“Tiki-taka Medicine”

Tiki-Taka Medicine

“Dokter harus tanggung jawab! Gara-gara dokter rencana pernikahan saya terancam batal!”

“Sabar Pak, maksud bapak bagaimana? Apa salah saya, dianggap mengganggu rencana pernikahan Bapak?”

“Dokter tahu tidak, kami sudah lama merencanakan pernikahan ini! Tapi gara-gara diagnosis dokter kemarin, tentang kanker ovarium calon istri saya, sekarang keluarga berencana menunda perkawinan kami karena mengutamakan proses pengobatan calon istri saya! Sekarang dokter HARUS TANGGUNG JAWAB!”

**

Bingung ya? Janggal ya, melihat situasi di atas?

Yang hendak menjalankan tugas dipersalahkan. Yang tidak dikorbankan merasa jadi korban dan menuntut pertanggungjawaban. Yang jelas, nasib pernikahan tidak pasti.

Kisah barusan adalah kisah nyata. Dan kejadian sejenis sangat sering dijumpai para dokter dalam pelayanan kesehatan di masyarakat nyata sehari-hari, setidaknya di Indonesia, dan sangat mungkin di belahan dunia lainnya.

**

Kasus dr. Ayu dkk telah menjadi isu terhangat media nasional beberapa hari ini.

Ada yang menyatakan dr. Ayu, dkk melakukan malpraktik. Padahal apa yang disangkakan tidak mengandung indikasi yang sesuai definisi malpraktik.

Pertimbangan putusan MA yang tidak koheren dengan praktik pelayanan medis.

Curahan hati para dokter di berbagai media contohnya.

Pembuktian bebas dari tuduhan pelanggaran kode etik.

Fakta pahit di balik penangkapan teman sejawat.

Kasus-kasus medis yang mengkhawatirkan masa depan praktik kedokteran Indonesia.

Ditambah berita co-morbid dokter kandungan disiram kopi.

Yang jelas, “kumpulan gejala”  di atas, hari ini berujung pada satu “tindakan terapeutik”  -> Aksi Solidaritas 1 Hari Tanpa Dokter. (yang setelah sempat berbulan-bulan tertunda karena sungkan pada sumpah dokter dan tanggung jawab sosial)

Di berbagai media telah diungkapkan berbagai analisis dan opini yang mencoba menggiring pembaca sehingga mau tidak mau menentukan siapa salah, siapa benar. Dengan berbagai keterbatasan, melalui tulisan ini saya tidak bermaksud menentukan siapa salah, siapa benar. Tetapi saya mencoba menawarkan pembaca cara pandang berbeda dan wawasan yang lebih melebar, (ngejak rembugan, ndelok masalahe ndhisik ora waton kelahi kalau kata orang jawa) menggunakan analogi sebuah tim sepakbola. Menunjukkan fungsi dan posisi seorang dokter di dalam konstelasi upaya peningkatan taraf kesehatan bangsa  tanpa mengecilkan kontribusinya. Harapannya ini dapat mengarahkan kita pada semangat perbaikan upaya perwujudan kesehatan masyarakat di Indonesia. Bahwa kita tidak sendiri dalam memenuhi janji kemerdekaan bangsa, “..melindungi segenap tumpah darah Indonesia..”

Pada bagian akhir tulisan, saya mengaitkan dan mencontohkan kasus dr. Ayu sebagai salah satu “buah” kurang paham upaya perwujudan kesehatan kita.

Informasi yang saya tuangkan di sini adalah opini berdasarkan pengetahuan, pengalaman, serta hasil observasi saya, yang masih sangat terbatas, selama menempuh pendidikan dokter dan pendidikan kesehatan masyarakat, menjadi asisten penelitian dan konsultan program promosi kesehatan, dan asisten pada pusat kebijakan kesehatan yang dipadukan dengan minat pada sepakbola.

Posisi Pemeran Nama Pemain Pilihan (bergantung pada tingkat cakupannya)
Striker Health actor & messenger Masyarakat, praktisi kesehatan, institusi pemerintah, Institusi pendidikan
Playmaker Policy Maker Menkes, Dinkes
Midfielder Supporting organization IO (WHO, UNAIDS, UNFPA, FAO), NGO (MSF, Foundation), Pusat2 Studi, Akademisi, Kementerian Lain
Defender Health financing organization, Law-related organization, Legislative Organization BPJS, Perusahaan Asuransi, LBH, Penegak Hukum, Aktivis Hukum, Institusi pendidikan
Goalkeeper Healthcare provider Dokter, Perawat, Bidan, paramedis, dll
Manager Ahli/Konsultan Kebijakan Kesehatan Pakar Kebijakan Keshatan Senior, Pakar Hukum Kedokteran, Pakar Pembiayaan Kesehatan

 

 

 

 Tiki-taka medicine

 

 

Striker

Dalam sepak bola, fungsi striker adalah menyerang. Menjadi promotor kemenangan dalam arti luas. Terlepas mereka mencetak gol atau tidak, yang jelas tugas mereka mengobrak-abrik pertahanan lawan agar tim bisa menang. Bisa diperankan oleh penyerang tunggal, second striker, penyerang sayap, dll. Aksinya, bisa bikin bingung bek atau kiper lawan, menembak langsung, mencari pinalti, dsb.

Dalam upaya perwujudan kesehatan, fungsi striker ini mempromosikan kesehatan dalam arti luas. Identitas mereka bisa siapa saja. Terlepas mereka bisa mengubah taraf kesehatan masyarakat secara langsung atau tidak, indikator peran utama mereka adalah pada berbagai lingkup dan jenjang, mereka bertindak di awal suatu mekanisme peningkatan taraf kesehatan masyarakat.

Mereka bisa berwujud Individu masyarakat aktivis promosi kesehatan, Praktisi kesehatan, Peneliti, Institusi pendidikan

Playmaker

Sesuai namanya, dalam sepak bola, fungsi playmaker adalah membentuk pola permainan. Mengimplementasikan strategi di atas kertas ke lapangan. Mereka bisa menjadi penentu suplai bola saat tim menyerang, atau mengembalikan bola ke belakang untuk menarik positioning lawan. Mereka bisa sekedar mengutak-utik bola untuk membaca permainan dan menyiapkan serangan berikutnya. Mereka juga bisa mencetak gol atau membantu pertahanan dengan mengarahkan aliran bola dan mengatur rekan-rekannya, karena tidak jarang posisi playmaker diisi oleh sang kapten.

Dalam upaya perwujudan kesehatan, fungsi playmaker ini mutlak dipegang oleh lembaga eksekutif dalam berbagai tingkatannya. Mereka bisa menjadi penentu kebijakan dalam mencegah masalah kesehatan (promosi, prevensi) atau dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan (kurasi). Mereka yang harus menjamin segala rencana dapat terimplementasi di lapangan. Karena itu mereka biasanya adalah leading organization yang bertanggung jawab pada fungsi kebijakan (juga pelaksanaan pada jenjang lebih rendah) dan biasanya merupakan lembaga pemerintah, sebagai penanggung jawab performa peningkatan taraf kesehatan secara keseluruhan. Mereka dapat berwujud para Dirjen, Kadinkes, dll.

Midfielder

Dalam sepak bola, midfielder adalah sebagai penyeimbang. Menjembatani peran menyerang dan bertahan. Bisa menusuk dari tengah, memanfaatkan lebar lapangan, menentukan penguasaan bola,, dsb. Mereka bisa turut aktif mendukung striker mengobrak-abrik pertahanan lawan (gelandang serang), namun bisa sangat efektif membantu defender memperkuat pertahanan (gelandang bertahan).

Dalam upaya perwujudan kesehatan, fungsi midfielder ini dipegang oleh pimpinan lembaga pemerintah pengambil kebijakan bidang kesehatan. Mereka menentukan arah kebijakan kesehatan sesuai kapasitas dan jenjangnya. Latar belakang mereka bisa apa saja. Mereka bisa berupa international organization, NGO, institusi pendidikan, institusi pemerintah, dll. Terlepas mereka bisa secara signifikan atau tidak dalam mengubah taraf kesehatan masyarakat, benang merah peran mereka adalah pada berbagai lingkup dan jenjang, mereka menjadi pendukung dan penyeimbang suatu mekanisme peningkatan taraf kesehatan masyarakat.

Mereka bisa berwujud:

International organization seperti WHO, UNAIDS, FAO dll dengan segala kebijakan dan rekomendasinya

Non-Govermental Organization seperti MSF, Bill & Melinda Gates dengan segala bentuk dukungannya

Kementerian dengan segala kebijakannya. Kemennakertrans dengan kesehahteraan tenaga kerja, Kemensos dengan kesejahteraan kaum papa. Kemenpera dengan penyediaan perumahan ideal sehat. Kementrian PU dengan infrastruktur aman dan layak. Kemenristek dengan terobosan berbasis sains. Kemen-PDT dengan pembangunan daerah yang menunjang pelayanan kesehatan, dll

Defender

Dalam sepak bola, fungsi defender adalah bertahan. Menjadi lini pertahanan tim dari beragam jenis serangan lawan. Mereka bisa menghadang langsung, mentekel pemain lawan, merebut bola, menyapu bola liar. Intinya berjaga-jaga, agar jika ada serangan datang tidak sampai berbuah gol. Mereka juga bisa sewaktu2 membantu serangan jika dibutuhkan, bahkan mencetak gol.

Dalam upaya perwujudan kesehatan, fungsi defender menjadi palang pintu mencegah beban sampingan yang muncul bersamaan munculnya masalah kesehatan dan dilaksanakannya pelayanan kesehatan (sistem rujukan, manajemen rumah sakit, sistem pembiayaan kesehatan, sistem perlindungan hukum). Peran mereka adalah mengamankan agar penyelesaian masalah kesehatan dapat dilaksanakan dengan ideal melalui koordinasi dan regulasi. Menyediakan sistem pelayanan kesehatan yang bermanfaat bagi pasien dan sesuai bagi tanggung jawab tenaga kesehatan.

Mereka bisa berwujud lembaga pemerintah bidang kesehatan, institusi pendidikan, institusi penjamin biaya kesehatan (BPJS, Askes), lembaga legislative (hasilkan UU Praktik Kedokteran), lembaga penegak hukum, dll.

Goalkeeper

Dalam sepak bola, fungsi goalkeeper adalah mengamankan gawang dari kebobolan. Menyelesaikan ancaman lawan murni, maupun hasil keteledoran pemain belakang. Performanya bisa menjadi penentu kekalahan jika banyak kebobolan. Atau kemenangan timnya bila clean sheet (tidak kebobolan) bahkan jika bisa mencetak gol. Teknisnya, dia bisa menepis menghasilkan corner, menangkap, bahkan meneriaki penyerang lawan agar ketakutan seperti kebiasaan Peter Schmeichel. Yang jelas tugas utamanya adalah goalkeeper, menjaga gawang semaksimal mungkin agar tidak kebobolan.

Dalam upaya perwujudan peningkatan taraf kesehatan, fungsi goalkeeper ini bersama2 dilaksanakan tenaga medis dan paramedis serta tim penunjangnya. Bisa murni memberi terapi definitif pada pasien sakit, bisa hanya mengobati gejala, mencegah komplikasi, prevensi sekunder, bisa merujuknya pada jenjang keahlian lebih tinggi (dokter umumu ke spesialis), dsb. Teknisnya, dokter misalnya, bisa meresepkan obat, melakukan tindakan (pemberian obat, tindakan bedah, dll).Yang jelas tugas utamanya adalah tindakan kuratif, mengurangi penderitaan pasien dan memperpanjang harapan hidup (jika diizinkan-Nya).

Sampel Formasi Kesehatan Indon

Sampel Formasi Kesehatan Indonesia

Saya melihat, dr. Ayu ini ibarat penjaga gawang yang sial. Sebagai dokter yang berhadapan dengan berbagai masalah pasien di lapangan ia tidak dilindungi oleh permainan gemilang pemain2 di depannya. Akibatnya para dokter di lapangan berperan serabutan menghadapi berbagai jenis tusukan pemain lawan seperti

  1. diagnosis-terapi penyakit, -> sudah jadi tugas utama mereka, ada ratusan diagnosis dengan berlipat kemungkinan terapi yang harus mereka kuasai
  2. kesulitan ekonomi pasien,  -> karena sistem pembiayaan belum menganut universal coverage yang mendekati ideal, mau tidak mau turut berpikir karena tindakan medis berkonsekuensi biaya
  3. masalah sosial budaya pasien, -> karena kualitas pendidikan nasional masih belum maksimal, tindakan rasional medic sering bisa ditentang kepercayaan pasien (missal, izin pada pemuka agam untuk pengangkatan organ)
  4. masalah sosial-politik -> tersandung regulasi pemerintah yang kadang belum tersedia atau tumpang tindih. dijadikan komoditas oleh politisi yang mengumbar janji manis pengobatan gratis
  5. masalah kebijakan -> focus kebijakan promosi dan prevensi belum optimal, sistem pelayanan kesehatan yang belum diterapkan ideal strateginya (sistem rujukan kacau, puskesmas tidak berfungsi sesuai, distribusi nakes tidak proporsional), dll
  6. masalah keamanan -> minim perlindungan hukum dalam bentuk ketiadaan regulasi di beberapa sector, penerapan produk hukum yang berpotensi keliru seperti pada kasus dr.Ayu, dibutuhkan pada daerah konflik, dsb.

Sementara kondisi fisik dokter sebagai penjaga gawang sendiri tidak bugar karena dirundung masalah

  1. pendidikan -> lama, banyaknya jenjang melebihi profesi lain, tinggi biaya
  2. kesejahteraan -> gaji & tunjangan beberapa di bawah standar, kesulitan naik pangkat karena perbedaan status kementerian (dokter NIP Kemendiknas vs dokter NIP Kemenkes)
  3. penempatan -> perlu rela ditempatkan di daerah terpencil, perbatasan, perbatasan, dan kepulauan dengan fasilitas terbatas termasuk untuk anggota keluarga
  4. perlindungan hukum, dsb

Melalui tulisan ini saya juga mengusulkan agar kebijakan kesehatan di masa depan tidak lagi terfokus pada “produksi” dokter tapi juga “produksi” ahli strategi permainan, dalam hal ini menduduki posisi staff ahli menteri. Kita butuh tim kepelatihan yang terdiri dari ahli-ahli di bidangnya. Seperti sebuah tim yang dipimpin seorang manager yang didukung oleh tim pelatih yang mumpuni. Bahkan di balik seorang Jose Maurinho, pasti ada tim ahli (gizi, kedokteran olah raga, massager, taktik, pelatih kiper, dll) bukan? Posisi manager tim sendiri “setara” dengan Menteri Kesehatan dalam konstelasi peningkatan taraf kesehatan negara.

Nah, disinilah kelemahan kita, sejak dokter pertama pribumi dicetak di STOVIA, negara ini berfokus diri hanya mencetak dokter. Pemerintah mendirikan sekolah-sekolah kedokteran. Masyarakat, pasangan suami istri, berlomba-lomba membuat trending do’a  agar anak mereka kelak menjadi dokter. Mencetak pemain bolanya, namun tidak mencetak manager dan tim kepelatihan yang handal. Merekalah para pemikir (ahli kebijakan & pelayanan kesehatan, ahli pembiayaan kesehatan, ahli manajemen rumah sakit, ahli bencana kesehatan, ahli pendidikan kedokteran & profesi kesehatan, ahli promosi kesehatan, dsb) di balik produk kebijakan kesehatan dan kebijakan lain terkait kesehatan. Kita menantikan sosok Maurinho atau Johan Cruijf-nya peningkatan taraf kesehatan di Indonesia. Ibaratnya kalau 11 pemain bola dipandu seorang manager dan beberapa ahli. Maka 88 ribu dokter di Indonesia perlu didukung beberapa puluh ribu ahli kebijakan kesehatan.

Kelak, posisi Menteri Kesehatan tidak melulu kaku sebagai manager yang hanya menyebar instruksi. Seperti era Ruud Gullit dan Gianluca Vialli di Chelsea, di mana manager dapat merangkap sebagai pemain, seorang manager tim juga bisa turun ke lapangan bertindak sebagai kapten sekaligus playmaker.

Seperti memahami strategi sepakbola yang dinamis, dengan pembagian peran yang tidak kaku dan bisa overlap namun tetap ada standarnya, semoga sekarang kita semua bisa menyadari, bahwa mewujudkan bangsa yang sehat itu kompleks dan dinamis sehingga dibutuhkan peran serta aktif konstruktif berbagai pihak. Tidak ada satu pun mekanisme baku yang bisa diterapkan serta merta untuk mewujudkan Indonesia sehat sempurna (tidak juga di negara lain di dunia). Karena itu, apapun posisi dan peran kita, bukan saling menuding dan menjatuhkan, kita harus terus berusaha, menjadi lebih baik dari hari ke harinya.

Terkait kasus dr. Ayu yang disalahpidanakan, tertuduh sementara “memalsukan” tanda tangan tetapi dipidani mengakibatkan melayangnya nyawa, dan kisah-kisah prihatin nasib dokter praktik dimana-mana, saya berharap lewat tulisan ini, alih-alih para dokter Indonesia terjebak jurang kekahawatiran berlebihan, sehingga terpaksa menerapkan “strategi” Defensive Medicine, mari kita bangkit bersama menghadapi berbagai masalah kesehatan (klinis dan struktural) dengan menerapkan Tiki-taka Medicine, bekerja sama lintas profesi, lintas institusi dengan pendekatan holistik, serta menjadi pemimpin (bukan korban) dari keputusan dan tindakan medis maupun kebijakan yang sesuai evidence-based medicine dan SOP.

**

*Tiki-taka (commonly spelled tiqui-taca in Spanish; Spanish pronunciation: [ˈtiki ˈtaka] ) is a style of play in football characterised by short passing and movement, working the ball through various channels, and maintaining possession. The style is primarily associated with La Liga club FC Barcelona from Johan Cruyff‘s tenure as manager to the present, and the Spanish national teamunder managers Luis Aragonés and Vicente del Bosque. Tiki-taka moves away from the traditional thinking of formations in football to a concept derived from zonal play. (Wikipedia)

**

Silakan beri feedback konstruktif pada tulisan ini. Mohon jelaskan segala kekurangannya dan kemungkinan untuk memperbaikinya. Silakan jika ada yang ingin melengkapi “model” yang saya tawarkan di atas.

Sebagai pembelajaran bersama, apabila ada yang bisa menjawab pertanyaan di bawah ini terkait kisah pembuka di awal tulisan tanpa saling bertentangan, jawaban anda bisa jadi calon solusi carut marut pola hubungan dokter-masyarakat, dokter-penegak hukum, dokter-pemerintah di Indonesia. Termasuk kemungkinan diterapkan pada kasus dr. Ayu.

  1. Apa kesalahan sang dokter?
  2. Benarkah sikap calon suami pasien?
  3. Jika calon suami pasien salah, siapa yang bertanggung jawab atas batalnya pernikahan?
  4. Jika calon suami pasien benar, haruskah dokter dihukum? Apa hukumannya? oleh siapa? Apa status dakwaannya? Siapa yang kelak menanggung nasib perjaka tua calon suami pasien?

**

Sleman, 25 November 2013. Direnungkan di atas Honda, sepanjang rute RSUP Dr. Sardjito hingga Dusun Rejodani.

15 thoughts on ““Tiki-taka Medicine”

  1. Saya setuju sekali soal playmaker harus keren dan tidak semua tanggung jawab ditumpukan pada goal keeper. Barangkali kasus ini juga bisa jadi renungan untuk internal kita sendiri para sejawat dokter, yang selama ini cenderung antipati tentang regulasi,kebijakan dan birokrasi, serta lebih memilih menjadi goal keeper dan merasa menjadi penentu kebijakan itu tidak semenarik menjadi klinisi. Tidak dipungkiri bahwa banyak dari kita yang sehari-hari terjebak retorika bahwa dokter (baca: si klinisi) adalah segalanya, lupa hakikat 5 stars yang diamanatkan sejak lama (atau 5 stars-nya membuat dokter merasa sempurna sehingga mengecilkan peran orang2 dan profesi lain di sekitarnya). Ya perlu reformasi cara berpikir seperti yg diusulkan fadjar itu.

  2. Super! A very brilliant way to look at and then communicate the matter. Ijin share ya ke teman-teman medis dan non medis agar lebih bisa melihat dengan lebih klir permasalahannya.

  3. Saya setuju dgn para pemeran dunia medis dan lintas bidangnya ini.. basic nya blum rampung,tp sudah disuruh menyerang,gmn nnti kalo diserang balik,ya K.O jdnya..
    Utk prtnyaan nya,mgkn jwbn saya bs jd masukan dok..

    1. Kesalahan dokter tsb tidak ada..
    2. Tidak bnr,calon suami tdk hrs bersikap demikian.
    3. Siapa?msti dikaji knp hrs brtanggung jwb?itu kan mslh antar pihak keluarga,ya ga msti bawa2 dokternya, krn mendiagnosis pnyakit calon istri
    4.kalo emg bnr,ya brarti hrs dihukum dokternya,tp hrs dikaji lebih dlm apa yg sbnrnya trjadi,mgkn si dokter memberi tahu keluarga ttg pnyakit pasien,bs lah jd slh,hrsnya ksh tau ke pasien aja,tp di sini letak permasalahannya tdk jelas..

  4. wah posisiku dalam formasimu kok jd striker ya…
    Tetap optimis lah..masih banyak masyarakat yg butuh dokter dan nrimo tidak banyak menuntut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s