Naskah Ki Hadjar Dewantara

Beberapa waktu yang lalu; Kakak saya Edo mengirimkan sebuah hasil scan naskah yang disusun oleh Ki Hajar Dewantara. Naskah itu didapatnya dari sahabatnya seorang warga Jerman yang selama ini sudah fasih berbahasa Indonesia. Sang sahabat sangat ingin memahami isi naskah ini, namun karena naskah ini ditulis dalam bahasa Jawa Krama Inggil yang tidak kami kuasai, Edo meminta pertolongan Pakde untuk membantu menerjemahkannya. Sebagai informasi, hasil scan ini didapat dari pustaka yang kini berada di Bibliotheék (perpustakaan) Leiden Universiteit, Belanda. Sang sahabat Jerman hendak mempelajari naskah ini sebagai bagian dari upayanya menjadi guru Bahasa Jawa di Jerman atau dimanapun beliau dibutuhkan.
Di Indonesia sendiri menurut http://www.tembi.org naskah ini pernah diterjemahkan dan dimuat pada Majalah “Wasita” Jilid 1 No. 1 Oktober 1928
Setelah diterjemahkan dan saya baca, juga mempertimbangkan cara menarik naskah ini sampai kepada kami, saya memutuskan untuk memuatnya di blog ini sebagai pembelajaran kami pribadi, yang bisa selalu kami lihat kembali, maupun untuk siapapun yang kelak membacanya.

1291112_10151838127953024_1059968192_n

Olah gendhin minanagka panggulawantheh
1. Manusia diciptakan oleh Tuhan ke dunia ini dengan berbagai bekal sarana dan aneka kelengkapan hidup meski belum atau tidak semuanya sempurna.
2. Hidup bermasyarakat dengan sesama manusia dengan segala keadaan yang beraneka ragam di dunia ini akan dihadapi semua anak manusia sepanjang pertumbuhan hidup lahir maupun batin.
3. Pendidikan serta pembelajaran oleh guru itu hanya dimaksudkan untuk kemewahan lahiriah saja, hanya bermanfaat untuk mempercepat dan menyempurnakan jalannya pertumbuhan lahir batin manusia tadi
4. Praktiknya, pendidikan itu ada tiga perkara:
1. Halusnya budi/perilaku dan perasaan
2. Tingginya cita-cita
3. Kesehatan badan
Ketiga syarat tadi menyempurnakan serasinya hidup manusia di dunia ini
5.Metode pendidikan nanti/saat ini tertuju pada cita-cita, tetapi kuran gdari ekmuliaan budi, karena itu membuat kacaunya serta rusaknya sifat kemanusiaan.
6. Semua pengetahuan itu bisa dibagi dua:
1. Pengetahuan yang berinti pada ketajaman otak dan pikiran
2. Pengetahuan yang berlandaskan halusnya perasaan budi
Dua-duanya sudah tersurat dalam kehidupan Jawa: “Sastra Gendhing” yaitu selaras/kontrasnya antara pikiran dan perbuatan (budi).
7. Panca indera itu alat penghubung antara dunia nyata ini dengan nyawa /roh manusia sempurnanya panca indera itu dasar sempurnanya nyawa (berhubungan/berkaitan dengan poin nomor 2 di atas)
8. Mata itu jalan masuknya pendidikan otak/angan-angan telinga lebih besar gunanya yaitu untuk perasaan/hati oleh karena itu mengolah rasa / perasaan sangat ditentukan halusnya pendengaran, (Olah Vokal)
9. Pendengaran itu kalau tidak pernah digunakan lama kelamaan tidak akan berfungsi (rudimentair).. (naskah terputus)

***
Barangkali ada pembaca yang mengetahui lebih lanjut tentang naskah ini, segala informasi akan kami terima dengan senang hati.

4 thoughts on “Naskah Ki Hadjar Dewantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s