Negara Maju, bukan Negara yang Kaya Alamnya, tapi yang Unggul Kualitas Manusianya

Kualitas Manusia Indonesia

Selama ini kita ter-ninabobok-an jargon-jargon seperti “Indonesia adalah bangsa yang besar”. Untuk beberapa aspek memang ada benarnya. Besar cadangan sumber daya alamnya, besar luas lautan dan daratannya, besar jumlah kepulauannya, besar keragaman flora faunanya, besar debit air sungainya, besar jumlah penduduknya dsb.

Tetapi, mengapa dengan segala “kebesaran”asset  tadi kita tidak kunjung mencapai status gemah ripah loh jinawi yang kerap didengung-dengungkan itu? Mengapa masih mudah kita temukan gelandangan di kota besar, mengapa para petani tidak dapat merasakan nikmatnya musim panen, mengapa orangtua masih kesulitan memikirkan biaya sekolah, mengapa beberapa kali timnas sepakbola kita kesulitan pendanaan untuk bertanding di luar negeri, mengapa atlet-atlet kita banyak yang kelaparan di hari tuanya, mengapa jaminan sosial kita belum mampu menjamin sebagian besar masayrakat kita?

Karena kita kekurangan stok manusia, termasuk pemimpin, yang terdidik dan handal untuk mengelola asset kita jawabnya. Kita adalah bangsa yang berkelimpahan anugerah Tuhan, tapi kelimpungan dalam mengelolanya.

Sebagaimana banyak disebutkan di berbagai sumber bahwa tiga indikator negara maju dilihat dari ekonominya, kualitas manusianya, dan kualitas pendidikannya. Berikut ini bukti negara kita kekurangan manusia yang berkualitas dan terdidik

  1. Kualitas Manusia Indonesia Masuk Kategori Rendah

Di sini tergambarkan betapa dengan modal sekitar 230 juta penduduk, atau sebagai bangsa dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 kita hanya mampu berada di peringkat ke-121 dari 187 negara untuk Indeks Kualitas Manusia. Di tahun-tahun yang akan datang, tanpa perbaikan surplus penduduk Indonesia (tidak terdidik baik dan tidak berkualitas) justru akan menjadi petaka.

Seperti yang sudah mulai terlihat saat ini dimana kursi anggota dewan dan pimpinan di berbagai tingkat daerah banyak diisi oleh wakil rakyat yang tidak bermutu, tidak punya malu, bahkan berkarakter pencuri. Hingga tahun lalu sudah 290 kepala daerah menjadi terdakwa hingga terpidana korupsi, padahal di Indonesia hanya ada 300-an daerah tingkat 1 dan 2.

2. Universitas di Indonesia Belum Memiliki Daya Saing yang Kuat

Universitas seyogyanya menjadi lembaga produsen manusia terdidik dan tercerahkan. Jumlah dan kualitasnya dapat menjadi tolak ukur kemajuan pendidikan suatu negara. Di sini kita bisa melihat, bahkan Universitas asal Indonesia belum mampu menembus 100 besar Asia sementara Singapore menempatkan 2 wakilnya (di 11 besar), Thailand 3 dan Malaysia 1.

3. Produktivitas Kaum Terdidik Kita sangat Minim

Dunia pendidikan tinggi kita memang selama ini belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah maupun rakyat Indonesia sebagaimana selayaknya negara berjiwa besar memandang pentingnya pendidikan. Tidak heran jika para akademisi kia hanya mampu menduduki peringkat 61 dari 238 negara dan otoritas wilayah di dunia dalam hal produktivitas artikel penelitian. Produktivitas yang minim dalam ranah penelitian ilmiah ini juga bisa menjadi indikator bahwa negara kita masih jauh dari sikap ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

Syarat Negara Maju bukanlah Negara yang Kaya Alamnya tapi yang Unggul Kualitas Manusianya

Sudah banyak tulisan yang menguak bahwa majunya sebuah negara berbanding lurus bahkan ditentukan oleh investasi mereka dalam pendidikan dan peningkatan kualitas manusia. Salah satunya, secara panjang lebar Anda bisa menemukan kaitan perkembangan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi di sini. Saya akan secara cepat menyampaikan beberapa fakta singkat mengenai hal tersebut di sini:

  1. Usai perang, Korea Selatan hanya memiliki pendapatan per kapita US$ 40, tahun 1970-an menjadi US$ 300, kini telah naik drastis menjadi US$ 24.000. Saat di posisi sulit, masyarakat Korsel sangat fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Saat itu bahkan Korut jauh lebih maju daripada Korsel. Korut memiliki basis industry sementara Korsel basis pertanian. Namun pada saat itu rakyat Korea berjibaku berbuat sedemikian rupa untuk menyekolahkan anaknya. Dari yang tadinya salah satu negara termiskin di dunia kini Korea Selatan menjelma menjadi salah satu negara maju di dunia. Duduk di peringkat 12 Human Development Index dan peringkat 13 produktivitas penelitian ilmiah.
  2. Di Singapura, di awal kepemimpinannya, menyadari negaranya tidak kaya akan sumber daya alam, Lee Kuan Yew dengan tegas menyatakan secara berulang-ulang   bahwa satu-satunya sumber daya alam Singapura adalah rakyatnya dan tekad mereka dalam bekerja, sehingga berusahalah, berusahalah dengan sebaik-baiknya. Menyadari ketertinggalan negaranya dengan permasalahan iliterasi, pengangguran, kelangkaanpangan, Singapura justru menggenjot aspek pembangunan kualitas manusianya. Tidak hanya berbicara, sejak awal kepemimpinannya, pemerintah Singapura sudah konsisten menganggarkan 1/5 anggaran untuk pendidikan. Pendidikan juga berhasil dijadikan alat pemersatu bangsa mereka yang terdiri dari multietnis (India, Melayu, Tiong Hoa, Arab, Eropa). Duduk di peringkat 19 Human Development Index dan peringkat 32 produktivitas penelitian ilmiah.
  3. Di Malaysia, Mahathir Mohammad berhasil menyulap Malaysia dari negara dunia kelas tiga menjadi salah satu negara dengan performa ekonomi terbaik di Asia. Mahathir, sejak tahun 1980-an mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju. Termasuk dalam mencetak dokter, setiap tahunnya pemerintah Malaysia mencetak sekitar 3500 dokter di berbagai fakultas kedokteran di luar Malaysia, bahkan termasuk di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, masih ingat kapan terakhir kali kita memiliki pemimpin yang total dalam membangun pendidikan dasar dan tinggi di Indonesia? Meski sebentar, bukankah program-program beasiswa yang sempat diinisiasi Pak Habibie pada masa menjabat sebagai Kemenristek cukup mampu membuat kita bangga? Hingga akhirnya mampu menghimpun para engineer handal di belakangnya dalam membangun IPTN hingga terbanglah pesawat Gatokaca. Lalu upaya Bung Karno mengirim ratusan pelajar ke negara-negara Uni Sovyet yang meski belum sempat dinikmati betul hasilnya akibat gejolak politik saat itu, setidaknya menunjukkan pemimpin-pemimpin visioner melihat kualitas manusia sebagai asset utama kemajuan bangsanya. Selain itu, sepertinya para pemimpin kita belum dengan serius dan konsisten memperlakukan rakyatnya sebagai asset utama dengan memajukan kualitasnya melalui pendidikan.

Sekali lagi , Negara Maju bukanlah Negara yang Kaya Alamnya tapi yang Unggul Kualitas Manusianya.

Pemimpin adalah Cerminan rakyatnya.

Jika kita konsekuen dengan ucapan bahwa kita ingin maju maka kita harus siap dan mampu memilih pemimpin yang bisa membuat kita semakin maju. Sampai kapan kita mencemooh kemalangan negeri sendiri tapi di satu sisi tetap mimilih pemimpin yang tidak mengerti permasalahan negeri. Sampai kapan kita menghujat politisi korup tapi di saat berikutnya kita tetap memilih wakil-wakil dari kelompok sejenisnya. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama seperti sebelumnya, salah memilih pemimpin padahal sudah jelas di depan mata kita sudah tersedia, mengulurkan tangan calon pemimpin yang memahami solusi keterpurukan kita.

Menimbang fakta di atas, sudah selayaknya kita memilih pemimpin yang

  1. Mengerti bahwa masalah utama pembangunan Indonesia adalah masalah kualitas manusianya
  2. Katalisator Indonesia menuju perubahan dramatis menuju negara yang lebih berkembang bahkan maju adalah pendidikan
  3. Memiliki gagasan yang jelas dan instrument yang efektif dalam pembangunan kualitas manusia.

Melihat track recordnya, di antara bermunculannya para calon presiden Indonesia untuk 2014 nanti, tiada yang lebih sesuai untuk menjawab ketiga tantangan di atas saat ini selain ia yang selalu mengumandangkan pentingnya pembangunan kualitas manusia, ialah Mas Anies Baswedan.

Saya memilih turun tangan bersama Anies Baswedan untuk Indonesia 2014.

Yogyakarta, 27 Januari 2014

Mochammad Fadjar Wibowo

Bersama Returnee AFS dan Mas Anies Baswedan

Bersama Returnee AFS dan Mas Anies Baswedan

2 thoughts on “Negara Maju, bukan Negara yang Kaya Alamnya, tapi yang Unggul Kualitas Manusianya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s