Paris Manis: Islam di Tanah Prancis

kisah ini sambungan dari kisah Paris Manis 2

Lundi, 9 Avril 2012

“Assalamualaikum!” sapa pria bule di hadapanku.

“Bonjour. Excuse me, did you just say something else instead of bonjour?” aku tidak yakin kalau ucapan salam yang barusan kudengar dari pria ini. Bahwa dia kemudian memperkenalkan diri dengan logat seorang Prancis membuatku masih berpikir bonjour yang baru dikatakannya.

“Did you just say Assalamu’alaikum?!” sahut  Muti cepat.

“Yes, I did,” jawabnya perlahan dengan senyum ramah.

Sekilas aku memperhatikan wajah pria ini. Wajah ramah tanpa tendensi, pandangan lembut tapi bukan tanpa ekspresi. Bagiku senyumnya khas sekali menyerupai senyum mas-mas bule muallaf yang kukenal saat tinggal di Belanda. Melihat janggut yang tumbuh di dagunya, seolah aku mendapat afirmasi.

“I am sorry for asking, but are you a Moslem?”

“Alhamdulillah.. I have been a Muslim since 5 years.

“Alhamdulillah.. Good to know. Sorry, I haven’t introduced myself. I am Fadjar and this is my wife, Muti.”

“I am Mathieu! Martha told me a bit about you”

Pagi itu kami berkenalan dengan Mathieu. Seperti kami, Mathieu juga sedang menumpang menginap di rumah Martha dan Pierre yang terdiri dari tiga lantai dan banyak kamar tidur. Kedua orang tua Mathieu adalah sahabat baik Martha dan Pierre. Saat ini bersama Martha dan Pierre, kedua orang tua Mathieu sedang fishing trip ke daerah Prancis selatan. Setelah saling memperkenalkan diri, kami merencanakan untuk sarapan bersama sebelum kami sama-sama meninggalkan rumah Martha hari Kamis yang akan datang.

Mercredi, 11 Avril 2012

Rencananya hari ini kami akan mengunjungi La Grande Mosquee de Paris, demi lebih menghormati kunjungan kami nantinya Muti memutuskan untuk mengenakan jilbab sejak berangkat dari rumah pagi hari. “Aku udah mulai enak pakai jilbabnya Mas sekarang.” “Alhamdulillah, mudah-mudahan bisa lanjut yaa”, sahutkku. Sayang, hari itu hujan deras mengguyur Paris begitu kami masuk Museé d’Orsay kami pun urung mengunjungi masjid setelahnya.

Jeudi, 12 Avril 2012

Karena besok kami akan kembali ke Brussels, hari ini adalah kesempatan terakhir kami mengunjungi  La Grande Mosquee de Paris. Muti kembali mengenakan jilbab sejak pagi. Doaku masih sama. Sejak semula Muti sudah menunjukkan niatnya kelak mengenakan jilbab meski tanpa kuminta. Belakangan makin banyak pertanda yang mengarah dan mendukung doa dan harapan ini. Misalnya, sehari sebelum kami berangkat ke Paris, sahabat kami Ina yang baru dijenguk keluarganya dari Malaysia memberikan Muti oleh-oleh jilbab dari Malyasia. Di Brussels Muti juga sudah mulai membiasakan mengenakan jilbab dalam beberapa kesempatan dan merasa nyaman.

Pagi ini juga kami akan sarapan bersama Mathieu, dari percakapan sebelumnya kami saling penasaran satu sama lain. Aku dan Muti ingin mendengar kisah latar belakang keislamannya dan Mathieu ingin mendengar pengalaman kami sebagai gifted Muslim yang kini tinggal di negeri non-Muslim.

“So, you two are Muslim and come from Indonesia which is a country with the biggest Muslim population in the world. How hard is that for you to live in very different environment like here, in Europe, while your Islam is gifted?”

“First, I can say I am very lucky to be Indonesian. Indonesia has been through a very long history of multiculturalism.  Turns out, many scholars believe that Indonesians are among the most open society. We have been influenced and interacting with various cultures since thousand years ago. In the beginning of century Hinduism and Buddhism was the common religion and persisted and influenced the society for many years. Around 11th century Islam was introduced by trader from India and Arab which successfully transform almost the whole nation to Islam even until now, around 80% of our population are Moslem. At 16th century, we were colonized by Dutch as representative of European culture whose introduced Protestant and Catholic.” Cukup berpanjang lebar aku menjelaskan latar belakang perkembangan sejarah Islam di Indonesia yang menurutku memang sangat unik ini.

“Second, I and my wife used to be an exchange student back 6 years ago. For us what people said about Indonesian openness seemed to be right. We and other exchange student from Indonesia were well-known to be adapting best among other exchange student in learning language and culture. Turns out, it helped us out to communicate more about our identity and need as a Muslim. Practicing religion is one of them. When I was in Holland, it was quite difficult for me. Dutch people seemed to be critical and tent to argue anything about religion to me, while some of their highly political are very anti-Islam at that moment. But the resistance disappeared along regular communication and exposure. It takes time, but communication is really important for this. The thing is, as long as we treat people well, people will notice we are not a bad guy right? You know, once you are kind, no matter what your religion is, you are a kind person. But I think, I am also very lucky to be Indonesian, particularly Javanese that we smile a lot. I think those wanted to treat me badly or argue with me would change their mind right after seeing me smiling.”

Muti kemudian menambahkan pengalamannya di awal yang sangat berat sebagai Muslim selama setahun di Sardinia. Sebagai satu-satunya orang asing dan Muslim di Seulo desanya yang mayoritas penduduknya beragama Katolik,  dan satu-satunya Muslim di antara 50 siswa pertukaran dari 20 negara di dunia, Muti menyampaikan melalui komunikasi yang persisten akhirnya ia mampu menjawab berbagai kekhawatiran dan pertanyaan yang mampir kepadanya. Seperti ketidakpercayaan Host-Mom nya kala Muti mampu berpuasa tanpa minum sepanjang hari, hingga menjadi pusat keingintahuan dan objek fotografi teman-teman saat sedang sholat.

Mungkin Mathieu tidak menyangka. Pertanyaannya yang cukup sederhana kami jawab dengan panjang lebar. Dari dua orang pula.

“Yes, I agree. It takes time. But for me, it is too hard for being a Muslim and to stay here. Too many questions and stigma arising among people only from what they heard from others. Not from what they look or understand. Even though I have been living 30 years as Parisien my family is here, my friend is here, I believe the best way for me to live peacefully is to live where the environment is supportive. As a beginner in this way of life, I need an environment which will support me. I am sure it’s not Paris. At the moment I consider Mali.  It’s hard you know, to know your origin is here but you have decided to go this way. But I take this as my jihad and hijrah to be a more complete Muslim and live peacefully.”

Diskusi kami terus bergulir. Mathieu sangat bersyukur keluarga dan sahabatnya menghargai keputusannya menjadi seorang Muslim. Ia kemudian menanyakan bagaimana kondisi Muslim di Indonesia yang kami jawab apa adanya. Penerapan ajaran agama Islam di Indonesia begitu beragam dipengaruhi oleh faktor geografis, perbedaan etnis dan tradisi hingga keunikan karakter keluarga yang menurut kami menjadi faktor paling berpengaruh.

Mathieu yang kini mendedikasikan profesi arsiteknya untuk menyebarkan praktik konstruksi bangunan tanpa kayu, demi konservasi alam, bersama sebuah NGO dari Prancis di Mali menyatakan keinginannya yang sangat besar untuk dapat berkunjung ke Madinah lalu kemudian ke Indonesia. Menyaksikan implementasi kehidupan beragama Islam yang penuh keragaman. Melihat Aceh Serambi Mekah, Padang “Produsen” Ulama, dan Jogja Pusat Agama bersanding Budaya. Kami pun berpisah setelah saling bertukar kartu nama. Baik aku dan Muti, banyak sekali hikmah yang dapat kami renungi dari pertemuan ini. Melihat kesungguhan Mathieu untuk hijrah ke Mali sebagai jihad nya mendalami Islam, sungguh beruntung kita yang terlahir di Indonesia dan dianugerahi kesempatan menjadi muslim sejak lahir.

“Aku pakai jilbab seterusnya ya setelah ini Mas. Kita beruntung sekali lahir sebagai muslim dan tinggal di Indonesia yang kondusif untuk hidup beragama.”

“Iya Yang, sayang karena gifted, kita jadi masih superfisial banget dan masih harus terus belajar memahami Islam. Aku pengen kita minimal bisa umrah sebelum dapat sekolah di luar negeri lagi. Mas bakal cari jalan supaya kita bisa ke Mekkah dan Madinah sebelum lihat Paris lagi.”

Hari terakhir ini kami menggenapi liburan kami di Paris dengan mengunjungi dan menyempatkan shalat tahiatul masjid di La Grande Mosquee de Paris. Masjid terbesar dan tertua di kota Paris ini semula didirikan sebagai penghargaan kepada legiun Muslim yang berperang untuk Prancis pada perang dunia pertama dan kedua. Masjid ini juga menjadi saksi sejarah umat Muslim Paris melindungi umat Yahudi dari ancaman pasukan Aliansi pada perang dunia kedua. Saat itu masjid ini mengeluarkan akta lahir Muslim kepada para warga Yahudi demi menghindari kejaran tentara aliansi. Kini masjid ini berfungsi sebagai pusat peribadatan dan berlokasinya Institut Musulman. Meski sayang tidak banyak muslim Indonesia yang mengetahui dan mengunjungi, masjid ini menjadi salah satu daftar bangunan bersejarah di Paris. Melihat sejarah dan aktivitas umat Muslim Paris di La Grande Mosquee de Paris ini setelah berhari-hari dimanjakan kemegahan konservasi budaya Eropa abad pertengahan, di tengah pemerintahan sekuler Prancis yang tidak akomodatif terhadap para pemeluk agama, seolah Allah mengingatkan kami, di manapun kita berada, Islam bukan sekedar agama tapi jalan hidup dan rahmat untuk semesta.

Paris, Manis.

This slideshow requires JavaScript.

 

One thought on “Paris Manis: Islam di Tanah Prancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s