakan makna sumpah dokter dan profesi dokter), berjiwa sosial, dan semoga adik bisa menjadi pejabat kesehatan yang bisa memperjuangkan calon2 teman sejawat adik (saya doakan).
        terima kasih

      • Terimakasih Dokter V (maaf belum tahu nama aslinya),
        masalah emosi situasional saja koq Dok, sebenarnya bagian dari strategi saja.
        saya salut dengan perjuangan dokter, semakin salut lagi dengan cara dokter menceritakan pengalamannya (dan isi pengalamannya) yang menurut saya lebih layak baca dibanding sekedar membagi cerita keblangsakan nasib saja.
        kalau kisah dokter ini yang ada di Kompasiana, pasti lebih banyak mahasiswa kedokteran, dokter muda dan dokter umum yang lebih termotivasi daripada nelangsa. kami doakan semoga Dokter V selalu dalam lindungan-Nya baik kesehatan, kecukupan rezeki dan kemantapan iman.

        Indonesia banyak membutuhkan Dokter sebijak Mas Dokter V.
        Salam dari Jogja

        sekarang saya membantu mengelola http://manajemen-pendidikankedokterankesehatan.net/ silakan berkunjung dan monggo jika ada ide dari Dokter V.
        Fadjar

      • Halo Bukan Tukang Parkir,

        It pernyataan mengancam Mas, beda dong dengan nelangsa. Di sana ada unsur optimisme dan upaya yang lahir dari pembelajaran mereka pada apa yang sudah banyak terjadi di negara lain.

        Sekarang sambil ko-ass saya berusaha berkarya dengan membantu mengelola http://www.manajemen-pendidikankedokterankesehatan.net dan menyusun kurikulum pengendalian tembakau yang bisa diunduh di http://www.quittobaccointernational.org hasilnya tidak langsung mensejahterakan dokter tapi saya yakin ada manfaatnya untuk dunia kedokteran dan kesehatan meski hanya sebagian kecil saja.

        iya bersyukur, dengan ketipu forex, Tuhan berikan kami rejeki pengganti banyak lewat jalan lain.

        Tetap sehat, tetap semangat

  21. Coba lah lbh bijak dlm mnyikapi tulisan “orang bodoh yg dsebut dokter umum” mungkin pnulis akan memilik pandangan yg lebih jelas dan luas setelah anda mendapat gelar dokter dan mengabdi sebagai dokter di pelosok negeri ini..

    • Terimakasih Dokter Rieck, akan saya coba lagi setelah mendapat gelar dokter sesuai arahan Dokter.. Salam Sehat dan Sukses selalu
      Fadjar

      • Salam kenal semua. Menurut saya artikek ke duanya benar semua yg penting cara kita mencari peluang. Saya dokter di perusahaan sawit terkemuka tapi gaji yg saya dapatkan sama seperti dokter ptt di daerah terpencil. Kelebihan dokter ptt masi buka praktek sedangkan saya tidak boleh. Tapi saya tidak iri dengan hal tersebut saya tetap mau menerima pasien jam berapapun dengan begitu pihak perusahaan pun mengerti dengan cara membebaskan kan saya mengikuti seminar kedokteran gratis di indonesia. Selain itu untuk mencukupi kehidupan yg lain saya juga mencoba peruntungan dari bidang lain misal ikut dalam bisnis kelapa sawit, jual baju yg saya kreditkan di karyawan, serta peluang peluang lainnya. Dan sambil berharap setelah uang terkumpul dapat melanjutkan ppds. Amin

  22. Tulisan ini bukan merupakan jawaban… sangat melenceng… yang diperlukan itu adalah adanya suatu bentuk penghargaan dari pemerintah terhadap dokter umum, khususnya secara finansial… coba perhatikan penghitungan jam kerja dokter dengan penghasilannya…

    • Coba bayangkan bagaimana upaya dalam pemenuhan SKP dalam 5 tahun, untuk ikut pelatihan, simposium, workshop dan lain-lain itu sangat menelan banyak biaya, tidak sebanding peraturan2 yang diberikan pemerintah dengan gaji yang diberikan…

      • Karena itu Mas Arif, karena tahu tidak sebanding, kita realistis sajalah, mengupayakan segala yang bisa kita kerjakan untuk bisa memakmurkan lingkungan dan mencukupkan diri ini. Kita jemput rizki halal sebanyak-banyaknya dengan kreativitas dan kesempatan yang ada. Seperti Mas Arif bilang kebutuhan kita banyak kan ada pelatihan, simposium, workshop dan lain-lain, masa’ iya kita jemput rezekinya cuma lewat praktek dokter atau PNS aja?

        Salam semangat & kreativitas

      • Yaa yg pertengahan aja. Niat awalnya jd dokter apa, semua profesi kn sama ujungnya di pengatur kehidupan, Tuhan YME. Ga ada yg terlalu sulit, ga ada yg terlalu mudah. Dokter RD cuma memberi gambaran kondisi beberapa dokter PTT yg mgkin punya nasib sama dg beliau, meminta keadilan ya sah2 aja. Fadjar juga sedikit memberi contoh kalo mw usaha ada jalan. Biasa2 aja dalam menjalani hidup sbg dokter, rezeki kn udh ada yg ngatur. Kalo meninggal jg ga ada yg dibawa.

      • Hai fadjar🙂,slm kenal,salam enterpreneurship🙂.Sy setuju fadjar dg kreativitas kamu.seperti kata pepatah “saat satu pintu tertutup,masih ad pintu2 lain yg terbuka”,Dimana ada kemauan disitu ad jalan. Banyak sekali yah dokter yang menulis “Saya tidak punya bakat wirausaha”. Terkait hal ini,memang sih ga semua org punya bakat wirausaha,tp bakat itu bisa tercipta kalo “kepepet”, the power of kepepet. Dan hal ini sy sendiri merasakannya. Sejak jaman SD memang sy pernah jualan di sekolah, SMP dan SMA vakum, lalu waktu kuliah terdorong kebutuhan ekonomi,mulai deh sering juga usaha buat sambilan, namun tdk ditekuni dg serius, jual pulsa, kerudung, dsb. Beasiswa pun alhamdulillah pernah dpt juga. Cuma dl prioritas sy ya cuma kuliah bwt jd dokter yg baik, dtg, belajar, nyatet (dl rajin bgt sy nyatet sampe srg dipinjam catatan’a bwt di copy). Namun perjalanan hidup dan the power of kepepet itulah yg menjerumuskan sy ke dunia “enterpreneurship”. Di tengah gaji honorer daerah yg sedikit, jaga malem sana sini berbuah sering hipoglikemi dan ngantuk, sekolah spesialis yg mahal, membuat saya berpikir “Hidup saya tidak bisa terus seperti ini”. Akhirnya banyaklah sy ikut seminar enterpreneur, bertemu dg pasa pebisnis2 muda, baca buku bisnis. Jd yg bilang “ga punya bakat” itu meremehkan Tuhan yg telah menganugerahi kita dg macam2 talent. Mungkin bukan ga punya bakat, tp “belum digali” aj🙂. Oke saat ini saya memang blm spesialis, dan ad niatan untuk ke arah sana, namun janganlah kita semua dokter umum menganggap ujung jd dokter adalah jadi spesialis. Oke kalo di Luar negeri dokter dpt gaji bnyk ditunjang pemerintah dianggap ilmuwan : monggo anda berkreativitas, kami yg menunjang kesejahteraan anda. Dengan jadi dokter umum enterpeneur, buka usaha sendiri (usaha ga harus jauh2 dari keilmuan kita, contohnya aj praktek pribadi tapi yg bener2 ditekuni atau klinik kecantikan), jd dokter dosen, dokter peneliti,dsb apapun kalo qt tekuni pasti berbuah manis kq,bisa dpt beasiswa LN, atau minimal dalam negeri. Yg banyak ngeluh, coba deh tanyain ke diri sendiri : saya udah fokus blm?sy sudah mengusahakan yg terbaik blm? Owiya silakan singgah di blog sy dek, ad tulisan resensi buku “Rich dad poor dad : sebuah resensi pentingnya kecerdasan finansial” di dokterelies@wordpress.com. Terus buat pasien yg ketakutan “ga bakal dilayani dg baik”. Jangan khawatir, dokter uda dilatih buat multitasking kq, dan naluri alamiah dokter kalo ngeliat pasien gawat ya pasti akan ditangani sebaiknya, diprioritaskan. Mungkin pendapat pasien yg “dokternya sering ga dtg” itu dokter tsb blm fokus, kalo mau wiraswasta ya wiraswata tp ditekuni, kalo mau jd PNS ya ditekuni jg intinya fokus dan senang dg pekerjaan kita, uang akan ngikut.

      • Terimakasih banyak Dok atas sharing-nya. Menarik sekali pembahasan buku Robert Kiyosakinya. Semoga semakin banyak dokter yang tercerahkan secara finansial.

      • kumpulin skp jangan melulu dr seminar.pas str saya habis thn 2011..saya sedang perpanjang PTT di NTT..kategori St,perbatasan timor leste..kebayang dong susahnya akses ke seminar di jawa..uang tiketnya super duper mahal dibanding harga seminarnya..smtr sy juga bukan dr keluarga berada..pernah nyambi jd agen asuransi, jd asisten dosen, di puskesmas jualan pulsa.ikut investasi sana sini..
        Dgn keterbatasan info, di perbatasan susaaaaahnya mt ampun koneksi internet.. Sinyal cm ada gprs..pastinya cm ada opsel telkomsel.. Ditengah kekalutan ga mampu kumpulin 250 skp..puji Tuhan..ada sosialisasi seputar borang Cpd..

        Anda bs ty idi tpt saudara join.atau download format2nya..
        Dr seminar saya ga nyampe 100 loh..banyaknya di ranah pengabdian: penyuluhan (dpt skp), baksos (dpt skp), periksa px (>50 px/bln : 2 skp), suntik dpt skp,bikin visum dpt skp..ada jadwal jaga (utk puskesmas poned/rawat inap,dpt skp) dst..
        Jadi Tuhan jg tau..perjuangan dan kesusahn kita di pelosok..tyt dpt poin skp ga hy dr seminar/simposium yg diakui..masih bamyaaaak kok tempay mengumpulkan Skp..U just need to know how..
        Setelah sy kembali ke bogor(stlh perpanjang PTT total jd 4,5 thn)..nasib sy pun seperti TS yg lain..tetap mengais rezki walaupun hy dibayar 1500/px askes,2500/px jamsotek dan 6000/px umum..dgn jam kerja1x 24 jam.. Sy terima kl dr. Memang lebih byk pengabdian..yg saya tidak terima adalah pandangan org2 tmsk teman2 lingkungan saya,,yg menggangap dr. Banyak uang kpd saya, bahkan saudara semua bgt..mrk tak tau berapa pemasukan sy..dibawah UMR buruh jakarta.. Hhh…sy yg ada capek menjelaskan kpd saudara, teman yg mau pinjam uang puluhan juta, bahkan 100 juta kpd saya..kl bayaran saya ga seperti anggapan org…
        Kdg rasanya ingin berhenti jd dr..capek dgn anggapan masyarakat..yg menuduh saya bohong, kl sy bilang gaji saya lebih rendah dr gaji buruh jkt..merasa terhina krn sll dianggap : ah bohong.
        Intinya Saya salut,sm TS2 lain yg msh byk yg lbh susah dr sy.. (at least i am still single,,paling cm nanggung org tua..)
        buat T.S: Keep on believing.. keep on trying..and keep on praying to almighty GOD..

  23. Wah…. tidak sengaja tadi ng-klik link ini, ternyata yang muncul dialektika dunia dokter. Saya orang awam yang tidak mengerti tentang dunia kedokteran. Tapi dengan banyak nya pengalaman tragis yang saya alami ketika berhubungan dengan dunia kesehatan, jujur saya menjadi semakin takut ketika dokter Fadjar keukeuh dengan wacana dokter entreprenuer. Dari pengalaman saya, sekadar untuk bertemu dokter umum dan dokter spesialis di RS Pemerintah itu sulit nya minta ampun…setengah mampus, bahkan ketika ibu saya almarhum dalam kondisi kritis dokter spesialis itu pun juga tidak pernah muncul. Ketika saya tanya alasan nya, alasan nya sangat simple “karena sang dokter yang maha dewa tersebut sedang berpraktek pribadi yang harga nya selangit”. Saya takut ketika mental para dokter semakin “bisnis” mereka akan semakin sulit untuk di temukan. Jadi saya sepakat harus ada sistem yang bisa mengikat seorang dokter untuk bisa benar-benar melihat kami para pasien ini dalam konteks sebagai manusia bukan tambang uang. Tapi saya rasa ini hanya utopia karena dari sedikit dokter yang saya kenal yang bahkan mau tersenyum kepada saya ketika berobat di RS Umum sangat sedikit. Akan tetapi kondisi langsung berubah ketika saya di terima di sebuah Perusahaan Besar yang berbasis di Inggris dan Belanda. Setiap saya berobat ke RS Rujukan perusahaan, setiap masuk ke RS itu saya diperlakukan seakan-akan saya ini orang penting sekali dan setelah saya cek struk tagihan nya ternyata saya memang orang yang cukup penting, dengan kondisi demam yang sama saya cukup bayar 25 ribu d RS Pemerintah tapi naik lebih 10 Kali lipat di RS ini dengan nominal 350 ribu…. Sungguh sampai akhir hayat saya tidak akan mengerti bagaimana dunia kesehatan berlogika atas nyawa dan pengharapan para pasien

    • Salam Mas “Bukan Dokter”,

      Kompleks memang mas, tapi satu pelajaran saya tarik daripengalaman Mas, untuk kita tidak menyepelakan siapapun yang kita hadapi. Apalagi pasien yang belum diapa-apakan sudah menderita, mau ditambah pula bebannya dengan administrasi dan biaya?

      Terimakasih sudah mampir

  24. wah artikelnya sangat menarik sekali dan inisial saya juga RD lho
    mau memberi komentar masalah ini
    saya adalah dokter yg baru lulus juga mungkin angkatanny sama seperti mas fadjar dan sedang menjalani kewajiban wajib internship karena program perkuliahan di angkatan saya adalah mengikuti program KBK, langsung saja saya sangat salut dengan pejuangan mas fajar untuk mengais rejeki saya acungi jempol,
    msalah ekonomi seorang dokter apakah menurut mas fajar layak untuk hidup?
    contoh seperti dr V, yg mengais rejeki dengan menjaga klinik ( klinik kecil saya digaji 2500 perak per pasien+uang duduk 20 ribu, anggap saja sehari 10 pasien : 25000 ( 20000+25000 : 45000/hr jam 5-9, dalam sebulan kira2 900000, apakah itu layak untuk mencukupi kehidupan sehari2? ya mungkin bisa di kalikan 2 dengan shif pagi juga jadi total 1,8jt apakah sudah layak? mungkin kalau hidup sendiri cukup tp itupun udahserba minim, dokter juga butuh keseimbangan ekonomi agar kita itu bisa hidup yang layak sebagai dokter, mungkin berbeda dengan mas fadjar yg tekun menjalani usaha sampingannya sebagai wirausahawan, tp bagai mana bila memang ada dokter yg tidak memiliki kemampuan seperti mas fajar?, dan dia hanya menggantungkan hidupnya dia dari profesinya dia,

    terimakasih

    • Salam Mas Memetzdani,

      sebetulnya kalo dibilang saya punya jiwa wirausaha itu bukan karena ada begitu saja itu karena kepepet. pasti percaya kan MAs kalau kita kepepet bikin potensi kita meledak. kelas dua SD saya bantu kakak jualan minuman kaleng di sekolah. dari situlah saya tahu, pintu rejeki termudah itu lewat usaha. Kami kulakan Coca cola 500, bisa jual 1000 di SD saat itu. Alasannya panjang, yang jelas sejak kecil kami terbiasa kepept, dan kadang keasikan memepetkan diri. Thanks to orang tua kami.

      Sampai kuliah pun terus terbawa, kalau mau kaya wirausaha. Tapi saya sudah berjanji dalam hati dengan Almarhum Bapak saya akan jadi dokter. Makanya sekarang saya kurangi intensitas usaha karena ingin konsentrasi ko-ass. Sekarang saya hanya jual Wafel titipan di koperasi kampus yang untungnya hanya 15 ribu per hari. Sebagai sumber nafkah lain, saya bergabung ke dalam 2 proyek berbeda di Fakultas Kedokteran yang pekerjaannya bisa saya kerjakan di mana saja. Selain hasilnya yang pas banget, 11/12 dg gaji PNS, bekerja di proyek dosen turut melatih otak saya untuk menjemput karir di masa datang, siapa tahu saya dapat tawaran sekolah, menjadi staff fakultas, dll.

      Intinya bukan wirausahanya sih Mas, selama kita kepepet tapi mau usaha. Jalan keluarnya ada saja.

      Salam,
      Fadjar

  25. menurut saya menjadi dokter itu adalah hal yang membanggakan. karena dokter itu profesi yang berat karena : 1. hanya dokter yang rela sekolah bertahun-tahun lamanya. 2. hanya dokter yang rela mengeluarkan uang banyak demi meneguk ilmunya. 3. hanya dokter yang rela dibangunkan tengah malam karena seseorang yang mungkin hanya tidak bisa tidur karena sering batuk. 4. hanya dokter yang mau mendengarkan berjuta keluhan mulai dari masalah penyakit atau di luar itu. 5. hanya doker yang masih mau dibayar dengan kata-kata ‘Makasih dok, saya sudah sembuh’. 6. ilmu kedokteran itu dipandang sebagai ilmu terbaik setelah ilmu tentang halal dan haram dalam agama Islam… saya yakin selain harta insyaAllah pahala dan kemuliaan akan didapatkan oleh seorang dokter maupun umum atau spesialis. jangan sampai kita berputus asa dengan profesi ini apapun yang dikatakan orang lain tentang dokter.

  26. Salam kenal mas Fadjar.

    Tulisannya memotivasi saya untuk lebih berkreasi.

    Saya sendiri sangat menikmati hari-hari dengan hobi saya, seorang dokter “penggila” IT, saya lebih banyak kerja didepan laptop. Baris-baris kode program lebih bayak saya tulis, mengalahkan kode2 anamnesis dan PF di status pasien🙂. Tapi yang penting saya menikmati itu. Mungkin sebagian TS menganggap saya aneh tapi itulah kita. Harus berani jadi diri kita sendiri. Kalo rezeki seperti doa saya kpd Allah supaya senantiasa diberi dengan tiada putus.

    Mungkin kedepannya bisa lihat ide-ide saya di http://blogbeken.com/software-kedokteran saya punya dream suatu saat nanti akan ada “demam” smartdoctor di penjuru tanah air.

    Tetaplah berkarya Mas Fadjar.

    Salam

  27. salam untuk penulis. memang perlu “waktu” untuk adik-adik memahami kondisi kita sebenarnya. Tidak heran dosen-dosen adik aja, meng”amini” penulis (RD). adik-adik masih syndrom ‘baru lulus” saya juga gitu dulu. tapi yang disampaikan RD tidak salah. cobalah PTT di daerah papua, dan merasakan bagaimana kita sudah didoktrin dengan hal-hal “di atas langit” tentang profesi kita. Tidak semua salah, tapi kita tidak se”wah ” yang kita bayangkan. saya tunggu pendapat adik setelah paling tidak 15 tahun menjadi dokter. salam TS

  28. Salam kenal Mas Fadjar,

    kebetulan saya pernah PTT 2 kali. Sekarang sdg PTT di Papua dan sblmnya pernah PTT di sulawesi tenggara (2009), dgn kriteria T dan gaji 1,5 juta. Selama bertugas di Sulawesi saya pernah dipindah tugas ke pkm yg jaraknya 60 km selama beberapa bulan. Sehingga saya harus pulang pergi hampir tiap hari ke pkm, dg menggunakan motor bebek buatan China yg udah butut dan boros bensinnya (3 liter alias 18 rb untuk sekali berangkat ke pkm). Terasa sekali beratnya menjadi dokter dgn gaji minim kala itu…

    Sehingga saya sangat memahami ketika banyak rekan2 yg ‘berteriak’ meminta perbaikan kesejahteraan. Dokter pemerintah alias dokter pns meminta kenaikan gaji bukan berarti karena mereka matre atau mata duitan, tetapi karena memang selama ini mereka dibayar ‘underpaid’ dan kurang sejahtera… Dgn THP 3-3,5 jt perbulan tentunya ini tidak sebanding dgn besarnya resiko dan tanggung jawab yg diemban, apalagi jika dokter tsb sudah berkeluarga dan harus menghidupi anak istrinya. Belum lagi jika dokter tersebut melakukan kesalahan, malpraktek misalnya, tuntutan dendanya sangat besar! Sehingga idealnya seorang dokter memiliki asuransi profesi. Namun apa daya, gaji pas2an… jgnkan untuk byr premi, untuk biaya sekolah anak saja kadang bikin pusing..

    Terkadang sampe ada TS yg membandingkan penghasilan dokter dgn tukang parkir atau klaim jamkesda yg hanya rp. 1.500 (lebih murah dari tarif toilet umum). Ini adalah bentuk rasa frustrasi atas rendahnya penghargaan pemerintah thd para dokter (pdhl dokter/tenaga kesehatan sering di jadikan komoditas politik dgn jargon ‘berobat gratis’nya, aplg menjelang pilkada).

    Ketika ada yg membandingkan penghasilan gaji dokter dgn tukang parkir, saya sayangkan jawaban Mas Fadjar ‘kalo begitu jadi tukang parkir saja…’ menurut saya ini jawaban yg tdk konstruktif. Sebaiknya kita membandingkan gaji dokter di Indonesia dgn di negara tetangga dgn tingkat ekonomi yg setara (misalnya Malay atau Thailand), setidaknya itu bisa dijadikan pembanding. Bahkan saya pernah baca kalo dokter d jaman Belanda dulu itu lebih dihargai, mereka digaji tinggi (kl tdk salah hanya setingkat d bawah gaji bupati).

    Menurut saya kita harus bersatu dan satu suara, seperti juga para ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ ketika memperjuangkan peningkatan kesejahteraannya.

    Maaf jika ada kata2 yg kurang berkenan..

    Salam,
    A. Fuad

    • Terimakasih banyak atas respon positif dan masukannya.
      Saya sendiri sedang berjuang turuntangan mencoba ikut memperbaiki keadaan di antaranya dengan mengelola web http://pendidikankedokteran.net/ dan http://dokterinternasionalindonesia.net/
      Mohon maaf atas respon saya yang kurang berkenan. Memang kita harus mengecamkan Indonesia belum merdeka untuk menghindari frustrasi tadi.
      Dan bagaimanapun juga tidak mudah pula menjadi tukang parkir dan penjaga toilet, setidakna meski harus sama2 menderita di awal, dokter lebih punya banyak pilihan di masa depan (tubel spesialis, beasiswa luar negeri, beralih menjadi pengusaha/politis, menjadi ahli asuransi atau health financing dsb) dibanding para tukang parkir dan penjaga WC.

      Untuk mendapatkan informasi yang penting silakan akses fitur alert system sehingga akan secara otomatis mendapat informasi terkait pengembangan kualitas, kesejahteraan dan kariri dokter di Indonesia.

  29. Oke banget deh!! Me likey, Me likey. Sukses terus menggampai mimpi, Mutiara Fadjar. Kamu contoh dari Tuhan bahwa semua yang diimpikan dapat terjadi. Salut buat temen2 dokter yang sungguh2 mengabdi untuk melayani orang lain. 1 diantara 1000 deh.

    -A Woman who decides to flip hotcakes and creating dessert beverages instead of living the medicine life-

  30. =))º°˚нåнåнå˚°º=))º°˚нåнåнå˚°ºº°˚нåнåнå˚°º=))º°˚нåнåнå˚°º=)) buat orang yg blum pernah ptt,anda berpikir terbuka,nice,we need lot of you,well cerita diatas adalah pandangan idealis dan optimistis,jauh dri cerita ‘dr umum=orang bodoh’ yg hanya memandang kehidupan dokter umum dri segi material,mungkin RD harus bertanya pada diri sendiri ‘apa tujuan saya menjadi dokter?’ Klo mau kaya,jd pengacara lebih mudah jadi kaya,bisa menuntut dokter malpraktek =D saya Ū∂åћ pernah ptt dan hey it’s not that bad,it’s fun in fact,penghasilan pun bagus,gw bisa nabung puluhan jt hanya dri ptt (saat itu murni hanya sebagai dr PKM and sisanya wisata mancing =D) karna saya bodoh waktu itu (menurut ayah saya) yg tidak memikirkan masalah duit-well salah satu tujuan gw masuk FK kan ‘menolong orang’ bukan ‘menjadi kaya’ apalah arti harta berlimpah klo justru kita jd was2 akan d rampok ato di curi?lebih baik ngejar harta yg tidak akan habis d kerat rayap karat well have a nice day….indonesia memang memiliki auto pilot karna masih adanya prinsip bhineka tunggal ika dan biarkanlah pemerintahan bekerja,kita tau korupnya penjabat pusat dan daerah tapi itulah tantangannya,ubah pesimistis jd optimistis dan kehidupan sebagai dr umum akan menjadi hobi dengan sendirinya. Hal yg paling gw senangi di dunia ini ialah ketika gw bisa berinteraksi dgn pasien,mendengar keluhan mereka dan mencoba menyelesaikan masalah mereka physically or mentally. Well have a nice day

  31. artikel yang baik, saya dokter lulusan tahun 2004. menurut saya keduanya benar. Peluang dokter umum secara profesi murni untuk saat ini tidaklah seperti dahulu, seperti halnya hukum ekonomi, lulusan yang semakin banyak akan memunculkan persaingan yang semakin ketat dengan keterbatasannya lahan pekerjaan, apalagi masyarakat semakin kritis dan spesialis oriented. Yang ingin saya tekankan adalah perubahan ini tidak bisa dibendung, dan persepktif kita sebagai dokter umum pun harus banyak mengalami penyesuaian jika ingin tetap eksis. Kalau dulu kita berfikir dokter umum ya kerja di praktek, RS dan Klinik, Maka saat ini kita harus mengembangkan tidak hanya itu, misalnya, dokter umum bisa menjadi direktur atau konsultan RS (jngan lupa bekali dengan sekolah S2 RS), manager klinik, mengarang buku kesehatan (atau menyadur atau menterjemahkan saja), bergerak di IT Rumah sakit, Dosen kesehatan (untuk jurusan D1,3, S1 bahkan S2), PNS, Penllai akreditasi RS, mengelola lsm kesehatan dan dunia, Bahkan jika berminat dokter bisa mengkhususkan keahlian di bidang KEuangan RS, MArketing RS, OPerasional RS, Dll) kedepan fungsi fungsi ini akan mengalami transformasi dengan dokter sebagai pengendali karena fungsi ini hanya dapat difahami secara baik oleh seorang dokter umum. Pasanglah strategi dari sekarang misalnya kita sering mengikuti kursus yang bersertifikasi (lumayan menambah gelar selain gelar dr. ada CBSCP, CPHRM, CPMS, CHt, dll) ketika kita bekerja akan menjadi dokter yang plus yang diakui kekhususan bidang, bahkan spesialispun akan mengapresiasi kita. Banyak strategi lain yang tidak mungkin saya paparkan. Bersiaplah untuk menghadapi perubahan….yakinlah perubahan itu selalu ada pada setiap profesi bukan hanya dokter…

  32. kl udh jd dokter pns br tau gmn sedihny hidup, gaji cuma 2,5 jt, ok kl praktek rame atau kl ada usaha sampingan.. kl g ada?sedih bgt.. saya ingin jadi dokter murni, bukan pengusaha atau dokter pns yg sambilan jaga praktek atau usaha setengah mati demi keluarga spy bisa hidup layak.. terimakasih.. peace

    • Ya Dokter Deni,

      kebetulan sejak SMP saya sudah diberitahu oleh dokter lulusan tahun 70-an hingga 2000-an. Bahwa kondisi yang dr Deni inginkan itu tidak ada dalam dunia nyata. Dokter umum dan PNS sejahtera sesuai impiannya, apalagi lebih sejahtera dibanding teman SMA sekolahnya. Tidak ada itu. Tidak ada. JDokter umum yang sejahtera banyak sambilannya, mulai dari mengajar, membuat seminar, hingga usaha. Jadi supaya tidak sedih banget dan bisa mencapai kondisi sejahtera sesuai keinginannya, tidak bisa hanya jadi Dokter PNS saja. Kita tinggal di Indonesia lho Dok, bukan Eropa. Harus usaha sampingan dan memang usaha setengah mati untuk sejahtera.
      2014 BPJS akan berjalan, para akademisi dan IDI berusaha agar kesejahteraan dokter meningkat. Tapi kalau belum sejahtera juga, ya memang kita harus usaha setengah mati. Kalau tidak ingin usaha setengah mati tapi tetap hanya ingin jadi dokter PNS tanpa usaha sampingan lain dan tetap tidak ingin sedih, bisa jadi ikut ujian UMSLE untuk jadi dokter di Amerika bisa jadi solusi. InsyaAllah sejahtera sesuai impian di sana kalau hanya sebagai dokter saja.

  33. Salam kenal …
    Sangat sepakat dengan “masa’ iya kita jemput rezekinya cuma lewat praktek dokter atau PNS aja?”🙂
    Faktanya emang banyak temen2 dokter berpikiran sempit yg menggantungkan nafkahnya hanya dari hub dokter-pasien. Welcome dengan SUAP ini-itu utk melariskan dagangan dr farmasi, akibatnya pasien dirugikan.
    Btw, pro-kontra mengenai fulus tsb apakah suap/ bukan bisa dibaca di blog saya di:
    http://genghiskhun.com/celah-suap-dan-gratifikasi-bagi-dokter

    trims

  34. Salam kenal, mas Fajar … dan semuanya

    Setelah membaca kedua tulisan nampak bahwa konteks yang dibahas berbeda, tulisan dr. RD adalah “sistim” yg lebih diarahkan ke bentuk penghargaan “sistem” tehadap profesi dokter (lebih ke arah financial), sementera tulisan mas fajar lebih ke “personal solution” yg tidak dokter pun bisa mengambil pelajaran dari tulisan mas fajar …

    Namun kedua tulisan ini jika digabungkan menjadi satu, mungkin bisa jadi masukan yang hebat untuk “si” penentu kebijakan.

    Saya setuju dengan dokter V, tidak semua kita punya bakat dan kesempatan seperti yang mas fajar punya … Dan saya yakin semua kita ingin mempunyai itu (dan sebagian besar sudah mencoba) … Mungkin kalau bercerita “kekejaman” finansial saat kuliah dan solisi kita menanggapinya adalah cerita umum bagi kita yg pernah kuliah di FK bagi kita dari keluarga “kebanyakan” (menengah ke bawah)

    Setelah PTT di Pulau Seram 2 th, saya menjadi PNS prov. dan di letakkan di suatu daerah kategori Sangat Terpencil, sudah 3 tahun menjalaninya. Sedikit berinvestasi ke kelapa sawit dan alhamdulillah masih berkecukupan untuk hidup saya dan keluarga dengan gaji PNS di bawah 2,5 jt / bulan. Namun kembali lagi, tidak semua punya kesempatan yang sama, meski kadang sudah berusaha lebih keras. Namun, saya tidak memberikan opini negatif thp tulisan dr. RD yang memang adalah realita “sistim” yang terjadi dan sudah/sedang dialami oleh saya dan sejawat lainnya yg punya kondisi sama, percayalah itu tidak mudah. Aplikasi2 beasiswa dan mencoba berbagai jalan keluar alternatif finansial berujung penolakan dan kegagalan. Dan itu berat, sehingga kata “mendedikasikan” diri pada pengabdian sebagai dokter sering kalah dengan keharusan tanggung jawab menjamin keluarga mendapat kebutuhan yang cukup untuk dapat hidup dengan taraf “ada”. Cita2 saat kuliah dulu dan tuntutan masyarakat untuk menjadi dokter yang ideal dan pengabdian penuh sering ditimpangi oleh masalah itu. Mungkin mas fajar akan lebih bijak menanggapi tulisan dr. RD bila nanti mas Fajar selesai pendidkan dan mencoba untuk melakukan pengabdian masyarakat langsung ke suatu daerah terpencil di Indonesia.

    Terima kasih atas cerita inspiratif dan motivasi2 serta semangat yang tertuang jelas dalam tulisan mas Fajar di atas. Sungguh, kita butuh itu untuk menguak kembali semangat yang terbelenggu oleh keadaan dan dilema profesi dokter di negara kita.

    Semoga nantinya mas Fajar setelah menyelesaikan pendidikan dapat menjaga, memberikan, mempunyai kesempatan serta meneruskan semangat dan optimisme perubahan ini menjadi suatu solusi untuk perubahan “sistim” yg diberlakukan untuk profesi dokter (dalam konteks profesi – bukan personal) ke arah yg jauh lebih baik dari yg terjadi sekarang ini di depan harinya. Aamiin.

  35. sepertinya dokter T yang punya usaha fotokopi dan futsal di yogya itu, sepupu suami saya, mas. alhamdulillah, mas T itu termasuk tokoh yang saya sering ceritakan kepada anak2 saya, untuk memberi semangat. tokoh penyemangat saya selain suamiku sendiri, yang dapat beasiswa s1 ke eropa dari BPPT, dan lanjut sampai s3 dengan beasiswa dari professor2 dari eropa yg baik hati. dokter T itu berasal dari keluarga yang secara finansial lebih dari cukup. tapi beliau tidak malu untuk memulai usaha foto kopi.
    semoga makin banyak pelajar yang bisa belajar mencari uang sendiri, merasakan banting tulangnya mengais rizki dari Allah…dan tetap berprestasi di akademik.
    selamat ya, mas

  36. Tulisan yang bagus dan sangat inspiratif. Kebetulan menemukan tulisan ini saat lagi browsing di google. Tapi sebaiknya jangan terlalu mudah mencela, misalnya saja saat menjelaskan tentang ‘dokter yang hanya bisa komplain’ dan ‘lebih baik meninggalkan kehidupan’ karena kita juga tidak mengetahui sejauh apa orang-orang tersebut sudah berjuang ataupun kontribusinya dalam menyalurkan aspirasi. Mungkin saja dokter RD sendiri sudah mampu mengusahakan mencukupi diri, namun menuliskan hal itu untuk membela nasib sejawatnya? Di sisi lain, adalah benar juga bahwa dokter seharusnya adalah profesi utama, dan bukannya malah jadi profesi yang ditomboki oleh profesi sampingan. Masalah adanya jalan, memang benar, tapi masalah dasarnya juga masih ada, yaitu kurangnya kesesuaian antara hak dan kewajiban. Di sisi lain, agak ngenes juga melihat username dari dokter RD yang memakai kata ronin (samurai pengangguran). Kita juga harus bersyukur karena biaya pendidikan di ugm itu termasuk ‘murah’, dan bahkan saya pernah dikomentari perawat bahwa biaya itu lebih rendah dari pendidikan perawat di beberapa universitas lain.

    Saya sangat salut dengan berbagai cerita mengenai pengalaman perjuangan rekan-rekan dokter. Mudah-mudahan anda tetap dimudahkan rezeki dan tetap kuat dalam mengabdi.

    • Terimakasih banyak atas apresiasinya. Semoga sejawat dokter diberi kekuatan dan kelapangan rizki dalam memberikan pelayanan pada masyarakat

  37. dokter juga manusia…dokter juga punya keluarga. semoga para pembuat kebijakan di negeri ini mengerti betul bagaimana cara menghargai profesi seorang dokter.

  38. Anda belum bisa berbicara secara adil dan menganalisa hal yang anda saja masih “membayangkan” …

    Jadi Dokter doeloe baru anda bisa menganalisa “lebih baik” tulisan yang fokus untuk anda salahkan

    Saya tunggu tanggapan anda setelah anda “jadi” Dokter …

    Tapi saya sangat apresiasi semangat anda, tapi jangan terlalu banyak bicara apalagi menyalahkan / menganggap salah hal yang anda sendiri hanya membayangkan atau berangan angan (belum mengalami).

    • siap.. sayang, terlalu banyak dokter umum mengerdilkan diri dengan mencari suapan nasi dari praktik umum saja tanpa mengembangkan potensi diri lainnya.
      perlu dicamkan, kita masih hidup di Indonesia, negara dengan pemerintahan yang belum menunjang dokter umum mengandalkan satu periuk nasi saja.

  39. Saya percaya Tuhan mempunyai rencana yang indah dengan mengajak kita semua menjadi dokter. Pekerjaan dokter adalah pekerjaan yang mulia, selama 8 tahun menjadi dokter umum di Surabaya yang penuh dengan persaingan yang ketat, saya bisa membahagiakan orang tua saya, saya bisa memperistri istri saya dan saya bisa menafkahi anak saya. Memang tidak mudah menjadi seorang dokter, namun saya percaya dengan bekerja sebagai dokter, kita dapat membahagiakan pasien kita, keluarga kita bahkan diri kita sendiri. Saya seorang dokter umum yang lulus FK tahun 2005, buka klinik pelayanan di surabaya barat yang saya lengkapi sarananya dengan apotek, laboratorium, klinik perawatan wajah, akupuntur, optik, usg dan kolposkopi. Semuanya saya mulai dengan modal hutang bank (kecuali tempat, kepunyaan orang tua saya). Saya seorang PNS, sudah menyelesaikan S2 Manajemen Rumah Sakit dan saya rencana untuk sekolah Spesialis.

    Dengan adanya perubahan dari pola pembiayaan kesehatan BPJS tahun 2014, kita semua para dokter harus juga berubah. Hal ini jangan cuma dianggap sebagai ancaman, namun harus juga dianggap sebagai suatu peluang. Saya percaya dokter yang mempersiapkan dirinya dengan baik menghadapi perubahan yang terjadi, akan dapat bertahan dan berkembang.
    Semangat terus dokter di Indonesia.

    • Terimakasih atas sharing-nya..
      Sosok seperti Anda perlu diundang menjadi pemberi kuliah tamu tentang apa yang bisa diupayakan dokter umum menghadapi tantangan dunia nyata..

  40. LIFE FOR SURVIVE OR SURVIVE FOR LIFE ,
    KITA HARUSLAH MENJADI SEORANG DOKTER UMUM YANG DAPAT DI KENANG MASYARAKAT AKAN ILMU KITA DAN MENGHILANGKAN ETIKET DOKTER MATERIALISTIS YANG SELALU MERESEPKAN OBAT – OBAT YANG MAHAL KEPADA PASIEN MENGHILANGKAN OBAT YANG MASIH ADA YANG GENERIK GUNA MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP KARENA KEADAAN YANG BERAT UNTUK PRAKTEK DENGAN CARA YANG MELANGGAR SUMPAH DOKTER. MARILAH KITA DOKTER UMUM HARUS BISA MEMPUNYAI ILMU APAPUN UNTUK BERTAHAN HIDUP , ILMU YANG KITA DAPAT KITA BERIKAN KEPADA PASIEN YANG MEMBUTUHKAN DENGAN HATI NURANI .
    BERBISNIS BANYAK SEKALI YANG DAPAT KITA LAKUKAN KARENA PELUANG BANYAK DI INDONESIA APALAGI DOKTER MASIH DIHARGAI MASYARAKAT KALAU BERBISNIS TETAPI UNTUK MEMBANTU MENGOBATI PASIEN JANGAN DITINGGALKAN KARENA ITU KITA MENCARI PAHALA MENOLONG ORANG. BANYAK SEKALI PELUANG DI INDONESIA YANG SUDAH KITA LIHAT , BERBISNIS PROPERTY , BERBISNIS JUAL BELI RUMAH , BERBISNIS MEMBUKA PERAWATAN KECANTIKAN YANG SAAT INI DIBUTUHKAN MASYARAKAT . HILANGKANLAH GENGSI UNTUK MELAKUKAN USAHA YANG HALAL WALAUPUN ITU ANDA MENDAPATKAN SEDIKIT KARENA MERINTIS APAPUN DARI AWAL DENGAN PEMBELAJARAN HIDUP AKAN MEMBUAT KITA AKAN MAJU. SAYA ADALAH SALAH SATU YANG SUDAH TOBAT MERESEPKAN OBAT KEPADA PASIEN DENGAN YANG MAHAL DIKARENAKAN MENURUT HATI NURANI SAYA BERLAWANAN ,DAN ALHAMDULLILAH ALLAH MEMBERIKAN HIDAYAH UNTUK MEMBUKA USAHA MEMBERIKAN ILMU KECANTIKAN KEPADA SEJAWAT DI INDONESIA SUPAYA MENJAUHI MEMBUAT SUSAH PASIEN YANG LEMAH .SAYA SANGAT SETUJU SEPERTI DOKTER HARUS TERUS MENCARI APAPUN UNTUK BERTAHAN HIDUP DENGAN YANG BAROKAH , INSYA ALLAH YANG MENCIPTAKAN KITA AKAN MEMBANTU KITA DENGAN YANG TERBAIK. SUKSES SELALU UNTUK DOKTER UMUM SEBAGAI PAGAR UTAMA LAYANAN KESEHATAN DI MASYARAKAT INDONESIA

    dr.Aldjoefrie
    ( Direktur dr.Aldjoefrie Aesthetic Insitute Surabaya )
    http://www.kursus-estetika.com

  41. assalamualaikum dok.. salam sejawat..
    tulisan ini sangat keren sekali.. mengngat banyak TS yang mungkin sangat merasa minder dengan keadaannya sekarang.. Melakukan itu masih lebih baik ketimbang mengeluh ya dok.. saya sangat setuju.. semoga tulisan dokter ini banyak mendapat perhatian dari TS sekalian dan memberi semangat sesama saling memajukan..

    semoga makin sukses dok!

  42. Gaji Dokter Honorer Jakarta Hanya Rp 1,9 Juta
    http://www.tempo.co/read/news/2013/03/13/090466834/Gaji-Dokter-Honorer-Jakarta-Hanya-Rp-19-Juta

    Kalau buat yang sudah menikah, gaji 1,9 juta sangat kurang, berapa biaya sewa apartment sempit di jakarta, sewa rumah sempit-mungil di jakarta ?

    Banyak dokter di malang, surabaya, blitar yang hanya dapat pasien 2-3 orang setiap malam. Mana cukup untuk biaya hidup untuk istri, 2 anak kecil ( play group dan SD kelas 10, baya seminar kedokteran yang jutaan

  43. Nasehat Guru saya: Jadi Dokter itu baik, Jadi pengusaha itu juga baik. Tapi kalau kamu jadi keduanya, itu sangat tidak baik. Kamu renungkan nasehat ini. Yg baca tulisan di atas mohon direnungkan nasehat beliau di atas.

    • Maksud beliau.. Jadi dokter itu baik, jadi pengusaha (pedagang) juga baik.. yang tidak baik itu memperdagangkan profesi (pelayanan) dokter.. (misal dg mematok tarif tanpa kajian, menjual obat langsung, meresepkan obat scr irasional demi bonus, dsj)

      Karena idealnya pelayanan kesehatan (juga pendidikan) utamanya dijamin pemerintah.

      Sedangkan dokter yang berwirausaha di bidang lain sah2 saja selama profesional di masing2 bidangnya dan tidak saling merugikan. Misal dokter punya usaha peternakan. Lagipula dokter klinis yg berwirausaha kebanyakan akan mendelegasikan fungsinya di badan usaha pada orang lain. Kecuali akhirnya memutuskan pensiun dari klinis karena imbalan dari pemerintah tdk lagi dapat untuk hidup layak. Dan inilah yang kebanyakan terjadi.

  44. saya suka artikel pak dokter fadjar ini. salam kenal dan selalu menjadi dokter yang benar-benar “dokter”, mengutamakan pelayanan karena Allah, tidak menyerah pada nasib, dan selalu bersyukur dan itu akan selalu menambah ilmu dan rezeki bapak.

  45. Tulisan yg sangat bagus pak. Semakin menggerakkan hati saya untuk jadi maba hingga akhirnya menjadi seorang dokter yg berguna nantinya… Memang setiap profesi pasti ada resiko dan tantangan2 yg harus dihadapi. Namun jika kita ikhlas dalam menjalaninya dan mencintai profesi tersebut. Toh, akhirnya kita akan menuai hasil yg baik. Asal kita selalu berusaha, berdoa, dan selalu punya motivasi yg kuat Tuhan akan menunjukkan jalannya..🙂

  46. artikelnya sangat memotivasi…. saya sendiri masih koas bulan ini mau selesai. saya dan teman2 juga sering mengeluh dengan keadaan sebagai mahasiswa FK karena membutuhkan biaya yang cukup banyak, apalagi saya yang ekonomi pas – pasan tapi untung baca artikelnya dokter saya jadi lebih semangat. jadi ingat waktu kuliah dulu saya pernah jual produk oriflame, jual shopie martin, jual pisang goreng coklat keju, jual pulsa sampe jual snack didalam ruang kuliah… hahaha, sempat lupa kalau saya bisa juga menghasilkan uang walaupun cuma sedikit ,memang sih tujuannya untuk uang jajan, beli baju kuliah apalagi kita kan harus pakai kemeja dan rok agak mahalan dikitlah dibandingkan kaos oblong, yah itu karena orang tua mampunya untuk biaya kuliah, daripada galau karena iri lihat teman yang mampu, lebih baik berusaha saja.hehehe. sebagai manusia biasa kita pasti butuh uang, tetapi pekerjaan sebagai dokter kan bukan hanya untuk mencari uang namun juga untuk menolong orang lain, rejeki bisa dicari dengan cara yang lain, yang penting halal. Tuhan sudah siapkan buat kita masing2. semoga saya nanti bisa lulus dan jadi dokter umum yang “cerdas”.
    Terima Kasih dok🙂

  47. keren mas. saya dokter lulusan PTS yg sering di pandang sebelah mata. tapi saya yakin kualitas tak ditentukan dr tolok ukur almamater melainkan dr usaha kita. trmksh semangatnya.

  48. Salam kenal,

    Tulisan yang menyejukkan hati tetapi juga kembali memercikkan semangat saya bahwa masih ada harapan untuk profesi kita. Selalu ada harapan dan jalan untuk kita yang selalu ingin berjuang sekuat tenaga.

    Salam,

    Iqbal Perdana S, dr.

  49. Tulisanx bgs kl kita bisa melihat dari perspektif lain tp kembali lg ke pokok permasalahan bahwa yg jd masalah adalah sistem kesehatan kita di indonesia yg buruk dan itu mmg harus di akui jd seharusx pemerintah membenahi sistem kesehatan kita…jd dokterpreneurship itu sah2 saja scara personal tp gak mgkn kan smua dokter bisa sperti itu?mmg ada org2 tertentu yg dilahirkan punya bakat demikian termasuk Anda.dari sekian bnyk dokter jika mencoba untuk jd enterpreneur maka bisa dipastikan hanya sebagian diantarax yg akan sukses di bidang itu karena dr mmg dididik untuk jd tenaga kesehatan sesuai kompetensix…

    • Terimakasih mas untuk iuran idenya, saya sepakat. membenahi sistem adalah keperluan mendesak, namun sayangnya ini memerlukan yang yang banyak dan political will yang tidak pernah bisa sekedar diharapkan tapi diupayakan, terutama di negara yg kesehatan belum jadi prioritas. dokter spesialis dan nakes lain menjadi anggota parlemen misalnya, atau ketiban durian runtuh daoat presiden ajaib yang mengerti keperluan ini. Sementara itu, hingga yg dinantikan tiba, untuk tetap mempertahankan layanan pada pasien di satu sisi dan menghidupi keluarga di sisi lain, naluri entrepreneur perlu dihidupkan. Apalagi jiwa entrepreneur tidak selalu terbatas pada konsep mencari keuntungan, tapi menjadi mandiri dan berdaya. Skill ini sangat dibutuhkan bagi kawan2 yang bahkan bekerjanya tidak terdukung sistem utama, misal di pegunungan pulau terpencil.

  50. terimakasih atas postingan yang sangat menyentuh hati untuk abg dan kakak rekan sejawat, saya seorang dokter yang baru saja selesai menjalani UKDI, dan usia saya 25thun…
    saya ingin mengutarakan tentang hidup kita sebagai dokter, dlu pada saat saya masi kecil, saya melihat dan berpikir bahwa menjadi seorang dokter itu enak, bisa beli mobil, rumah bagus dan pendapatan yang tinggi, dan semakin menilik ke depan hingga hari ini saya melihat menjadi dokter itu tdk seperti dulu,
    akhirnya saya berpikir kalau dgn keadaan dan sistem kesehatan di negeri kita ini saya berpikir dan meyakini menjadi dokter bukan pilihan lagi, toh kita hidup semua nya memiliki tujuan UUD ( ujung ujung nya duit) disamping pengabdian…
    akhirnya saya bertemu dengan senior saya yg merupakan agen asuransi PR*****T**L, lalu dia membuka mindset saya, dia mengatakan kalau kamu mau jdi kaya, kamu hrus jadi dokter yang top nomor satu jgn jdi dokter yg nomor sekian, lalu kita sebagai pekerja membutuhkan uang utk hidup, sementara di sisi lain ada pasien yg tdk memiliki uang utk membayar pengobatan, apa bsa bantu pasien itu?
    singkat cerita saya akhirnya menjadi agen asuransi, saya sambil praktek lalu saya prospek, alhasil saya mendapati banyak nasabah dari pasien saya, krna saya di kenal teman2 agen sebagai dokter di rs A, maka nasabah mereka yang sakit di kirim ke saya, puji Tuhan saya skrg sudah memiliki penghasilan 25jt perbulan dari komisi saya sebagai agen dan saya menyenangi profesi ini, saya dpt membantu pasien, membuka pola pikir mereka, saya juga bisa membantu pasien yang tdk memiliki dana utk berobat…
    singkat cerita saya juga banyak menjumpai para guru2 saya yg beralih profesi ke agen asuransi, ada Sp.OG, Sp.S, Sp.PD, dan menjadi motivator
    itu laa sebagian dri crta perjalanan hidup saya, semoga bermanfaat..

    banyak jalan menuju ke roma, semangat selalu dokter indonesia…

  51. terimakasih atas postingan yang sangat menyentuh hati untuk abg dan kakak rekan sejawat, saya seorang dokter yang baru saja selesai menjalani UKDI, dan usia saya 25thun…
    saya ingin mengutarakan tentang hidup kita sebagai dokter, dlu pada saat saya masih kecil, saya melihat dan berpikir bahwa menjadi seorang dokter itu enak, bisa beli mobil, rumah bagus dan pendapatan yang tinggi, dan semakin menilik ke depan hingga hari ini saya melihat menjadi dokter itu tdk seperti dulu,
    akhirnya saya berpikir kalau dgn keadaan dan sistem kesehatan di negeri kita ini saya berpikir dan meyakini menjadi dokter bukan pilihan lagi, toh kita hidup semua nya memiliki tujuan UUD ( ujung ujung nya duit)…

    akhirnya saya bertemu dengan senior saya yg merupakan agen asuransi PR*****T**L, lalu dia membuka mindset saya, dia mengatakan kalau kamu mau jdi kaya, kamu hrus jadi dokter yang top nomor satu jgn jdi dokter yg nomor sekian, lalu kita sebagai pekerja membutuhkan uang utk hidup, sementara di sisi lain ada pasien yg tdk memiliki uang utk membayar pengobatan, apa bsa bantu pasien itu?
    singkat cerita saya akhirnya menjadi agen asuransi, saya sambil praktek lalu saya prospek, alhasil saya mendapati banyak nasabah dari pasien saya, krna saya di kenal teman2 agen sebagai dokter di rs A, maka nasabah mereka yang sakit di kirim ke saya, puji Tuhan saya skrg sudah memiliki penghasilan 25jt perbulan dari komisi saya sebagai agen dan saya menyenangi profesi ini, saya dpt membantu pasien, membuka pola pikir mereka, saya juga bisa membantu pasien yang tdk memiliki dana utk berobat… saya juga banyak menjumpai para guru2 saya yg beralih profesi ke agen asuransi, ada Sp.OG, Sp.S, Sp.PD, dan menjadi motivator
    itu laa sebagian dri crta perjalanan hidup saya, semoga bermanfaat..

    banyak jalan menuju ke roma, semangat selalu dokter indonesia…

    • Alhadmulillah, turut bersyukur kalau pada akhirnya bisa mengerjakan hal, sehingga tetap ikhlas dan optimal dalam berkontribusi, semoga selalu menjunjung tinggi kebermanfaatan dan patient safety.

      Memang di negeri dengan sistem yang belum berjalan ideal, partisipasi inovatif individu kesehatan menjadi solusi paling efektif dan memberdayakan. Sambil terus bertahan hidup dan menyumbang manfaat, insyaAllah akan selalu ada kawan2 yang berjuang memperbaiki jalannya sistem kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s