DjoWafel: we provide most wanted wafle in the world; Bruxellois & Liegois

Fattah, Selamat Datang Nak!!

Oktober 2011

“Yang, besok kalau jadi balik ke Jogja kita kontrak dulu ya..” sampai akhir tahun 2011 ini kami memang masih membuka peluang 50-50 apakah akan kembali atau mencari peluang lain di benua biru ini. Kalaupun kembali ke Indonesia kami belum memiliki tempat tinggal definitif.

Realistisnya, kami berencana mengontrak rumah saja dari tabungan kami selama di Belgia. Kelak sebagai ko-ass (jenjang pendidikan profesi klinik untuk dokter umum) aku pun tidak bisa memiliki struk gaji untuk mengambil KPR. Sementara tabungan kami yang lain mungkin hanya bisa menutupi  biaya settlement dan operasional tahun pertama kami di Jogja.

Rencana tinggallah rencana, dalam salah satu sesi Skype kami bersama Mama di Jakarta, terungkaplah bahwa keluarga besar kami memutuskan untuk mengembangkan lahan peninggalan leluhur kami sebagai sebuah perumahan di mana di dalamnya terdapat unit yang diperuntukkan bagi keluarga. Dengan perkenan Mama dan keluarga besar, kelak setibanya kami di Jogja kami pun mendapat kehormatan menjadi penghuni pertama komplek ini.

16 Mei 2012

Langkahku ringan, badanku seperti separuh melayang, kini cara jalanku tidak lagi seperti orang pincang. Semenjak operasi, inilah hari pertamaku berjalan ke luar apartemen tanpa sebilah crutch pun. Jarak ke sport centrum tempat aku melakukan Fisioterapi yang biasanya kutempuh 20 menit kini dapat kutempuh kurang dari 15 menit. Sejak pagi ini rasa nyeri yang selalu menyertai gerakan lutut kiriku hilang seketika. Semua rasa sakit, lelah, dan depresi dengan kondisi kakiku ini mendadak terhapus oleh banjir endorphin  di dalam otakku.

Sepanjang latihan fisioterapi dengan swiss ball dan passive exercise kujalani dengan semangat dan gembira. Melihat senyum yang mungkin terus melekat di wajahku sejak datang tadi, fisioterapisku bertanya,

“Tu a l’air hereuse Monsieur Wibowo?!” (Anda terlihat bahagia Pak Wibowo?!)

“Oui, bien sur, je vais devenir un pere!!” (Tentu saja, saya akan menjadi seorang ayah!!) jawabku bahagia.

Bukan hanya menjadi hari pertama melepas crutches, hari ini hari di mana subuh tadi test pack Muti menunjukkan hasil positif Beta HCG, aku juga membuat fisioterapis terkejut dengan progres luar biasa, fleksi aktif kakiku hari ini 40° lebih banyak dibanding dua hari yang lalu. Rasanya berapapun jauhnya kucoba fleksi, rasa sakit yang biasanya datang sepanjang hari itu tidak terasa.

Sejak saat itu aku semakin bersemangat untuk menjalani proses pemulihan lutut kiriku dengan target bisa menggendong sang bayi kelak tanpa ragu dengan topangan kedua kakiku. Aku punya waktu 8 bulan sebelum Muti melahirkan dan merupakan jangka waktu yang tepat untuk rehabilitasi ACL post-reconstruction. Sejak saat itu kami merasakan terus datangnya “keajaiban-keajaiban” yang bertubi-tubi seiring berkembangnya janin di rahim Muti, kami sepakat Fattah akan menjadi nama bagi putra kami.

Mei 24 2012

Pada kontrak beasiswa Erasmus Mundus yang kujalani dikatakan kami akan mendapatkan beasiswa biaya hidup untuk 10 bulan. Tetapi karena dana yang dikelola oleh konsorsium universitas penyelenggara beasiswa Erasmus Mundus masih banyak tersisa, bulan ini kami mendapatkan beasiswa ke-11, yang artinya kami mendapatkan 1000 Euro ekstra yang dapat kami manfaatkan untuk keperluan lain. Sejak kehamilan Muti, seolah mudah sekali Allah menjawab segala permasalahan kami, 1000 Euro adalah jumlah total tagihan rumah sakit yang harus kubayar setelah dikurangi tanggungan asuransi social security dari pemerintah Belgia senilai 4000 Euro.

17 July 2012

Lima hari beristirahat di Jakarta sejak pendaratan kami dari Belgia, kami segera menuju Jogja. Memulai lembar baru sebagai warga negeri Ngayogyakarta Hadiningrat. Memasuki badan pesawat yang pagi itu tampak lengang, aku dikagetkan sapaan akrab saat mencari tempat duduk.

“Hei, Mas Fadjar, gimana kabar?”

“Loh, Bu Yayi..!! Kok kebetulan banget..”

Setelah berbincang beberapa saat kami pun merapat duduk di sebelah Bu Yayi. Sejam perjalanan Jakarta-Jogja tidak terasa. Kami saling betukar kabar setahun terakhir, membicarakan kehamilan Muti hingga rencana kami berdua selanjutnya. Pucuk dicinta ulam tiba. Bu Yayi menawariku dan Muti posisi yang baru saja ditinggalkan oleh dua punggawanya di salah satu proyek yang sedang beliau kelola. “Buy 1, get 2”. Aku punya waktu 3 bulan sebelum mengikuti rotasi klinik sebagai ko-assisten dimulai, dan Muti punya sekitar 5 bulan sebelum kelahiran buah hati kami .

Usai dua minggu settlement dan mengorientasi Muti kepada lingkungan baru di Jogja, kami mulai bekerja di Quit Tobacco Indonesia. Semasa kuliah S1 Bu Yayi memberiku kesempatan magang di proyek ini, aku sangat menikmati pekerjaan di sini karena sesuai dengan concern ku terhadap efek konsumsi rokok di Indonesia. Sejak kecil aku sudah dididik untuk menghindari rokok. Suatu hari Bapak menunjukkan foto keluarga semasa ia kecil dan remaja. Dari kedua foto tersebut Bapak menunjukkan sebuah perbedaan bermakna. Bapak 13 bersaudara dengan 10 di antaranya lelaki,  hanya 1 diantaranya merokok. Di foto semasa kecil semua anak lelaki tampak serupa dan ngganteng, tetapi di foto semasa remaja ada satu yang terlihat begitu berbeda, tampak habis tubuhnya dan begitu berubah wajahnya. “Itu gara-gara ngerokok,” wanti-wanti Bapak

Saat itu, kehamilan Muti sudah memasuki bulan ke-empat.

September 2012

“Ok, segera dibuatkan kontraknya, bisa mulai hari ini?”

“Bisa, Prof!”

Hari ini aku diberi kepercayaan untuk bergabung dalam sebuah program pengembangan cabang ilmu baru hasil perpaduan ilmu manajemen dan pendidikan kedokteran. Tugas utamaku adalah mengelola Website tentang manajemen pendidikan kedokteran dan pendidikan profesi kesehatan lain. Kelak tugasku berkembang hingga menyentuh ranah dunia manajemen pendidikan tinggi. Selain memenuhi hasratku pada dunia pendidikan, kesempatan ini juga menjawab kegundahan kami karena bulan depan aku akan segera memulai fase rotasi klinik. Sebagai konsekuensinya waktuku sebagian besar akan terfokus pada kegiatan klinik di rumah sakit sehingga mengurangi waktu mencari nafkah. Sebagai konsekuensi tidak lagi dapat bekerja penuh waktu pada proyek yang kutekuni lebih awal nilai kontrakku terpaksa terpangkas hingga 50%. Tawaran Prof Laksono untuk bekerja paruh waktu pada proyek yang sedang dikembangkannya cukup membuat kami dapat kembali bernafas lega.

Sebelum mendapatkan kontrak pekerjaan yang kedua ini, kami tidak henti mengais harapan demi mempertahankan keseimbangan antara pasak dan tiang, mulai dari mengerjakan orderan terjemahan, sampai berjualan. Memanfaatkan skill yang kami bawa pulang dari Belgia, membuat wafel, kami pun memproduksi wafel dan sandwich untuk dijual di kantin kampus, rumah sakit, dan menerima pesanan. Sempat berjalan empat bulan, karena sumber daya energi yang tidak memungkinkan (saya bekerja di tiga proyek sambil ko-ass dan Muti semakin besar kandungannya) akhirnya usaha kami ini pun gulung tikar. Bagaimanapun juga kami sangat berterimakasih kepada para pelanggan setia mulai dari teman-teman koass, residen, konsulen, dan pengunjung kantin-kantin di FK dan koperasi Bursa FK tentunya.

Selama berjualan berbagai pengalaman menarik kami temui, salah satunya saat aku berniat mewawancari Dokter “G” SpS yang merupaka dosen klinik favorit para peserta didik. Sebetulnya keperluanku menemui beliau hanya untuk melakukan evaluasi salah satu program yang beliau menjadi pengampunya. Selesai wawancara, bukannya langsung melepasku pergi  Dokter “G” SpS justru menanyakan tantang dagangan sandoichi yang pagi itu masih harus kubawa-bawa, dan sejurus kemudian malah memasarkannya kepada seluruh perawat dan residen. Mungkin antara lapar dan kasihan, atau tidak enak dengan konsulen, separuh daganganku pagi itu pun ludes di sana. Kalau rejeki, mau di ruang ko-ass mau di ruang perawatan, tidak ke mana.

This slideshow requires JavaScript.

Oktober 2012

Sebelum Fattah lahir, lewat berbagai pertanda Allah menujukkan kuasa-Nya untuk mempersiapkan kami menjadi orangtua. Di luar dugaan tiga stage rotasi klinik pertama yang akan kulalui adalah Stage Ilmu Kedokteran Jiwa (Psikiatri), Ilmu Kandungan-Kebidanan (Obsgyn) dan Ilmu Kesehatan Anak (Pediatric). Stage Psikiatri menjadi ajang kami mempersiapkan mental  menghadapi peningkatan fase hidup, dari pasutri, menjadi orangtua. Tidak ada satu pun pasien yang tidak meninggalkan pembelajaran bagiku. Entah mereka penderita depresi, bipolar, maupun schizophrenia, masing-masing dari pasien jiwa ini seolah menyajikanku  cermin saat ini dan cermin masa lalu dan mengizinkanku mendesain lebih sempurna cermin masa depan. Setiap kembali dari rumah sakit, aku selalu pulang dengan hikmah baru yang kubagi dengan Muti untuk menjadi bekal kami menjalani hidup ini, terutama sebagai parent to be.

Stage Obsgyn menyiapkan kami menghadapi detik-detik menuju persalinan.  Enam minggu sudah aku bertugas membantu persalinan, memeriksa kondisi umum pasien di bangsal di pagi hari, berlanjuta tugas jaga malam setiap tiga hingga dua hari sekali, mengikuti pelayanan di poliklinik dan pelayanan lain. Enam minggu yang begitu menguras energi fisik dan terutama mental.

Pertama kali menyaksikan persalinan aku tidak bisa menahan air mata. Terbayang, jika yang bersalin saat itu adalah istriku sendiri. Persalinan demi persalinan menjadi rutinitas harian. Active bleeding yang sebelumnya bisa membuatku berkali-kali hipotensi hingga ambruk pun mulai terdesensitisasi. Mengalihkan kegundahanku yang banyak meninggalkan Muti di rumah, bahkan kadang harus menunda kontrol minggu-minggu terakhir, aku pun membuat rutinitas baru. Setiap kali usai memeriksa ibu yang dalam perawatan pasca melahirkan  di bangsal kuucapkan, “Bu, selamat ya atas kelahiran putra/i-nya. Kalau boleh saya minta doanya, istri saya juga akan melahirkan, semoga istri dan anak sehat semua”. Alhamdulillah permintaanku selalu diamini, bahkan kadang ditambah harapan-harapan yang lebih panjang. Hingga waktu itu tiba, waktu putra pertama kami Fattah dilahirkan dalam kondisi sehat sempurna, kurang lebih seratusan ibu pasca melahirkan sudah kumintakan doa dan amin nya. Maha Besar Allah, Fattah lahir di minggu keenam aku menjalani stage Obsgyn.

Usai stage obsgyn, aku memasuki stage anak. Secara kronologis seolah ini menjadi berkah karena Allah seperti ingin betul-betul menyiapkan kami siap menjadi orang tua secara mental dan pengetahuan. Meski realitanya, Fattah harus “mengalah” sedikit terlambat dari beberapa jadwal imunisasi karena aku yang sudah janji tidak bisa menghindari berbagai kondisi tidak terduga di rotasi klinik. Hingga pada beberapa poin, aku terpaksa mencuri-curi waktu untuk sekedar bisa mengantar Fattah. Beruntung aku sekelompok dengan kawan-kawan yang cukup pengertian. Alhamdulillah hingga saat ini perjalanan imunisasi Fattah masih dalam koridornya dan pemantauan tumbuh kembangnya masih di atas rerata statistik bayi seusianya. Maha Besar Allah, stage yang dianggap paling berat secara fisik dan akademis oleh umumnya Dokter Muda ini dapat kujalani dan menjadi bekal sangat berharga kami melalui hari-hari meng-asuh, asih, asah Fattah.

9 Januari 2013

Pukul 21.00, Muti mengeluhkan kontraksi untuk pertama kalinya di malam ini. Sebelumnya beberapa his (kontraksi) palsu kerap datang. Menghitung hari dan mengikuti insting, aku ambil buku dan kubuat catatan setiap his itu datang. Awalnya setiap lima belas menit. Menjadi setiap sepuluh menit. Hingga pada tengah malam menjadi lima menit sekali. Selain frekuensi, durasi his pun aku catat. Aku berusaha tenang menerapkan apa hari-hari belakangn kulakukan pada pasien, kini pada istriku sendiri. Kami segera bergegas bersiap diri berangkat ke rumah sakit. Sedikit gugup, kami berusaha tenang menyiapkan segala sesuatunya agar tidak ada  yang tertinggal. Beruntung Muti alumni Jepang, Muti sudah menyiapkkan sejak sebulan lalu tas perlengkapan yang berisi mulai dari popok, baju bayi, baju ganti hingga gelas. Tas itu diletakkan di sebelah pintu rumah kami, persis seperti yang diterapkan di Jepang mengantisipasi bencana gempa .

Meski Muti sudah menyiapkan segalanya, konyolnya, mungkin karena terhipnosis visual, aku masih saja meraih segala yang ada di hadapanku. Rasanya semua untuk antisipasi ingin kubawa. Terlalu sering melihat pemandangan di sekitar ruang bersalin, aku malah ikut-ikutan membawa sajadah, termos, bantal, dll., hal yang secara prinsip sudah tersedia namun rasanya lebih mantap kalau membawa sendiri. Kami pun berangkat ke rumah sakit diiringi sepupu kami. Di perjalanan aku berusaha menenangkan Muti dan diriku sendiri. Beruntung saat itu tengah malam, jalur utama menuju rumah sakit dalam kondisi lengang. Meski beberapa minggu terakhir sudah kucoba merintis beberapa jalur alternatif jika waktu seperti ini datang di tengah kepadatan.

Sepanjang malam kami berzikir dan berdoa, berharap kemudahan dan keselamatan dalam proses persalinan nanti. Muti yang menahan sakit kontraksi memintaku tidak melepaskan pijatanku pada punggungnya walau sedetik. Hingga pagi hari nyeri itu semakin menjadi seiring makin aktifnya kontraksi. Secara fisik aku tidak bisa lagi menggambarkan yang sesungguhnya kurasakan, malam sebelumnya aku baru saja lek-lek an di kamar bersalin menunggui para ibu yang sewaktu-waktu siap bersalin, semalaman ini bersama Muti kami terus terjaga. Selain mempertahankan konsistensi pijatan, aku juga perlu membimbing nafas Muti dan membasuh dengan kata-kata hipnosis untuk relaksasi. Sebuah usaha yang di kemudian hari menurut istriku usaha yang cukup bagus meski menurutnya sepanjang malam itu ia tidak bisa mencerna apapun yang kukatakan demi menahan nyeri kontraksi. Kasian deh lo..

Syukur alhamdulillah pagi hari bala bantuan mulai berdatangan. Akhirnya aku bisa buang air kecil dan meregangkan tangan dan tubuhku sejenak setelah bergotong royong sejak tengah malam. Mama Nani dan Mama Wiwiek, bersama Bude dan Tante menemani kami di ruang bersalin yang seharusnya tidak diizinkan, tetapi karena tidak ada pasien lain yang akan melahirkan, seolah ruang bersalin hari itu menjadi milik kami sendiri.

Fattah at Day of Birth

10 Januari 2013

Setelah melalui kala 1 hingga kala 4 selama 13 jam lamanya, Fattah pun lahir dengan kondisi sehat sempurna. Salah satu sifat Allah, Al-Fattah , The Opener, who opens the solution to all problems, and eliminates obstacles pun kami abadikan sebagai namanya. Kami kemudian menambahkan Abd yang berarti hamba. Sementara nama Mochammad kami sisipkan sebagai doa agar kelak dapat mengawal akhlaknya. Penulisan “Mochammad” yang merupakan cara penulisan Belanda pemberian mbah Kakung, kami pertahankan untuk membedakan lafadz “ha” dari “Ha”. Terakhir, kami sematkan Wibowo sebagai doa agar Fattah menjadi pribadi yang berwibawa, sebagai identitas ke-Indonesia-annya, dan sebagai nama keluarga setelah melalui berbagai diskusi, kelak ini akan memudahkan berbagai keperluannya di masa depan karena besarnya kemungkinan Fattah akan belajar atau berkarir di luar negeri sementara semakin banyak negara yang mengadopsi sistem penamaan dengan family name.

Catatan di atas adalah sebagian dari memori kami dari masih banyak jalan keluar lain yang terbuka selama menantikan kehadiran putra kami.  Bahkan hingga kami meninggalkan rumah sakit, dokter yang membantu persalinan mencoret jasa medis dari total biaya yang sebelumnya sudah di-diskon di sana sini oleh pihak manajemen. Tersiarnya kabar kelahiran Fattah berbalas dengan terus berdatangannya ucapan selamat, perhatian, doa, dan bingkisan dari sahabat dan saudara terdekat hingga yang jauh-jauh dikirimkan sahabat dan kerabat kami di negara-negara tempat kami pernah berdomisili.

Jadi begitu Nak, sebagian penggalan kisah kami menyambut hadirmu. Membawa Mama Papa pada rangkaian namamu. Selamat Datang, Nak. Selamat mengukir kisahmu dalam bentang alam raya ini.

DSC_0616

Postcard sebagai kenang-kenangan Fattah kelak yang kami kirim dari Belgia ke Indonesia, sesaat sebelum kami meninggalkan Belgia

Four days old

2 thoughts on “Fattah, Selamat Datang Nak!!

  1. subhanallah.. walhamdulillah.. insyaallah pernikahan yang membawa barokah sehingga Allah SWT membukakan pintu-pintu rizkiNya dari dari hal yang tak disangka-sangka.. Selamat mengarungi bahtera berumah tangga Mbak Muti, Mas Fajar & dedek Fattah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s