Diplomasi Bir, Jalan Lain Menuju Berlin

Banjir informasi mengenai tawaran kegiatan akademik di luar negeri semakin deras belakangan kita temui. Mulai dari kesempatan degree program, summer school, hingga menghadiri conference. Beruntung bagi mereka yang mendapatkan beasiswa atau travel grant untuk mewujudkan keikutsertaannya. Namun banyak juga yang harus membiayai sendiri sebagian atau seluruh biaya, bahkan harus membatalkan partisipasinya karena tidak kunjung mendapatkan sponsor untuk mewujudkannya. Pengalamanku seringkali terbilang unik bahkan kadang tidak lazim dalam mengupayakan situasi seperti ini. Kalaupun banyak yang akan menganggap hal ini sulit diterapkan, aku hanya ingin menunjukkan bahwa selama ada kemauan, selalu ada harapan. Berikut ini salah satunya, pengalamanku dua tahun yang lalu.

Juli 2010

Banyaknya waktu luang yang kumiliki selama menjalani pertukaran mahasiswa kedokteran di Ceko kumanfaatkan untuk mendaftarkan abstrak penelitianku yang kuambil dari skripsi, ke panitia 17th European Students Conference (ESC) di Charité Universitatmedizine di Berlin.

Sebelumnya, Juni lalu bersama Zul dan Greta kami mengikuti acara sejenis, 21st International Students Conference on Medical Sciences (ISCOMS) di Groningen, Belanda. Meski aku belum abstrakku belum menjadi yang lolos seleksi, aku tetap berangkat ke Groningen Belanda. Berharap ada pengalaman atau pelajaran berharga yang dapat kupetuk. Beruntung, di ISCOMS kala itu panitia ESC sengaja datang berpromosi, menjemput bola, di antara para peserta ISCOMS.  Aku mendapat info mengenai ESC langsung dari para panitianya Aku pun berkenalan dengan beberapa panitianya,salah satunya John. Ia meyakinkanku aku harus mencoba mendaftarkan abstrakku ke ESC yang belum diterima di ISCOMS ini.

Agustus 2010

Waktu bergulir,ketika hendak kembali ke Jogja aku mendapat pengumuman bahwa abstrakku diterima untuk dipresentasikan pada sesi poster presentation. Panitia memberikan travel grant kepada para presenter terutama pada peserta oral presentation termasuk kepada sahabatku Zul. Mengulang keberhasilannya pada ISCOMS lalu mempresentasikan penelitiannya mengenai cancer biomarker. Namun sayang, aku, Prenali dan greta yang sama-sama diterima untuk presentasi tidak mendapatkan travel grant. Sempat ingin mengurungkan niat untuk berangkat dan presentasi, aku yakin ada jalan lain menuju Berlin.

Dua tahun terakhir aktivitasku didominasi oleh presentasi, mempresentasikan peluang usaha pulsa pada hampir semua orang yang kutemui. Mulai dari tukang somay hingga direktur perusahaan, mulai dari tukang pijat sampai rektor universitas. Demi bertahan mengatasi tantangan hidup dan masa depan, aku merasa tiga tahun kuliah ini lebih banyak kuhabiskan sebagai pedagang daripada mahasiswa kedokteran.

Kali ini, aku ingin sekali setidaknya sebelum lulus sarjana bisa merasakan sensasi presentasi di hadapan audiens internasional, membawa nama universitas dan mempromosikan Indonesia. Seperti kawan-kawan dari Fisip dan Fakultas Ekonomi, yang sering kudengar memiliki banyak ajang kesempatan berwira-wiri ke luar negeri. Aku ingin sempat memiliki prestasi di bidang akademik seperti teman-teman mahasiswa “normal” lainnya. Satu kali ini saja setidaknya. Aku ingin sekali saat bercerita pada anakku kelak, ayahnya juga memiliki prestasi akademik, tidak habis waktunya untuk berdagang saja. (Jadi anakku tidak bisa ngeles kalau kuarahkan jadi ilmuwan dan ada yang jadi pebisnis, hehe :D). Selain itu, cita-citaku sebelum kuliah di kedokteran adalah menjadi diplomat, mewakili Indonesia. Meski akhirnya kuliah di kedokteran, aku berharap setidaknya partisipasiku dalam poster presentation nanti bisa mewakili Indonesia di bidang yang sedang kutekuni. Aku pun membulatkan tekad, aku harus bisa berangkat!

Di malam penutupan ISCOMS, Global Village Night, dengan dress code pakaian traditional negara masing-masing, kami yang mengenakan beragam pakaian tradisional Indonesia cukup sukses menarik perhatian peserta dari negara lain. Salah satu yang bergabung di meja kami adalah John. Seolah sudah ditakdirkan demikian, John yang duduk di sebelahku kemudian menawarkan segelas bir. Penolakanku malah memancingnya bercerita panjang lebar mengenai bir dan dengan bangga ia mengungkapkan Bremen, kota asalnya adalah salah satu produsen bir terbaik di Jerman bahkan di dunia. Kalau aku bisa minum bir, bir dari Bremen lah yang harus kuminum tambahnya.

Teringat perkataan John, aku segera mengirimkan email pada John. Di salah satu bagiannya, dengan gombal bir kusampaikan, karena baunya saja aku tidak tahan, “John, it seems unlikely for us to afford a Jakarta-Berlin ticket without any support from ESC committee. If so, I might not have the chance to prove the Bremen beer.” 

September 2010

Beberapa hari sebelum Idul Fitri, email gombalku dibalas oleh John. “I have done my best, please check your account, there is travel grant for you!” Alhamdulillah, aku merasa benar-benar beruntung mendapatkan berita ini. Di atas kertas, mungkin masih banyak peserta yang lebih utama diberikan travel grant. Tapi upaya tidak lazimku, diplomasi bir, rupanya berbuah hasil. Ketika kubuka akun keikutsertaanku lagi, kulihat status travel grant-ku berubah dari No menjadi Yes. Tidak sia-sia usaha gombalku via e-mail.

Apapun bentuknya, usaha sampai titik terakhir harus selalu kita coba karena kita tidak tahu pada usaha yang mana keberuntungan kita berada. Yes, luck doesn’t just happen; you have to work at it.

———————————————————————————————————————————————————————————————————————-Alhamdulillah, kelak selain travel grant tadi, berkat komunikasi yang intens antara Zul dengan staff marketing Garuda Indonesia di Jakarta, kami mendapat kepastian dukungan tiga buah free of charge ticket untuk Jakarta-Amsterdam. Selebihnya kami tinggal iuran membeli satu tiket sisanya yang terdukung sebagian oleh bantuan dari fakultas kami. Dalam keikutsertaan kami pada ESC ini alhamdulillah aku dan Prenali diberi penghargaan presentasi terbaik di cluster masing-masing, public health dan cardiovascular.

This slideshow requires JavaScript.

5 thoughts on “Diplomasi Bir, Jalan Lain Menuju Berlin

    • No, I didn’t. I knew and affirmed him that indeed Bremen was one of the best. He was satisfied it was enough. For me beer smells like urine and I don’t drink anyway

  1. Assalamualaikum

    Hai kak salam kenal saya indra, tadinya saya sedang blog walking, untuk mencari cara mendapatkan sponsor untuk conference/summer course dan sejenisnya, dan akhirnya sampai diblog ini, dan setelah baca posting ini saya liat2 post lain, ternyata kakak alumni IC juga? wah sempit sekali ya dunia hahaha, saya juga alumni IC angkatan 14 kak, hahaha. kakak angkatan berapa kalo boleh tau? oya kak kalo boleh, bisa berbagi pengalamannya bagaimana mendapatkan travel grant/sponsor untuk mengikuti suatu event diluar? jika bersedia berbagi tips, e-mail saya m_indragunawan@yahoo.com kak, terimakasih banyak.

    wassalamualaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s