Spring in Sardegna, 1

“Eropa di bayangan aku ya Sardinia, Mas. Nggak kayak Belanda gini. Dulu aku tinggalnya di desa, di atas gunung. Kalau ke sekolah aku harus ke Seuli, desanya Patty naik bus yang adanya cuma sekali pagi-pagi dan sore untuk pulang. Di Seulo nggak ada SMA karena penduduknya cuma seribu, maksimal SMP, kalau mau sekolah SMA harus ke Seuli dan untuk kuliah hampir semua ke Cagliari.”

“Di sana semua orang saling kenal. Tetangga kalau dirunut masih ada hubungan darah.  Kerjanya sektor informal, paling banyak bertani. Babo Romano salah satu yang disegani karena ia seorang guru dan kepala sekolah. Aku biasa main di sungai, jalan ke gua, ambil air untuk minum di fontana di tengah hutan,  dan tiap sore kita sekeluarga naik (FIAT) centocinquanto -mobil khas sekaligus favorit Itali era 90-an- pergi berkebun ke Reneli.”

Spontan Muti menceritakan Seulo, paesse atau dusun di mana ia pernah tinggal selama sepuluh bulan di Pulau Sardinia, Italia. Sebelumnya aku “memaksakan” pandanganku bahwa Eropa yang “sesungguhnya” adalah Belanda bersama negara-negara Eropa Barat dan Eropa Utara lainnya. Di mana kebudayaan dan peninggalan fisik khas lokal berdampingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pandangan serupa yang banyak didapat oleh banyak orang Indonesia yang pernah berkunjung, belajar atau bekerja di Eropa.

Sementara it Haarlem, yang dipercaya sebagai salah satu kota tercantik di Belanda, kota di mana dulu aku pernah tinggal bagiku adalah proyeksi mimpiku di waktu kecil akan Eropa “sesungguhnya”. Bangunan klasik yang terakomodasi baik oleh tata kota modern, kincir angin tua yang berdampingan turbin angin raksasa pembangkit listrik, dan lalu lintas padat sepeda onthel yang berpadu transportasi massal modern.

Aku masih separuh percaya, kalau Seulo itu bukan sekedar sebuah cerita.

16 Marzo 2012, Mudik ke Sardinia

Di dalam pesawat Ryan Air yang membawa kami dari Aeroport Charleroi Bruxelles Sud, sambil memegangi crutch yang masih kubawa untuk membantuku berjalan, pandanganku tertarik pada sebuah pemandangan indah nan menakjubkan di balik jendela. Barisan pegunungan Alpen denga latar belakang mentari senja yang perlahan menghilang di batas horisonnya.

Nggak nyangka ya, sebulan lalu Mas baru nyungsep di sana sekarang kita bisa lihat pemandangan cantik dari langit di atasnya.

Mendarat di Aeroporto Cagliari, dibantu special assistance dari satuan petugas pemadam kebakaran yang mendampingi kami sejak turun dari pesawat, kami mencari taksi menuju apartemen Fabio. Tidak jauh dari kampus tempatnya berkuliah, Università degli studi di Cagliari.

“Muuutii.. Come staaai??!!” Lima belas menit kemudian kami sudah sampai dan disambut hangat oleh Fabio. Dengan intonasi khas Itali nya menyapa Muti. Kakak perempuan Indonesia nya yang sudah enam tahun tidak saling bersua. Sudah menantikan kedatangan kami, Fabio langsung mengajak kami makan malam di sebuah pizzeria di seberang apartemennya. Dua pizza Fruti di Mare ukuran besar dan satu pizza Gambereti Panna kami pesan untuk makan malam bertiga. Bagiku, inilah kali pertama menikmati sekaligus melihat pembuatan pizza asli buatan Itali. Sambil kuabadikan momen-momen kami di pizzeria kudengar Fabio dan dua pemilik pizzeria yang sudah jadi langganannya ini sempat membicarakan kedatangan kami.
“Chi sono, Fabio?” 

“La mia famiglia indonesiana.”

“Aa.. Indonesiana, siamo andati a Bali la scorsa estate!” rupanya kedua pemilik pizzeria ini baru saja berlibur ke Bali musim panas lalu.

Karena Fabio tidak berbahasa Inggris lancar, kami akhirnya ngobrol dalam bahasa Prancis yang kini giliranku yang belum lancar. Syukur Prancis berakar latin seperti Itali, dengan sedikit improvisasi, memelesetkan beberapa kosa kata dalam bahasa Prancis dan mengamati percakapan Muti dan Fabio aku berhasil menysusun kalimat, meski banyak salahnya, dalam bahasa Itali. Beruntung sejak SD aku rajin membaca tabloid bola, untuk mendukung percakapan dengan Fabio yang seorang Juventini sejati kukeluarkan semua kosa-kata Itali yang kudapat dari informasi pergelaran Seri-A Italia, termasuk para pemain Juventus yang kukenal sejak era duet Del Piero-Pippo Inzaghi. “Incredibile che si sa quanti giocatore della Juventus,” puji Fabio. Alhamdulillah, ada manfaatnya juga sempat langganan tabloid BOLA.

Di tengah perbincangan kami, aku melihat tulisan “Andalas” terpampang jelas pada hiasan gantung di dapur apartemen Fabio. Andalas? Nama yang tidak asing dalam bahasa Indonesia pikirku. Andalas adalah nama tua pulau Sumatera. Penasaran dengan kata “Andalas” di sana, kutanyakan pada Fabio apa maksudnya. Menurut Fabio, Andalas adalah salah satu hari perayaan di Seulo yang diadakan setiap tanggal  13 Agustus dalam rangka melestarikan lembah Flumendosa, di mana sebuah sungai utama bagi masyarakat Seulo mengalir di tengahnya. Subhanallah,  13 Agustus, tanggal perayaan Andalas di Seulo, persis sama dengan tanggal pernikahan kami. Muti pun berdarah “separuh” Andalas, karena Papa Hendry, ayah Muti, berasal dari Solok Sumatera Barat. Seperti kebetulan, tapi sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan. Tidak ada sehelai daun pun jatuh tanpa seizi-Nya. Pun kondisi alam pegunungan Seulo serasi dengan topografi Solok dan Gunung Kidul dari mana Mama Nani berasal. Perjalanan kami ke Sardinia pun tak ubahnya serasa perjalanan mudik ke kampung halaman.

17 Marzo 2012, Kembalinya Muti, Anak Gadis yang Hilang

“Muutiii..’

‘Ciaoo, Maamaaa..,” Mama Eliana yang awalnya sempat ragu khawatir tak mampu menahan haru, akhirnya maju memeluk Muti. Aku yang turut terharu menyaksikan adegan ini mencoba menguatkan diri dan merekam detik-detik emosional ini. Mama Eliana, memeluk, mengelus dan menatap Muti berulangkali, memastikan ini benar-benar terjadi. Enam tahun sudah sejak terakhir kali keduanya bertemu. Sepuluh bulan tinggal bersama sudah cukup memberikan waktu bagi Muti menjadi bagian famili Carta. Si anak gadis satu-satunya.

Pagi ini Babo dan Mama sengaja datang pagi-pagi dari Seulo, menjemput kami bertiga untuk kemudian sama-sama ke Seulo. “Yang, Sardinia ini derivat surga di bumi yang paling mendekati  kali ya.” Sepanjang perjalanan dua jam Cagliari-Seulo aku tak berhenti mengagumi keindahan alam pulau Sardinia. Di sisi kanan kiri jalan yang penuh liku dan naik turun aku selalu menemukan pemandangan baru mengejutkan, mulai dari pohon palem yang eksotis, pohon zaitun yang berbaris rapi, domba-domba berbulu lebat, sapi-sapi sehat, pohon jeruk, ladang anggur, pohon walnut, hingga bunga matahari yang tumbuh tersebar di atas hamparan rumput hijau bak karpet diselingi bebatuan obsidian berwarna terang khas Mediterania.

Memandang tanah Sardinia, kita masih bisa mendapat gambaran bagaimana kondisi pulau ini puluhan ribu tahun ke belakang.  Selain adanya batu-batu tua sisa letusan gunung berapi puluhan ribu tahun lalu yang tersebar di mana-mana, gambaran situasi masa lalu ini diperkuat oleh kehadiran Nuraghe, bangunan kuno khas Sardinia, semacam menara pengawas untuk mengetahui pergerakan musuh pada saat itu. Dibangun belasan ribu tahun lalu, hingga kini ribuan Nuraghe masih tegak berdiri tersebar di berbagai dataran tinggi maupun rendah di seluruh Sardinia.

Ketakjubanku makin bertambah manakala di beberapa bagian jalan yang kami lalui kami harus mengalah pada rombongan domba yang sedang digembala, uniknya selain mengokupasi jalan yang seharusnya bebas hambatan, domba ini digembala menggunakan mobil yang mengharuskan sang penggembala menggiring dengan dahan pohon melalui jendela mobilnya sambil terus bergerak perlahan. Sesekali mobil yang melaju harus memberi kesempatan pada domba yang akan menyeberang. Seperti yang Muti selalu ceritakan padaku, pupulasi domba di Sardinia jauh melebihi manusia.

Pemandangan yang sangat kontras ini semakin menjadi ketika pada satu daerah anatara Isili dan Seulo kami melintasi padang luas yang dipenuhi intalasi panel surya seluas lima hektar. Rupanya sejak 2008, Sardinia mengimplementasikan green energy untuk menyuplai kebutuhan listriknya sendiri memanfaatkan tenaga surya yang mumpuni ketersediannya. Tidak hanya sampai di situ, di daerah ini juga “ditanami” puluhan turbin angin raksasa yang juga berfungsi sebagai pembangkit listrik.

Saat separuh perjalanan ditempuh, Simone, si bungsu yang tidak ikut menjemput karena masih sekolah sudah menelpon menanyakan keberadaan kami, tidak sabar menantikan kedatangan sekaligus bertemu Muti. Sesampainya di rumah Seulo, Babo dan Fabio membawa kami berkeliling rumah dari bagian paling bawah hingga atas. Semua perabotan dan hiasan di rumah itu masih tampak sama bersih dan terawatnya seperti enam tahun lalu. Rumah Babo dan Mama berstruktur unik. Sebagaimana rumah lain yang juga terletak di lereng gunung, rumah mereka memiliki beberapa tingkat yang menyesuaikan topografi lereng gunung secara unik.  Rumah ini terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar berhadapan dengan akses jalan beraspal di sebelah utara merupakan ruang makan besar yang digunakan untuk makan bersama saat mengundang sahabat atau keluarga merayakan sesuatu, sedangkan lantai tiga berhubungan langsung dengan jalan paving block di sebelah selatan terdiri dari ruang keluarga, ruang makan, dapur dan ruang kerja Babo. Sementara lantai dua nampak bercokol pada lereng gunung di sisi selatan dan “mengambang” di sisi utara terdiri dari tiga kamar tidur.  “ti ricordo ancora questa?” tanya Babo sesekali menguji ingatan Muti tentang lokasi-lokasi dan barang-barang tertentu.

Di lantai empat, Mama Eliana sudah menyiapkan khusus kamar untuk kami selama di Seulo. Bersebelahan dengan kamar tersebut adalah kamar kosong tempat Mama Eliana menyetrika dan menyimpan beberapa barang.  Di sana pulalah Mama Eliana masih menyimpan seluruh foto Muti selama di Sardegna dengan rapi  bahkan beberapa buku sekolah, kertas catatan, sarung tangan dan sweater yang biasa Muti pakai ke sekolah. Muti menceritakan dan menerjemahkan percakapannya dengan Babo dan Fabio tentang setiap sudut rumah padaku, semua masih tampak sama, bersih, cantik, rapi dan tertata.

Siang itu kami lalui dengan makan siang menikmati pasta khas Sardinia. Makan siang di akhiri dengan bernostalgia bersama Mama Eliana, Babo Romano  juga Zia Caterina da Nonna Murgia, mama dari Mama Eliana yang sudah berusia 80 tahun, lengkap dengan kopi yang dimasak secara khas. Sebaga orang yang awam dengan kopi, inilah kopi dengan rasa paling unik dan begitu nyata perbedaan rasanya. Kopi tidak diseduh langsung dengan air panas melainkan “dikukus”, uap air yang sangat panas akan bersenyawa dengan kopi yang berada di atasnya dan menghasilkan embun yang kemudian diminum. Dengan mekanisme seperti ini terasa seluruh molekul kopi bereaksi bersama air dengan sempurna. Sore hari Simone menghibur kami dengan menunjukkan permainan gitarnya. Tak terasa, Simone yang enam tahun lalu masih seorang bocah kecil berumur 8 tahun kini sudah beranjak besar, meski kebungsuannya tetap tidak menghilangkan kebocahannya.

Malam harinya kami berenam semua menghadiri makan malam di rumah salah seorang sahabat dari keluarga Romano, Giliola. Giliola dan Babo Romano sama-sama anggota coro della chiesa dari Seulo. Anak pertama Giliola, Mauro, seperti Fabio dan Muti enam tahun yang lalu pergi ke sekolah yang sama. Sampai di rumah Giliola, seolah sudah menjadi tugas utamanya, didahului dengan membersihkan tungku  dari serpihan batu arang yang sudah membara, menggunakan dahan pohon cemara beserta daunnya yang menimbulkan aroma khas dan suara khas “kretek-kretek” terbakarnya daun cemara,  Babo langsung memasukkan satu demi satu pizza yang telah disiapkan para ibu ke dalam tungku. Benar-benar pizza Itali rumahan dan suasana keakraban khas Itali sesungguhnya.

18 Marzo 2012, Doa dari Nonna dan Nonno

Babo adalah sulung dari lima bersaudara famili Carta. Hari ini Sophie, salah seorang dari dua adik perempuannya, berulang tahun. Semua anggota keluarga berkumpul di rumah Nonno dan Nanno,  kakek dan nenek dalam bahasa Itali. Kehadiran Muti kembali disambut sukacita  oleh semua anggota keluarga, para sepupu, zia dan zio, paman dan bibi dalam bahasa Itali. Tidak ada yang menyangka setelah sekian lamanya Muti akan benar-benar kembali ke Seulo, pula bersama seorang suami. “Lui é mio marito,” terang Muti pada semua anggota keluarga kalau aku semuanya. Mio marito,mio  marito, terdengar menyenangkan sekali di kepalaku. Hehehe.

“Speriamo che il vostro matrimonio dureràcome noi.” Pesan Nonno dan Nanno agar kami bisa mengikuti jejak pernikahan mereka yang langgeng hingga lebih dari 50 tahun saat kami berpamitan. Nonno saat ini berusia 87 tahun dan Nanno 86 tahun. Dengan usia yang begitu senja keduanya masih tampak begitu sehat dan penuh semangat. Bahkan setiap pagi Nanno masih rutin mengendarai pick up roda tiga nya yang menyerupai bemo, untuk berkebun dan mengumpulkan kayu. Belakangan baru kuketahui warga asli Pulau Sardinia, dengan dukungan alamnya, merupakan salah satu populasi dengan usia harapan hidup terpanjang di dunia, berdampingan dengan populasi  centenarians, mereka yang dapat hidup hingga usia 100 tahun di Okinawa.

Usai acara ulang tahun dan makan siang yang penuh keakraban itu kami turut zio Giuseppe untuk menyaksikan pertandingan bola lokal antara tim Seulo dengan tim dari paesse tetangga. Sekali lagi aku bersyukur media Indonesia adalah pemuja Seri-A Italia. “Espulso, espulso arbitro!!” teriakku meramaikan suasana setiap pemain Seulo dikasari. Bertindak sebagai tuan rumah, aku mendapat dukungan dari penonton lain melalui senyum dan jempol mereka padaku.

“Muti, quando sei venuto, quanto tempo il vostro soggiorno?” rupanya di stadion, yang dipadati sekitar 200 orang pendukung kedua kesebelasan itu banyak yang masih mengenal Muti dengan baik, terutama teman-teman yang dulu pergi ke sekolah yang sama. Hadir di stadion ini bersama Muti dan Giuseppe yang seorang kepala paesse Seulo, aku merasa sensasi yang istimewa.

Sensasi ini berlanjut di hari-hari berikutnya setiap kali kami melintas jalan utama Seulo, baik di dalam mobil maupun berjalan kaki ada saja yang menyapa. Pada dasarnya, memang merupakan kebiasaan setiap warga untuk saling menyapa, namun saking sedikitnya jumlah penduduk Seulo mereka begitu mengenal satu sama lain bahkan Muti yang sudah lama tidak di sana. Suatu hari kami melintas parkir untuk membeli tiket bus yang dijual di caffe Murgia, -soal nama caffe yang sama dengan family name Mama Eliana ini Muti menjelaskan kalau Murgia merupakan salah satu family name terpopuler di Seulo bahkan Sardegna- seorang wanita setengah baya setengah berlari menyebrang jalan sambil melambaikan tangan berusaha mendekati kami, “Muti, Muti.. aspetti..” Rupanya  wanita ini adalah Maria, perajin sulaman  wool khas lokal yang ingin memberikan Muti kenang-kenangan berupa selembar kain hiasan dinding bertuliskan “Seulo”, begitu mendengar dari beberapa warga mengenai kedatangan Muti. Di kesempatan lain, seorang ibu pedagang sayuran dan buah-buahan berteriak memanggil nama Muti dari kejauhan. Melompat turun dari bak truknya menghampiri kami, menyapa dan bertukar kabar dengan Muti. “Yang, beken banget kamu di sini..” kagumku terhadap Muti yang seolah seperti artis di sini.

This slideshow requires JavaScript.

7 thoughts on “Spring in Sardegna, 1

    • Wa alaikum salam,
      Kak Kasyful!!!! Aku sekolah kak, tapi hanya dua semsester, exchange. Untuk memaksimalkan waktu sambil magang juga. Alhamdulillah kabar baik sekali Kak.
      Kalo ke Jogja mampir2 ya, kita balik Juli ini insyaAllah.

  1. Wah ga sengaja nemu blog ini, karena lagi iseng2 nyari tentang AFS Italia 2006, tapi kok malah nyasar kemari ya??

    Kenalkan saya Prib, dahulu sama juga terdampar di Sardegna tapi satu tahun di bawah Muti…

    Jadi inget jaman dahulu kala, pas ditanya kenal ga sama Muti atau Jasmin kalau ketemu volunteer Intercultura.. dan pasti saya jawab ga kenal, hehehe

    Jujur walau tinggal di Sardegna saya belum pernah mampir ke Seulo. Kalau diliat di peta kayanya masuk ke centro locale di Cagliari ya untuk Intercultura?
    Saya tinggal lebih ke barat tepatnya di Terralba, hmm dijamin semua anak Sardegna pernah ke sini buat ikutan karnaval.

    Kalau Fadjar kaya dulu pernah ketemu deh pas re-orie pas saya baru pulang, ya salam kenal lagi, hehehe…

    Ah, quanto vorrei tornare in Italia

    • Halo Prib,
      Aku masih inget banget koq re-orie kalian di Dikti Fatmawati kamu bareng Dimas (Belanda) kan?
      Kemarin kita sempat ke Terralba juga mengunjungi host-family exchange week nya Muti.
      Beruntung sekali AFS-er yang ditempatkan di Sardegna. Semoga dapat segera kembali yaa..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s