“Mengapa (Gamang) Ikut AFS”

Di akhir kelas 1 Madrasah Aliyah kesempatan saya “mengubah nasib”  lewat sebuah kesempatan pertukaran pelajar terbuka. Dua hari menjelang pendaftaran ditutup hati saya gamang, akankah saya mendaftar. Saya cukup punya banyak alasan untuk tidak ikut seleksi AFS.

1. Belum ada senior di sekolah yang pernah mengikuti.

2. Sebagai siswa madrasah yang mondok dan hanya libur keluar kampus 2 minggu sekali akan sulit mengikuti proses seleksi.

3. Anggapan beberapa guru yang memandang siswa yang keluar negeri dikhawatirkan membawa pandangan barat yang bertentangan dengan visi sekolah.

4. Bapak baru meninggal, kelak jika diterima lalu siapa yang membiayai.

5. Terancam keluar dari sekolah karena saat itu tidak mengenal sistem tinggal/tunda kelas.

 

Di tengah badai dilema dan ragam keraguan, saya bertanya pada kakak saya tentang kegamangan ini yang dijawabnya dengan sederhana.

“Kowe arep urip ngene-ngene terus, opo urip dadi wong nggenah koyo alumni AFS? Cobo deloken keluarga Baswedan, keluarga Shihab, Tanri Abeng, Arif Rachman..do melu AFS kuwi” -Kamu mau hidup gini-gini aja, apa mau jadi seseorang yang berguna seperti banyak alumni AFS? Coba lihat..-

“Nek wis melu AFS, mengko dalanmu kebukak. Arep dadi opo wae, mlakune penak..” tambahnya. -Kalau sudah ikut AFS, jalanmu terbuka. Mau jadi apapun langkahnya akan mudah-

Setelah mendapat jawaban itu, di tahun 2004 itu aku pun bertanya pada Mbah Google, siapa saja gerangan alumni AFS itu. Mengapa sebegitu yakinnya kakakku dengan jawaban itu. Mereka di antaranya adalah

1. Taufiq Ismail

2. Tanri Abeng

3. Z. A. Maulani

4. Anies Baswedan

5. Imam B. Prasodjo

6. Najwa Shihab

7. Valerina Daniel

8. Indra Herlambang

9. Uli Herdinansyah

10. Rissa Susmex

11. Joko Anwar

12. Mario Teguh

13. Chantal Della Concetta

14. Arief Rachman

15. Kartono Mohammad

16. dr. Adam Suyadi, SpB (Alm)

17. dr. Syamhari Baswedan MPH

Tokoh luar Indonesia

  •  President of the U.N. General Assembly – Jan Eliasson, Sweden

  •  Former U.S. Ambassador to the United Nations – Zalmay Khalizad, U.S.

  •  President of Colombia, President of OAS – Cesar Gaviria, Colombia

  •  State Secretary of Foreign Affairs – Hans Dalgren, Sweden

  •  Chief of Protocol, Ministry of Foreign Affairs – Christopher Bo Bramsen, Denmark

  •  Under Secretary for Political Affairs U.S. Dept. of State – R. Nicholas Burns, U.S.

  •  Ambassador of Chile to Syria – Ricardo Fiegelist Schmidt, Chile

  •  Director-General, Ministry of Foreign Affairs – Motohide Yoshikawa, Japan

  •  Minister of Government and Justice – Jorge Hernandez Alcerro, Honduras

  •  Under Secretary of State, Ministry of Foreign Affairs – Hannu Hoffman, Finland

  •  President & CEO of the American-Turkish Council – James Holmes, U.S.

  •  Dir. of European Ministry of Foreign Affairs – Jose Angel Lopez Jorrin, Spain

  •  Dir. Gen., Org. of the Prohibition of Chemical Weapons – Rogelio Pfirter, Netherlands

    Other amazing AFSers…

  • President, Columbia University – Lee Bollinger

  • Senior Correspondent, ABC News – Bettina Gregory

  • Astronaut – Cady Coleman

  • Tony Award-winning actor – Bill Irwin

  • Editor-in-Chief, Allure – Linda Wells

Setelah mendapat jawaban Mbah Google, kegamanganku pun sirna. Tepat di hari terakhir pengumuplan berkas saya berhasil menggenapi persyaratan dokumen. Berkat temuan-temuan Mbah Google, akhirnya kuputuskan melaju dan menuntaskan seleksi pertukaran pelajar Bina Antarbudaya untuk program AFS.  Syukur alhamdulillah, kelak saya berangkat dengan beasiswa. Mungkin ada adik-adik yang masih gamang, semoga ini bisa menjadi salah satu dukungan.

Selamat berjuang, adik-adik SMA yang menjalani seleksi ini, proses pembentukan masa depanmu dimulai dari sini.

 

on my way to AFS year in the Netherlands

Salam,

Fadjar (AFS Nederland, 05/06)

Referensi:

1. Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Bina_Antarbudaya

2. AFS USA official website http://www.afsusa.org/

14 thoughts on ““Mengapa (Gamang) Ikut AFS”

  1. permisi kak,bolehkah saya minta alamat emailnya??? saya ingin tanya2 tentang AFS khususnya tentang perjalanan kakak ke belanda…

      • Biaya co-investment yang diharapkan oleh Bina Antarbudaya turut dibayarkan orangtua siswa saat ini adalah 9,000 USD untuk semua negara tujuan

        Khusus Amerika terdapat beasiswa penuh dan uang saku.

        Kebtulan jaman saya masih agak rendah, 6,000 USD dan msaih dibantu sponsor sehingga hanya bayar 1,000 USD. Jika teman2 bisa mendapatkan sponsor, dana dg nilai di atas bisa dibayarkan oleh sponsor selain orangtua

    • Silakan bergabung dengan relawan AFS/Bina Antarbudaya di kota mu. Masukkan keyword “nama kota dan Bina Antarbudaya”. Contoh “Chapter Yogyakarta Bina Antarbudaya/AFS”

  2. Aslkm..
    Mbak… Anak saya tertarik ikut afs… Saya khawatir ttg orangtua angkat disana terkait masalah akidah.
    Anak teman kkk saya, afs ke amerika rupanya mndapat orangtua asuh seorang tokoh agama non muslim
    Dlm waktu beberapa bln, ank tsb sdh terlibat secara tdk lngsung dlm kegiatan keaganaan bapak tsb
    Apakah ada pilihan thd “siapa orang tua asuh” nantinya?
    Mhn bantuannya segera, krn anak sy dlm proses persiapan pendaftaran
    Wass.

    • Wa alaikum salam
      Bu Dina yang saya hormati, kami paham dengan kekhawatiran ibu dan mungkin banyak orang tua lain yang belum sepenuhnya mendapat informasi tentang pertukaran pelajar AFS.
      Perlu dimengerti bahwa pertukaran pelajar umumnya akan mengirimkan siswa ke negeri yang sama sekali berbeda, termasuk latar belakang agama masyarakat dan keluarga yang akan menerima. Sehingga mendapat keluarga yang berbeda agama sangat mungkin dan justru dalam kondisi seperti itulah kesempatan terbaik pembelajaran antar budaya didapatkan.

      Pertukaran pelajar Bina Antarbudaya/AFS menerapkan sistem selekai yang sedemikian rupa (tertulis, praktik hingga wawancara kepribadian) sehingga mereka yang berangkat adalah yang setidaknya memiliki potensi mengembangkan diri dan mampu menhadapai berbagai tantangan budaya yang akan dihadapi selama berpisah dari keluarga dan lingkungannya. Sebelum berangkat mereka juga akan dibekali pengetahuan praktis tentang adaptasi pada lingkungan baru.
      Dengan kata lain, mereka yang terpilih adalah mereka yang siap, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari.
      Karena siswa telah siap, mereka akan mampu bersikap bijak daalam menerima maupun menolak tawaran yang ada di hadapan mereka. Masalah ritual, kebetulan kami dikirim ke Eropa dan sudah jarang sekali yang melaksanakan ritual agama sebagai bagian keyakinan. Siswa diharapkan mampu memilih dan memilah yang baik dan tidak bagi dirinya. Karena itu batasan usia dan kesiapan psikologis menjadi bagian dari seleksi.
      Bina Antarbudaya dan AFS telah bekerjasama sejak lama dan memperhatikan segala faktor yang mendukung kesusesan pembelajaran siswa. Setiap tahun sekitar 100 siswa dikirimkan sejak tahun 59 dan alhamdulillah mampu menghasilkan alumni2 yang dapat diterima masyarakat seperti saya ceritakan di artikel.
      Pilihan keluarga adalah kombinasi antara ketersediaan host family di negara penerima dan kecocokan hist family dengan profil siswa. Dalam prosesnya AFS setempat akan membantu siswa dalam beradaptasi maupun jika ada masalah tertentu.
      Orangtua dan siswa tetap diberi kesempatan untuk mendiskusikan calon host family.
      Kalau boleh usul, ada baiknya tetap mengikuti seleksi karena dalam proses seleksi banyak sekali halnyang dapat siswa pelajari dari sesama pelamar. Jika ternyata lulus, kakak2 pengurus dan alumni akan selalu siap mendampingi keluarga dan siswa untuk persiapan keberangkatan dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
      Demikian penjelasan saya, semoga ada manfaatnya. Kebetulan saya dan istri alumni Bina Antarbudaya 8 tahun yang lalu. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

  3. Asslmkm..
    Mohon bantuan infonya..
    Saya punya keponakan kelas 2 sma swasta yang lulus test program AFS tahun 2014 ini dan berencana memilih negara belanda.
    Jika ia berhasil tinggal disana, apakah bisa sekalian menamatkan sma-nya disana sekaligus kuliah disana?
    Apakah ada beasiswa untuk pelajar sma disana?
    Mohon sharing dan sarannya, terima kasih.

    Best regards,
    Hendro

    • Wa alaikum salam,
      Menamatkan SMA di negara tujuan pertukaran pelajar bukanlah tujuan dari pengiriman siswa ke luar. Tujuan pertukaran adalah memberikesempatan pertukaran budaya antar siswa, sehingga diharapkan siswa yang dikirim ke luar negeri akan kembali ke negara asal untuk menyampaikan buah pengalamannya dengan teman sebaya.
      Menamatkan SMA di Belanda pun membutuhkan upaya yang luar biasa bagi siswa pertukaran yang hanya tinggal selama 10 bulan. Setidaknya siswa harus menguasai bahasa Belanda sebelum tiba sehingga bisa mengikuti sistem pendidikan setempat. Tantangan berikutnya, biasanya siswa akan ditempatkan di kelas 2 SMA setempat karena siswa kelas 3 dinilai sudah terlalu fokus pada ujian jika harus menerima siswa pindahan.
      Begitu pula SMA penerima siswa telah memahami bahwa siswa AFS datang untuk bersosialisasi mempelajari budaya dan menimba pengalaman bukan mencapai tuntutan akademik tertentu. Di Belanda siswa juga akan bertemu dengan puluhan siswa pertukaran dari berbagai negara lain di seluruh dunia.
      Jika boleh menyarankan, siswa sebaiknya fokus dengan kesempatan mempelajari budaya dan lingkungam internasional, kembali ke Indonesia berbagi pengalaman dengan kawan2 dan kelak dengan networking yang didapat selama di Belanda atau negara lainnya akan membuka jalan ybs untuk menemouh pendidikan lanjut di Eropa maupun negara di belahan dunia lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s